PERTEMANAN DALAM KEBENCIAN
Apa itu kebahagiaan disekolah? Apa itu arti dari pertemanan? Apa kalian pernah merasakannya?
Aku tidak pernah merasakannya. Yang aku rasakan hanyalah rasa benci yang sangat mendalam.
Mengapa? Karena pada saat aku membutuhkan bantuan, mereka semua pasti tidak ada. Tapi
pada saat mereka membutuhkan bantuanku, pasti aku akan ada disaat itu juga. Hal ini, pernah
terjadi pada saat aku meminta pertolongan pada orang yang telah memanfaatkanku.
“Aku boleh enggak minta kunci jawaban sama kamu? Nanti kalau kamu enggak bisa, aku kasih
jawabanku,” ucapku saat meminta jawaban pada Nisa, orang yang pernah membullyku.
“Kalau aku enggak mau gimana? ” ujar Nisa dengan wajah yang julid.
“Tapi, ‘kan, aku pernah bantu kamu. Bahkan aku kasih kunci jawabanku untuk kamu. Masa kamu
enggak mau bantu aku,” ucapku mengingatkan Nisa bahwa aku pernah membantunya.
“Pokoknya, aku enggak mau bantu kamu, soalnya kamu itu gimana ya, hemm... Enggak bisa
dibilang. Yang pasti aku enggak bakal kasih kunci jawaban buat kamu,” ucap Nisa.
Aku hanya terdiam, dan tidak bisa berkata-kata. Dan betapa bodohnya aku, dengan mempercayai
semua omong kosong belaka Nisa.
Sampai aku berada di kelas 6 SD, Nisa semua pun tetap sama, hanya mengatakan omong kosong.
Pada saat ulangan, Nisa meminta jawaban kepadaku.
“Eh, aku boleh enggak minta jawaban sama kamu? ” ujar Nisa.
“Tapi guru bilang kita tidak boleh menyontek,” ucapku sambil menasihatinya.
“Alah, nanti aku kasih jawaban kalo kamu enggak bisa,” ucap Nisa dengan nada yang tinggi.
“Emmm yaa, ” ujar aku sambil mengangguk.
Dan dengan bodohnya, aku mempercayai lagi perkataan Nisa. Dan pada saat aku membutuhkan
bantuan Nisa, Nisa pun menghilang begitu saja.
Mengapa ada orang yang mengatakan bahwa teman adalah orang yang menyelamatkan kita dari
neraka bernama kesepian. Tapi menurutku, teman adalah orang yang menghancurkan semua
kepercayaan kita, dan mereka lah yang membawa kita ke neraka bernama kesepian. Kenapa aku
mengatakan seperti itu? Karena semua yang pergi belum tentu akan kembali, dan begitu juga
kepercayaan.
Mengapa ada orang yang mengatakan bahwa teman adalah orang yang menyelamatkan kita dari
neraka bernama kesepian. Tapi menurutku, teman adalah orang yang menghancurkan semua
kepercayaan kita, dan mereka lah yang membawa kita ke neraka bernama kesepian. Kenapa aku
mengatakan seperti itu? Karena semua yang pergi belum tentu akan kembali, dan begitu juga
kepercayaan.
Dan pernah ada saat-saat aku tidak memberikan jawabanku kepada teman-teman, karena aku
tahu, mereka semua hanya memanfaatkanku.
“Chisya, kami minta jawaban dong, kek biasa pokoknya, kalau kamu enggak bisa, nanti kami
bantu,” ucap teman-teman, dengan serentak.
“Maaf, tapi kali ini aku enggak mau kasih jawabanku untuk siapapun,” ucapku.
“APA?! Berani banget sih kamu. Liat aja nanti ya, kami semua bakal kasih kamu balasan,” ucap
mereka, dengan nada yang sangat marah. Aku hanya bisa terdiam ketakutan. Apakah mereka
akan melakukan sesuatu terhadapku?
Pada suatu hari, aku berada disebuah toilet. Tiba-tiba, teman-teman mengurungku di sebuah
toilet. Aku berpikir, mengapa mereka mengurungku. Apa mungkin aku tidak memberikan
jawaban pada saat ulangan? sepertinya memang benar bahwa mereka ingin membalas dendam
terhadapku.
Aku harus menunggu selama 3 jam, sampai orang-orang berpikir bahwa aku tidak sekolah. Aku
mengetuk pintu tapi tidak seorang pun yang mendengar.
“Hei, ada orang diluar? Siapa saja, tolong aku! aku terkunci didalam!” ucapku, meminta
pertolongan dengan air mata menetes karena rasa takut yang dimana hari telah senja.
Dan akhirnya aku pun bebas. Aku bisa bebas karena ada seorang anak yang ingin membantuku.
Tapi, ternyata anak itu adalah suruhan dari teman-teman jahatku, dan mereka pun
menertawakanku yang terkunci didalam toilet, oleh ulah mereka.
“Mampus, siapa suruh enggak mau kasih jawaban kamu sama aku. Liat aja ya besok-besok kalau
enggak mau kasih lagi,” ucap teman-teman sembari memegang kerah bajuku dengan nada
mengancam.
Aku sangat membenci atas tindakan mereka. Ini semua tidak adil. Mengapa mereka di depan
teman-teman yang lain sangat baik, sedangkan aku diperlakukan seperti tidak manusiawi. Aku
sangat ingin mengatakan isi hatiku, tapi mengapa tidak ada yang ingin mendengarkannya.
Apakah aku seburuk itu? Sampai-sampai tidak ada yang ingin berteman denganku, mengapa aku
tidak pernah bahagia?
Waktupun berlalu begitu saja. Kami semua pun terpisah dikarenakan kami semua telah lulus
dari SD dan aku harus masuk kesekolah yang lebih tinggi. Pada saat itu, aku tersenyum lebar
karena aku tidak perlu lagi melihat wajah yang paling kubenci.
Dan pada saat aku masuk ke sekolah baruku, di depan pintu gerbang sekolah, aku melihat banyak
sekali manusia yang tidak diketahuisifat aslinya.
“Apa aku akan bertemu lagi dengan orang seperti mereka? Semoga saja aku tidak bertemu lagi
dengan orang yang seperti itu,” gumamku sambil memikirkan nya.
Ting… Ting… Ting…
Bel masuk sekolah pun berbunyi, menandakan aku harus bergegas menuju ke kelas. Dan di
situlah aku bertemu dengan teman-teman baruku. Disitu aku berpikir bahwa mungkin saja aku
akan bahagia disekolah ini, tidak dengan sekolah lamaku.
“Eh, nama kamu siapa?” ucap seorang gadis yang rambutnya terurai.
“Siapa? Akukah?” ucapku dengan bingung.
“Ya iyalah, kenalin namaku Rania Fathia. Kamu bisa panggil aku Rania. Oh ya, nama kamu siapa?”
ucapnya sembari memperkenalkan dirinya sendiri.
“Namaku Chisya Satoru, panggil aja Chisya,” ucapku.
“Baiklah, tapi ada satu masalah,” ucap Rania.
“Masalah?” ucapku kebingungan.
“Kenapa kamu manissekali? Aku kan jadi insecure,” ucapnya.
“Bukannya kamu yang lebih manis? Kalau ada semut, pasti aku bilang gini: Semut kesini deh, ada
yg lebih manis nih, daripada gula, yaitu kamu,” ucapku,seraya menggombali Rania.
“Hahaha kamu bisa aja,” ucap Rania. Dia tertawa kecilsetelah mendengar ucapanku.
Aku berpikir, mungkin saja teman baruku lebih baik daripada teman lamaku, karena pada saat
aku membutuhkan bantuannya, dia membantuku dengan senang hati, begitupun sebaliknya aku
terhadapnya.
“Chisya, aku mau minta tolong, boleh enggak?” ucap Rania, meminta pertolongan kepadaku.
“Boleh, mau minta tolong apa?” ucapku.
Aku enggak bisa soal nomor sepuluh. Boleh enggak aku minta jawaban sama kamu? Soalnya aku
minta sama orang lain, enggak pada kasih,” ucapnya dengan nada yang sedih karena tidak ada
yang menolongnya.
“Kenapa enggak minta aja sama aku... Aku bakal kasih kok. Nih, ambil jawabannya. Maaf, ya, kalau
salah jawabanku,” ucapku sembari memperlihatkan jawabanku.
“Eh, kenapa kamu yang minta maaf. Harusnya aku yang minta maaf. Ini beneran ‘kan kamu kasih
jawaban kamu untuk aku?” ucapnya.
“Iya, benar,” ucapku seraya mengangguk.
“Kok kamu baik banget? enggak pernah aku lihat orang sebaik kamu, biasanya orang enggak pada
kasih jawaban mereka. Tapi kalau kamu beda, kamu kasih jawaban kamu untuk aku. Pokoknya
kamu the best,” ucapnya memujiku.
“Enggak kok. Kamu ‘kan baik sama aku, jadi aku baik juga sama kamu. Oh ya, makasih atas
pujiannya tadi,” ucapku sambil berterimakasih kepadanya karena telah memujiku.
“Sama-sama,” ucapnya.
Tapi pada suatu saat, aku berada di kantin bersama dengan teman-teman baruku, tiba-tiba aku
melihat wajah yang kubenci. Kupikir itu hanya khayalan kusaja. Ternyata itu itu bukan
khayalanku, melainkan itu adalah teman duluku. Wajah yang paling kubenci. Dan senyum di
wajahku pun langsung menghilang.
Lalu dia tidak sengaja melihatku. Aku pun tersenyum kepadanya. Tapi dia hanya melirikku,
seakan-akan dia sedang melihat kotoran. Disitulah rasa benciku semakin meluap.
Keesokan harinya, aku tidak sengaja bertemu dengannya, pada saat aku berada di kantin sekolah,
dengan teman-teman baruku.
“Heh, ternyata kita ketemu lagi ya, Chisya, ” ujar Nisa.
“Iya,” ucapku.
“Udah sombong ya, mentang-mentang udah ada kawan baru,” ucapnya dengan nada kesal.
“Itu bukan urusanmu,” ucapku.
“Maksudmu apa, ya? Berani, ya, kamu? Sini kamu biar aku kasih pelajaran buat kamu,” ujar dia
yang ingin menyakitiku.
Hei, jangan berani ya sentuh dia! Kalau enggak, kami semua laporin ke Guru,” ucap semua
teman-teman.
Dia pun pergi dengan kemarahan. Aku berterima kasih pada teman-teman karena sudah
membantuku. Lalu aku pun pergi dengan seorang diri, ke suatu tempat yang sangat tenang, yaitu
di atap gedung sekolah. Aku merasa tempat itu sangat tenang, tidak ada satupun orang.
“Apakah aku akan menderita seperti dulu? Sepertinya ini memang nasibku,” ucapku sambil
termenung.
“Eh kok gitu?” ujar Rania, yang baru saja mendengarkan perkataanku.
“Lah, kok ada kamu?” ucapku, dengan nada yang bingung karena tidak biasanya tempat ini ada
orang.
“Ada lah, semenjak kamu bilang bahwa nasib kamu akan menderita, dan juga pada saat kamu
pergi duluan dari kantin, jadi aku penasaran, makanya aku ngikutin kamu sampai sini. Oleh
sebab itu, aku bertanya mengapa kamu mengatakan seperti itu?” tanya temanku.
“Enggak apa-apa kok,” ujarku, walaupun didalam hatiku sakitseperti ditusuk dengan jarum.
“Em… Oh gitu. Tapi menurut aku, kamu itu aneh,” ucap temanku.
“Kenapa?” tanyaku dalam keadaan yang bingung.
“Begini, terkadang kamu itu pendiam dan terkadang periang. Gimana aku jelasinnya ya...
Takutnya nanti tidak paham. Tapi yang pasti kamu itu adalah teman yang paling baik yang
pernah aku jumpai. Maka dari itu kamu jangan pernah menyerah karena aku selalu ada untuk
kamu,” jawab temanku sambil menyemangatiku.
“Ya, makasih,” ujarku.
“Sama-sama,” ucap temanku.
Hari pun berlalu dengan cepat, sehingga aku tidak tahu kapan aku menjadi akrab dengan teman
baruku. Ternyata mereka tidak seburuk yang kupikirkan. Mereka sangat baik dan juga sederhana.
Mereka juga tahu apa arti dari pertemanan.
Dan disitulah aku bisa merasakan apa itu arti dari pertemanan. Dan rasa kebencian terhadap
teman duluku pun memudarseiring berjalannya waktu, walaupun masih tersisa rasa itu.
Dulu aku pernah berpikir, apakah aku membutuhkan kacamata, agar aku bisa melihat dengan
jelas? Karena di dunia ini banyak sekali orang yang tidak tahu apa itu pertemanan.
Aku pernah mendengar, jika orang yang melanggar peraturan adalah sampah, tetapi orang yang
meninggalkan temannya saat kesusahan itu lebih buruk dari sampah. Aku setuju dengan itu.
Kenapa? Karena aku telah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh teman pada saat kita
kesusahan.
Dan sepertinya memang benar bahwa teman adalah orang yang menyelamatkan kita dari neraka
bernama kesepian, tapi jika teman itu tahu arti pertemanan.
Mengapa di dunia ini masih membutuhkan sampah? Bukankah itu hanya akan mengotorinya?
Mengapa tidak dibuang saja? Manusia memang bodoh, tapi terkadang pintar. Seperti itu juga
aku, terkadang bodoh, dan terkadang pintar.
Dan juga, jika aku memang bodoh, tolong bantu aku sampai mengerti, bukan menghinaku....
Bukan bertingkah seakan kau adalah orang yang paling benar. Sebaiknya kalian semua
mengerti.... Bahwa di dunia ini tidak akan bertahan selamanya.
Aku membenci orang yang bermuka dua,
walaupun aku orang yang bermuka dua.