Tentang rasa yang tak bisa di jelaskan,
Tentang rindu yang tak lagi bisa di utarakan
Tentang kamu yang kan selalu ada dalam ingatan
Tentang kita yang pernah saling memberi rasa nyaman.
Semuanya kan tetap terpatri dalam kubangan kenangan, bersatu dengan dalamnya kekecewaan.
Aku dan kamu tak lagi menjadi kita,
Aku dan kamu kembali asing seperti pertama kali bersua
Aku dan kamu, tak kan lagi menjadi kita ....
💮💮💮
“Hei ngelamun terus! Ntar kesambet penunggu pohon baru tahu rasa!” Seorang gadis cantik berambut lurus sebahu mendaratkan bokongnya di samping sahabatnya, Alea. Gadis yang sedari tadi duduk di bawah pohon Trengguli di samping kantor tempat mereka bekerja.
“Apa sih, Lin? Mana ada setan di siang bolong? Lagian siapa yang ngelamun sih? Orang lagi baca novel juga.” Elak Alea seraya menutup sebuah novel yang berada dalam genggamannya.
“Apaan baca novel? Lah wong novelnya di mana, matanya kemana.” Sindir Lina, sang sahabat.
Alea hanya tertawa kecil karena tidak bisa lagi mengelak. Ia tidak akan pernah berhasil berbohong jika dengan wanita ceria yang ada di sampingnya ini.
“Udah lah, ikhlasin. Regan udah jadi suami orang. Kalian itu di takdirkan hanya untuk bertemu, bukan untuk bersatu. Kalian itu ibarat Langit dan bumi, nggak akan bisa nyatu.”
“Siapa yang mikirin dia, sih? Ngawur kamu!”
“Siapa yang ngawur sih? Orang aku ngomong apa adanya. Udahlah, lupain dia dan cari yang baru. Di kantor ini banyak banget cowok ganteng, bahkan jauh lebih ganteng dari si Regan. Move on dong, dia aja kelihatan happy aja sama istrinya. Masak kamu gagal move on? Udahlah, lupain dan buka hati kamu untuk cinta yang baru.”
Alea menarik napas berat. Pandangannya kosong ke depan, menatap rerumputan yang bergoyang di sapa lembutnya belaian angin sore.
Awan hitam bergelayut manja di atas langit, berarak perlahan membentuk kegelapan yang kapan saja bisa turun mengguyur bumi.
“Tidak segampang itu membuka hati untuk orang baru. Bagaimana aku bisa mengizinkan orang lain masuk ke dalam rumahku, sementara di dalamnya penuh pecahan kaca yang berserakan? Bukankah aku malah membahayakan dan akan membuat mereka terluka? Maka lebih baik aku menutup rapat-rapat pintunya, agar mereka tidak dapat masuk dan terluka oleh serpihan kaca yang malas ku bersihkan.” Alea tersenyum getir. Mengingat hatinya yang berantakan setelah perperangan batin yang tak bisa terelakan. Lina menatap sedih pada sahabatnya, gadis yang dulunya periang itu kini berubah menjadi pendiam. Wajah yang biasanya terhiasi oleh senyum, kini di gantikan oleh wajah datar tanpa ekspresi. Sering melamun dan tidak ada semangat hidup. Semuanya berawal dari Regan, pria yang menjalin hubungan dengannya selama hampir lima tahun. Cinta keduanya terpaksa kandas karena orang tua Regan yang tak menyetujui hubungan mereka. Lagi, perbedaan kasta membuat mereka harus mengubur dalam-dalam rasa cinta yang telah tumbuh subur itu. Membuat keduanya hancur lebur, bahkan tak ada lagi yang tersisa. Regan terpaksa menerima perjodohan dari orang tuanya dan menikahi gadis pilihan mereka. Meninggalkan luka yang teramat dalam di hati gadis sederhana yang hanya punya cinta yang tulus untuk Regan.
Sore ini Alea pulang sendirian, Lina sudah pulang duluan di jemput kekasihnya. Gadis itu menyusuri jalan di tengah gerimis yang semakin deras. Menjatuhkan titik-titik air ke bumi, membasahi tubuhnya yang tak lagi memiliki rasa. Baginya, semuanya sama saja semenjak Regan di rebut paksa dari pelukannya.
Gerimis itu berubah menjadi hujan deras, semua orang berlarian mencari tempat untuk berteduh tapi tidak dengan Alea. Ia terus berjalan di tengah hujan, tanpa pelindung apapun. Kemeja navy yang ia kenakan sudah basah terkena air hujan. Rambutnya yang bergelombang telah lepek tak berbentuk, terpaan angin yang menyentuh kulitnya tak lagi di hiraukan.
Ia berhenti di tengah derasnya guyuran hujan. Memori ingatannya kembali pada moment di mana ia dan Regan bermain hujan, tertawa bersama tanpa beban serta penuh rasa cinta. Tak ada kesedihan, keduanya tersenyum bahagia. Mengingat hal itu membuat hati Alea kembali sakit, ia meremas dengan kuat dadanya yang terasa sesak.
“Andai kamu ada di sini, andai kita masih bersama. Andai kau masih milikku. Mengapa takdir begitu kejam pada kita? Mengapa takdir merebut kamu secara paksa? Mengapa kita di pertemukan jika hanya untuk di pisahkan?” lirihnya penuh kesakitan. Tubuhnya luruh ke trotoar yang telah di genangi air hujan. Lututnya bertumpu di bawah, sementara ia semakin meremas dadanya yang sesaknya tak kunjung hilang. Ia menangis penuh kesedihan yang mendalam.
“Kamu tidak pernah berubah dari dulu. Bukankah sudah ku bilang jangan suka main hujan? Kamu bisa sakit jika terus bermain di bawah guyuran hujan seperti ini.” Suara seorang pria memecah bisingnya suara hujan. Suara yang selalu di rindukan Alea, suara yang dulu selalu di tunggu-tunggu olehnya. Alea menoleh, melihat ke depan. Tangisnya semakin pecah kala melihat wajah yang tersenyum amat pahit itu. Wajah yang selalu hadir dalam mimpinya, yang hanya bisa ia peluk dalam mimpi. Tangan kanan pria itu terulur, meminta gadis itu untuk berdiri. Sementara tangan kirinya memegang sebuah payung bewarna putih.
“Ayo, bangun. Kamu sudah lama hujan-hujanan. Tidak baik untuk kesehatanmu.” Ujar Regan dengan suara serak. Sudut matanya berair, menahan mati-matian bulir bening yang berebut ingin keluar. Alea dengan ragu menyambut uluran tangan pria yang ada di hadapannya. Keduanya berdiri berhadapan di bawah satu payung yang tak terlalu besar. Kendaraan yang berlalu lalang tak mereka hiraukan, waktu seolah berhenti kala netra mereka saling bertemu. Menyimpan sejuta kerinduan yang menyeruak ingin di salurkan.
Grebb ....
Regan tak kuasa untuk menahan gejolak rindu yang semakin menggelora. Ia menarik tubuh basah sang mantan kekasih ke dalam dekapannya.
“Aku sangat merindukanmu, Alea. Aku sangat merindukanmu.” Lirihnya di sela tangisnya yang kini telah pecah. Ia tak bisa lagi membendung buliran bening yang sejak tadi ia tahan. Sebenarnya sedari tadi ia mengikuti Alea pulang dari kantor. Ingin menyapa, tapi keadaan tak lagi sama. Hingga akhirnya ia tidak tahan kala melihat gadis yang di cintanya terlihat sangat terpuruk di bawah guyuran hujan.
“Aku masih sangat mencintaimu, Alea. Rasa ini tak kan pernah bisa berubah. Rasa ku akan tetap sama.” Alea hanya menangis, memeluk erat pria yang selalu ada dalam hatinya itu. Ia hanya menikmati luapan cinta Regan. Tak perlu berkata-kata,tanpa di jelaskan, Regan sudah mengetahui isi hati gadisnya. Keduanya menangis di bawah guyuran hujan yang semakin deras. Mengapa takdir begitu kejam pada mereka? Mengapa takdir tak ingin mereka bersama padahal mereka saling cinta?
“Yang kita lakukan ini salah, mas.” Alea tersadar. Ia melepaskan dekapan Regan, ia menjauhkan tubuhnya.
“Mas, kamu sudah menjadi milik orang lain. Kamu sudah menjadi suami orang lain. Kisah kita sudah berakhir tiga bulan yang lalu. Tidak sepantasnya kita seperti ini.” Ucap Alea. Ia menekan dalam-dalam rasa sakit yang semakin menghujamnya.
“Aku merindukan kamu, sayang. Aku tidak bahagia dengannya, kebahagiaan ku hanya ada pada kamu. Bukankah kamu juga masih memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasakan? Aku yakin, perasaan kamu masih sama.”
Alea hanya diam. Ia sadar semua keadaan sudah berubah, Regan sudah menjadi suami orang. Tidak sepantasnya ia merebutnya, tidak sepantasnya ia memeluk milik orang lain.
“Lupakan aku, Mas. Berbahagialah dengan istri kamu, jangan pernah mengingatku lagi. Cintai istri kamu dan perlakukan dia dengan baik.” ucap Alea dengan derai air mata yang tak mau surut sedari tadi.
“Aku tidak bisa,Alea. Aku hanya mencintai kamu sampai kapan pun.” Lirih pria itu.
“Lupakan aku, mas. Kamu pasti bisa mencintai istri kamu seperti kamu mencintaiku. Berbahagialah,” Alea berbalik, melangkah meninggalkan pria yang sangat di cintainya.
“Alea! Aku sangat mencintaimu! Jangan tinggalkan aku. Hanya kamu yang bisa membuat aku bahagia. Bukan dia!” teriak Regan di antara hujan deras yang terus turun tak mau berhenti. Alea mencoba mengabaikan teriakan Regan, ia tak bisa seperti ini. Ia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain. Jika di posisi di balik, ia pasti akan sangat sakit mendapati suaminya mencintai gadis lain.
“Berbahagialah, Mas. Cinta tak harus memiliki. Cukup kenang aku di lembar kisahmu. Aku mencintaimu,” lirih Alea. Tubuhnya semakin lemah ketika berada di tengah jalan hendak menyebrang. Lampu dari sebuah bus menyilaukan matanya, ia menyipitkan matanya dan detik berikutnya.
Braak ....
Tubuhnya terhempas sangat keras ke atas jalanan aspal. Cairan berwarna merah mengalir dari kepala bagian belakangnya, begitu pun dari mulut dan hidungnya. Berbaur menjadi satu dengan air hujan yang jatuh ke bumi.
“ALEA !!!” suara Regan terdengar samar dari kejauhan.
Alea berada di pangkuan Regan dengan tak berdaya. Tubuhnya mati rasa, darah terus mengalir dari kepala bagian belakangnya. Tangannya terulur menyentuh wajah orang yang sangat di cintainya.
“Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku sangat mencintaimu.” Ungkapnya seraya tersenyum. Senyum terakhir penuh cinta untuk Regan. Detik berikutnya kedua mata Alea tertutup, tangannya jatuh ke bawah. Bersamaan dengan teriakan Regan yang semakin kencang.
“TIDAK! BANGUN ALEA!”
“ALEA ....!!”