Kampung Damai Jati, pukul setengah tiga petang, hujan mengguyur dengan intensitas deras. Di tengah-tengah musim kemarau yang tengah habis-habisan menggersangkan tanah, bagaimana bisa? Entahlah, tapi orang-orang kampung bilang, kalau ini adalah sebuah cara dari alam saja untuk menyampaikan rasa turut kehilangannya.
Iya, pukul tujuh pagi tadi segenap warga kampung Damai Jati tengah kehilangan satu dari warga kampung mereka. Dia, yang oleh warga kampung Damai Jati sangat dihormati lagi pun dicintai. Pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya ketika usianya tepat menginjak sembilan puluh sembilan tahun. Dia, barangkali satu-satunya orang yang bisa mencapai umur sesepuh itu, setidaknya di kampung sini.
Orang itu, oleh warga kampung Damai Jati, dipanggil dengan sebutan Kakek Buku. Panggilan tersebut bukan saja diucapkan oleh mereka yang berusia kanak, tapi juga mereka yang telah berusia remaja, dewasa, bahkan mereka yang menuju manula.
Karena terlalu seringnya warga memanggil dengan sebutan itu, sewaktu hendak menuliskan nama di pusaranya, warga kampung hampir-hampir lupa siapa nama sesungguhnya.
Pak Lurah sampai harus memerintahkan salah seorang petugasnya untuk balik ke kelurahan dan membuka arsip warga. Barulah mereka tahu siapa nama sesungguhnya.
Nama yang tertera di dalam arsip warga adalah Seto Duto bin Suharjo. Dulu, sewaktu belum menyandang julukan tersebut, ia kerap dipanggil Bung Seto, setidaknya oleh teman-teman sekompatriotnya. Dia sungguh sangat senang bila dipanggil dengan panggilan tersebut. Apa sesenang dirinya dipanggil dengan julukan Kakek Buku!? Sekarang ya, tapi dulu tidak!
Kakek Buku itu berawal dari Abang Buku sering bertambah usia julukan tersebut pun berganti jadi Paman Buku hingga akhirnya mentok di Kakek Buku. Kenapa ia dipanggil dengan sebutan itu?! Apa karena ia seorang penjual buku!? Tidak! Dia tidak pernah menjual buku! Sebiji buku pun tidak pernah ia jual.
Lalu kenapa orang ini sampai bisa dijuluki sebagai Kakek Buku!? Ya, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, kalau sebelum dijuluki sebagai Kakek Buku, dia dijuluki sebagai Abang Buku. Kenapa ia bisa dijuluki sebagai Abang Buku!? Karena ia... Begini ceritanya.
Pada suatu siang yang mendung tiba sepucuk surat tiba ke rumah tumpangannya. Bukan surat yang dia harapkan ternyata. Sesungguhnya, sedari kemarin, dia memang sedang menunggu tibanya sepucuk surat. Sepucuk surat bersampul merah jambu, itulah sepucuk surat yang ia damba-dambakan kedatangannya, di siang dan malam.
Dari seseorang yang seminggu yang lalu telah ia nyatakan segenap perasaannya melalui sepucuk surat bersampul biru muda, dengan kertas yang harum aroma sungguh menusuk kalbu. Bagaimana tidak, separuh isi botol parfum milik temannya telah ia tumpahkan ke kertas tersebut.
Sebuah surat yang setelah selesai ia baca seketika itu hatinya menjadi gundah gulana. Berhari-hari, sembari ia menunggu tiba sepucuk surat balasan dari sosok yang ia harapkan, tampak ia berpikir keras. Sampai seorang teman seperjuangan mencoba untuk memberikan perspektif. Ada dua pilihan berserta dengan konsekuensi yang harus ia jalani, begitu si teman mengakhiri taklimatnya.
Keesokan hari dia pun akhirnya mantap mengambil keputusan, menunggu sampai esok hari, jikalau ia tidak kunjung mendapatkan surat balasan, ia akan memenuhi isi di surat tersebut. Hari yang dimaksud pun tiba, jam demi jam ia menunggu dengan perasaan resah. Sampai di penghujung hari ternyata surat yang dinantikan pun tak kunjung tiba, ia pun mantap dengan keputusan diawal.
Keesokan pagi ia pun telah terlihat bersalam-salaman dengan rekan sejawat. Rekan sejawat pun melepas dengan perasaan haru bercampur bangga.
Dengan aksi ia memilih untuk menjawab isi dari surat yang tiba di siang mendung itu. Dengan menumpang truk yang disupiri oleh rekan sejawat ia pun mengarahkan langkahnya ke tempat yang hendak ia tuju.
***
Sesampainya di tempat yang ia tuju ternyata ia telat satu hari. Sebab di pertengahan jalan truk yang ia tumpangi bermasalah. Oleh rekan sejawat sebenarnya ia telah diminta untuk meneruskan perjalanan, tapi ia merasa tak enak hati, ia pun memilih untuk membantu. Sampai akhirnya truk tersebut pun bisa dipacu kembali.
Sekarang bagaimana, ia sempat mempertanyakan hal tersebut, yang ditanya hanya menjawab dengan bahu yang terangkat. Alhasil, untuk mengisi waktu luang ia pun memilih untuk membantu di salahsatu kedai kopi milik seorang paman.
Awalnya hanya sehari dua hari tapi oleh sang paman... Di awal sang paman berkata, kalau ia bakal pergi cuma seminggu, tapi telah genap sebulan sang paman tak kunjung menampakkan batang hidung.
Sekarang bagaimana, ia kembali bertanya kepada orang yang sama dan pertanyaannya juga sama tapi adapun maksud dan tujuan dari pertanyaan tersebut seratus delapan puluh derajat berbeda.
Akhirnya telah diambil keputusan, bahwa ia harus melanjutkan usaha kedai kopi tersebut, setidaknya sampai si paman balik pulang.
Bagaimana pun juga itu adalah perjanjian antara kau dan dia, kata yang ditanya sambil menyelipkan satu dua buah petuah bijak kedalam percakapan mereka, 'yang dipegang dari seseorang adalah omongannya yang lain tidak', begitu kurang lebih isi dari petuah bijak tersebut.
Dia pun mengamini.
Usaha kedai kopi berlanjut. Tapi entah kenapa lama semakin lama usaha kedai kopi itu semakin sepi pengunjung.
Penasaran, dia pun sempat bertanya, tapi tidak kepada seseorang yang sering ia mintakan jawaban dari pertanyaan ketika ia mempertanyakan satu pertanyaan. Sekali ini dia mempertanyakan hal tersebut kepada satu dua orang pengunjung.
Dan, dia pun mendapatkan satu jawaban juga pada akhirnya. Dan adapun jawaban dari pertanyaan tersebut tak lain dan tak bukan adalah karena disebabkan oleh paceklik yang dialami oleh warga. Dan hal tersebut harus diperparah lagi dengan hutang yang tengah melilit para warga akibat dari gagalnya panen kali ini.
Iya, hari ini, para warga kampung Damai Jati yang kesehariannya hidup dari mengandalkan usaha dari tanah pertanian mereka tengah terlilit hutang yang sangat mencekik leher. Setidaknya begitu pengakuan mereka.
Lalu bagaimana, ia bertanya, dan seketika itu ia mendapatkan jawaban, iya mau tidak mau, suka tidak suka para warga harus menyerahkan tanah pertanian mereka sebagai ganti dari hutang-piutang yang tidak bisa mereka bisa bayarkan.
Kenapa bisa seperti itu!? Itu tak ada lain karena warga telah menandatangani surat perjanjian hutang-piutang tersebut. Surat perjanjian hutang piutang yang ditandatangani di atas materai, begitu kata pengunjung.
Dan adapun salah satu butir kesepakatan telah menyepakati apabila warga tidak mampu melunasi hutang piutang tersebut maka warga dengan kerelaan hati dan unsur paksaan dari pihak manapun juga, jamaknya isi dari sebuah surat perjanjian, harus menyerahkan tanah pertanian mereka untuk disita.
Apakah sebelumnya mereka telah memahami? Pertanyaan tersebut ditanyakan, entah itu bagian dari rasa penasaran saja, tapi sepertinya bukan, melainkan sebentuk rasa keresahan yang kini mulai menggelayut pada sukmanya.
Jawaban yang didapatkan sesungguhnya menghadirkan perih di dada, sebuah belati tengah digoreskan cepat ke dadanya.
Bagaimana para warga kampung bisa memahami isi dari surat perjanjian hutang piutang tersebut, selain arti dari materai saja mereka tidak tahu apa maksud dan tujuannya, ternyata ada yang lebih parah dari itu, mereka semua buta aksara.
Dia kaget alang kepalang!
***
Perjuangan pun dimulai.
Tetapi sebelum melipir kesana, ada baiknya jika perihal kekagetan ini yang mesti diceritakan lebih dulu, dia bisa sekaget itu, kenapa?
Sebenarnya, sebelum mengalami kekagetan itu, sesungguhnya ia telah lebih dahulu merasakan sesuatu yang kurang di tengah-tengah kehidupan masyarakat kampung Damai Jati sini.
Memang ia bagian dari warga kampung Damai Jati, tapi sayangnya ia bukan warga asli. Sesungguhnya ibu dan bapak saja yang merupakan warga asli kampung sini. Sementara dia: lahir, besar dan bertumbuh kembang di daerah yang berbeda. Itu disebabkan karena ibu-bapaknya, sebulan setelah menikah akhirnya bersepakat bulat untuk memilih keluar dari kampung Damai Jati.
Berniat ingin merubah kehidupan, alias merantau, setidaknya berpuluh-puluh tahun, hingga akhirnya memilih balik ke desa.
Balik ke desa ketika si anak telah menyelesaikan sekolahnya, sekurang-kurangnya mereka berhasil menyekolahkan si anak hingga tamat sekolah menengah atas.
Bagi mereka itu adalah sebentuk keberhasilan yang tak ternilai harganya, sebab mereka saja tak pernah merasakan bangku pendidikan, sedari tingkat dasar hingga lanjutan.
Si anak menolak ikut, minta diberikan waktu, ia ingin melanjutkan sekolah, katanya ia ingin kursus komputer dulu, berkeinginan kerja di kantoran tampaknya.
Sebenarnya, si anak punya mimpi besar, ia ingin menyandang gelar sarjana, tapi bukankah semua itu harus diawali dengan langkah kecil. Niatnya, kelak dengan bekerja di kantoran ia bisa punya uang untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.
Suka tidak suka kedua orangtua sebisanya merestui, tapi itu pun dengan satu catatan, si anak harus mencari uang sendiri, baik itu untuk kehidupan sehari-hari pun uang kursusnya kelak, hanya sebuah rumah petak yang bisa ia jadikan modal, itu hanya berukuran kecil.
Kalau aku bisa kenapa kamu tidak bisa, begitu bapak mengingatkan. Si anak mengamini perkataan tersebut.
Singkat cerita si anak bisa melanjutkan pendidikannya, yang sayangnya belum dan barangkali ia tidak akan pernah bisa menyelesaikan, selain karena panggilan di dalam diri yang sungguh jauh berbeda, yang terutama sekali tentu saja dikarenakan surat yang tiba di sore mendung tersebut.
Ngomong-ngomong apa sih sesuatu yang kurang itu, sesuatu yang sebenarnya telah ia rasakan di awal-awal kedatangannya. Tak ada lain, tiadanya satu institusi pendidikan.
Iya, di daerah tersebut yang namanya sekolah tak akan bisa didapati. Sedari tingkat dasar hingga tingkat lanjutan atas. Tapi begitupun, diawal-awal ia tak ambil pusing, karena yang ada dipikirannya pada saat itu cuma satu, bertekad ingin balik ke kota namun sayangnya ia terkendala oleh biaya.
Sampai sang paman meminta bantuan tentunya dengan menjanjikan sedikit uang. Tentu saja ia tidak menolak, karena sesungguhnya hal tersebut sangat ia butuhkan. Dengan ringan langkah ia beranjak ke pasar, ke tempat dimana sang paman membuka warung kopi kecil-kecilan. Sampai tibalah peristiwa tersebut.
Sedikit banyak akhirnya ia bisa memahami, apa dan kenapanya, maksudnya, alasan dibalik perbuatan mereka dilakukan. Hingga mereka akhirnya berhasil memperdaya seluruh warga desa Damai Jati.
Terus apa yang akan ia lakukan?
***
Awalnya keinginan ini tidak disetujui, namun, ia bersikeras. Sampai-sampai ia harus mengulitimatum. Hingga yang diultimatum pun akhirnya hanya bisa berucap, kami cuma bisa mendoakan. Menurutnya, itu sudah lebih dari cukup!
Perjuangan pun dimulai.
Pukul sepuluh pagi, orang-orang ramai berkumpul di warung kopi. Setelah sehari sebelumnya, ia berdasarkan data yang telah ia terima, mendatangi para warga, seluruh warga yang terkena aksi barbar si tengkulak tersebut ia datangi satu per satu. Di situ ia panjang lebar bercerita, bercerita tentang sepak terjangnya selama berada di kota.
Rupanya, dia seorang aktivis kampus.
Semula warga kurang paham apa maksud dari kalimat tersebut. Setelah dia menjabarkan lebih runtut dan lebih mendetail. Terlebih ketika ia dengan kebanggaan yang teramat sangat menyeret-nyeret cerita tentang peristiwa lengsernya si pemimpin besar revolusi tersebut. Yang menurut pengakuannya, itu tak lain akibat dari perjuangan yang tak kenal lelah dari orang-orang seperti dirinya, ia dan teman-teman seperjuangannya.
Para warga pun akhirnya dapat memahaminya. Dan dengan tangan terbuka mereka menerima ajakan tersebut. Ajakan yang tak lain dan tak bukan untuk mengadakan pertemuan warga. Pertemuan warga yang bertempat di warung kopi milik pamannya.
Pertemuan tersebut menghasilkan satu kesepahaman bersama, bahwa mereka, secara bersama-sama akan melaporkan tindakan tersebut kepada aparat yang berwenang, setidaknya ini tindakan permulaan, begitu ungkapnya.