Toko Bunga Hilda
Karya : safa (Salsabila)
Suatu hari, seorang gadis kecil datang ke tokoku. Kami memiliki nama yang sama yaitu Hilda. Saat pertama kali dia datang ke tokoku, ia membeli setangkai bunga Tulip. Ia selalu datang, membeli bunga.
"a ah dia datang lagi. Bunga apa yang akan ia beli ? Mungkin Anemone ( bunga angin) " Gumamku dalam hati
"Kak aku ingin membeli bunga Anemone biru satu tangkai " kata gadis kecil itu.
Aku memberinya bunga yang ingin ia beli, ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Lalu berlari keluar.
Saat aku ingin menutup toko aku menemukan buku tua berisikan tentang ucapan bunga.
" Tulip artinya harapan. Craspedia artinya kesehatan yang baik. Krisan artinya Kesetiaan , kegembiraan , dan umur panjang. Anemone artinya perlindungan terhadap keinginan jahat atau sakit."
Hatiku terasa sakit setelah mengetahui arti dari beberapa bunga yang anak itu beli. Aku menangis sejadi jadinya hingga tertidur dilantai toko. Esoknya ia tidak datang ke tokoku, selama satu bulan ia tidak datang kemari. Aku khawatir ia sedang tertimpa musibah. Kekhawatiran ini membuatku selalu bermimpi buruk, hingga akhirnya mimpi buruk yang paling buruk datang menghantuiku.
Aku melihat gadis itu. Ia berdiri kaku mengenakan pakaian serba putih sambil memegang bunga bunga yang ia beli di tokoku. Ia mendekat ke arahku. Terus ,terus ,terus, terus ,terus dan terus mendekat.
Kepalanya tertancap sebuah anak panah dan berbau bangkai. Tubuhku gemetar sampai ingin mual.
("Kak aku ingin membeli bunga higanbana (dalam bahasa Jepang bunga higanbana artinya kematian.) .") Katanya dengan nada memelas, tepat didepan wajahku.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!......" Teriakku hingga terbangun dari mimpi.
Aku bangun dengan keadaan keringat dingin ,gemetar , ketakutan , hingga menangis. Setiap kali aku melihat bunga dan kain putih aku jadi ketakutan.
Karena aku tidak kuat dengan ketakutan ini, aku jadi tidak bisa fokus bekerja dan terus mengacau hingga membuat pelanggan pelanggan ku marah. Meski ada masalah tapi akhirnya bisa teratasi.
Aku pergi menelusuri tempat tempat terpencil di kota, hingga akhirnya aku menemukannya, rumah tua yang ditempati oleh gadis kecil itu dan kakak laki lakinya.
Didepan rumah aku langsung disambut dengan gadis kecil itu, ia terlihat waspada.
"Kakak Hilda a apa yang membuat kakak datang kemari ? " Ucapnya dengan gugup.
"Aku kemari karena khawatir karena kau tidak datang lagi ke tokoku selama satu bulan jadi aku mencari mu !" Jawabku Ter engah engah karena berlarian ke berbagai tempat.
"Maaf kak aku kehabisan sudah uang, karena kakak ku adalah buronanan. Percayalah ia tidak melakukan kejahatan apapun. Namun, kenapa ...hik....hik.... kenapa ? Padahal ia adalah warga yang baik. " Ucapnya Meyakinkan diriku hingga menangis.
"Aku percaya kok kalau kakakmu tidak bersalah. Apa boleh aku menemui kakakmu? " jawabku sambil menenangkannya.
"Hm......." Ujarnya sambil mengangguk memperbolehkan
"Hil... Ada apa kenapa kau menangis ?" Ujar Ray (kakaknya Hilda )yang panik karena mendengar Hilda menangis.
"Tidak apa apa kak Ray aku sudah tidak menangis kok" kata Hilda sambil menunjukan senyuman lebar ke kakak nya.
Wajahnya yang memerah tersipu malu membuatku tertawa tipis.
"..........ITU DIA ADA DISANA, CEPAT TANGKAP DIA.........." Teriak para prajurit yang melihat Ray keluar dari tempat persembunyiannya.
"Oh tidak, cepat kita harus kabur" Kata Ray dengan panik menggendong hilda.
Aku setuju lalu kami berlarian dari satu jalan ke jalan yang lain sampai ke alun alun kota.
"Cih... kita pasti akan tertangkap" Ucap Ray dengan kesal.
"Oh, ikut aku ke rumah, aku jamin kalian pasti aman disana" Jawabku sambil menunjuk ke arah rumah.
Lalu kami berlari ke arah yang aku tunjuk untuk menuju ke rumah. Sesampainya di rumah aku langsung menutup semua pintu dan jendela, dan aku mengambil sebuah sapu dan pergi keluar untuk berpura pura membersihkan halaman rumah.
"Hey... Ilda apakah kau melihat orang ini ? " Ucap Leone seorang prajurit sekaligus teman lama ku
Aku hanya menggelengkan kepala, karena aku takut salah bicara. Ia terlihat mencurigai ku. Namun akhirnya ia percaya dan mengingatkanku karena ia berbahaya. Aku bertanya kepadanya kenapa ia berbahaya. Tapi ia pergi tanpa mengucap sepatah kata pun.
" Huh... Untuk sekarang kalian aman " jawabku
"Terimakasih atas bantuannya, maaf karena telah merepotkan mu. Namaku Rayendra. Kau bisa memanggilku Ray. Omong omong siapa namamu ?" Kata Ray
"Salam kenal ray, namaku Hilda " jawabku
"Ha ? " Ray kebingungan dan menatapku dan adiknya
Ia bingung bagaimana cara memanggil kami karena nama kami sama. Lalu telah diputuskan untuk memanggil adiknya dengan nama Hilda dan memanggilku dengan nama Ilda (nama panggilan yang ia dengar dari prajurit sebelumnya).
Karena sudah malam, kami pun makan malam bersama. Kemudian bersiap siap untuk tidur. Hilda dan Ray tidur di kamar tidur tamu yang ada di samping kamarku.
Sruk sruk sruk sruk sruk sruk
"........Hehehe hentikan kak itu geli hahaha!!!!!"
"........wiiyyyy burung kenari datang wiyyy.....hahaha"
Kreeeeeet....wusssshhh ...... Srruk.... Bruk
Kreeeeeet....wusssshhh ...... Srruk.... Bruk
Srak srak srak srak srak srak srak srak
"Maaf lama ini selimutnya" kataku sambil membuka pintu .
"Astaga RAY , HILDA...... HA-HA-HA TIDAK TIDAK TIDAK TIDAAAAAAAKKKK!!!!!!!!!!!! RAY ,HILDA SIAPA? SIAPA ? SIAPA YANG TELAH MEMBUNUH KALIAN ? KENAPA ?"
( ".......Kak aku ingin membeli bunga higanbana....." )
( ".......Kak aku ingin membeli bunga higanbana....." )
( ".......Kak aku ingin membeli bunga higanbana.....")
( ".......Kak aku ingin membeli bunga higanbana....." )
( "Hilda... HILDA... HILDA......KAU ADA DI MANA....RAY.....RAY......KALIAN ADA DI MANA.....")
("Ini pasti ulahmu kan ?")
("Apa ? Ray ini bukan ulah ku")
("Bohong kau pasti sengaja kan.kau pasti mengatakan kepada prajurit itu kalau kamu ada disini kalau tidak bagaimana mungkin kami mati disini.")
("Kak Hilda bunga higanbananya mana......?")
"Tidak..... Tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada TIDAK ADA SAMA SEKALI BUNGA HIGANBANA.......LIHATLAH..... LIHAT.....TIDAK ADA SATUPUN......... TIDAK ADA BUNGA HIGAnbana....."
Gubrag
"Maaf Ildia, tapi mungkin lebih baik kalau kau juga. Andaikan saja, kau merelakan mereka yang telah pergi meskipun mereka sangat berharga. Sekarang kamu yang terkena imbasnya maaf... Aku hanya menjalankan tugas"
Kriet......kriet....ngiiiikkkkk.....brrraaak.
TAMAT