Aku menatap nanar pada lelaki remaja yang kini duduk di hadapanku. Dia menunduk, seperti lantai lebih menarik dari pada aku yang ada di hadapannya.
Bukan apa-apa aku memanggilnya ke ruangan ku secara pribadi. Sejak dua minggu ini aku begitu penasaran terhadap anak yang nyaris tak pernah berbuat masalah ini. Namun, dalam sebulan laporan dari wali kelasnya membuatku tercengang.
Yah, aku adalah guru BK yang menangani anak kelas X11. Dan selama hampir tiga tahun aku mendampingi anak-anak ini, dan aku pasti sangat mengenal sosok-sosok yang pernah aku bimbing sebelum-sebelumnya.
Tapi, siswa yang ku ketahui bernama Ahmad Akash kelas X11 IPS 2 ini bahkan hampir selama dua tahun lebih aku menjadi guru BK di kelasnya, dan untuk Akash ini, sekali pun aku tak pernah mendengar keluhan dari guru mana pun dan wali kelas nya sendiri.
Dan, aku sangat terkejut saat melihat daftar kehadiran Akash selama sebulan. Kehadiran Akash menurun drastis. Bahkan Akash sering tertidur di kelas saat jam pelajaran sedang berlanjut. Begitulah informasi yang aku dapat dari guru-guru mata pelajaran dan juga wali kelasnya.
Menurut informasi yang beredar, Sejak ujian akhir semester genap, Akash sudah tidak pernah lagi datang ke sekolah. Saat itu Bu Wina selaku wali kelas X11 IPS 2 tak terlalu memikirkan, sebab Bu Wina pikir, mungkin Akash sedang berlibur di kampung halamannya.
Namun ternyata, saat penaikan kelas dan memasuki ajaran tahun baru, Akash tak kunjung datang ke sekolah selama seminggu. Hal ini membuat Bu Wina berinisiatif untuk berkunjung ke rumah Akash yang rupanya jarak antara rumah Akash dari sekolah hanya berjarak 100 meter saja.
Tapi sayang, Bu Wina tak menemukan keberadaan Akash di rumahnya. Namun, ada satu hal yang Bu Wina ketahui bahwa sebulan lalu, tepatnya saat hari terakhir ujian semester, Ibu Akash sedang melangsungkan pernikahan di kampung halamannya.
" Ehemm " aku mencoba memecah keheningan di antara kami.
Kebetulan saat ini hanya aku di ruang BK, sebab dua partner kerjaku sedang ada perjalan dinas keluar kota.
" Ahmad Akash, bagaimana kabar mu hari ini ? " Tentu aku harus merasa tahu kabar rekan bicara setelah lama aku mencari namun baru bertemu hari ini.
Akash masih menunduk, ia tak berniat mengangkat kepalanya dan menatapku.
Aku memaklumi, dan menanggapi respon kakunya dengan senyuman.
" Akash " aku kembali menyebut namanya selembut mungkin.
Dan berhasil, perlahan kepala Akash terangkat. untuk beberapa detik aku dapat melihat wajah kusam dan seperti tak ada cahaya di sana. Bahkan aku merasa tatapan mata Akash berbeda, seperti ada luka yang tersimpan di sana.
Aku tak pernah memperhatikan anak lelaki ini, sebab dia termasuk dalam kategori anak yang rajin, tidak terlalu pintar dan bukan pemalas, penampilannya rapi dan selalu ramah saat menyapa guru dan temannya. Namun, apa yang kulihat sekarang berbeda, Akash yang yang sekarang begitu tak terawat, bahkan ia nampak kurus, rambutnya kering dan berantakan. serta pakaian yang ia kenakan begitu kusut.
Oh, apa yang terjadi pada anak ini ? Batinku sungguh bertanya-tanya.
" Akash, kamu tahu jika selama dua minggu ini Ibu mencari mu? " tanya ku. Respon Akash hanya mengangguk dengan lesu.
Sepertinya Akash enggan berbicara untuk saat ini, Meski aku sangat ingin mengorek informasi darinya, ingin tahu apa masalahnya, namun aku tak bisa memaksakan dirinya untuk terpaksa bercerita. Aku tidak mau jika Akash merasa tertekan dengan pertanyaan ku nantinya.
" Hem,, baiklah Akash, Ibu rasa kamu belum bisa Ibu ajak cerita, mungkin kamu tidak nyaman sekarang,, untuk itu kamu boleh kembali ke kelas " ujarku, namun Akash tak bergeming ia hanya diam membuatku bingung saja.
" Akash, ada apa ? " tanyaku hati-hati.
Akash menggeleng " Maafkan saya Bu " ucapnya parau.
Aku tersenyum. Suatu kemajuan sebab ia mau bicara meski hanya beberapa kata.
" Tidak masalah, mungkin kamu butuh waktu untuk mengobrol dengan Ibu,, Ibu akan siap mendengarkanmu kapanpun dan dimanapun, maka dari itu, jangan sungkan terhadap Ibu yah " aku menjelaskan penuh pengertian padanya.
Dan setelah mengucapkan kata permisi, Akashpun meninggalkan ruang BK, meninggalkan aku yang penuh tanda tanya dan rasa penasaran yang begitu besar terhadapnya.
Dua hari berlalu. Akash tak juga menemuiku. Padahal aku sangat menunggu kedatangannya. Bukan, bukan sebagai wanita yang penasaran terhadap pria, tapi sebagai seorang guru yang ingin memastikan bahwa anak didiknya baik-baik saja.
" Assalamualaikum, maaf mengganggu Bu Elsa "
" Waalaikumsalam,, oh sama sekali tidak menggangu Bu Wina "
Bu Wina berkunjung ke ruangan ku, pasti ia ingin mengetahui tentang Akash. Dan sayangnya aku sendiri tak bisa memberi informasi apa-apa kepada Bu Wina, sebab pertama kali bertemu dengan Akash, anak itu hanya berbicara empat kata saja.
" Akash tidak masuk lagi hari ini Bu " ucap Bu Wina setelah duduk di hadapanku.
" Apa tidak ada teman sekelas nya yang mengetahui keberadaan Akash Bu ? " tanyaku
" Sudah saya tanyakan pada semua teman kelasnya, dan mereka semua tidak tahu apa yang terjadi sama Akash sebenarnya Bu. Terus terang saya sebenarnya bingung dengan anak ini " Bu Wina sedang mengadu, aku paham bagaimana perasaan nya.
Sebagai wali kelas yang mendampinginya selama dua tahun, pasti Bu Wina sangat khawatir dengan anak didiknya yang tiba-tiba berubah.
" Sabar yah Bu, saya yakin suatu saat nanti Akash akan datang dan menceritakan semua masalahnya di sini. Kita hanya bisa memaklumi nya dulu, sebab bukankah Akash adalah anak yang rajin, dan jika ia berubah, tentu ada sesuatu yang ia pendam. Dan mungkin butuh waktu untuknya jika harus memberitahukan pada orang lain " aku menjelaskan isi kepalaku kepada Bu Wina. Sebab seyakin itu aku pada Akash.
Entah mengapa aku merasa Akash akan bercerita padaku meski aku sendiri tak tahu kapan.
Seminggu berlalu.
Tidak ada perubahan, aku menunggu kedatangan Akash ke ruangan ku, namun anak itu tak pernah memunculkan batang hidungnya. Bukan berarti aku tidak menangani peserta didik lain, bahkan beberapa hari terakhir ini aku disibukkan dengan berbagai laporan anak didik yang sedikit bermasalah.
Namun, fokusku berada disatu titik, yaitu Ahmad Akash yang sampai detik ini teka teki anak itu tak mampu ku pecahkan.
Saat aku sedang berkeliling di sekitar sekolah. Tak sengaja aku melihat Akash duduk termenung di bawah pohon. Tangannya sebagai tumpuan di kepalanya untuk menutupi wajahnya.
Aku terenyuh melihat pemandangan di hadapanku, Akash dulu tak seperti ini, dia bukan anak yang penyendiri, bahkan ia tak akan bisa sendiri.
Sebenarnya sebesar apa masalah yang kamu hadapi Nak ?
Akash terkejut saat aku memegang pundaknya. Wajah kusutnya dengan lingkaran hitam dibagian matanya menambah kesan bahwa betapa menyedihkannya dia akhir-akhir ini.
Cukup !
Kesabaranku sudah diambang batas. Bagiku ini tidak bisa lagi dibiarkan, hari ini aku harus berhasil mengajak Akash untuk berbicara. Walau bagaimanapun, Akash adalah tanggung jawabku sebagai gurunya. Tidak mungkin aku membiarkan dia larut dalam masalah tanpa penyelesaian, sementara ia sudah kelas tiga, dan beberapa bulan lagi dia harus fokus untuk kelulusannya.
Tidak. Anak didikku harus lulus semuanya, termasuk Akash.
" Akash, kita harus bicara, jadi tolong ikut Ibu sekarang keruangan Ibu " pintaku tegas.
Akash tak berkata apapun. Namun ia bergerak dan perlahan mengikuti langkahku dari belakang.
Dan disinilah kami, duduk saling berhadapan dengan meja yang menjadi pembatas antara aku dan Akash.
Untuk beberapa menit aku hanya menatap Akash, sedangkan yang ku tatap hanya menunduk, seperti saat pertama bertemu Akash tak tertarik menatapku.
Ah, bisakah aku kesal ? Tentu, namun aku mencoba untuk meredamnya. Sebab aku yakin Akash bukanlah anak yang keras kepala, jika aku berbicara dengannya dengan begitu lembut, maka aku yakin Akash akan membuka suaranya.
" Akash, bukankah seharusnya jika ingin mengobrol kita harus menatap lawan bicara kita ? " aku memecah keheningan diantara kami.
Akash mencoba menatapku. dan seperti kemarin mata teduhnya selalu membuatku penasaran. Sebenarnya luka apa yang disimpan anak ini ?
" Maafkan saya Bu " akhirnya, untuk sekian lama aku mendengar suara Akash meskipun sangat pelan, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku menarik nafas, mencoba bersikap tenang, rasa kesalku pada anak ini harus ku kesampingkan dulu. Yang terpenting adalah masalah Akash dan aku harus punya solusi untuk membantunya. Yah, aku sudah bertekad untuk itu.
" Ibu tahu kamu sedang ada masalah, tapi kamu juga tidak boleh larut dalam masalah itu. Cobalah untuk keluar dari masalahmu, paling tidak kamu bisa bercerita pada orang yang bisa kamu percaya " aku menjelaskan dengan sangat hati-hati.
" Saya tidak punya siapa-siapa untuk diajak bicara Bu " balas Akash.
" Ibumu ? "
Meski aku tahu Ibu Akash sudah menikah, paling tidak aku tahu jika Akash masih punya sosok yang ia percayai.
Akash menatap ku, mata teduhnya kali ini sedang berkaca-kaca. Sepertinya aku sedang menyebut akar dari masalahnya selama ini. Yah, untuk sekarang itulah penilaianku.
" Ibuku..... " kalimat Akash menggantung, ia menunduk dan aku bisa melihat ada setitik air mata yang jatuh di sana.
Dan sekarang aku makin yakin, bahwa awal mula yang membuat Akash berubah adalah Ibunya.
Aku belum membuka suara, aku membiarkan Akash menyusun kalimat yang tepat untuk dia sampaikan kepadaku.
" Ibu,, bukan milikku lagi Bu " lanjut Akash
Jujur saja aku bingung. Meski aku tahu Ibu Akash sudah menikah lagi, dan sekarang Ibunya sudah memiliki pendamping, namun bukan berarti Akash kehilangan hak untuk memiliki Ibunya.
" Maksudnya? " aku begitu penasaran
" Ibuku sekarang milik Ayah sambungku, jadi aku tidak punya hak lagi untuk berbagi cerita dengannya " jawab Akash
Hah? apa maksudnya, aku benar-benar tidak paham. Aku butuh penjelasan yang lebih detail.
" Akash,, maukah kamu berbagi kesedihanmu dengan Ibu ? Ibu janji tidak menceritakannya pada siapapun.. Dan jika kamu merasa tidak memiliki siapa-siapa untuk di ajak bicara, maka Ibu siap menjadi teman cerita mu. Bukankah Ibu kemarin mengatakan itu ? " aku mencoba membangun keakraban dengan Akash. Sebisa mungkin aku membuatnya nyaman berada di sekitarku.
Akash mengangguk, tandanya dia siap berbagi denganku. Meski untuk beberapa menit aku membiarkan dia menangis, menumpahkan segala resah dan perih yang mungkin sangat menghimpit perasaannya.
Aku tergugu menatapnya, bahkan sudah banyak anak didik yang berada dalam bimbinganku, dengan berbagai macam masalah, namun aku tak pernah melihat anak laki-laki seterluka ini.
Bagiku laki-laki itu di ciptakan dengan watak yang keras dan selalu ingin terlihat kuat. Namun jika suatu hari ia meneteskan air mata, maka dipastikan ia dalam keadaan yang sangat rapuh.
" Maafkan saya Bu " kata Akash setelah tangisnya redah dan ia merasa mulai tenang.
" Tidak masalah Akash " aku tersenyum, aku tidak boleh ikut larut dalam kesedihannya, meskipun sedari tadi aku sangat ingin menangis.
Ku lihat Akash menarik nafasnya dalam-dalam. Nampaknya ia mulai ingin bercerita tentang masalah yang ia hadapi sebulan terakhir ini. Dan aku mulai memperbaiki posisi duduk yang membuatku nyaman. Sebagai seorang konselor tentunya aku tidak boleh ikut tegang, apabila nanti masalah yang aku dengar dari Akash akan membuatku terbawa suasana dan perasaan.
Di sini Akash bercerita tentang Ibunya yang menikah sejak sebulan lalu, tepat dimana Akash sedang menjalani hari terakhir ujian semester. Akash senang, sebab Ibunya terlihat bahagia saat menikah, sebab Akash menjadi saksi bagaimana perjuangan Ibunya membesarkan dan merawat dirinya seorang diri sejak Ayah kandung Akash meninggal disaat usianya 12 tahun.
Untuk itu, saat Ibunya memutuskan untuk menikah dengan pria pilihan Ibunya sendiri, maka Akash dengan senang hati mendukungnya. Setidaknya Akash memiliki keluarga yang lengkap lagi, dan ia tak akan merasa kesepian sebab Akash adalah anak tunggal.
Tapi ternyata keputusan Ibunya untuk menikah lagi merupakan awal dari masalah Akash. Mulanya Akash mengira akan hidup di keluarga yang lengkap, mereka akan tinggal seatap dan akan menjalani hari-hari yang bahagia. Melihat bagaimana bahagianya Ibunya, dan bagaimana Ayah sambungnya begitu menyayangi Ibunya, Akash yakin bahwa Ayah sambungnya itu pasti bisa menerima Ibunya dengan baik yang pasti lengkap dengan keberadaan dirinya.
Tapi kenyataan sungguh berbeda dengan ekspektasi. Faktanya Suami dari Ibunya tak bisa menerima kehadirannya, lelaki yang di ketahui adalah seorang Duda tanpa anak yang siap menikahi Ibunya ternyata tak bisa menerima kehadirannya. Lelaki itu sangat mencintai Ibunya, tapi tidak dengan Akash.
Hingga pada saat Akash mengajak Ibunya untuk kembali ke rumah tempat tinggalnya dulu, tepatnya rumah yang Akash huni saat ini, Ayah sambungnya secara terang-terangan menolak dengan Alasan ingin membangun rumah tangga dari awal. Ayah sambungnya juga mengatakan dengan jujur jika ia tak bisa menerima dan memberi jaminan bagi Akash, dalam arti Suami dari Ibunya tak bisa membiayai hidup Akash.
Runtuh seketika kebahagiaan yang Akash sudah bangun. Kehidupan bahagia bersama Ayah baru ternyata hanya khayalan belaka. Lelaki pujaan Ibunya tidak sudi hidup bersamanya.
Dan yang paling menyakitkan adalah, ketika sang Ayah sambung memberi pilihan kepada Ibunya antara dirinya atau Suaminya. Dan ternyata Ibunya lebih memilih untuk hidup bersama suami barunya.
Sakit dan perih yang Akash rasakan saat itu. Dan ia harus ikhlas menerima kenyataan bahwa tanpa dirinya, Ibunya akan bahagia bersama suami barunya. Diakhirnya, Akash pulang di temani hati yang lara.
Aku tak bisa memungkiri, bahwa disudut hatiku ada perih yang begitu terasa saat Akash mengurai ceritanya secara detail. Bahkan beberapa tetes air mataku berhasil lolos. Aku mencoba tidak terbawa emosi, bagaimanapun aku harus menjadi pendengar yang baik bagi Akash. Mungkin emosi ini akan ku salurkan ketika aku sendirian.
Aku menarik nafasku yang terasa begitu berat. Ku lihat Akash sudah tidak ingin bercerita, sebab aku merasa apa yang ingin aku ketahui, Akash sudah menjelaskannya.
" Jadi Akash, kemana kamu selama seminggu kemarin ? bukankah kamu pulang kesini sebelum libur sekolah telah usai ? "
" Saya bekerja Bu " jawaban Akash lagi-lagi membuatku terkejut. Ini artinya Akash benar-benar tak mendapat jaminan sama sekali dari Ibunya ?
Ibu macam apa itu? keterlaluan sekali. Aku mengoceh dalam hati, ingin sekali rasanya mengucapkan sumpah serapah dihadapan Ibu Akash karena sudah keterlaluan kepada anak kandung sendiri.
" Bekerja ? " aku memastikan kembali
" Iya Bu,, saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya setiap hari, dan saya juga butuh uang untuk membeli peralatan belajar, seperti buku paket dan lain sebagainya" Akash menjelaskan dengan lugas.
Nampaknya Akash sudah bisa menguasai dirinya dari keterpurukan beberapa hari terakhir ini. Bahkan Akash sudah tidak menangis lagi. Mungkin memang benar, bahwa beban seseorang akan terangkat jika orang itu mau berbagi dengan orang lain.
" Lalu, kenapa kamu setiap hari terlambat? rumah kamu kan hanya berjarak 100 meter dari sekolah ? "
" Saya harus menyiapkan sarapan Bu, karena sejujurnya saya agak sulit bangun pagi, sebab malamnya saya harus bekerja lagi, dan kadang saya pulang subuh jika ada kerjaan tambahan "
Dan untuk kesekian kalinya aku dibuat terkejut. Haruskah anak yang usianya diwajibkan untuk memikirkan pendidikan harus dibebankan dengan pekerjaan mencari uang ?
Yah, aku akui, anak lelaki seusia Akash banyak yang bekerja sambil sekolah, dan aku yakin Akash bisa, melihat dari postur tubuhnya, kegigihannya untuk sekolah, dan tekadnya yang kuat untuk bertahan hidup.
Tapi aku sendiri tidak membenarkan hal itu. Bagiku anak seusia Akash harus fokus belajar tanpa harus dibebankan dengan pekerjaan. Sebab bagaimanapun nantinya setelah ia lulus pasti ia akan bekerja juga kan ?
Baiklah, aku rasa aku sudah menemukan titik permasalahannya. Bukan dari masalah keluarga Akash, biar bagaimanapun itu adalah urusan Akash dan Ibunya, tugasku hanyalah mengembalikan semangat Akash untuk bersekolah, dan memastikan Akash bisa menjadi anak yang disiplin seperti kemarin. Dan kurasa aku wajib membantunya dan sedikit mengistimewakan Akash dari siswa yang lain aku rasa bukan masalah, selama hal yang ku lakukan tidak terang-terangan.
" Akash, terlepas dari apa yang menimpamu, Ibu harap kamu bisa berlapang dada menerimanya. Untuk itu hiduplah dengan baik, buktikan pada semua orang bahwa tanpa siapapun di sampingmu kamu bisa bangkit, untuk itu Ibu minta mulai sekarang, bisakah kamu kembali seperti dulu lagi? Ibu ingin kamu yang rajin, yang semangat dan yang ceria "
Aku tidak tahu, apakah ucapanku itu adalah sebuah nasehat atau sebuah permintaan, namun satu hal yang aku tahu bahwa sejak aku memutuskan untuk membantu Akash secara spesial aku harus lebih memperhatikannya.
" Ibu, saya tidak bisa berjanji untuk itu,, tapi saya akan mengusahakannya, biar bagaimanapun saya juga tidak ingin keadaan saya seperti ini "
Jawaban Akash membuatku tersenyum lebar. Setidaknya inilah yang aku harapkan, usahaku membawanya kemari, dan sedikit memaksanya bercerita akhirnya membuahkan hasil. Akash mau bangkit dari masalah nya dan perlahan semangatnya untuk belajar juga sudah kembali dan aku senang dengan hal itu.
" Akash, sebelumnya Ibu minta maaf jika kiranya perkataan Ibu menyinggung perasaanmu, tapi apakah Ibu boleh meminta sesuatu padamu? "
" Iya Bu, apa itu ? "
" Masalah sarapan atau bekalmu, bisakah Ibu yang menyiapkannya " aku menjawab dengan ragu, aku benar-benar takut jika nantinya Akash akan tersinggung.
" Maksud Ibu, karena kamu sulit bangun pagi dan harus menyiapkan sarapan mu sendiri, jadi Ibu berpikir bisa membantu membuat sarapan untukmu,, tenang saja Ibu melakukan ini bukan hanya untuk kamu, karena memang setiap hari Ibu membawa bekal ke sekolah, jadi Ibu rasa tidak ada salahnya jika membaginya untuk mu " lanjutku lagi
Aku menunjuk kotak bekal yang ku letakkan di rak belakang kursiku. Dan Akash melirik kotak bekal berwana biru muda itu. Bukan apa-apa, aku ingin meyakinkan Akash bahwa apa yang kulakukan bukan karena kasihan, tapi aku benar-benar tulus ingin membantunya, selain itu aku ingin Akash berpikir bahwa di dunia ini ia tak sendiri, setidaknya ada aku yang bisa ia anggap sebagai Ibunya.
Aku pikir Akash akan tersinggung atau marah, ternyata anak itu malah tersenyum lembut. Dan jujur saja senyum Akash termasuk senyumnya paling manis yang pernah kulihat. Hatiku merasa legah sebab Akash tidak seterpuruk saat pertama kali ku temui.
" Sebelumnya saya terimakasih banyak atas bantuan Ibu, dan jika memang tidak merepotkan Ibu, saya akan menerimanya dengan senang hati " ucap Akash
" Sama sekali tidak merepotkan kok " aku menimpali
" Tapi Ibu jangan terlalu memaksakan, sebab saya sudah bertekad untuk berubah, jadi perlahan-lahan saya akan mulai bangun lebih awal, kalau bisa Ibu jangan tiap hari membawakan saya bekal, sebab saya juga akan mengusahakan mengurus diri mulai dari sekarang "
Aku tersenyum. harapanku membawa Akash kesini adalah cara yang paling tepat. buktinya anak itu bertekad untuk bangkit di atas kakinya sendiri.
" Dan satu lagi Akash,, jika boleh Ibu memberikan saran, kamu jangan terlalu sibuk bekerja, Ibu tidak melarang kamu bekerja kok, hanya saja baiknya kerjaan kamu itu bisa kamu lakukan dihari libur. Ibu cuma tidak mau pelajaran mu terganggu. "
Akash terlihat mengangguk, ia paham atas kekhawatiranku. Dan ia pun berjanji akan memikirkannya lagi. Meski aku paham sulit baginya untuk hidup seperti itu. Tentunya biaya yang ia butuhkan pasti selalu meski tak banyak. Namun mengingat dia tak ada yang menjamin jadi aku memaklumi saja. Yah, setidaknya Akash akan berusaha untuk tetap memprioritaskan sekolahnya.
*
Hari-hari berlalu, akupun menepati janjiku untuk membawa bekal untuk Akash. yang memang bukan hal yang sulit, hanya menambah kotak bekal dan porsi dari biasa yang aku buat aku rasa itu hal yang gampang. Dan selama itu juga Akash dengan senang hati menerima kotak bekal yang aku berikan.
Aku bersyukur banyak ,sebab usahaku untuk mengembalikan semangat Akash ternyata membuahkan hasil. Sejak hari itu Akash berusaha keras untuk kesekolah lebih awal. Bahkan untuk beberapa kali kesempatan aku bertemu dengannya di depan pintu gerbang.
Penampilan Akash juga tak kusut lagi, anak itu sudah menjadi anak yang rapi ceria dan tentunya rajin.
Selain aku, Bu Wina juga sangat senang atas perubahan Akash yang signifikan. Meski dalam beberapa kali Bu Wina sering memaksaku untuk bercerita tentang masalah Akash yang sebenarnya.
Tapi karena aku sudah berjanji kepada Akash bahwa masalah keluarganya akan tersimpan rapat olehku.
" Akash itu hanya terperangkap di Zona malas Bu, seperti anak-anak bermasalah pada umumnya. Bukankah semua orang akan berubah ? " ini jawabanku yang selalu sama ketika Bu Wina selalu bertanya tentang masalah Akash
" Ah, saya nggak yakin Bu, mungkin Akash punya masalah lain " Bu Wina kekeh memaksa menggali informasi dariku.
Aku hanya tertawa. Jelas sekali Bu Wina ini ingin mengajakku bergosip.
" Tidak Bu, yang saya tahu saat itu Akash memang sempat menjadi anak pemalas, mungkin pengaruh liburan... Jika Bu Wina tidak percaya, Ibu bisa tanyakan langsung ke Akash, mana tahu Akash memang punya masalah lain, dan dia mau menceritakan nya pada Bu Wina "
Aku ingin tertawa saat melihat Ibu Wina kesal, aku akui firasat Bu Wina tepat, kecurigaannya memang benar bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Akash. Dan aku rasa itu hal yang wajar, sebab Bu Wina adalah Ibu juga bagi Akash. Namun harus bagaimana lagi, Akash hanya mempercayakan kisah pilunya hanya kepadaku, dan sebagai orang yang di percaya tentunya rahasia itu akan selalu menjadi rahasia Akash dan aku. Dan memang sejatinya seorang konselor harus memegang teguh yang namanya kode etik.
Maafkan aku Bu Wina
Tak terasa sudah berganti bulan. selama itu juga aku terus memantau perkembangan anak bimbingan yang ku prioritas kan, Dan selama itu juga Akash menepati janjinya untuk berusaha bangun lebih awal, dan disiplin waktu. Yah, meski dalam beberapa kali aku mendapati Akash sedang berada di barisan anak-anak terlambat saat melakukan upacara bendera.
Tapi bukan masalah bagiku, toh, hal itu lumrah terjadi pada semua peserta didik. Jangankan siswa terkadang guru juga masih kadang terlambat.
Dan saat aku tanya kenapa dia terlambat, pasti alasannya selalu sama, jika ia lupa mengatur alarmnya.
tidak masalah, yang penting ia sudah berusaha agar tidak terlalu sering terlambat.
Dan melihat perkembangan Akash, aku rasa dia sudah tidak bekerja paruh waktu lagi setiap hari, mungkin dia bekerja pada saat hari libur. Jika memang begitu, maka aku harus bersyukur dan berbangga sebab Akash mau mendengarkan ku, artinya bimbingan yang kami jalani tidak akan sia-sia.
Untuk masalah bekal untuk Akash, aku tetap menyediakannya, meski Akash mengatakan bahwa ia sudah bisa mandiri dan akan tepat waktu meski ia harus menyiapkan bekal untuk dirinya Dan memang terbukti, beberapa kali Akash membawa bekal sendiri. Dan untuk bekal yang aku siapkan untuknya itu tidak akan sia-sia, sebab aku bisa membaginya pada guru yang lain.
Ada banyak hal yang membuatku mengagumi Akash, selain ia adalah siswa yang semangat dalam menempuh pendidikan meski tidak termasuk kedalam siswa yang berprestasi. Akash juga tidak punya rasa malu jika harus membawa bekal ke sekolah, dia adalah satu-satunya anak lelaki yang berani tampil beda dan apa adanya.
Saat aku sedang sibuk memeriksa absensi bulanan setiap kelas XII, tiba-tiba Akash datang ke ruangan ku. Ini adalah pertama kalinya ia datang dengan sendirinya tanpa aku panggil.
di
" Siang Bu, boleh saya masuk ? " tanyanya sopan.
Tentu dengan senang hati aku mempersilahkan Akash masuk Awalnya aku pikir dia ingin meminta surat ijin, tapi dengan melihat cara duduknya, seperti nya ia ingin mengatakan sesuatu.
Ada apa ? apakah dia sedang ada masalah lagi ?
Entah mengapa aku sendiri yang takut jika anak ini sedang dalam masalah. yah, mungkin karena dia sebagai anak yang ku prioritaskan untuk saat ini.
" Ada apa Akash ? tumben kamu kesini ? " tanyaku tanpa basa-basi.
" Bu, saya kesini untuk mengatakan sesuatu, itu jika Ibu ada waktu, tapi jika Ibu sibuk, lain kali saja " kata Akash, yang entah kenapa wajahnya terlihat merah, seperti sedang menahan malu atau grogi.
" Ibu selalu ada waktu untuk anak-anak didik Ibu. Ada apa ? "
tentunya aku harus menghentikan aktivitasku untuk meyakinkan Akash jika aku memang tidak sibuk
" Bu, saya ingin berterimakasih, sebab Ibu sudah membantu saya untuk keluar dari Zona keterpurukan ku kemarin. saya tidak tahu jika tidak ada Ibu, mungkin saya sudah putus asa dan putus sekolah "
Aku menatap Akash, sepertinya aku melewatkan banyak hal, aku memperhatikannya, namun aku tidak memperhatikan bentuk fisiknya. Ku rasa ada banyak perubahan dari anak ini. Entah ini penglihatan ku saja, aku merasa bahwa Akash terlihat dewasa. Yah, memang akan beranjak dewasa setelah lulus dari sini.
Tapi perubahan Akash ini termasuk lebih cepat menurut ku, sebab anak-anak lelaki yang lain tetap sama saja. Atau mungkin aku hanya fokus pada perubahan perilaku Akash ? Sehingga aku tidak sadar jika bentuk fisik Akash sudah banyak yang berubah.
" Akash, itu merupakan kewajiban Ibu sebagai pengganti orang tua mu. kamu tidak perlu berterimakasih,. Malah Ibu yang harus bersyukur sebab kamu mau menuruti nasehat Ibu. Yang artinya usaha kita bersama tidak sia-sia. jadi perubahan kamu saat ini adalah kerja keras kamu sendiri, dan Ibu bangga sama kamu "
Akash menatapku, anak itu tidak pernah menatapku lama seperti sekarang. Dan jujur aku sempat salah tingkah, dan aku segera mengalihkan dengan memberinya kotak bekal yang sudah ku siapkan untuknya.
" Ini bekal untuk kamu, waktunya makan siang "
Akash menerima nya dengan senang hati. Satu lagi yang membuatku bahagia, jika Akash dengan antusias menerima bekal yang ku siapkan untuknya.
" Makasih Bu, Terimakasih untuk semua perhatian Ibu, termasuk kotak bekal ini yang selalu mengingatkan saya untuk hati-hati dalam bertindak. Sebab saya tidak ingin mengecewakan Ibu yang sudah banyak membantu saya "
Hatiku menghangat mendengar ucapan tulus dari Akash. Untuk pertama kalinya aku merasa berguna sebagai guru bimbingan konseling.
" Akash, bekal yang aku siapkan untukmu itu bukan apa-apa, sebab itu hanya sebuah makanan. Bekal yang paling berharga dalam hidup mu adalah pelajaran berharga yang kamu alami beberapa bulan lalu . Anggaplah masalahmu itu sebagian bekal untuk kamu dalam mendewasakan diri. Dan masalah mu itulah yang akan mengantarkan mu menuju masa depan yang sukses,, Ibu sangat bangga sama kamu, sebab kamu sudah sampai di tahap ini, dan tinggal beberapa bulan lagi kamu akan meninggalkan sekolah ini dan juga meninggalkan Ibu "
Jujur saja aku merasa sedikit sedih diakhir kalimatku Aku tak tahu kenapa sebab aku merasa sudah sangat dekat dengan Akash secara pribadi. Dan selama itu aku menganggap Akash sebagai anakku, anak yang harus ku antar dalam meraih kesuksesan.
" Ibu Elsa, saya mungkin akan meninggalkan sekolah ini, tapi saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu "
Aku terkejut dengan apa yang diucapkan Akash barusan. Jujur saja aku tak mengerti.
" Jadi Ibu harus ikut denganmu ke universitas, begitu ? " ucapku di selingi dengan tawa. Aku mencoba untuk bercanda, sebab. aku merasa suasana tiba-tiba jadi canggung.
" Bu Elsa, ijinkan saya untuk menjanjikan sesuatu sekali lagi "
Akash terlihat sangat serius.
" Janji apa ? "
" Bu, saya tidak tahu kapan saya sukses, tapi saya berjanji setelah saya lulus dari sini, saya akan berusaha menjadi orang yang sukses. Entah untuk berapa lama, saya minta Ibu sabar menunggu saya, dan jika saat itu tiba saya pasti akan datang menemui Ibu "
Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Hanya saja kebingungan yang melanda hatiku hingga aku spontan melakukan tindakan menggaruk kepala.
" Ibu tidak mengerti, maksud kamu apa ? "
" Saya sayang sama Bu Elsa "
"Eh, apa ? "
TAMAT