Semeribit hembus angin malam menerobos masuk dalam ruam ruam jiwa yang kosong.
aku terpaku pada lamunan didepan bangunan reot yang telah lapuk dimakan usia.
warna cat nya yang mengelupas dan tanaman rambat yang menjalar disetiap sudut ruangan, semakin menambah nuansa mistis dan keangkeran.
Bangunan bekas puskesmas itu berada dipinggir jalan yang jarang dilalui.
di sisi lain, lokasi itu menjadi kesempatan bagi para pengedar barang haram bertransaksi.
seperti aku saat ini.
menunggu pesanan meski bulu kuduk sedari tadi mulai berdiri.
aku mencoba untuk tidak berfikiran yang bukan bukan.
namun kepalaku seolah dipaksa menoleh ke arah bangunan.
terlihat ilalang setinggi orang dewasa mengahalangi pintu masuk yang engselnya terlepas.
dari celah pintu yang sedikit terbuka,
memperlihatkan sisi gelap ruang utama puskesmas.
aku segera mengalihkan pandanganku.
nampak sekelebat bayangan atau mungkin hanya halusinasiku.
aku mulai terbawa suasana yang mencekam ditengah sunyi nya malam.
"anjing emang, kemana sih ni bang jayak."
gumamku dalam hati mengungkapkan kekesalan.
dari ujung jalan terlihat postur tubuh perempuan yang tersorot oleh lampu merkuri.
ingin rasanya aku segera berlari.
namun sesaat kemudian perempuan itu terlihat mengeluarkan ponsel dari saku kirinya.
situasi itu sedikit membuatku lega.
"gak mungkin dong ada hantu yang melek teknologi"
fikirku untuk menenangkan diriku sendiri.
Terlihat perempuan itu berjalan ke arahku sambil fokus melihat layar ponsel yang dia genggam ditangan kananya.
sesaat kemudian perempuan itu berjalan tepat didepan tempatku duduk.
"malem malem gini kok jalan sendirian sih mbak?"
tanyaku seolah khawatir.
mendengar pertanyaanku, seketika perempuan itu berhenti, namun masih terdiam sembari tetap fokus menatap layar ponselnya.
mukanya tidak begitu jelas jika kulihat dari samping,
tertutup oleh rambut panjang yang dibiarkanya terurai hingga ke pinggang.
kemudian perempuan itu melihat ke arahku dengan posisi badan yang masih sama, hanya kepalanya yang menoleh membuatku ragu apakah dia manusia.
"mbak nya ada perlu apa?"
tanyaku memberanikan diri.
tapi perempuan itu hanya menatapku dengan tatapan aneh.
sesaat aku berfikir, apa mungkin ini kurir baru bang jayak yang disuruh untuk mengantar pesananku.
aku pun enggan untuk bertanya.
aku takut dia adalah salah intel kepolisian kota.
fikiranku berkecamuk menebak nebak antara dia intel,hantu atau manusia.
perempuan itu masih berdiri tanpa ekspresi.
aku pun juga hanya duduk mematung tanpa berani mendekati.
sikapnya yang tergolong aneh membuatku dilanda ketakutan.
keringat dinginku mulai bercucuran.
aku sudah siap berlari mengambil ancang ancang.
masa bodoh dia memang benar hantu atau orang.
Namun belum sempat aku berlari,
perempuan itu tiba tiba jatuh tersungkur dengan tatapan matanya yang masih kosong.
"mbak...mbak....bangun mbak!"
kataku dengan sedikit berteriak sembari menggoyang goyangkan pundaknya berharap perempuan itu segera tersadar.
sesaat kemudian perempuan itu tersadar dan seketika langsung memeluk ku erat sembari menahan tangis.
"mbak... mbak nya kenapa nangis?"
tanyaku yang masih terheran.
"aku juga gak tahu mas kenapa tiba tiba ada disini."
jawabnya dalam keadaan yang masih linglung.
"lha emang mbak nya dari mana?" tanyaku.
"perasaan aku tadi masih terbaring dibangsal puskesmas mas." jawabnya dengan nada heran.
"puskesmas mana mbak?" tanyaku.
"puskesmas seger waras kalo gak salah, soalnya aku disini juga cuma berkunjung di rumah tante ku mas?":
jawabnya sambil mengingat ingat kejadian sebelum dia tak sadarkan diri.
" Puskesmas seger waras??" kataku mengulang jawabanya yang sontak membuatku kaget.
"iya mas, tadinya aku mau ke rumah sakit dipusat kota,
tapi ditengah perjalanan aku dapat rekomendasi dari dokter katanya ada puskesmas di ujung jalan sebelum SD yang buka 24 jam." ucapnya menjelaskan.
"mbak... maaf ya mbak sebelumnya, mbak salah kali mengingat nama puskesmas nya." tanyaku meyakinkan.
"enggak mas, orang papah reklame nya aja gedhe banget." jawabnya dengan yakin.
"puskesmas seger waras udah tutup sejak kerusuhan 98 mbak, apa yang ada di depan mbak sekarang adalah sisa sisa bangunan dari puskesmas yang mbak maksut." kataku sambil menunjuk ke arah bangunan tua yang suasananya terlihat semakin seram.
"enggak mungkin mas, orang aku aja sempat ngobrol sama dokter dan perawat nya kok, mas nya ini ada ada aja." ucapnya tidak yakin dengan apa yang barusan aku jelaskan.
"tapi daerah sini gak ada lagi mbak puskesmas terdekat." kataku.
"enggak mungkin mas, orang aku tadi cuma pamit keluar sebentar buat beli pulsa, yang ngasih tahu aku counter terdekat pun para perawat di puskesmas itu."
katanya dengan raut wajah yang semakin bingung.
"coba dehh mbak inget inget lagi, siapa tahu tadi mbak nya cuma mimpi." pintaku sembari menyuruhnya untuk mengingat ingat.
Kemudian tiba tiba kedua tangan perempuan itu menggandeng lenganku erat erat.
nafasnya memburu dengan raut wajah pucat berkeringat.
"ada apa lagi mbak?" tanyaku keheranan.
"betul mass, bangunan itu adalah puskesmas tempat dimana aku tadi dirawat." katanya dengan nada bicara yang bergetar penuh rasa takut.
"kok mbak nya tiba tiba bisa tahu?" tanyaku.
"sebab gerbang dan halaman depan serta ruang utamanya sama persis dengan puskesmas yang aku maksut." ucapnya sembari mulutnya tak henti hentinya merapal lantunan doa.
"pantes aja para staf puskesmas tadi banyak yang bertingkah aneh, sumpahh baru kali ini mas kau mengalami kejadian seperti ini, untung ada mas nya disini, bisa mati berdiri aku jika menghadapi situasi ini sendiri."
imbuhnya bersyukur sudah bertemu denganku malam ini.
Tanpa nunggu waktu lama kami berdua segera bergegas pergi sebelum kejadian yang aneh aneh terulang lagi.
Tapi yang aku masih heran.
keluhan yang di derita perempuan tadi seketika langsung sembuh.
dengan masih berjuta pertanyaan yang membuatku penasaran, kami berdua beranjak pergi menyusuri lorong jalan.
kemana saja yang jelas menjauh dari tempat itu.
aku pun mengurungkan niatku untuk bertemu dengan bang jayak dan membatalkan transaksi yang telah kami sepakati.
Aku ceritakan semua kejadian yang melandaku.
Bang jayak pun hanya mengaggapku halu.
mengira apa yang aku alami adalah reaksi kimia yang mengecoh otak ku.
tapi bagaimana dengan perempuan tanpa ekspresi itu?
esok harinya setelah kejadian dia langsung berkemas untuk pulang ke kampung halaman.