Kring.....Kring.....Kring.....
Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan saatnya waktu pulang sekolah.
Murid-murid bersiap-
siap untuk pergi meninggalkan ruang kelas dan area sekolah.
Sama halnya di suatu ruang kelas,terdapat beberapa manusia yang masih berbicara sambil melakukan tugas bersih-bersih kelas
atau piketsesuai jadwal yang sudah ditentukan.
Salah satu dari mereka berbicara.
“Steva, hari ini kita pergi untuk kerja kelompok, ya.” ujarseorang gadis bernama Karina Aurelia.
“Tugas kelompok yang disuruh sama Bu Nina tadi, ya.” ucap gadis bernama Talia Kirani.
“Iya,” ucap Steva menjawab Talia.
“Emang kapan tugas kelompok itu di kumpulin?” tanya Talia.
“Seharusnya sih minggu depan, tapi karena Bu Nina gak bisa hadir minggu depan, jadi diundur.”
jawab Steva.
“Emang berapa hari lagi?” tanya Talia.
“2 minggu lagi,” jawab Karina.
“Jadi kapan kita buat tugasnya?”
tanya Talia.
“Hari ini aja, mau?” ucap Karina memberi pendapat.
“Eeum... Aku gak tau bisa pergi atau gak, nanti aku kabarin lagi ya.” ucap Steva.
“Oke gak apa-apa.” jawab Karina dan Talia kompak.
Setelah itu, Steva, Karina, dan Talia pun melanjutkan membersihkan kelas hingga selesai.
Setelah itu, mereka pun menuju ke tempat tujuannya masing-masing.
Steva pun sampai di rumah dan langsung membersihkan diriku karena kulitnya sangat lengket
dikarenakan bersekolah seharian.
Setelah membersihkan diri, ia pun menuju ruang makan.
Diruang makan, sudah ada papa yang sedang membaca koran sedangkan mama sedang menghidangkan makanan di atas meja makan.
Steva pun menyapa kedua orang tuanya.
“Siang, Mah, Pa.” sapa Steva untuk orang tuanya.
“Siang juga.” sahut kedua orang tuanya Stevanya tanpa menoleh kepadanya.
“Eeum... Mah, Pah, boleh gak Steva keluar bentar? Cuma sebentar aja kok, gak lama janji.” ucap
Steva meminta izin kepada kedua orang tuanya.
“Untuk apa keluar? Tidak perlu.” jawab papanya stevanya tidak mengizinkan.
“Ta-tapi gak lama kok. Steva keluar juga mau buat tugas kelompok.”
ucapnya meminta izin sekali
lagi.
“Emang tugas kelompok apa?” ucap mamanya.
“Merangkai bunga darisabun, Mah,” ucap Steva menjelaskan.
“Tidak perlu keluar, di luaran sana tidak baik untuk seorang gadis,” ucap papa Steva tega.
“Ta-tapi, Mah, Pa–” ucapannya di potong oleh mama.
“Sekali tidak boleh, ya, tidak boleh. Kamu jangan membantah ucapan orang tua,” ucap mama
Steva tidak ingin dibantah.
“Sudah, tidak usah meminta izin untuk keluarlagi,”
“Sekarang, makan. Setelah itu, belajar agar nilai kami tidak turun dan bertambah naik,” ucap
papa tegas.
Setelah papa Steva mengatakan itu, mereka pun fokus makan. Setelah itu, dirinya pun langsung
menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, dia pun menghubungi Karina.
“Halo, Karina,” ucapnya menyapa lewat telpon.
“Iya, Steva, gimana, jadi gak?” tanya Karina diseberang telpon.
“Maaf, ya, Karina, orang tua aku gak izinin aku pergi,” ucap Steva tidak enakan.
“Yahhhhh... Yaudah, gak apa-apa. Tapi lain kali kita pergi yaaa,” jawab Karina.
“Oke, maafsekali lagi, ya,” jawab Steva meminta maafsekali lagi.
“Iya, gak apa-apa,” jawab Karina menerima maafnya.
“Kamu udah kabarin Talia belum kalau hari
ini kita gak jadi kerja kelompok?”
“Belum, tadi aku hubungi kamu dulu, Karina,” jawabnya.
“Kalau gitu biar aku aja yang kabarin,” ucap Karina.
“Ouh, oke,” jawab Steva.
“Udah dulu, ya, aku mau hubungin Talia dulu, takut dia siap-siap untuk pergi kerja kelompok,”
ucap
Karina.
“Ouh, okee. Bye,” ucap Steva ingin mengakhiri telpon.
“Byee jugaa,” jawab karina seraya memutuskan sambungan telpon.
Setelah selesai berteleponan dengan Karina, kini Steva menghela nafas pasrah karna
menurutnya hidupnya selalu dikekang oleh orang tua untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Walaupun Steva pintar dan selalu mendapatkan juara kelas setiap tahun dan semester, apakah
itu tidak membuat orang tuanya cukup puas? Itu yang selalu ada di pikiran Steva.
“Sampai kapan hidup aku harus selalu dikekang agar nilai ku sempurna semua?” ucap Steva pada
dirisendiri.
Setelah mengucapkan itu, ia langsung belajar guna orang tuanya tidak marah.
Waktu pun berlalu. 5 hari kemudian, Steva, Karina, dan Talia tidak mengerjakan tugas kelompok.
Jika kalian bertanya apakah Steva masih meminta izin untuk pergi untuk membuat tugas kelompok
pada orang tuanya? Jawabannya masihh, tapi ya itu lah, tetap tidak diberikan izin oleh orang
tuanya.
Malang? Ya, malang juga kehidupan Steva, penuh dengan kekangan dari orang tuanya.
Apalah dayanya Steva, mereka tetaplah orang tua Steva.
Hari ini Steva sedang bersekolah dan berada diruang kelas bersama kedua sahabatnya.
“Kita kapan kerja kelompoknya?” tanya Karina.
“Aku kapan aja bisa,” jawab Talia.
“Kalau kamu, Steva?” tanya Karina.
“Stev gak tau, mama sama papa pasti gak kasih izin Stev keluar,” jawab Steva.
"kenapa gak dikasih?” tanya Talia.
“Gak tau, Stev lebih sering dirumah,” jawab Stevanya.
“Memang gak bosen apa dirumah terus?” tanya Talia.
“Enggak,” jawab Steva menggeleng.
“Jadi kayak gimana? Kita 9 hari lagi tugasnya harus dikumpulkan,” ucap Karina.
“Eeum, nanti Steva coba untuk minta lagi sama mama papa,” ucap Steva.
“Kalo gak bisa, gak apa-apa, gak usah dipaksa." Ucap Talia.
"Nanti aku sama Lia aja yang buat tugasnya,” sambung
Karina.
“Iya, kalo gak bisa, gak apa-apa,” ucap Talia.
“Tapi kalau gitu bukan kerja kelompok namanya,” ucap Steva tidak enakan.
“Gak apa-apa, santai aja,” ucap Karina.
Sedangkan Talia hanya menganggukkan kepala pertanda
mengiyakan.
Siang hari mulai berganti menjadi malam dengan angin yang terasa dingin menerpa-nerpa kulit.
Bulan selalu setia menemani malam. Bintang juga ikut menghiasi indahnya malam. Kerlap-kerlip
bintang membuat kesan indah dan tenang tersendiri.
Sudah 3 hari Steva mencoba berulang kali meminta izin dari sang mama dan papanya untuk
melakukan kerja kelompok.
Seakan tuli pendengaran, mama dan papanya Steva tetap kekeh tidak
mengizinkan anak semata wayangnya mereka itu untuk bepergian keluar walaupun untuk
mengerjakan tugas kelompok.
Ya, bisa dikatakan bahwa Steva seperti anak strict parents. Selalu dituntut untuk mendapatkan
nilai sempurna dan selalu diharuskan untuk belajar, belajar, dan belajar.
Dan harus selalu
menuruti kemauan orang tuanya.
Setiap orang pasti akan lelah jika harus selalu dituntut seperti itu. Begitu pun dengan Steva, ia
pasti akan lelah.
Ia begitu letih untuk selalu dituntut oleh orang tuanya yang ingin Steva selalu
menjadi orang dengan nilai yang baik.
Steva juga masih anak kecil yang masih dibilang anak-
anak menuju remaja.
Sudah 3 hari ini kondisi kesehatan Steva menurun. Dan hari ini, Steva dibawa ke RS oleh kedua
orang tua Steva, di mana saat di rumah Steva tiba-tiba mimisan.
Tentu, kedua orang tuanya Steva
panik dengan keadaan Steva yang tiba-tiba pingsan setelah mimisan.
Ceklek...
Suara pintu ruang pemeriksaan di RS tempat dilarikannya Steva pun terbuka. Dan
muncullah seorang dengan berpakaian khusus untuk suster. Ya, itu suster yang membantu
dokter yang memeriksa Steva.
“Dengan keluarga pasien yang bernama Stevany Azzahra, silakan masuk, Dokter ingin berbicara,” ucap
sang suster.
Kedua orang tua Steva pun mengikuti sang suster masuk ke dalam ruangan tersebut. Setelah
berbicara dengan sang dokter yang memeriksa Steva, kedua orang tuanya Steva pun keluar dan
mengingat kata-kata yang diucapkan oleh doktertadi.
“Anak bapak ibu pingsan dan demam karna banyak pikiran yang mengganggunya. Tapi saya
sarankan jangan terlalu membuatnya memikirkan banyak pikiran, itu akan membuat dia lama
kelamaan frustrasi atau stres terhadap masalah tersebut. Dan alangkah baiknya lagi sering-
sering ajak dia untuk memenangkan pikiran. Jadi hanya itu saja yang ingin saya sampaikan.
Jangan lupa diminum vitamin dan makan yang teratur,” Ucapan dokter tadi panjang lebar.
“Pah, apa kita gak terlalu mengekang Stev? Mungkin dia sakit begini karna terlalu terbebani
dengan
kekangan dari kita,” ucap mamanya Steva.
“Tapi itu pilihan terbaik. Jika dia dewasa nanti masa depannya akan cerah,” ucap papahnya Steva.
“Tapi dari pada Stev sakit lagi gimana, Pa? Mama gak mau liat Stev begini,” ujar mamanya Steva
dengan suara bergetar.
“Kita berdua disini yang salah. Kita terlalu keras mendidik Stev, dan kita
membuat dia kurang kasih sayang. Seharusnya mama dari dulu gak terlalu mengekang dia.
Pokoknya kalau Stev udah sadar, nanti mama mau minta maaf. Mama gak mau tuntut terlalu
keras dia lagi.” ucap namanya steva yakin dengan keputusan yang ia buat.
″Apakah aku terlalu mengekang Stev? Tapi inilah yang terbaik untuk dia, masa depannya,″ ucap
papanya Steva dalam hati.
“Mama merasakan bahwa kita memperlakukan dia bukan seperti anak pada umumnya. Mama pikir kita terlalu
keras, kita egois, Pa,” ujar mamanya Steva.
Setelah mendengarkan penuturan dari sang istri,
papanya Steva pun terdiam membisu, dan sepertinya dia sedang bergelut dengan pikirannya
sendiri.
Selang beberapa waktu, Steva pun sudah siuman dan sudah diperbolehkan pulang oleh sang dokter
hari ini setelah infus yang dipakai oleh Steva habis.
“Sayang, kamu kenapa hmm? Kamu lagi banyak pikiran, kan? Ada apa? Apa karena mama dan
papa yang
selalu menuntut kamu belajarterus?” tanya sang mama.
“Steva merasa kalo Stev itu anak yang dikekang oleh kedua orang tuanya sendiri,” jawab Steva jujur dengan suara lirih.
“Maafin Papa, ya, Nak. Papa cuman mau yang terbaik untuk kamu,” ucap papanya Steva dengan
rasa menyesal.
“Maafin Mama juga, ya, Sayang. Mama terlalu egois yang ingin kamu selalu mendapat nilai
sempurna,”
ucap mamanya Steva menyesal.
“Mama sama papa janji mulai sekarang kami gak akan tuntut
Stev untuk terlalu belajarlagi. Belajar secukupnya aja.” Hati Steva menghangat mendengar ucapan sang mama yang terdengar sangat tulus.
Sedangkan
sang papanya Steva juga meminta maaf kepada Steva. Setelah infusnya habis, Steva beserta
kedua orang tuanya pun pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Steva, orang tuanya menyuruh Steva untuk istirahat yang cukup.
Malamnya, mamanya Steva mengantarkan makan malam untuk dimakan Steva.
“Maa, izinin Stev untuk buat kerja kelompok, ya, plisss. Ini juga dapet nilai kok,” ucap Steva
memohon.
“Tapi kamu belum sehat, Sayang” ujar mamanya Steva lembut.
“kalo Steva udah sembuh berarti boleh dong?” tanya Steva.
″Stev selalu mengalah demi egoku dan papah. Jadi seharusnya aku juga harus menuruti
permintaan Stev. Dia sudah banyak melakukan permintaanku dan suamiku. Dan ini
permintaannya, jadi aku tidak boleh egoislagi,″ ucap mamanya Steva dalam hati.
“Boleh kok, Stev. Tapi tunggu kamu sembuh total dulu, ya,” ujar mamanya Steva.
“Tapi papa gimana, Mah?” tanya Steva.
“Papa–“
“Papa juga izinin kok,” ucap papanya Steva memotong omongan mamanya Steva.
“Beneran? Makasihhh, Papa, Mama. Sayang kalian banyak-banyak,” ucap Steva meng-kiss bye
kedua orang tuanya.
Sudah beberapa hari berlalu, kemarin Steva sudah benar-benar sembuh dari demamnya. Hari
ini, Steva, karina, dan Talia sudah sepakat melakukan kerja kelompok.
Steva sudah berada di halaman rumah Talia. Mereka melakukan kerja kelompok di rumah Talia
karena rumah Talia berdekatan dengan orang menjual bahan-bahan keperluan untuk kerja
kelompok mereka.
bertiga setelah selesai membeli bahan untuk tugas kerja kelompok
pun langsung balik ke rumah Talia dan mulai mengerjakan tugas kelompok.
Sudah berjam-jam
lamanya mereka bertiga melakukan kerja kelompok diiringi canda tawa, makanan ringan dan
minuman, akhirnya selesai.
“Akhirnya siap juga tugas kelompoknya,” ujar Karina.
“Iya, jadi nanti waktu hari kumpulin tugas pun kita udah siap,” ucap Steva.
“Iya, akhirnya juga siappp,” ujar Talia.
Dan akhirnya tugas kelompok mereka ber-3 pun siap, walaupun awalnya tidak mendapatkan izin
dari kedua orang tuanya Steva, tetapi akhirnya diizinkan juga.
Dan begitulah cerita ini berakhir.
~~~~~~~~~~~~~~~~~