"Ari, udah suka sama ara belum?" tanya gadis dengan turban rambut berwarna navy.
Ara Ruffelea, calon istri muda yang entah kapan akan melangsungkan pernikahannya bersama Ari Revvano. Mereka berdua adalah tetangga, yang terjebak dalam perjodohan konyol kedua orang tuanya. Ara tidak seperti gadis pada umumnya, dia hidup dalam selimut kematian. Kanker tulang yang Ia derita sudah didiagnosis stadium akhir.
"Konyol banget sih! Nggak usah murahan deh! Kalau aku bilang nggak akan suka ya selamanya nggak akan suka!"
Ara semakin mendekat, Ia menggerakkan ban pada kursi rodanya ke arah Ari.
"Ari nggak boleh kayak gitu, ya. Main gawai sambil rebahan bisa bikin mata sakit. Ari masih mudah, jangan rusak kesehatan. Nanti nyeselnya kalau sudah seperti Ara. Lihat, Ara harus hidup di atas kursi roda," titahnya. Ara bersua dengan intonasi datar, mimik wajahnya sudah berubah sejak pertama mendengar jawaban Ari.
"Bacot! Ngerawat diri sendiri aja belum bisa, pakai sok-sokan ngasih tau orang lain! Udah sana pulang!" masih sama, ketus, dingin serta tidak mengenakkan hati lawan bicaranya. Ara hanya diam dan terus berusaha.
"Kira-kira Ari udah tau belum, kapan bakalan sayang sama Ara?"
Hening, tidak ada respon dari sang empunya nama. Ara kembali melontarkan pertanyaan.
"Ari kalau udah sayang sama ara cepetan bilang, ya."
Lagi, masih pertanyaan yang sama. Mungkin Ia jenuh dengan Ari yang masih lekat pada gawainya.
"Ara jadi gawai, ya, ya? Biar Ari lekat ngelihatinnya? Ari! Lihat ara! Udah sayang belum?"
Brak ....
Rentetan pertanyaan Ara terjawab oleh pukulan pada meja di hadapan Ari. Gawai yang sejak tadi menjadi objek penglihatannya pun raib terbanting juga. Ari menoleh cepat ke arah Ara, tatapan itu membuat Ara sedikit terkejut.
"Mau kamu jadi gawai, jadi kodok, jadi patung, mati sekalian pun aku nggak peduli! Pergi kamu! Aku nggak akan suka sama kamu sampai kapan pun, pertunangan kita ini hanya karena perjodohan. Jadi nggak usah berharap lebih deh!"
Sakit sekali batinnya. Ingin menangis, tetapi air matanya sukar untuk keluar saking seringnya Ia menangis. Ara mulai menetralisir rasa sesak pada hatinya, Ara sedikit mendongak ke atas supaya matanya tidak semakin memanas.
"Yaudah nggak apa-apa kok, besok ara tanya lagi. Barangkali besok udah sayang, hati manusia siapa sih yang tau. Oh iya, anterin ara kemoterapi yuk. Kan, selama ini Ari nggak pernah temenin ara? Ari nggak mau lihat gimana ara nahan sakit waktu di kemoterapi?" ujarnya lagi, pertanyaan Ara memang selalu menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.
Dua nama yang hampir serupa. Tersusun dari tiga huruf yang tidak jauh berbeda. Tetapi hal itu bukan berarti bisa bersatu. Mereka itu seperti minyak dan air, sukar sekali menyatu.
"Sebenarnya mau kamu tu apa sih?"
"Maunya ara, Ari belajar sayang sama ara mulai dari hari ini," katanya.
"Nggak bisa, Ra! Kamu tau nggak sih, cinta itu nggak bisa dipaksa. Kamu mau, aku cintai dalam kebohongan?"
Oktav bicara Ari sudah melembut, dirinya tampak frustasi dengan semua ini. Dia tidak bisa berbohong, hatinya sukar mencintai Ara, dan baginya Ara adalah benalu yang hadir di tengah-tengah hujan sakura yang indah nun mempesona.
"Bisa. Ari aja yang belum berusaha. Dulu ara juga nggak suka sama Ari. Perempuan mana sih yang nggak bakalan pikir dua kali saat disuguhi lelaki narapidana, penyabu dan pemabuk seperti Ari. Ara juga kaget, waktu perjodohan itu terjadi ara harus mengikhlaskan hubungan ara dengan mantan yang sudah berjalan hampir lima tahun. Ara pikir, apa yang dipilihkan orang tua adalah yang terbaik untuk anaknya."
"Kamu itu salah! Meski aku seorang napi, tapi aku tampan, banyak kok perempuan yang ngemis-ngemis buat dapat balasan cinta dari aku! Salah satunya kamu!" tudingannya.
"Di mata ara, wajah Ari itu jelek! Setandar dengan pemuda dua puluh dua tahun pada umumnya, hanya saja seorang Ari Ravvano menginginkan istri shalihah dalam buku diarynya."
Ari mendelik tajam, bagaimana mungkin gadis tengil ini bisa tahu jika dirinya pernah menulis seperti itu pada buku diary!
"Perempuan shalihah nggak mau punya suami kayak Ari. Yang arogan, sok tampan, dan tidak bisa menjaga hati kaum hawa. Kenapa Ari masih percaya diri kalau modal tampan saja cukup untuk mendapatkan cinta."
"Nggak semua, Ra!" bentaknya.
"Ari pernah nggak makan masakan tante tiara waktu puasa?"
"Ya pernahlah!"
"Itu tante tiara nggak nyicipin loh waktu masak. Tapi bisa enak dan pas, kan? Perkara pilihan jodoh juga seperti itu." Bibir ara terus tertarik ke atas. Senyuman itu tidak pernah surut meski Ari terus menggores belati dalam hatinya.
"Cinta itu bukan tentang satu pihak yang berjuang. Tetapi keduanya!" tegas Ari seraya mengacak rambut. Lepas itu Ia beranjak pergi meninggalkan gadis di atas kursi roda.
"Yaudah kalau begitu kita berjuang bersama."
Langkah Ari tertahan sejenak, "Nggak bisa!"
"Ara ajarin."
******
Ara pulang dengan kekecewaan mendalam. Hari ini adalah jadwal kemoterapi. Awalnya Ia menolak sebab merasa sia-sia saja. Mau dikemoterapi berapa kali pun penyakitnya tidak akan sembuh. Ara sudah pesimis.
Sepanjang jalan, Ia terus menatap lekat cincin yang melingkar pada jari manisnya. Kilas balik malam itu, saat acara pertunangan berlangsung. Dengan manis Ari memakaikan cincin pada jari Ara. Itu sudah lama, ada sekitar tiga tahun ini.
"Sayang," sapa Bundanya.
"Iya, Bun?"
"Bunda yakin Ari itu sudah cinta sama Ara. Kamu mau, ya. Pernikahan ini segera dilangsungkan?"
Ara menggenggam tangan Bundanya. Lagi-lagi hanya senyum yang terbingkai dari bibirnya. Hati yang menangis dalam penantian dan bayang-bayang kematian.
"Ari belum cinta sama ara. Ara nggak mau pernikahan kami didasari tanpa adanya cinta, Bun."
Ara membuang napas kasar. Menatap sesaat pada sekitar jalanan. Lagi, Ia kembali berucap. "Sebentar lagi, ya, Bun."
******
Hari terus berganti hari, hingga tahun sudah berganti angka. Malam merangkak fajar, usia pertunangan mereka sudah menginjak tahun ke empat. Pagi itu Ara meringis kesakitan, seluruh badannya seolah-olah menjerit tidak tahan dengan keadaan. Hatinya pun sama, sudah lelah terus-terusan dikelabui oleh rasa.
Ari tidak akan tergapai, tetapi nalurinya berkata jika suatu saat pemuda itu akan mengucapkan kata cinta padanya.
Sore itu setelah hujan reda, Ara bergegas menuju rumah Ari yang memang hanya sebelahan. Sudah sekitar dua bulan Ia tidak bertandang sebab rasa sakitnya yang kian mencekam membuat Ara harus terbaring dalam ranjang.
Pernah waktu itu Ari datang sekali menjenguk Ara. Itu pun dipaksa oleh Tante Tiara serta Om Farhan. Tidak apa, Ara tetap bahagia.
"Hay, Ri."
Ari hanya melirik, dan fokus kembali pada kesibukannya.
"Ari, bukain pagar pintu dong. Ara bawa kue cokelat buat Ari.
Sama, tidak ada jawaban. Ara menarik sudut bibirnya ke bawah. Perasaan ingin menyerah perlahan datang mendoktrin terus-terusan.
"Oh, iya. Gimana, Ari udah cinta sama ara? Kayaknya udah nih, kemarin, kan Ari jengukin ara. Iya, kan, Ri?"
Ara tidak putus asa. Ia tetap di halaman rumah Ari. Sedangkan Ari, Ia duduk dengan laptop yang ditatapnya. Ingin masuk, tetapi susah untuk Ara membukanya. Jadi terpaksa Ia harus berdiam diri di luar sembari menunggu rintikan hujan lebih besar lagi.
"Ara capek, Ri. Terus-terusan kemoterapi tapi nggak sembuh-sembuh. Capek juga bertahan hidup dengan bantuan obat. Ara sebetulnya ingin tidur panjang saja, tapi ada tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Dosa nggak, Ri. Kalau kita batalin pertunangan ini? Ara nggak mau nikah tanpa cinta." Begitulah Ara berkata. Kali ini Ia tidak malu atau sukar menjatuhakn air matanya.
Rupanya, perkataan Ara berhasil menusuk hati kecil Ari. Pemuda itu menoleh ke arah halaman yang sudah gelap sebab mendung yang kian menghitam.
"Nggak usah gila! Aku nggak mau kedudukan ceo harus hilang dariku. Kamu aja yang rempong. Nikah tinggal nikah juga, perkara hati dan cinta jangan dipaksa. Setelah nikah kamu bisa lanjut pacaran sama mantan kamu, dan sebaliknya aku!"
"Gila kamu, Ri. Ara nggak pernah ada niatan seperti itu. Pernikahan itu sakral, seperti cincin ini, saat cincin ini sudah melingkar di jari manis ara, otomatis tanggung jawab Ari sepenuhnya kepada ara. Bukan perempuan lain!"
Ara terisak saat air hujan sudah menjadi lebat. Dia tersayat pada macam-macam bagian hati. Bagaimana mungkin bisa menaruh cinta pada lelaki seperti Ari yang berhati batu.
"Kamu terlalu ribet! Aku nggak cinta sama kamu, aku benci sama kamu, Ara! Enyah dari hidupku!"
Duar ....
Gemuruh petir menggelegar setelah kata terakhir Ari terucap. Ara yang sudah sesegukan pun segera menggerakkan ban pada kursi rodanya. Tetapi karena tergesa-tegas dan licin, Ia pun terjatuh.
Dalam dinginnya hujan serta perihnya luka percintaan, Ara terus tersenyum dalam tangisan. Ari adalah seseorang yang harus Ia cintai. Namun, kata terakhirnya tadi mengisyaratkan bahwa Ara harus sadar diri.
Gadis tidak sempurna tidak berhak mendapatkan pemuda setampan Ari. Mungkin begitu kata semesta. Hitamnya aspal jalanan menjadi saksi pedihnya gadis itu. Setiap hari selalu datang ke rumah Ari, hanya untuk menanyakan hal konyol seperti 'Ari udah cinta sama Ara belum'
Ara merutuki kebodohan dirinya sendiri. Menangis dalam guyuran hujan. Mungkin hari ini juga Ia harus berhenti, raganya sudah tidak mampu untuk diajak berjuang lagi. Apakah Ara menyerah.
*****
Hari-hari Ari terasa sepi. Tampaknya hati kecil Ari merindukan Ara. Sudah satu bulan ini, gadis yang kerap datang ke rumahnya dengan membawa kue cokelat tersebut tak terlihat lagi.
Ayah dan Ibunya juga bungkam, setiap kali ditanya perihal Ara. Dunianya runtuh dalam sekejap, ada rasa sesal yang menyerukan dalam dada, tangisnya pecah kala mengingat betapa jahatnya Ia saat berdialog dengan Ara.
"Kamu ke mana, Ra. Maafin aku," katanya.
Pagi itu Ari memutuskan untuk ke rumah Ara. Tetapi tidak ada orang, kecemasannya semakin memuncak, terakhir kali Ia berdialog dengan Ara adalah saat hujan sore itu. Ara mengeluhkan sakitnya, serta Ia terjatuh dari kursi roda.
"Aarrgghhh!"
Ari semakin tidak terkendali, tubuhnya kian kurus, rambut-rambut halus tumbuh pada sekitar rahangnya. Hari-hari pemuda itu semakin kelabu, seolah-olah separuh nyawanya telah hilang.
Hingga pada suatu hari, Bunda Ami, ibunya Ara datang ke rumah dengan membawakan sesuatu. Saat Ari hendak menanyakan perihal Ara, Ibu Ami bungkam. Hanya sorot kesedihan yang mewakili dirinya.
Malam sekitar pukul 23:45 Ari masih takut untuk membaca surat itu. Tapi rasa rindu dan bersalahnya pada Ara membuat kedua tangannya bergerak lihai.
Matanya nanar berair seketika, deras saat kalimat demi kalimat menusuk hati kejamnya.
_____________________
Dear Arinya Ara.
Halo Ari. Gimana udah cinta sama Ara? Ara tau, pasti jawabannya adalah belum dan tidak akan pernah. Yaudah nggak apa-apa. Ara nggak akan bertanya seperti itu lagi kok. Ara tulis surat ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, ara tanpa obat dan kemoterapi tentunya. Seperti yang beberapa bulan lalu Ari katakan, ara harus enyah, kan. Dari kehidupan Ari? Iya, ara bakalan enyah kok, Ari tenang aja.
Ara udah bener-bener nyerah, raga ara nggak kuat lagi untuk diajak bertahan. Selama ini ara minum obat tiap jam hanya agar bisa bertahan lebih lama dan berharap Ari akan cinta sama ara. Lalu kita nikah deh, hehehe. Maaf, maaf, ara bercanda kok. Ara tau diri kok, Ri.
Ara diketawain Mbak suster loh. Waktu ara lagi diperiksa, ara sambil nulis ini. Awalnya dimarah, tapi ara nggak peduli, ara terus ngeyel dan akhirnya diizinkan.
Tapi, meluluhkan hati Ari tidak semudah meluluhkan Mbak Suster. Hehehe.
Ari tau ngga kata Mbak suster apa? Masa gini, nih katanya. Emang nulis surat buat siapa sih, kok kayaknya penting banget. Ara jawab aja, buat Arinya ara yang seperti batu dan nggak pernah bisa mencintai ara. Eh, Mbak susternya malah ketawa dan bilang lagi gini.
Beruntung, ya. Jadi si Ari.
Coba yang bilang seperti itu adalah Ari, wah! Ara bakalan semangat untuk hidup meski dengan bantuan obat. Tapi sayang, itu hanya mimpi yang akan segera ara pendam bersamaan obat, serta alat-alat medis.
Oh, iya. Ara minta maaf sebab beberapa Minggu ini ara nggak bawain kue cokelat buat Ari lagi. Ara udah capek, tenaganya udah nggak kuat.
Ari tau nggak, lima bulan lalu Kak Fahmi ngajakin Ara jadian. Iya, kakaknya Ari, kak Fahmi. Sebenarnya ara itu nggak jelek-jelek amat kata Kak Fahmi. Hanya saja bodoh, bodohnya ara tuh gini, kenapa masih ngemis cinta sama orang yang tidak memiliki hati.
Ada kok, rasa untuk berpaling. Soalnya, di luar masih banyak lelaki yang lebih dari Ari. Tapi lagi-lagi ara lihat cincin dari Ari yang sudah melingkar di jari manis. Ara udah terikat, jadi nggak mungkin ngehianatin Ari. Makanya, ara terus-terusan berusaha agar Ari cinta sama ara. Sebab pernikahan tanpa cinta itu sakit, Ri.
Ara udah bilang sama Ayah dan Bunda, agar acara pertunangan kita dibatalkan. Benar kata Ari, ara itu seperti perempuan murahan yang terus-menerus ngemis cintanya Ari. Tapi tenang aja, sore lalu adalah yang terakhir.
Cincinnya ara lepas, maaf, ya. Itu disimpan, ya. Jangan kasih kesembarangan perempuan. Kasihkan pada perempuan yang bisa tulus mencintai Ari dan bisa merubah sisi buruknya Ari. Biar nanti Ari nggak menyesal. Cinta nggak selamanya soal fisik, Ri. Tapi harus melibatkan hati.
Udah ya, Ri. Jari ara capek. Ara mau bobok panjang dulu biar nggak ngerasain sakit fisik dan hati. Ara nggak mau perih waktu ngelihat Ari ungkapin cinta ke perempuan lain. Bye-bye Ari Ravvano.
Ingat! Kalau lihat gawai jangan dekat-dekat, nanti matanya sakit.
Ara harap, Ari mau datang ke rumah sakit bangun cipta medika. Biar Ari tau, gimana menyedihkannya ara. Datang, ya. Ara sayang sama Ari, jejak cincin yang tertinggal pada jari manis Ara, akan ara bawa sampai ke surga.
Hihihi, saking lamanya pakai cincin dari Ari sampai-sampai berbekas. Ara tetap akan menunggu Ari bilang kalau Ari udah cinta sama Ara.
Nanti entah kapan waktunya, kalau Ari udah cinta bilang, ya. Tapi jangan di taman belakang. Melainkan di depan batu nisan. Selamat tinggal harapan yang tidak kudapatkan.
_______________
Ari melemas di samping ranjang tidurnya. Badannya gemetar sebab penyesalan. Sebenarnya Ia sudah menaruh hati pada Ara, tetapi entah kenapa sukar untuk diakui.
Dini hari, Ia segera bergegas menuju rumah sakit. Selama perjalanan, hanya air mata yang menemani, Ari menyesali seluruh kebodohannya. Bagaimana mungkin menyia-nyiakan perempuan sebaik dan secantik Ara. Gadis masa kecil yang selalu mewarnai hari.
Sesampainya di rumah sakit, Ari segera menuju ruangan yang sudah diarahkan oleh resepsionis. Dari balik pintu yang terdapat beberapa kaca, Ia mendapati seseorang yang terbaring lemah tengah dikerumuni oleh orang-orang.
"Ara. Jangan tinggalin aku!"
Pintu sudah diterobos. Rupanya Ari telat, tubuh ara yang disinggahi banyak kabel serta peralatan medis pun sudah kaku tidak bernyawa. Ara sudah benar-benar menyerah, dan pergi selamanya meninggalkan Ari.
"Ara bangun!"
"Aku sudah mencintaimu dari satu tahun yang lalu! Bangun, Ra." Ia terus mengguncang tubuh kaku Ara.
Ditatapnya wajah itu, cantik, manis, dan tidak pernah mengeluh meski sering dirinya sakiti.
"Ara, maafin aku. Aku terlalu naif sampai-sampai tidak bisa mengakui perasaan ini, bangun, Ra. Ayo, kita menikah."
"Yah, Bu. Panggil dokter, mereka harus bantuin Ara. Ara masih hidup!" raungnya.
"Dia sudah meninggal sejak tiga puluh menit yang lalu, Ari. Sejak Bunda menyerahkan surat itu, Ara berharap kamu akan segera datang, tetapi lagi-lagi harapan Ara tidak terkabulkan." Kata Bu Ami yang mengusap pundak Ari.
Ari mulai mendaratkan sebuah kecupan hangat pada kening Ara. Dia kontan membisikkan sesuatu pada calon istrinya.
"Ara, I will love you, more, more, and more. Tidak ada perempuan lain yang berhak mendapatkan cincin ini. Hanya kamu, Ra. Hanya kamu. Maaf, aku telat menyadari semua ini."
Ara sudah terbang melayang bersama senyuman. Kalimat yang Ia tunggu sudah terucapkan dari bibir orang yang Ia sayang. Meski pun, mereka sudah lain dimensi.
Penyesalan hanya akan didapatkan saat tragedi terburuk dalam kehidupan mulai terlaksana. Saat-saat seperti itu, mereka yang merasakan mulai menyadari bahwa yang saat ini Tuhan titipkan adalah permata terbaik diantara yang lainnya.
Nanti akan ada hari penyesalan bagi kamu yang sudah menyia-nyiakan.