Laurel menatap surat yang sedang dipegangnya dengan hati berdebar. Dia selalu saja merasa deg-degan setiap kali membaca surat dari Tuan Xavier.
Jujurly, di zaman modern seperti saat ini seharusnya orang tidak lagi berkomunikasi menggunakan surat. Tetapi Tuan Xavier ini memang pria yang aneh sekali.
Dia selalu saja mengirimkan surat untuk berkomunikasi dengan Laurel. Surat yang dikirimkan tidak ditulis tangan, namun diketik menggunakan komputer dengan font Times New Roman.
Sehingga sulit bagi Laurel mengenali karakter Tuan Xavier melalui surat-surat yang dikirimkan tersebut.
Andai saja surat-surat itu ditulis dengan tulisan tangan, Laurel jadi bisa menerka-nerka karakter Tuan Xavier melalui tulisan tangannya.
"Hemmm... Akhirnya dia mengabulkan permintaanku!" Laurel berseru riang.
Ia bisa merasakan pacu adrenalinnya bertambah kencang karena membayangkan semua tanda tanya yang selalu muncul di benaknya akan terjawab nanti malam. Semua rahasia tentang Tuan Xavier akan terkuak.
Laurel merasa senang sekali membayangkan dirinya akan bertemu langsung dengan pria yang sangat berjasa pada dirinya selama ini.
Tuan Xavier adalah tokoh utama di balik penyelamatan dirinya dari musibah kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Kedua orang tua Laurel meninggal dunia dalam musibah tersebut. Dia adalah satu-satunya korban yang selamat dari kejadian nahas itu.
Laurel sendiri pada saat itu masih duduk di bangku SMP. Ia mengalami benturan yang cukup parah di bagian kepala hingga menyebabkan dirinya mengalami amnesia. Tidak ada yang bisa diingat lagi oleh Laurel, tidak ada seorang pun yang dikenalinya.
Laurel tidak berasal dari keluarga yang kaya raya. Justru kedua orang tuanya hanya memiliki penghasilan pas-pasan selama hidup mereka. Sehingga tidak ada satupun keluarga atau saudara yang mau mengurus kehidupan Laurel selanjutnya.
Laurel nyaris terlantar di rumah sakit andai saja Tuan Xavier tidak membantu menangani biaya pengobatannya pada waktu itu.
Ternyata Tuan Xavier merasa tersentuh melihat kondisi Laurel yang saat itu sedang kritis di rumah sakit.
Tuan Xavier merasa kasihan sehingga dia kemudian menanggung semua biaya dan kebutuhan hidup Laurel hingga Laurel menyelesaikan studinya di perguruan tinggi.
"Jika kau sudah bisa hidup mandiri, aku akan melepaskanmu. Dan kita akan bertemu."
Begitu selalu kata-kata yang tertulis di surat Tuan Xavier. Bertahun-tahun Laurel hanya bisa melengos setiap kali membaca tulisan yang seperti itu.
Laurel berusaha menyelesaikan kuliah secepatnya dan dia beruntung telah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan terkemuka di kotanya. Dia merasa dirinya sudah mandiri dan menagih janji Tuan Xavier pada dirinya.
"Hehehe... Tuan Xavier ini pastilah seorang pria tua yang kaya raya."
"Dia kuno sekali. Kelihatan dari bahasa di suratnya. Oh Tuhan... Semoga Tuan Xavier panjang umur... Aku ingin membalas budi pada pria baik itu."
Laurel memanjatkan do'a di dalam hatinya. Ia mulai membayangkan kata-kata apa yang akan diucapkannya nanti jika bertemu dengan Tuan Xavier.
"Hemmm... Tapi sebenarnya ini kurang sopan bagi Tuan Xavier... Tapi dia mau datang ke perayaan valentine itu... Hemmm... Semoga dia tidak tersinggung aku meminta dirinya hadir di sana." Laurel berkata pada dirinya sendiri dengan perasaan sedikit gelisah.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Laurel meminta Tuan Xavier datang ke acara nanti malam yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat Laurel bekerja.
Acara tersebut adalah malam penganugerahan berbagai ajang yang selama ini dilaksanakan di perusahaan. Kebetulan saja bertepatan dengan malam perayaan Valentine. Sehingga konsep acara yang digelar diwarnai dengan nuansa suasana romantisme valentine.
Tentu saja acara tersebut sebenarnya tidak sesuai untuk Tuan Xavier. Namun mau bagaimana lagi, Laurel ingin Tuan Xavier hadir di sana dan menyaksikan dirinya menerima salah satu penghargaan paling bergengsi untuk staf karyawan baru seperti dirinya.
Tuan Xavier pasti bangga akan prestasinya selama ini. Laurel juga telah mempersiapkan hadiah khusus untuk pria yang baik hati itu.
"Hemmm... Aku harus bersiap-siap. Aku tidak boleh telat." Ujar Laurel ketika melirik jam di dinding.
Setelah berkemas, Laurel segera menuju ke lokasi acara di sebuah hotel bintang lima. Seorang petugas hotel langsung mengarahkan Laurel menuju ke ballroom hotel yang berada di lantai ketujuh.
Laurel melihat ke sekeliling ruangan ballroom tersebut. Dekorasi terlihat mewah dan suasana romantis langsung terasa.
"Laurel, sini sini!" Seorang gadis dengan rambut bergelombang memanggil dan melambaikan tangan.
"Jenny!" Teriak Laurel sambil bergegas menemui gadis itu.
"Sendirian?" Tanya Jenny.
"Yup! Kamu sendirian juga?" Laurel balik bertanya.
Jenny tidak menjawab. Dia hanya tersenyum simpul.
"Hemmm... Sepertinya ada yang aneh nih..." Tebak Laurel.
"Hehehe... Nanti aku akan dijemput... Hehehe..." Ujar Jenny sambil terkekeh pelan.
"Dijemput?" Tanya Laurel penasaran.
Jenny mengangguk pelan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh!" Laurel menutup mulutnya.
Kini dia mengerti maksud Jenny. Dia tertawa lebar.
Beberapa menit kemudian, acara dimulai. Para karyawan yang mendapat undangan khusus telah hadir dan menyimak setiap bagian acara dengan tenang.
Laurel melirik kiri-kanan, mencari sosok Tuan Xavier di antara semua tamu undangan yang hadir. Dia memperhatikan satu per satu wajah para tamu undangan.
"Tidak ada satupun laki-laki paruh baya di sini..." Laurel meratap sedih di dalam hatinya.
"Mungkin Tuan Xavier tidak pede hadir ke acara beginian! Bodohnya aku memintanya hadir di sini! Hiksss..." Batin Laurel.
Dia mulai menyesali kebodohannya meminta Tuan Xavier hadir di acara party seperti ini. Acara seperti ini tentu tidak sesuai untuk laki-laki seumuran Tuan Xavier.
"Laurel... Tuh siap-siap! Sebentar lagi nama kamu dipanggil!" Suara Jenny menyandarkan Laurel dari lamunannya.
"Ohhh... Hemmm... Iya ya!" Sahut Laurel.
Laurel, Jenny, dan semua tamu undangan memusatkan perhatian mereka ke atas panggung.
"Wowww... CEO kita ternyata tampan bangettttt!" Ucap Jenny antusias.
Laurel menatap sosok CEO perusahaan itu dengan tatapan kagum.
"Iya ya! Masih muda, tampan, dan sukses! Dia memang terlihat sangat berkarakter! Ckckckck..." Laurel berdecak kagum.
"Pantas saja si boss sering jadi bahan gossip di kantor! Ternyata orangnya sekeren itu!" Puji Jenny sambil terkekeh sendiri.
"Hahaha... Iya ya! Aku juga ga nyangka, pantas banyak fans-nya!" Sambung Laurel.
Kedua gadis itu tertawa lebar. Jenny kembali mengingatkan Laurel untuk menyimak kata-kata MC di atas panggung.
"Laurel! Ayo naik ke panggung! Your turn now!" Seru Jenny sambil menepuk kuat pundak Laurel.
"Hahaha... Iya!" Sahut Laurel sambil berjalan cepat menuju ke panggung.
Laurel merasa deg-degan sekali. Dia sedikit nervous karena semua mata kini tertuju padanya di atas panggung.
"Kepada CEO kita yang terhormat, Tuan Antonio Xavier Rodrigo... Kami persilahkan untuk menyerahkan piagam penghargaan!" MC berseru dengan suara lantang.
Laurel terhenyak sesaat kala mendengar nama lengkap dari pimpinan perusahaan tersebut. Nama yang sekilas terdengar tidak asing di telinganya. Namun hiruk-pikuk dan suara riuh dari dalam ruangan membuat Laurel tidak bisa banyak berfikir.
Dia terlalu bahagia sekaligus nervous karena mendapatkan penghargaan yang akan diserahkan langsung oleh orang nomor satu di perusahaan tersebut.
Tuan Antonio berjalan dengan gagah menuju ke panggung. Jujur saja Laurel sedikit terkesima melihat CEO tersebut. Pria itu terlihat gagah, tampan, dan elegant. Semua mata para wanita seolah tidak ingin berkedip ketika melihat penampilan Tuan Antonio yang begitu paripurna.
Seorang gadis cantik datang membawakan nampan berwarna keperakan dan berkilauan akibat pantulan cahaya gemerlap di atas panggung. Sebuah trophy dan piagam penghargaan diletakkan di atas nampan yang berkilauan tersebut.
Tuan Antonio mengambil trophy dan menyerahkannya pada Laurel yang sedikit gugup namun berusaha tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Tuan Antonio!" Ucap Laurel penuh hormat.
Tuan Antonio lalu mengambil piagam penghargaan dan menyerahkannya lagi pada Laurel. Suara tepuk tangan kini menggema dengan meriah di seantero ruangan ballroom hotel tersebut.
"Terima kasih..." Ucap Laurel lagi sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Selamat, Laurel! Kau membuatku bangga sekali!" Ucap Tuan Antonio pelan namun dengan suaranya yang dalam.
Laurel terhenyak! Aneh! Laurel terkesiap mendengar ucapan Tuan Antonio.
"Terima kasih telah mengundangku malam ini!" Ucap Tuan Antonio setengah berbisik.
CEO tampan itu menyalami tangan Laurel dengan hangat. Laurel merasa jantungnya berhenti berdegup. Dengan mata terbelalak dia menatap wajah pimpinannya. Tuan Antonio tersenyum tipis.
"Tuan Antonio Xavier Rodrigo..."
"Tuan Antonio Xavier..."
"Tuan Xavier..."
"Tidak... Ini tidak mungkin!"
Laurel berteriak di dalam hati. Jantungnya semakin berdebar karena merasakan kehangatan genggaman tangan Tuan Antonio yang pelan tapi pasti mulai merasuk ke dalam hatinya.
***TAMAT***