Namaku Baron, Anak tertua dari 5 bersaudara. Sekarang umurku baru menginjak 17 tahun, Ayahku meninggal dunia karna serangan jantung di saat umurku genap 2 tahun, Karna itulah ibu menikah lagi dengan seorang wirausahawan.
Adik-adiku bernama Citra (14 tahun), fitri(9 tahun), Arwan (4 tahun), dan Rafkha (1 tahun).
Adik-adikku itu sangat tidak menyukaiku karna aku adalah satu-satunya anak yang berbeda ayah, semua tugas rumah selalu di bebankan kepadaku karna aku adalah anak tertua, Walaupun begitu terkadang aku merasa bahwa kehadiranku di keluarga ini sangatlah tidak di butuhkan karna selain menganggur, Aku juga di perlakukan sebagai seorang babu di banding seorang anak
Segala sesuatu yang aku lakukan akan menimbulkan sebuah omongan atau gosip di keluargaku bahkan tetangga.
Celotehan adik-adikku selalu membuatku sesak di dada namun aku selalu berusaha agar terlihat tegar dan selalu berharap suatu hari mereka pasti akan memandang ke arahku
Adiku yang tertua yaitu Citra selalu di gadang-gadang sebagai bintang keberuntungan oleh ibu dan ayah, Padahal aku melihat nilai ulangan adikku tidak lebih dari rata-rata bahkan ada nilai yang rendah di dalam pelajaran sastra
Aku menyadari bahwa IQ miliku memang rendah, karna itulah sulit bagiku untuk mencerna pembelajaran di sekolah, Tapi aku selalu berusaha untuk belajar sendiri dirumah namun pekerjaan rumah setiap kali aku pulang sekolah selalu saja di bebankan kepadaku sedangkan ibu, ayah, dan semua adikku pergi liburan dan berbelanja
Aku semakin merasa terpuruk saat satu-satu nya seragam milikku rusak dan usang, Karna itulah aku meminta kepada ibu untuk dibelikan seragam baru, tetapi jawaban ibu semakin membuat hatiku gelap, Dia mengatakan bahwa bajuku masih bisa di perbaiki dan di pakai kembali, Jika aku tidak mau memakainya maka aku akan diberhentikan oleh ibu.
Ibu sepertinya tidak menyayangiku lagi, Begitu juga ayah tiriku itu yang selalu menindasku bahkan pernah memaksaku memakan makanan yang sudah lama di dalam kulkas yang sudah megeras dan basi.
Suatu hari Adikku Citra mengalami kecelakaan yaitu kedua bola matanya tersiram bahan kimia saat melakukan praktek di sekolah
Akupun panik dan sesegera mungkin untuk pergi kerumah sakit, Tapi ibu tidak mengizinkan aku untuk pergi melainkan memintaku untuk menjaga rumah demi keamanan bersama.
Aku memilih untuk mengerjakan semua tugas rumah yang masih tersisa sembari berdoa agar Citra baik-baik saja, Saat aku menyapu halaman rumah, Tetanggaku membicarakan Citra yang mengalami kecelakaan
Tapi apa yang aku dengar sungguh berbeda dengan apa apa yang sebenarnya terjadi, Dari yang aku dengar mereka berkata bahwa akulah penyebab kecelakaan yang menimpa Citra karna aku tidak menjaganya dengan baik
Mereka berbicara seolah-olah aku hanyalah sampah yang menjadi aib keluargaku, Aku hanya bisa geleng-geleng kepada dan mengusap dada, Aku bisa menahan amarahku tapi tidak dengan sakit yang kurasakan saat ini
Setelah beberapa saat akhirnya tugas rumahku selesai, Aku mengunci pintu dan sesegera mungkin pergi ke rumah sakit
Saat aku tiba, Semua adikku terlihat murung, begitu juga ayah dan ibu. Aku tidak berani bertanya kepada mereka karna aku yakin mereka tidak akan memberikan jawaban yang aku inginkan
Aku mencari dokter yang memeriksa Citra lalu menanyakan apakah citra bisa di selamatkan?, Dan jawabannya sungguh membuatku lega karna nyawa Citra tidak terancam tetapi jantungku kembali berdetak kencang saat mengetahui bahwa nyawanya mungkin saja tidak terancam namun matanya akan mengalami kebutaan permanen
Dia juga mengatakan Citra hanya bisa melihat lagi jika dirinya melakukan oprasi dengan mengganti bola matanya, tetapi masalahnya tidak ada orang yang mau mendonorkan sebuah bola mata yang berharga secara cuma-cuma selain membelinya dengan harga yang sangat tinggi dan itu akan membuat ayah bangkrut dan ibu serta adik-adikku hidup sengsara
Tentu saja aku tidak menginginkannya hingga aku memutuskan untuk membuat suatu keputusan yang egois, Yaitu mengorbankan bola mataku untuk Citra
Aku meminta dokter melakukan oprasi kepada citra dengan memberikan kedua bola mataku untuknya atas nama orang lain
Awalnya dokter tidak setuju karna pihak rumah sakit harus mendapatkan persetujuan di antara 2 pihak, Tapi akhirnya mereka setuju setelah aku mengatakan bahwa aku akan menggunakan identitas orang lain
Tengah malam akhirnya tiba dan akupun pulang, Sata tiba di rumah pintu sudah di kunci, setelah itu aku berjalan kembali ke halaman rumah untuk melihat indahnya langit malam dengan taburan bintang dan bulan sebagai pelengkap
Aku melihat rumahku untuk terakhir kalinya, dan akhirnya akupun tertidur di atas rumput yang hijau
Pagi harinya aku di bangunkan dengan di siram seember air karna ibu dan ayah benar-benar malu dengan diriku yang tidur di halaman rumah seperti gembel atau pemulung dan itu benar-benar aib bagi keluarga
Ibu melemparkan sepotong roti yang sudah keras ke padaku yang masih basah kuyup karna siraman air, Akupun melahap roti tersebut karna aku belum makan apapun sejak kemarin sore. aku benar-benar lapar
Sebelum aku menghabiskan makananku Ibu menyeretku ke belakang rumah untuk menjemur pakaian, Akupun melakukannya dengan penuh semangat karna ini terakhir kalinya aku menjemur pakaian
Setelah selesai, aku kembali berbaring di halaman rumah untuk menikmati indahnya pagi dan silau nya cahaya matahari karna ini juga adalah terakhir kalinya aku menikmati indahnya pagi hari
Aku berganti pakaian dan duduk di kasur lalu merenung, Aku yakin Tuhan akan selalu menyayangiku karna tindakan yang aku lakukan ini adalah hal baik..
Tuhan akan selalu menjagaku karna ini merupakan hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk keluargaku sebelum aku pergi
Aku sungguh tidak yakin akan selamat, tetapi jika itu mungkin... maka aku akan bisa melihat di alam baka walaupun mataku hilang di dunia
Sesuatu yang berharga seperti mata untuk sebgian orang adalah harta yang tidak akan bisa di beli dengan uang, tapi bagiku itu hanyalah masalah kecil di banding rasa cinta dan rasa sayang untuk keluarga karna keluarga adalah harta yang paling berharga
Akhirnya hari yang di nantikan tiba, Aku pegi kerumah sakit dan aku bisa melihat keluargaku ada disana. Aku menemui dokter yang membuat perjanjian dengaku saat itu,..
Aku di bawa ke sebuah ruangan oprasi, aku meminta dokter untuk memberiku sedikit waktu untuk melihat Citra, seorang anak kecil yang pernah ku gendong saat masih kecil
Aku melihat mata citra yang berwarna abu-abu karna sudah buta tapi dia masih koma.
Kini aku siap untuk menjalani oprasi dan mempersilahkan dokter untuk memulai oprasi, Saat sebuah jarum menembus kulitku, mataku perlahan-lahan tertutup dan disitulah terkahir kali aku melihat cahaya...
Aku meberikan 2 buah surat untuk Citra dan untuk ibu yang isinya "Terkahir kali aku melihat cahaya paling terang di dalam hidupku adalah, di saat aku pernah melihat kalian tersenyum padaku"
(Baron, Kamis 23 agustus pukul 19:45)