Adrian POV.
Hah.... sekarang gue lagi natap layar ponsel, satu jam yang lalu gue minta meet up sama salah satu temen medsos gue.
Namanya Ryuura, dan.. dia biasa manggil gue Kay.
Kita udah akrab lama, tapi masing-masing belum tau nama real life.
Belum tau wajah asli, intinya. Kita itu cuma sekedar chatting tanpa tau wajah dan suara.
Pernah sekali Ryuura ngirim pesan suara, atau sekarang pada nyebutnya VN/Voice Note.
Bener gak si?
Bodo lah, yang penting sekarang gue harus siap-siap. Biar bisa ketemu sama dia.
~
Sejam kemudian, gue udah selesai packing. Udah siap juga untuk berangkat ke bandara, tinggal nunggu Taksi online gue dateng.
Tiiin... Tin.
Tuh, baru diomongin kan? Udah dateng aja.
Gue pun ngambil tas terus ke depan, naik Taxi. Langsung ke bandara.
🚕
Diperjalanan, gue sibuk mikir. Gue pernah bilang sama dia. Alasan kenapa gue gak mau nelpon ataupun ngirim VN ke dia.
Diluar ekspektasi, ternyata dia nerima gue apa adanya. Meskipun gue sempet ragu, dan sempet kecewa sama keadaan gue sendiri.
Kenapa gue dilahirkan kurang sempurna? Gue gak bisa bicara, bisu.
Makanya gue nutup diri, tapi sejak gue kenal Line dan roleplay. Gue agak berubah.
Oke, kita skip aja. Mungkin juga kalian nanti bosen baca cerita gue yang gak menarik sama sekali.
Sekarang gue udah sampe di bandara Soekarno-Hatta. Gue udah pesen tiket.
Tinggal nunggu jam penerbangan aja.
Gue celingukan, jujur gue bingung mau ngapain. Karena gue cuma sendirian disini, gak ada yang gue kenal. Gue juga bisu, itu yang ngebuat gue jadi susah. Gue minder mau ngajak orang lain ngobrol. Jadi gue diem kayak patung, duduk aja sambil nunggu waktu.
Akhirnya gue denger pengumuman, kalo sebentar lagi pesawat gue bakal berangkat.
✈
Sekarang gue udah ada didalem pesawat, gue deg-degan anjir.
Abis masang sabuk pengaman, gue langsung merem. Takut gue cuk.. Masha Allah.
Adrian POV end.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya pesawat Adrian sampai di bandara Sultan Syarif Kasim 11.
Pemuda itu melepaskan sabuk pengaman dan tak lupa membawa tas juga boneka beruang yang ia bawa. Lalu keluar dari pesawat.
Kini kepala pemuda itu menoleh, ia sedikit memijit pelipisnya yang agak pening akibat jetleg.
Adrian terus melangkah hingga ia berada didepan bandara, tapi pemuda itu memutuskan untuk duduk di kursi tunggu sambil meredakan pusingnya.
Me :
To : Salsabila
Gue udah sampe di bandara.
Lo mau jemput?
Adrian menekan tombol send. Pemuda itu menghela nafas, ia menatap langit dari balik jendela. Sudah mulai sore, apakah temannya itu mau menjemput nya?
Drtt.... Drtt...
Ponselnya bergetar, tanda dari pesan masuk.
From : Salsabila
To : you
Oke, tunggu ya!
Adrian tersenyum tipis, lalu membalas dengan kata "iya"
*
Salsabila bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Ia terkejut saat mendapati pesan dari temannya.
"Gue gak nyangka, papa nekad kesini!" Gerutunya pelan.
Iya, di medsos. Mereka sudah seperti ayah dan anak. Salsabila selalu memanggil Adrian dengan sebutan papa. Kadang Adrian memanggil Salsabila sebagai Little Princess.
Tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke bandara. Dan memang tempat tinggalnya dekat dengan area itu.
Salsabila berlari ke dalam, kepalanya celingukan. Seketika gadis itu menepuk jidatnya.
"Gue lupa, kan gue belum tau wajah aslinya." Gumam Salsabila.
Me
To : Daddy
Daddy aku udah nyampe!
Daddy dimana?
Salsabila menekan tombol send, kebetulan pandangan matanya menatap seorang pemuda yang duduk bersandar di kursi. Sambil membawa boneka beruang bertuliskan nama panggilan kesayangan Daddy-nya, bukan hanya itu saja yang membuat Salsabila yakin bahwa itu "Kay" nya. Karena pemuda itu mengirim foto tepat seperti posisinya yang sekarang.

Salsabila pun menghampiri pemuda tersebut.
Sedangkan Adrian masih terus menunggu, dan tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya. Seorang gadis menghampiri nya sambil tersenyum.
Pemuda itu mengerjap pelan, lantas ia mengetik di tablet Android.
"Kamu Ryuura?" Katanya.
Salsabila awalnya tak mengerti, kemudian ia teringat bahwa temannya ini tak bisa berbicara. Gadis itu mengangguk sambil menunjuk dirinya sendiri.
Adrian tersenyum lega. Mereka pun meninggalkan bandara.
"Kenapa tiba-tiba Daddy?" Tanya Salsabila setelah mereka sampai di parkiran. Dimana Gadis itu menaruh mobilnya.
Tahu tak mendapat jawaban, Salsabila segera menoleh. Ia membaca apa yang pemuda itu ketik di tablet Android-nya.
"Cuma pengen ketemu sama anak onlen aja. Kenapa? Gak boleh kah?" Katanya.
Gadis itu merenung, pemuda itu jauh-jauh hanya ingin bertemu dengan nya. Apa boleh ia merasa senang?
Merekapun segera masuk ke dalam mobil, Adrian duduk di bangku penumpang. Sedangkan Salsabila yang memegang kemudi.
Adrian mengetik kata-kata lagi di tablet Android-nya.
"Boleh mampir ke cafe gak? Gue laper."
Salsabila tersenyum. Lantas ia menjawab. "Boleh kok pa, nanti aku bawa ke cafe favorit aku."
Adrian tersenyum, ia melihat pemandangan dari balik kaca mobil.
Tak lama kemudian, mereka sampai di cafe langganan Salsabila. Keduanya langsung masuk dan mencari tempat untuk mengobrol sekaligus makan dengan nyaman.
Pelayan pun datang, Salsabila bertanya kepada Adrian. "Mau pesan apa?
Pemuda itu menjawab, "Samakan saja."
Lalu keduanya larut dalam pikiran masing-masing, sebelum pelayan menyadarkan mereka dari lamunan.
Rasa penasaran yang menghantui Salsabila sedari tadi. Kenapa pemuda itu malah menemuinya? Sedangkan ada seseorang yang Adrian sayang sekaligus cintai.
"Kenapa papa gak ketemu sama Rania dulu?" Tanya Salsabila penasaran.
Adrian hampir saja tersedak makanan karena pertanyaan yang tiba-tiba tersebut.
Kemudian pemuda itu mengetik.
"Aku gak mau bikin dia kecewa."
Alis Salsabila mengerut samar, "kecewa kenapa?"
"Ya, karena aku bisu. Aku bukan pilihan yang baik untuk nya."
Salsabila terdiam, entah ia merasa sedih atau harus simpati pada pemuda tersebut. Memang ini bukanlah kesalahan Adrian sepenuhnya. Hanya saja, jika Adrian jujur lebih awal. Maka masalahnya tak serumit ini.
"Seharusnya papa coba dulu, siapa tau dia nerima papa apa adanya." Gadis itu terdiam sejenak. "Bukan karena ada apanya."
Adrian tersenyum tipis. "Nanti papa coba." Itulah yang Salsabila baca di tablet pemuda itu.
Kemudian obrolan mereka berlanjut, hingga beberapa kali berganti topik.
"Percaya lah. Karena pertemanan yang sebenarnya tak memandang fisik, moral, dan keadaan atau psikis."
By Kazuma Hans