Takdir selalu tidak berjalan digaris yang lurus. Tapi selalu pastikan diri kita berjalan pada satu arah. Karena selalu ada cinta yang menunggu diujung sana.
💕
Setiap pagi ditemani secangkir kopi hitam dan dua batang rokok aku selalu menyempatkan diri untuk duduk di teras luar sebelum berangkat ke kantor. Kenapa tidak di kursi? Karena kebetulan sebulan yang lalu kursi yang biasa ada di luar rumahku patah karena diduduki uwa Darmi. Bukan salah uwa Darmi sebenarnya tapi salahkan kursi itu yang tidak rajin nge-gym. Sampai uwa Darmi yang berbobot 100 kg saja tidak sanggup menampung. Lemah sekali kursi itu!
Namaku Andre seorang bujangan panas berusia 25 tahun. Seorang singel yang tetap mempertahankan prinsip itu dari lahir sampai sekarang. Bukan tidak laku. Tapi selama ini tidak pernah menemukan perempuan yang sesuai selera. Rata-rata semua perempuan mendekatiku karena aku tampan. Padahal aku juga menginginkan perempuan cantik. Tapi mereka semua tidak tahu diri memang. Tidak tahu umur juga!
Akhirnya dia keluar. Aku langsung buru-buru menyapu kembali rambut yang sudah klimis dengan minyak rambut. Bergaya dengan posisi duduk dengan keren, walau tetap masih di teras. Serta memasang senyum cool yang biasanya sukses membuat para ibu-ibu menjerit. Bukan untuk menjadikan menantu tapi menjadikanku berondong mereka atau paling parah suami muda mereka.
"Buang sampah neng?"
Gadis itu berbalik. Menampakan senyum manisnya yang mampu membuat jantungku cenat-cenut.
"Mau dibantu gak?" Aku terus mencoba peruntungan siapa tahu kali ini dijawab.
Gadis itu hanya tersenyum dan menunduk singkat. Setelah itu kembali masuk ke rumah di seberang jalan tanpa menjawab sapaanku.
Percobaan ke 23 kali gagal. Tidak apa aku tidak akan menyerah. Masih ada pagi-pagi besok untuk mencoba dan bisa mendengar suaranya. Untung-untung bisa ketemu di jalan seperti waktu itu. Atau bisa melihat dia pulang ke rumah saat malam bersama temannya. Abang Andre tidak akan menyerah neng!
"Belum berangkat Dre?"
Aku mendongak mendapati Ibu membawa keranjang cucian menatapku remeh. Seakan menertawakan kebodohan yang menjadi pengagum gadis cantik penghuni rumah kontrakan di seberang jalan.
"Masih ngopi Bu." Kuseruput kopi yang sudah dingin. Asem tidak enak!
Kudengar suara Ibu tertawa. "Gimana mau laku. Deketin cewek aja tidak berani. Ibu jadi meragukan kejantanan laki kamu, Dre."
"Ibu!" Sepontan aku berteriak kesal. "Apa Ibu mau punya menantu tidak jelas asal-usulnya karena Andre asal pungut."
"Gak papa yang penting dia cewek. Jadi Ibu tidak khawatir kamu suka cowok."
Setelah mengatakan itu, Ibu langsung masuk ke dalam dan belum sempat mendengar protesku.
"Ibu ... tenang aja Andre masih pejantan tangguh. Ibu tunggu aja Andre sebentar lagi bisa bawa menantu cantik buat Ibu!" teriakku setengah kesal.
"Alah ... deketin cewek di depan rumah sudah sebulan tidak pernah bisa. Pakek segala bawa cewek cantik!"
Kalau Ibu sudah membahas itu aku sudah tidak bisa berkutik lagi. Pasalnya Ibu sudah hapal kelakuan nongkrongku setiap pagi hanya untuk melihat gadis cantik yang sebulan lalu tinggal di rumah kontrakan seberang rumah tidak pernah berbuah hasil.
Sebulan ini tidak pernah ada kemajuan dalam pendekatanku. Jangankan bisa dekat, bisa dengar suaranya saja tidak pernah. Cuma rutin hanya dikasih senyuman saja sudah membuat klepek-klepek.
Tapi kali ini aku bertekad akan membuat kemajuan dalam hubungan ini. Akan kugunakan sepenuhnya pesona yang sering membuat emak-emak menjerit itu.
Mataku kembali melihat gadis itu yang keluar dari gerbang rumahnya bersama temannya penghuni kontrakan itu. Mereka mengendarai sebuah motor matic dengan gadis itu dalam boncengan.
Tiba-tiba adrenaliku berkobar. Segera beranjak untuk mengambil motor. Kali ini aku mencoba peruntungan. Siapa tahu kembali bisa menemukan motor gadis itu mogok seperti waktu itu. Datang sebagai pahlawan untuk membantu. Walau kembali hanya mendapat senyuman. Tapi kali aku ini bertekad untuk bisa berkenalan setidaknya.
"Kemana kamu Dre? Ini tas kerja kamu ketinggalan!" Saat motor keluar gerbang kudengar suara Ibu berteriak.
"Andre hari ini gak kerja. Mau cari mantu buat Ibu!"
Setelah itu aku sudah tidak mendengar suara Ibu lagi. Karena motorku sudah berkendara memecah jalanan.
Kupercepat laju motor untuk bisa menemukan motor dia. Setelah 15 menit akhirnya aku menemukan motornya tepat berhenti di lampu merah. Aku mengendarai cepat motor supaya bisa berhenti tepat di belakangnya. Jika dia sadar ada keberadaanku nanti tinggal bilang 'kebetulah yah kita bisa ketemu? Mungkin kita jodoh'.
Aku sangat bahagia jika membayangkan hal itu akan terjadi.
"Mana helm kamu?"
Eh?
"Surat tanda pengenal kamu tolong tunjukkan!"
Suara tepukan di pundak terpaksa membuatku menoleh ke samping. Di sana telah berdiri seorang polisi yang menatapku galak.
"Kamu melamun?"
"Apa pak maaf?" Seketika kesadaranku kembali penuh. "Tadi bapak bilang apa? Coba diulang?"
Pak polisi berdecih. Wah ... tidak sopan itu! Dia lalu menyilangkan kedua tangannya di atas dada. Mungkin berasa seperti CEO yang galak tapi menurutku lebih mirip tukang preman di pasar.
"Tolong tunjukan surat tanda pengenal kamu dan surat-surat motor lainnya?"
Aku langsung mengangguk mengerti. Langsung kurogoh dompet di saku celana. Eh? Kok gak ada? Saku sebelah lagi mungkin? Eh? Kok gak ada juga? Emm ... kulirik pak polisi yang semakin menatap galak. Mungkin di kantong baju, tapi gak ada juga? Ini gawat!
"Bagaimana ada?" Raut wajahnya terlihat meremehkan. Bahkan tangannya sudah memegang sebuah kertas dan pensil. Aku yakin dia mau membuat surat cinta eh? Tilang maksudnya.
"Sebentar Pak ...." Aku yakin suara ini pasti terlihat bergetar. "Mungkin ada di jok motor."
Walaupun tidak yakin aku langsung turun untuk memeriksa jok motor. Kalau sampai ada ini pasti keajaiban. Siapa orang waras yang menyimpan dompet di jok motor? Aku ini salah satu orang waras. Tolong dicatat!
Akhirnya aku hanya bisa pasrah saat pak polisi memberikan surat tilang. Walau tadi sempat bernego meminta damai dan saat pak polisi terlihat tertarik dengan uang damai, seketika aku sadar dompetku tidak ada. Sial tujuh turunan ini namanya!
Setelah berpamitan kepada pak polisi dengan membawa oleh-oleh, aku permisi pamit.
Sepertinya pagi ini memang hari sialku. Hanya berniat memperjuangkan cinta tapi aku malah ketiban sial bertubi-tubi. Setelah ditilang polisi aku baru sadar telah bolos kerja tanpa izin, menghilanglah uang gajiku dua ratus.
Seakan belum habis kesialan ini aku habis bensin. Perlu dicatat aku tidak membawa dompet dan tidak ada uang di saku manapun. Sudahlah jangan bertanya nasib perjuangan cintaku pagi ini? Pujaan hatiku sudah hilang ditelan jalanan tanpa jejak.
"Ini om ...."
Aku mendongak mendapati seorang anak lekaki sekitar berusia 5 tahun menyerahkan uang logam 500 ke arahku.
"Ini apa?" Aku menatapnya bingung. Bagaimana tidak bingung sedang duduk di bangku teman disodori uang oleh anak kecil yang tidak dikenal.
"Ini uang Om," Jawabnya terlihat gemas. Aku juga tahu itu uang bocah. "Untuk Om beli makan. Kelihatan kelapalan banget soalnya."
Setelah mengatakan itu anak kecil itu sudah berlari karena dipanggil ibunya. Tidak lupa dia juga menyimpan uang logam itu di pahaku.
"Semengenaskan itu apa diriku?"
Aku menatap uang logam itu sedih. Seburuk itu hari ini. Sampai disangka gelandangan.
"Sayang kamu cantik banget hari ini. Aku makin sayang."
"Kamu juga makin cantik. Aku juga makin sayang."
Dua penggalan percakapan itu membuat fokusku teralih. Bukan karena aku iri. Tapi maksud dari kalimat itu apa? Apalagi suara salah satu dari mereka terlihat aneh.
Otomatis aku melihat ke belakang ke salah satu bangku taman tidak jauh dari sini. Seketika aku terkejut.
Aku yakin ini mimpi woi!
Gadis pujaan, belahan jiwa, calon istri, cinta matiku sedang bercumbu dengan seseorang. Tolong dicatat! Dengan teman satu kontrakannya yang seorang wanita. Ada yang bisa jelaskan situasi ini apa? Ditempat umum. Siapapun tolong tegur mereka!
Aku masih mengamati mereka bercumbu dengan serpihan hati yang makin retak. Setelah mereka selesai bercumbu terlihat saling menatap penuh cinta dari mereka.
"Aku sayang kamu."
"Aku juga."
Sudah selesai. Hatiku sudah remuk berantakan. Aku melangkah lemah pergi dari sana. Jangan sampai aku menangis di sana? Seseorang lelaki yang menjadi incaran ibu-ibu sepertiku tidak boleh patah hati. Tapi tetap aku terluka!
Entah mendapat ide dari mana, mungkin faktor patah hati juga. Aku langsung mencegat sebuah taxi. Sebelumnya menitipkan motorku di sebuah parkiran motor sebuah mall. Nanti aku balik lagi.
"Gimana berhasil perjuangan cinta kamu?"
Baru memasuki gerbang suara ibuku sudah menggelegar. Aku menatapnya sekilas lalu mendudukan diri di tempat biasa nongkrong melihat gadis eh ... tidak tahulah apa. Mungkin ini terakhir kalinya aku duduk di sini. Entah mengapa aku punya trauma dengan tempat ini sekarang.
"Kenapa di tolak?" Ibuku sudah duduk di samping. Suaranya terdengar lembut penuh perhatian. Tidak biasanya.
"Aku belum menyatakan Bu." Aku menjawab lemah selemah serpihan hati yang retak ini.
"Terus kenapa mukanya kelihatan sedih?"
"Ternyata dia temennya Lucinta Luna B." Aku menatap Ibu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Mereka berdua bukan teman Bu tapi pacaran."
"Astagfirullahaladzim."
Thanks for reading 💜