"Cintamu hanyalah mimpi bagiku,"
...................................
Apakah kalian tau, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang begitu berarti di hidup kita? Rasanya sakit sekali. Begitu sakit, hingga membuat kewarasanku menghilang. Ya, aku pernah hampir mengakhiri hidupku karena dia. Karena kepergiannya.
Inilah aku, Gadis kota biasa, yang selalu menyusahkan orang tua. Gadis berwajah dingin, yang nyaris tak pernah tersenyum, dan selalu melontarkan kata kata kasar bila ada yang mengusik ketenanganku. Kalian ingin tahu tentangku?
Namaku, Bintang. Bintang Andrea Vallery lengkapnya. Aku lahir di Jakarta, pada bulan Mei tahun 1997. Aku empat bersaudara, dan aku adalah anak ketiga. Aku memiliki dua kakak yang sama sama perempuan dan satu adik laki laki yang masih duduk di bangku dua SMP.
Mungkin itu adalah sepenggal biografiku. Aku memiliki kedua orang tua yang sangat sabar, dan begitu penyayang. Mereka tak pernah membeda bedakan kami. Hanya saja, aku selalu merasa tersisihkan bila berkumpul dengan para saudaraku yang lain. Kedua kakakku masih kuliah dan mereka begitu baik padaku. Tapi aku tak pernah ramah pada mereka. Aku selalu membentak mereka bahkan tak segan segan aku kasar pada mereka.
.................................
Kini tak ada yang kulakukan, aku hanya duduk termenung saja di dalam kamarku. Kupandangi bingkai foto dirinya dan diriku saat kita masih bersama. Hm, kalian perlu tau ya, aku dulu pernah mempunyai seorang pacar yang sangat baik dan setia. Dia tidaklah kaya, tapi dia begitu baik padaku dan keluargaku. Dulu sikapku tak begini, tapi semenjak kejadian itu terjadi, aku sudah tak menikmati hidupku. Hidupku serasa hampa, dan tak ada kebahagiaan di dalamnya.
Kalian ingin tau apa itu? Baiklah, akan kuceritakan sedikit apa itu yang berhasil merubah hidupku sepenuhnya.
Dulu, tepatnya enam tahun lalu, aku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Jatuh cinta pada seorang lelaki tampan dan sederhana bernama, Angkasa. Dia begitu baik padaku selama pendekatan kita. Dia tak sekalipun kasar padaku. Sampai hampir dua bulan kita dekat, akhirnya ia mengutarakan perasaannya padaku. Dia bilang, dia menyukaiku sejak pertemuan pertama kita. Aku sangat bahagia mendengarnya, karena jujur, akupun juga menyukainya. Sangat sangat menyukainya. Hingga kamipun sepakat tuk berpacaran. Menjalani sebulan berpacaran hingga sama sama merasa nyaman barulah akan memikirkan apakah kita akan lanjut dengan hubungan ini atau tidak.
Sampai tanpa terasa hubungan ini telah berjalan hampir satu tahun. Aku bahagia berpacaran dengannya, begitupun sebaliknya. Hingga suatu ketika dia datang ke rumahku. Dia berpakaian rapi, dan terlihat begitu tegang. Aku sempat menanyainya,
"Kenapa kau begitu tegang, sebenarnya ada apa kau ingin bertemu dengan orang tuaku, apa ada sesuatu?" Tanyaku suatu dia datang kerumahku.
Dia menatap kearahku masih dengan raut tegangnya.
"Apa aku tidak boleh bertemu dengan calon mertuaku?" Dia pun berkata demikian.
Seketika jantungku berdetak kencang sesaat dia mengatakan ingin bertemu calon mertuanya yang berarti orang tuaku. Aku pun tersenyum tanpa sadar hingga ayah dan ibuku datang menemui kami.
Kami pun mengobrol ringan sambil sesekali bercanda. Ayah dan ibu ku begitu senang dengan kehadiran Angkasa. Dan Angkasa pun juga terlihat begitu akrab dengan kedua orang tuaku itu. Ia tak terlihat tegang seperti saat kulihat tadi. Ia malah banyak tertawa dan menanyakan begitu banyak pertanyaan pada kedua orang tuaku. Hingga sesaat kemudian keadaan menjadi senyap, tak tau apa yang terjadi, tapi Angkasa terlihat tegang kembali. Ia seperti ingin mengutarakan sesuatu yang besar.
"Om, Tante. Sebenarnya kedatangan saya kesini mau ada perlu dengan om, dan Tante." Ucapnya kemudian.
Kedua orang tuaku pun saling berpandangan.
"Perlu apa ya nak, Angkasa?" Tanya ayahku.
Seketika Angkasa terdiam kembali lalu menatap kedua orang tuaku dengan serius.
"Saya sangat mencintai Bintang, om, dan saya ingin menikahinya selepas lulus nanti."
Seketika aku kaget, mendengar ucapannya. Begitupun kedua orang tuaku. Mereka seketika tersentak lalu tersenyum.
"Jadi maksud kamu ini, kamu mau minta restu pada kami untuk menikahi Bintang, begitu?" Tebak ibuku seraya tersenyum.
"Sebenarnya iya Tante. Saya memang bukan orang kaya, tapi saya berjanji akan membahagiakan Bintang, dan menjaga Bintang dengan sepenuh jiwa dan raga saya."
Air mataku luruh mendengar semua kata kata Angkasa. Dia begitu bersungguh-sungguh bahkan mimik mukanya pun tak berubah.
......................
Setelah pembicaraan itu, kamipun memutuskan untuk menikah setelah kami sama sama lulus nanti. Begitu banyak kebahagiaan yang terpancar di kedua wajah kami. Dan kami pun juga semakin lengket dan saling menjaga satu sama lain.
Aku ingat sekali. Waktu itu adalah hari Senin, tanggal 12 bulan April tahun 2015. Waktu itu aku sedang diperjalanan menuju ke sekolahku menggunakan motor matic pemberian ayahku. Aku begitu bahagia, sebab tak lama lagi aku lulus, dan akan menikah dengan Angkasa. Semuanya serasa menyenangkan bagiku. Hidupku serasa mudah tapi tak lama setelah itu. Aku mendengar kabar mengejutkan sesaat aku baru tiba di sekolahku.
"Tang, Lo tau gak, Angkasa kecelakaan dan sekarang lagi kritis di rumah sakit." Ucap salah seorang temanku sesaat aku baru saja tiba di parkiran sekolahku.
Dia datang seraya berlari kearahku sesaat melihat kedatanganku.
Aku terkejut mendengarnya tapi aku juga tertawa. Lucu saja, sebab baru kemarin aku berbincang lucu dengannya tapi sekarang dia kecelakaan?! Rasanya begitu mustahil untuk kuterima. Tapi belum selesai aku tertawa, dia langsung menunjukkan sebuah foto di hp nya. Sebuah foto kecelakaan naas yang menimpa seorang pelajar SMA pada pagi tadi pukul enam. Awalnya aku masih bisa mengelak, jika itu pasti bukanlah Angkasa, tapi melihat motornya yang rusak itu, mengapa begitu mirip dengan motor Angkasa?! Tidak! Itu tidak benar kan? Angkasa pasti baik baik saja, itu pasti adalah berita palsu, benar kan??
Tanpa ba-bi-bu, aku pun segera menaiki kembali motorku lalu pergi menuju rumah sakit tempat Angkasa di rawat. Ia ternyata di rawat di RS. Jati mulia, tak begitu jauhlah dari sekolahku.
Selepas sampai di sana, aku pun segera berjalan tergesa menuju meja resepsionis dan menanyakan ruang tempat Angkasa di rawat. Ia ternyata di rawat di ruang UGD, dan kondisinya tak begitu baik.
Aku begitu mencemaskan nya, terlebih firasatku begitu tak enak semenjak tau dirinya kecelakaan.
Sesampainya di depan ruang UGD, aku melihat seorang ibu ibu yang mungkin seumuran dengan ibuku tengah duduk di ruang tunggu sembari menangis. Dia adalah ibu dari Angkasa. Dan melihatnya menangis seperti itu, apakah terjadi sesuatu yang serius pada Angkasa?
"Tante, bagaimana keadaan Angkasa?" Tanyaku setelah aku sampai di depan ruang UGD.
"Kamu temannya Angkasa, ya?" Tanya ibu itu.
Aku pun mengangguk lalu menjawab, "Iya Tante, saya Bintang, teman dekatnya Angkasa. Eum Tante, Angkasanya gimana, dia baik baik aja kan?" Tanyaku cemas.
Ibu Angkasa pun langsung berdiri dari kursinya lalu memelukku sembari menangis.
"Tante, Angkasa baik baik aja, kan?" Sebenarnya aku ragu menanyakan ini, sebab perasaanku begitu tak enak. Aku takut terjadi sesuatu pada Angkasa.
Si Tante pun masih saja menangis dan tak menanggapi pertanyaanku. Tapi setelahnya ia pun melepas pelukannya lalu menatap sendu kearahku.
"Angkasa sudah pergi nak, dia sudah pergi menyusul ayahnya." Setelahnya ibu Angkasa pun menangis kembali.
Seketika duniaku serasa runtuh. Aku jatuh terduduk di lantai rumah sakit sembari menatap lurus kedepan tanpa ekspresi.
Sebenarnya aku ingin mengatakan tidak, dan tak mempercayai semua itu. Tapi melihat ibu Angkasa sendiri yang mengatakannya sembari menangis, membuatku semakin yakin, jika Angkasa memang benar benar pergi. Dia pergi untuk selamanya.
Tanpa diminta akupun menangis, meluapkan kesedihanku karena kepergian Angkasa. Kemudian dengan dibimbing ibu Angkasa, aku pun berdiri lalu mengikutinya masuk kedalam ruang tempat Angkasa di rawat.
Ibu Angkasa pun berjalan mendekat kearah seseorang yang ditutupi kain putih lalu membukanya perlahan. Kini aku pun benar benar menangis, aku berjalan mendekat kearah tubuh Angkasa lalu memeluknya. Aku menangis sembari memeluk tubuh Angkasa yang mulai terasa dingin.
Kini tak ada lagi senyum yang terukir di bibirnya. Tak ada sosoknya yang selalu menghangatkan hari hariku. Dan tak ada lagi cintanya yang begitu manis buatku. Aku begitu sedih melihat kepergiannya, kepergiannya yang tiba tiba.
Aku mengingat saat saat dimana ia dengan beraninya menemui kedua orang tuaku lalu meminta restu pada mereka. Rasa rasanya baru kemarin kita merencanakan pernikahan kita, tapi sekarang kau sudah pergi untuk selamanya. Kini takkan ada lagi pernikahan, takkan ada lagi kebahagiaan di hidupku setelah kepergianmu. Aku mencoba ikhlas tapi tak bisa. Rasanya begitu sakit sampai sampai, setelah empat puluh hari kematianmu, aku terpikirkan suatu hal gila. Ya, aku berpikir untuk pergi menyusul mu saja. Aku memutuskan untuk bunuh diri dengan menyilet nadiku menggunakan cutter. Aku takut sebenarnya, tapi rasa takutku di kalahkan oleh rasa sakitku atas kepergiannya.
Aku menangis, dan hendak menyilet nadiku sendiri. Tapi belum juga itu kulakukan, ibuku datang. Dia memelukku dari belakang lalu merebut cutter yang kupegang itu. Ia menangis sambil memelukku.
"Apa yang mau kau lakukan dengan cutter itu, nak?"
"Apa kau mau membunuh dirimu sendiri, tapi mengapa, mengapa kau melakukan itu?" Tanya ibuku.
"Itu bukan urusan ibu." Jawabku dingin nyaris tanpa ekspresi.
Ibuku masih saja menangis lalu melepas pelukannya padaku.
"Nak, kau lihat ibu. Lihat ibu. Tidakkah kau kasihan pada kami. Dengan kau membunuh dirimu sendiri, tidakkah kau berpikir, kami akan bersedih karena kehilanganmu? Tidakkah kau memikirkan perasaan kami?"
Aku terus saja diam tanpa menyahut.
"Bintang, sebenarnya apa yang terjadi denganmu, apa masalah yang sampai membuatmu berpikir ingin bunuh diri seperti ini?" Tanya lagi ibuku sembari menggoncang pelan bahuku.
Aku tak menyahut tapi detik itu juga akupun menangis. Menangis tersedu sembari menutup mukaku dengan kedua pahaku.
"Nak, jika kau ada masalah, ceritalah pada kami. Jangan kau mengambil keputusan seperti ini. Jika kau bunuh diri, itu tidak hanya merugikan dirimu sendiri, tapi juga orang orang di sekitarmu. Aku, ayahmu, adikmu dan kedua kakakmu pasti sedih karena kepergianmu. Bintang, sebenarnya kau ada masalah apa? Cerita pada ibu, siapa tau ibu bisa membantu." Ujar ibuku.
"Lebih baik ibu keluar dari kamarku. Aku sedang tidak ingin diganggu." Ucapku dingin.
........................
Itulah sepenggal kisah cintaku yang tragis. Seorang yang kucintai, pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Menyedihkan bukan, karena semenjak kepergiannya aku tak sedikitpun tertarik pada siapapun. Rasa di hatiku seperti turut mati bersamanya. Bahkan hingga kini pun, aku belum juga memiliki pasangan kembali. Tak ada yang menarik perhatianku kecuali sosoknya yang telah pergi.
Kini di dalam kamar ini, aku masih berharap, semoga keesokan harinya, saat aku bangun dari tidurku aku mendapati semuanya hanyalah mimpi.
Dan kamu, Angkasa. Kamu masih menyapaku seperti biasa.
"Pagi bidadarinya Angkasa."
Tamat.