Keluh kesah seorang jomblo!
Miss right,where are you?
Mau tahu nggak, apa sih yang dilakukan jomblo seperti saya ini bila malam minggu tiba?
Sabtu sore, nggak kayak sore biasanya, saya berangkat mandi lebih awal. Selesai mandi, saya pakai baju yang paling keren. Celana jeans dan kemeja yang licin. Rambut yang biasanya awut-awutan disisir serapi mungkin. Terus masuk ke kamar adik, nyolong collagennya satu semprot dua semprot. Hmmm... Harum. Setelah salat isya, saya keluar kamar dan melintas di depan anak-anak ABG yang biasa nongkrong di depan warung dekat rumah. Pikir saya, mereka pasti mengira saya akan pergi ke rumah seseorang...hmmm.... Keren!
Biasanya saya pulang sekitar jam 11.00 malam atau lebih. Saya pulang, tentu saja kembali melintasi anak-anak ABG yang lagi ngumpul atau nongkrong di depan warnet. Dan mereka pun, anak-anak yang pada nongkrong sambil menggenjreng-genjreng gitar itu, hampir semuanya menyapa setiap kali melihat saya lewat. Malah kadang ada yang iseng menyeletuk,"cieee... Si Abang abis apel, nih...!"
Saya nggak menjawab dan hanya tersenyum. Saya nggak mungkin menjawabnya karena takut nambah-nambahin dosa. Hahaha....
Dan dugaan pembaca benar sesungguhnya saya nggak pergi kemana-mana. Maksudnya, nggak pergi apel ke rumah seseorang, seperti yang dilakukan kebanyakan teman cowok seumuran saya lainnya yang belum merid.
Tempat favorit saya kalau malam minggu adalah:
•toko buku
•mall, yang ada toko bukunya.
•cafe, yang ada toko bukunya.
•galeri, yang ada toko bukunya.
•bioskop yang terdapat di mall, dan bisa mampir di toko bukunya sehabis nonton.
Itu baru soal malam minggu titik masalah lain yang sering dihadapi jomblo seperti saya adalah, ketika salah satu saudara dari pihak emak atau bapak, melakukan pesta perkawinan anak-anak mereka. Apalagi yang menikah itu keponakan dan laki atau perempuan yang usianya di bawah saya. Duh, siap-siap aja mendapat sindiran dari salah satu paman atau bibi! Sederet pertanyaan pun meluncur seperti muntahan peluru dari senapan mesin.
"Giliran kamu kapan...?"
"Kok, pacarnya nggak di ajak?"
Saya tetap menjawab pertanyaan mereka komat tentu dengan jawaban skenanya. Jawaban saya:
"Tunggu aja tanggal mainnya!"
Hahaha, kesannya kayak iklan film bioskop aja ya? Belum lagi kalau ketemu teman-teman satu sekolah atau teman-teman yang lama nggak ketemu, yang udah married lebih dulu. Biasanya mereka tanya,"anak Lo udah berapa...?"
Saya jawab, "dua. Kayaknya dua aja cukup deh.... Habis, dua aja udah repot banget ngurus nya..."
"Bini Lo orang mana seh?"
"Jakarta, kalo jauh jauh males pulang kampung nya..."
"Ngomong ngomong, kok ngak di ajak..?"
"Wuah, bini gue mah paling males kalo di ajak ajak..."
"Enak banget Lo!"
"Yaa, gitu deh!"
"Oke deh, kapan kapan gue main ke rumah Lo ya..."
"Oke, tapi kalau main telfon telpon dulu ya..."
"Biar gue bisa ngumpet atau menghindar..hehehehe.." dalam hati.
Menurut saya, ada untung dan ruginya jadi jomblo. Untungnya:
•bebas pergi ke mana aja sesuka hati tanpa ada yang melarang.
•hemat bisa jajan sendirian.
•nggak ada yang cemburu.
•terhindar dari kemungkinan berbuat dosa.
Ruginya:
•sering diejek teman karena dianggap nggak laku.
•kesepian.
•sedih karena ngerasa nggak bisa dapetin satu aja cewek dari jutaan cewek yang ada di Indonesia ini.
•sengsara karena nggak pernah bisa jalan dengan seseorang yang dicintai.
•merana karena bisa dianggap gay alias suka dengan sesama jenis.
•pilu bila melihat orang lain bisa saling berpasangan.
•rasanya ingin bunuh diri aja karena nggak laku-laku... hahaha..biar dramatis!
Banyakan ruginya, yah? Ah, itu bisa-bisanya saya aja kok. Sebenarnya... Jadi jomblo itu asik loh... Kata saya sambil nangis berlinang air mata tapi masih bisa ketawa.
Oh ya, saya mau cerita sedikit nih. Pagi-pagi sekali, suatu hari, saya mendengar bisik-bisi emak pada adik perempuan saya yang sudah lebih dulu menikah. Emak saya mengoceh dengan nada mengeluh pada adik saya, "kapan sih abang lo bawa perempuan ke rumah, anak lu aja bentar lagi mau dua. Jangan-jangan... Abang lo si Jay itu nggak kawin-kawin sampai tua...?!"
Saya bergidik mendengarnya. Lalu saya pun berdehem,"ehm...!"saya pikir emak saya akan menghentikan rupiahnya dengan adik setelah melihat saya berada di dekatnya. Ternyata emak saya nggak merasa risih sedikitpun. Malahan kali ini tak lagi berbisik-bisik. Beliau menyeletuk di depan saya, celetukan seperti biasa yang kerap saya dengar kalau ada tetangga sebelah saya menikah;"zae.. emak kan pengen banget ngerasain gendong cucu dari kamu Lo! Jangan sampai emak sama bapak mati lo baru kawin...!"
Mendengar celetukan emak saya senyum dan adik saya yang penuh ejekan, saya pun sibuk di depan emak saya. Saya membongkar isi kulkas, menggeledah lemari makan, membuka buka tutup nasi, membolak-balik penggorengan, melongok bagian bawah kompor gas.... Sampai emak berteriak dengan kesal:"zae... Lo lagi nyari apaan, sih?!!"lalu saya jawab dengan santai ,"lagi nyari cewek buat calon menantu emak.... Siapa tahu ketemu di dapur ini...!"
Emak saya melotot sambil mengambil lap,lalu melemparkan nya ke muka saya. Tapi saya sudah lebih dulu menghindar. saya berlari sambil ketawa ngakak ke dalam kamar mandi.
Saya tidak peduli emak mencorocos sambil mengikuti langkah saya sampai mengejar-kejar pintu kamar mandi, karena kesal atas sikap saya tadi. Saya terus saja tertawa sendiri di dalam kamar mandi, hingga suara emak nggak lagi terdengar.
Karena terlalu lamanya ketawa, air mata saya sampai tumpah ruah. setelah beberapa menit terdiam dan mengatur nafas yang naik turun,air mata saya masih saja mengalir terus membasahi pipi. Ternyata saya baru sadar kalau pada akhirnya saya sudah berubah terisak. Hanya air kolam kamar mandi yang tahu. Hanya lubang WC di mana saya nongkrong yang hanya dinding, bola lampu, sikat gigi, odol, sabun mandi, shampo, yang tahu kalau sebenarnya saya lagi sedih setengah mati.
Pagi itu saya pun berpikir, sambil nongkrong di WC. Saya sudah 30 tahun lebih... Kapan saya bertemu dengan Miss right? Apakah saya harus menunggu sampai usia 35 tahun untuk menikah? Atau 40 tahun? amit-amit...
Miss right, where are you?
Saya yakin kamu nggak bakal mau ngumpet di dapur emak saya! Hihihi..
Betapa sulitnya bagi saya menemukan seorang gadis untuk saya jadikan kekasih, sebelum benar-benar resmi jadi pendamping hidup. Mengapa Tuhan tak segera mempertemukan saya dengan si gadis, si Miss right yang saya maksud, yakni seorang yang membuat dada saya berdesir-desir, biar langsung saya lamar aja sekalian!
"Duh, gue kok jadi jujur begini ya...?!!" Dalam hati.
Kringggg....kringgg...!
Maaf pembaca, telepon rumah saya bunyi. Di rumah lagi nggak ada. Malam minggu ini semua orang rumah lagi pergi kondangan di tempat saudara. Kebetulan saya malas ikut. Takut ditanyain soal pendamping hidup sama bibi atau Paman saya. Saya harus mengangkat telepon itu. Siapa tahu ada telepon penting. Takutnya keburu diputus.
Skip...
Tau nggak yang barusan itu telepon dari siapa?
Ternyata Eliza. Eliza, cewek yang selalu menggetarkan dada setiap kali mata saya memandangnya, bila minta dijemput jam setengah delapan malam. Iya akan menunggu saya di teras rumahnya. Malam nanti menurut rencana kami mau berangkat ke graha Bhakti budaya taman Ismail Marzuki nonton pertunjukan teater. Sehabis itu mungkin mampir di warung tenda, makan roti bakar dan susu coklat sambil ngebahas cerita apa yang baru saja kami lihat. Duh, asik banget ya.
Sayang, tulisan paragraf di atas cuman fiksi alias khayalan!
Yang benar, sesungguhnya malam minggu ini saya berada di rumah seorang diri, nggak pergi ke toko buku. Nggak pergi ke mall, yang ada toko bukunya. Nggak ke cafe, yang ada toko bukunya. Nggak ke galeri, yang ada toko bukunya. Nggak ke bioskop yang terdapat di mall, dan bisa mampir di toko bukunya sehabis nonton.
Yang jelas malam minggu ini saya nggak pergi kemana-mana. Saya mengurung diri di dalam kamar.