Siang ini aku tertunduk lesu dibawah pohon Cemara disamping warung bakso langgananku. Pagi hari aku kuliah lalu lanjut mangkal cari penumpang.
Tiga hari ini aku menjalani profesiku sebagai ojol. Bukan perkara mudah hidup merantau sebagai mahasiswa di kota ini.
Ibuku yang hanya seorang single parent bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit umum di daerahku.
Gajinya tidak seberapa, tapi harapan ibuku padaku begitu tinggi. Beliau bersikeras aku harus kuliah. Demi masa depanku, katanya.
Kapasitas otakku biasa-biasa saja. Tidak bodoh dan tidak juga pintar. Tapi aku punya tekat yang kuat.
Dan disinilah aku, terdampar di kota pelajar. Indekos disebuah rumah kos kecil yang untungnya pemiliknya sepasang pasutri tua yang baik hati.
Mereka sering memaklumi aku yang sering nunggak bayar kos.
Sampai sore aku belum mendapatkan satupun penumpang. Aku semakin pesimis. Sempat terlintas untuk kerja sampingan lainya. Tapi apa? aku juga bingung.
Jam delapan malam, kuputuskan untuk menonaktifkan aplikasi ojolku, bersiap mau pulang saja istirahat. Tapi kemudian orderan pertamaku hari ini berkedip-kedip. Muncul secercah harapan.
Ternyata order makanan. Akupun segera meluncur mencari makanan yang tertera di pesan. Sate kambing Cak Amin empat porsi.
Beruntung tidak antri panjang. Aku dapat nomor tiga.
Segera aku meluncur ke alamat yang ditunjukkan di aplikasi.
Berbelok ke gang dari jalan besar, lebih kedalam ternyata sepi sekali. Aku mulai fokus ke alamat. Kucari rumah dengan nomor 21.
Dapat! Ah, akhirnya. Aku tersenyum lega. Kupencet bel dua kali. Aku menunggu sejenak, kualihkan pandanganku ke ponsel ditangan. Mengecek siapa tau ada chat orderan lagi.
"Mas..."
Aku terlonjak kaget. Hampir ponselku terlepas.
"Eh, mbak Sarmila?" Tanyaku gugup. Sejak kapan pintunya dibuka ya? Atau mungkin aku yang terlalu fokus ke ponsel.
"Iya mas, ini satenya, kan?" Gadis itu tersenyum. Gingsul sebelah kiri atasnya menyembul, cantik sekali. Rambut hitam sepinggangnya tergerai indah. Kutaksir mungkin ia berumur 20 tahun. Sejenak aku terpesona.
"Eh, i-iya mbak. Ini..." Aku mengulurkan bungkusan sate. Sarmila menerimanya dan ganti mengulurkan lembaran uang kertas berwarna merah dua lembar.
"Maaf mbak, ini kebanyakan. Satu lembar saja masih sisa lho." Aku mengembalikan selembar uang merah itu dan tambah kukembalikan lembaran dua puluh ribu.
"Maaf mas, saya tidak bermaksud menyinggung mas David. Mohon diterima ya mas, aku sedang ingin bersedekah hari ini." Sarmila mengulurkan uangnya kembali dan satu porsi sate untuk ku bawa pulang.
Aku bengong.
"Jangan menolak rejeki mas, semoga bermanfaat. Sebagai gantinya, tolong doakan saya ya mas."
Belum sempat aku menjawab, Sarmila buru-buru masuk kedalam rumah dan menutup pintunya. Meninggalkan aku sendirian diteras.
"Terima kasih, mbak Sarmila" Ucapku lirih sambil menunduk. Mataku berkaca-kaca.
Nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan? Disaat aku seharian hampir putus asa, Tuhan menjawab doaku melalui Sarmila.
Ketika seharian aku hanya bisa makan sekali waktu pagi, malam ini Tuhan memberikanku sate melalui Sarmila. Aku tidak jadi kelaparan lagi waktu tidur. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Sarmila.
Hari itu aku langsung pulang ke kosan dan beristirahat dengan benakku dipenuhi dengan sosok Sarmila.
Pagi harinya usai kuliah pagi, seperti biasa aku mengaktifkan aplikasi ojolku. Sebentar kemudian ponselku berkedip-kedip tanda orderan masuk. Aku mengucap syukur dan langsung tancap gas menjemput penumpang.
Hingga sore penumpangku silih berganti. Aku hanya istirahat saat sholat dan makan. Tentu saja aku senang. Kuputuskan akan menerima beberapa orderan lagi lalu pulang.
Saat selesai sholat isya, aku menunggu orderan terakhir hari ini.
Sarmila. Nasi goreng kambing empat porsi.
Aku tersenyum, tanpa sadar aku memang menunggu orderan dari Sarmila.
Secepat kilat aku menunaikan tugasku. Kali ini Sarmila menungguku di teras rumahnya.
Ah, senangnya.
Aku meolak halus saat lagi-lagi Sarmila memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah. Kali ini ia tidak memaksa. Namun tetap membawakanku sebungkus nasi goreng.
Begitulah caraku bertemu Sarmila. Gadis cantik yang baik hati. Dari hari kehari kami semakin akrab. Bahkan sering bertukar kabar melalui pesan.
Kini aku tau Sarmila menyukai warna putih. Ia tinggal dirumah itu dengan nenek dan ayahnya. Lulus SMA ia tidak melanjutkan kuliah. Ia mengaku bekerja saat siang hari. Namun setiap kutanya apa pekerjaannya, ia tak menjawab. Akupun sungkan hendak bertanya lebih jauh. Kupikir belum saatnya.
Hingga suatu hari dihari Jum'at, aku sengaja sholat Jum'at di masjid dekat rumah Sarmila.
Selesai sholat, aku sengaja mampir di warmindo yang berada disebrang jalan rumah Sarmila.
Aku memesan Indomie kornet keju plus telur dan segelas es teh manis.
Sambil menunggu aku memperhatikan rumah Sarmila yang nampak jelas dari tempatku duduk.
Rumah dengan cat putih. Sebagian catnya ada yang mengelupas. Dipagar samping rumah banyak tumbuh tanaman rambat. Halamanya penuh ilalang dan daun dari pohon mangga depan rumah yang rontok.
Aku mengrenyit. Kenapa suasananya berbeda? Saat mengantar pesanan, rumah itu nampak asri dan bersih. Bahkan terkesan nyaman. Atau mungkin karena aku selalu mengantar pada malam hari, jadi tidak terlalu kelihatan ilalangnya?
"Mas, bengong aja. Ini pesanannya, silakan di makan." Si ibu penjaga warmindo menyadarkanku dari lamunan.
Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Terbersit ide dikepalaku untuk bertanya tentang Sarmila pada si ibu warmindo. Kebetulan warungnya juga sedang sepi, hanya ada aku.
"Maaf bu, rumah di depan sana itu benar rumahnya Sarmila?"
Si ibu refleks menoleh kepadaku. Sepertinya kaget.
"Eh, mas kenal dengan Sarmila?" Si ibu menjawab takut-takut.
"Sedikit tau bu." Ucapku berbohong. Aku curiga dengan ekspresi si ibu.
"Apa mas pernah di ganggu Sarmila?"
Aku terhenyak, "Maksudnya, bu?"
Kulihat ibu itu menghela nafas sebentar, ekspresinya berubah sendu.
"Sarmila tinggal di rumah itu dengan ayah dan neneknya. Ibunya pergi entah kemana sejak Mila kecil. Ayahnya menderita gangguan jiwa. Sedang neneknya yang sudah tua tidak bisa berbuat apa-apa. Yang saya tau, sanak saudaranya tidak ada yang peduli dengan mereka."
Ibu itu menjeda ceritanya. Sambil memandangi rumah Sarmila. Aku dengan sabar menunggu sambil makan.
"Itu sebabnya Mila tidak dapat melanjutkan kuliah. Ia bekerja untuk memenuhi hidup mereka. Setiap pagi sampai sore ia bekerja di laundry simpang jalan itu."
"Na'as baginya, saat ia bekerja lembur karena banyak kerjaan, saat itulah ia pulang sendiri jalan kaki hampir tengah malam. Mila yang sudah diincar banyak pria dicegat ditengah jalan dan digiring masuk kerumahnya sendiri."
"Saat itulah Mila digagahi didepan mata nenek dan ayahnya." Si ibu mulai menitikkan air matanya.
"Ayahnya yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya memandang delapan lelaki bejat itu dengan pandangan kosong. Sedang neneknya berteriak-teriak meminta tolong dengan suara lemah karena hanya bisa terbaring di ranjang. Nenek tidak bisa menolong Sarmila."
Aku tertegun. Dadaku terasa sakit saat mendengar cerita ibu warmindo. Seakan ikut marah kepada pria-pria bejat yang tak berperasaan itu.
"Menjelang subuh ada warga hendak menuju masjid mendengar suara lemah si nenek dan curiga pintu rumah Sarmila terbuka pada pagi buta, orang itupun memanggil beberapa warga untuk ikut memeriksa rumah Mila. Waktu warga memeriksa rumah itu, Sarmila sudah tak bernyawa dengan keadaan yang menggenaskan, tanpa busana dan luka disekujur tubuhnya."
"Nenek Sarmila yang berada di kamar pun ditemukan terjatuh dari ranjang dan kepalanya terbentur lantai. Diduga ia berusaha ingin menolong cucunya. Nenek Mila kehilangan banyak darah. Hingga saat dilarikan ke rumah sakit, si nenek meninggal dalam perjalanan."
Pipiku basah. Seolah merasakan hancurnya hidup Sarmila.
"Ayahnya kini diurus oleh dinas sosial. Dan rumah itu tidak ada yang mengurus lagi." Si ibu menghela nafas berat.
"Maaf bu, kejadian itu sudah berapa lama?"
"Sekitar lima tahun yang lalu, nak."
"Lalu apakah para pelakunya tertangkap?"
"Itulah nak, mungkin karena itu Mila belum beristirahat dengan tenang. Para pelakunya sampai sekarang belum diketahui. Karena disekitar sini tidak ada cctv dan lagi tidak ada saksi mata kecuali ayahnya Mila. Ia tidak bisa di ajak berkomunikasi."
Aku membisu sejenak. Mencoba memahami ini semua. Lalu setelah mengucapkan terima kasih, aku membayar pesananku.
Aku berdiri dipinggir jalan rumah Mila. Kutatap denga sendu rumah itu. Teringat lagi kata-kata Mila.
"Sebagai gantinya, tolong doakan saya ya mas."
Mila tidak mengganguku. Ia malah begitu baik. Ia hanya butuh di doakan.
Yang tidak aku sadari, sejak bertemu Sarmila, orderanku semakin lancar. Bahkan berlebih untuk bisa aku simpan.
Aku merogoh ponsel di saku jaket ojolku dan mengetikkan beberapa kata untuk kukirim kepada Sarmila.
Aku senang pernah mengenalmu. Beristirahatlah dengan tenang. Aku selalu berdoa untukmu. Terima kasih Sarmila.
Send
Sedetik kemudian kulihat centang biru. Sarmila membacanya.
Aku kembali menatap rumah itu. Terlukis senyum Sarmila. Aku pun membalas senyuman itu untuk terakhir kalinya.
Terima kasih Sarmila.