Sejak lama di kota ku telah beredar rumor tentang rumah tua yang selalu memakan korban setiap malam Halloween. Dan rumor itu telah tersebar ke seluruh kota yang mana bahkan anak kecil sepertiku pun mengetahuinya.
Nama ku joan umur ku 10 tahun aku memiliki adik perempuan bernama vania ia dua tahun lebih muda dari ku. ini adalah malam Halloween, seperti Halloween- Halloween sebelumnya aku dan vania selalu menunggu evan dan bobi di depan rumah sebelum mulai mengelilingi kota untuk trick or treat.
Karna bosan menunggu aku pun mulai menceritaka kebohongan pada adik ku yang penakut itu, “kau tau rumah kosong di pinggir kota yang terkenal angker itu?” “ya tau, ada apa?” tanyanya tertarik,
“Dulu aku pernah ke rumah angker itu bahkan aku berbicara dengan hantu di sana” “ya ya ya hentikan omong kosong mu joan aku tau kau sedang menakut-nakuti ku” ia menatap ku dengan senyum miring di wajahnya
“ya sudah kalau tidak percaya, yang jelas aku tau hantu wanita yang menghuni rumah itu mati kelaparan saat menunggu keluarganya yang tak kunjung kembali”
“kenapa dia bisa mati kelaparan bukankan rumah itu cukup besar, pasti dia punya uang untuk membeli makanan” ia mulai percaya cerita ku
“ya aku juga telah menanyakan itu namun katanya ia lumpuh jadi ia hanya bisa menunggu keluarganya yang ternyata pindah ke luar kota dan meninggalkanya di sana”
“tapi bukankah orang yang berhasil masuk ke rumah itu tidak akan bisa keluar, kenapa kau bisa keluar?” tanyanya penasaran
“Tentu saja karena aku membagikan coklat yang ku bawa padanya jadi ia mebiarkanku untuk pulang”
“tapi kenapa hantu…..” belum selesai kata-kata yang di ucapkan vania tiba-tiba evan dan bobi tiba di hadapan kami.
Aku mulai menceritakan kebohongan itu pada mereka berdua, dan tampa di duga mereka mengajak kami untuk datang ke rumah tua itu untuk memastikan cerita ku, karna tak mau ketahuan berbohong aku pun menyetujuinya.
Kami tiba di rumah tua itu namun tak seperti rumah pada umumnya rumah itu tak memiliki pintu di depannya, vania terus berjalan mengikutiku mengelilingi rumah dari belakang untuk mencari pintu masuk,
“ah sudahlah mungkin kita tak beruntung jelas-jelas kita tak menemukan pintu rumahnya bagaimana kita bisa masuk” kata bobi yang terlihat lelah setelah mengelilingi bagian luar rumah yang cukup luas.
“tunggu” kata ku bersemangat “lihat sepertinya kita bisa memangjat jendela itu” aku segera menarik kursi kecil di depan tumah dan meletakanya tepat di bawah jendela, kami pun masuk bergantian ke dalam rumah, tak ada yang menarik hanya ada ruangan luas penuh perabotan yang di tutupi debu
“ joan ayo kita pulang saja, firasat ku tak baik tentang rumah ini” kata vania merengek sambil menarik lengan baju ku.
“ayolah vania kenapa kau jadi penakut begini, berikan saja hantunya coklat jika kau melihatnya hahaha”
Vania menatap ku kesal, kami menelusuri seluruh ruangan itu hingga akhirnya berhenti di satu kamar di lantai dua, semua perabotan di kamar itu di tutupi dengan debu kecuali lukisan wanita yang duduk di tepi danau yang terpajang di dinding kamar, entah kenapa saat kami sedang sibuk memeriksa lemari atau lubang-libang yang mencurigakan vania malah lebih tertarik melihat lukisan sambil mengacungkan coklat di tangannya.
“vania apa yang kau lakukan, ayo kita lihat ruangan lain” aku menarik tangan vania dan membawanya ke ruangan lain. Namun baru beberapa langkah kami keluar dari kamar suara rintihan pun terdengar dari kamar tadi, “apa ada orang di sana? apa kau keluargaku? Hik hik hik Kenapa tidak menyapa ku jika kalian sudah kembali?” suaranya semangkin lama terdengar semangkin jelas di ikuti rintihan yang menyeramkan, “jangan-jangan kalian pencuri itu? Hik hik hik hik jangan mencuri barang di rumah ku nanti keluarga ku akan marah pada ku lagi”
Kami saling menatap satu sama lain dengan wajah yang tak karuan sepertinya evan dan bobi sama terkejutnya dengan ku, “joan sepertinya ia kelaparan aku akan memberikanya coklat dari tadi ia memelas menatap ku” vania berlari menuju kamar dan tiba-tiba pintu kamarpun tertutup,
Tak lama kemudian rumah pun bergoncang cukup kuat dengan suara bising yang memekakan telinga seakan sedang di terpa badai topan. “joan kita harus keluar” teriak bobi dan evan yang berlari menuju jendela tempat kami masuk tadi, namun jendela itu telah musnah entah ke mana semangkin lama debu di lantai mulai beterbangan di udara dan membuat pandangan semangkin terbatas, aku terus berusaha mendobrak pintu kamar sambil memanggil vania untuk keluar namun tak ada jawaban.
Di saat aku mulai putus asa pintu itu pun terbuka dengan sendirinya, aku melihat vania berdiri di depan lukisan sambil mengacungkan coklat yang ia pegang ke lukisan itu, dengan sigap ku tarik tangan vania dan membawanya turun menemui bobi dan evan yang tampak masi panik.
“tak ada jalan keluar apa yang harus kita lakukan” tanya evan yang hampir menangis
“lihat ada pintu” tunjuk vania tiba-tiba, “bagai mana….” Evan dan bobi tampak bingung, “sudahlah ayo keluar” teriak ku, aku masi menggemgam tangan vania dan menarikna keluar yang di ikuti oleh bobi dan evan di belakang ku, kami terus berlari menyusuri jalan dan berhenti di depan rumah ku.
Evan dan bobi menatap ku dengan wajah pucatnya yang masi di penuhi debu dan nafas yang belum teratur, “di mana vania?” tanya mereka serentak,
Reflek aku pun melihat ke samping dan melihat tangan ku, aku kaget melihat ranting kayu yang ku genggam, “VANIAAAAA” aku pun melihat sekitar ku dengan panic, namun tak ada vania di sana semua orang yang lewat menatap kami dengan aneh mungkin karna penampilan kami yang terlihat sangat kotor di balik kostum super hero yang kami kenakan.
Keesokan harinya setelah penjelasan dan isak tangis yang keluar dari mulut kami kedua orang tua ku dan polisi segera menuju rumah tua itu namun tak ada apa pun di sana semua perabotan masi rapi dan tertutup oleh debu seakan belum pernah tersentuh manusia sejak lama…..