Katanya mimpi adalah bunga tidur atau memiliki arti. Namun, sudah sebulan aku bermimpi teman sekelasku membunuhku. Aku tidak dekat dengannya, bahkan menyapanya saja aku belum pernah. Namanya Cara, perawakannya mungil, berambut panjang lurus seperti benang sutra berwarna hitam, dan setiap aku melihat wajahnya, ia seperti kurang tidur. Aku mulai memperhatikannya setelah mimpi itu datang berkali-kali.
Mengapa perempuan itu yang datang ke dalam mimpiku? Mengapa buka Katrisha, si ketua kelas menyebalkan yang terang-terangan tidak suka denganku? Atau Maxi si kutu buku, yang masih kesal denganku karena aku telat kerja kelompok 10 menit?
Kata teman sebangku-ku, Cara sering menyempatkan diri untuk tidur. Entah di kelas, perpustakaan, taman, bahkan kantin yang super ramai. Ia juga tertutup dan jarang berbicara dengan orang lain karena waktu luangnya diisi dengan tidur. Aku berusaha mengingat-ngingat, apa hubungannya dengan Cara dan pembunuhan. Aku bahkan mengingat-ingat apa yang kutonton atau kubaca sebelum tidur. Bisa jadi aku menonton hal mengerikan dan tidak sengaja Cara muncul di alam bawah sadarku. Tapi, usahaku nihil.
"Lyno..."
Suara kecil memanggil namaku. Itu dari Cara dan aku yang saat ini sedang memainkan ponselku hanya diam. Aku sengaja karena memastikan bahwa aku tidak salah dengar.
"Lyno"
Cara memang memanggilku. Aku pun menoleh ke sumber suara. Perempuan itu tersenyum tipis dan berjalan mendekat kearah mejaku. Aku tidak tahu ekspresi yang aku keluarkan saat ini namun perempuan itu terlihat berhati-hati di depanku.
"Namamu Lyno, kan?"
"Ya, kenapa?"
Cara terlihat ragu dan sekarang ia terlihat kebingungan. Kenapa dia? Aku rasa jika dia takut bicara denganku di depan orang lain, ini waktu yang tepat. Sudah sore, sepi, dan ya... memang masih ada Katrisha yang sedang merapikan tasnya, tapi buat apa dia ragu?
"Cara, kau baik-baik saja?" Peluh di kening perempuan itu terlihat jelas.
"Bisakah kita ke rooftop? Aku... aku ingin... bicara dengan... mu..."
Sekarang aku dan Cara sudah di rooftop sekolah, cahaya matahari berwarna jingga itu sedikit membuatku sakit mata. Cara masih diam. Aku pun sama. Aku hanya bingung dan menunggu apa yang dia ingin katakan.
"Lyno, apa aku mengganggumu? Aku... hmm... merasa kau memerhatikanku akhir-akhir ini"
Oh tidak! Dia tahu jika aku memerhatikannnya. Apa sekarang aku sudah di cap olehnya sebagai laki-laki aneh? Sepertinya aku bodoh dalam memperhatikan orang lain.
"Maafkan aku! Aku... hanya... penasaran saja... aku belum pernah berbicara denganmu dan kau terlihat menutup diri..." aku berbohong. Mana mungkin aku terang-terangan bilang bahwa alasannya karena aku bermimpi Cara membunuhku.
"Oh begitu..." Cara mengangguk-angguk sambil tersenyum, "Aku lega, aku kira aku ada masalah denganmu"
Aku harus jujur, senyuman Cara dengan cahaya matahari yang menyoroti wajahnya begitu cantik. Aku sampai tertegun melihatnya. Jantungku terasa berdebar-debar dan aku tidak bisa mengontrolnya.
"Lyno? Hey... Lyno?" Cara menyadarkanku di tengah aku mengaguminya. Semoga ia tidak tahu aku begini karena dirinya.
"Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu"
"Memikirkan bagaimana membunuhku?"
Aku tersentak, "Kenapa kau bilang begitu?"
Cara menarik sesuatu dari belakang seragamnya. Pisau tajam yang ada di tangannya saat ini ada di depanku. Aku terkejut, sekaligus takut. Namun Cara terlihat biasa saja, bahkan dia bingung melihatku.
"Kau kenapa?"
"Bagaimana kau bisa membawa pisau itu?"
Cara memutar pisau tersebut dan menghadapkan gagangnya di depanku, "Ambil lah! Bunuh aku sekarang," ucapnya santai.
"Kau gila, ya? Mana mungkin aku membunuhmu!" Panikku sambil bergerak mundur.
"Aku lelah bermimpi tentang dirimu yang membunuhku. Aku tidak bisa tidur. Setiap aku tidur, aku selalu melihat dirimu membunuhku. Menusuk pisau itu berkali-kali sampai aku sekarat. Aku selalu melihat wajahmu penuh dengan darahku yang terciprat disana. Rasanya sakit sekali dan aku tidak tenang. Lebih baik kita akhir ini dan bunuh aku sekarang!"
"Tidak!" Aku langsung mengambil pisau itu kemudian melemparnya ke sembarang tempat, "Itu mimpi, Cara! Mana mungkin aku ingin membunuhmu! Lagipula, kau juga membunuhku dimimpiku. Persis seperti yang kau katakan tadi,"
"Aku tidak kuat, Lyn..." perlahan aku bisa melihat air mata itu jatuh melewati kantung mata hitamnya. Ia kembali meraih pisau itu, namun langsung ku tepis.
"Hentikan..."
"Hiks... aku lelah merasakan ketakutan itu... aku tidak mau bangun dengan mimpi menyeramkan seperti itu. Lepas!"
"Cara!" Aku langsung berteriak di depannya, "Kita sama-sama melewati itu, tapi kebenarannya adalah kita tidak mati. Kita masih hidup!"
Cara langsung menarikku kepelukkannya. Ia menangis hingga aku bisa merasakan air matanya membasahi pundakku. Aku merasa iba saat ini dan juga bersyukur. Ternyata apa yang aku takutkan selama ini salah dan ternyata ia duluan yang merasakan kesulitan itu. Mengapa kita bertemu karena mimpi buruk yang sama? Jika mimpi itu tidak datang, apakah aku bisa merasakan pelukkan yang erat darinya persis seperti ini?
"Terima kasih kau telah melihat sisi jelekku..."
Saat ini kami memperhatikan langit yang hampir gelap. Mendengar Cara berkata begitu, aku langsung menggeleng cepat, "Kau tidak jelek! Menangis itu wajar!"
"Jangan berusaha menenangkanku!"
"Aku berkata jujur. Kau tidak tahu jika aku orangnya to the point?"
"Lalu, menurutmu aku bagaimana?"
Aku langsung menelan ludah kasar dan membuang muka. Entah bagaimana aku malu saat ia menatapku. Aku harap wajahku tidak terlihat konyol di depannya sekarang.
"Lyno,"
"Ya..."
"Aku menyukaimu,"
Seketika aku menatapnya. Kami saling bertatapan dan rasanya sangat mendebarkan. Aku tidak pernah bertatapan dengan lawan jenis sedekat ini. Bahkan aku bisa melihat sorot mata tulusnya dan aku percaya bahwa apa yang ia katakan bukan kebohongan.
"Ini terlalu cepat. Tapi, aku merasakan itu. Apa kau merasakannya? Aku tidak menyesal jika kau bilang bahwa kau tidak menyukaiku. Aku lega bisa mengeluarkan perasaan ini," ucapnya gugup sambil kembali mengeluarkan senyum manisnya.
"Aku merasa kita terhubung akan semua ini. Bagaimana rasa takut, tertekan, dan kagum ini bisa terjadi dengan orang yang sama?" Aku memegang wajahnya yang terasa lembut ditanganku.
"Aku masih ingat wajahmu yang tersenyum bengis dengan cipratan darahku. Itu menyeramkan tapi aku ingin terus melihatnya,"
"Bagaimana jika aku membunuhmu sekarang juga?" Candaku sambil terkekeh, namun Cara masih serius menatapku.
"Aku bersedia karena itu adalah kau," ujarnya sambil memegang pundakku, "Lalu, bagaimana denganmu? Kau di depan pembunuhmu dan jika aku mengambil nyawamu sekarang, apa kau takut?"
"Tidak akan. Entah siapa yang dibunuh atau membunuh, aku tidak peduli."
"Apa setelah ini kita masih bermimpi saling terbunuh?"
"Kita lihat nanti, apakah setelah ini akan terjadi atau tidak,"
Keberanian darimana, aku mencium Cara tepat di bibirnya. Detak jantungku berdetak hebat hingga aku merasa bisa mendengar detak jantungku sendiri. Darahku terasa terpompa cepat hingga pipiku terasa panas. Aku terkejut dengan apa yang aku lakukan saat ini. Namun, aku merasa senang ketika Cara tidak menepis keadaan ini.
Ingatanku terputar kembali kejadian dimana Cara membunuhku. Semua tampak begitu bahagia. Aku bisa melihat kelopak mawar merah yang jatuh diantara kami. Setiap Cara menancapkan pisaunya, yang aku lihat bukan senyuman menyeramkan. Melainkan senyuman cerahnya yang sangat cantik. Tidak ada ketakutan yang kami rasakan, melainkan suka cita dan kasih sayang dari pisau yang terus menghujaniku. Tidak ada darah, hanya kelopak bunga yang menghiasi kami berdua. Itu hal menyeramkan yang terasa indah bagiku.
Aku tidak mengira, mimpi buruk ini membawa kami bertemu dan merasakan hal manis satu sama lain. Ternyata kejadian buruk ini ada kebahagiaan yang tidak kusangka. Aku mencintai Cara seperti ia mencintaiku. Sangat sangat mencintainya.