Bab 04
SIASAT LICIK
Angel berjalan menyusuri lorong penghubung kantornya menuju ke lantai atas. Langkah – langkahnya tidak lagi bersemangat seperti hari – hari sebelumnya. Beberapa rekan kerja yang berpapasan di jalan menyapa dan ia hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kecut. Tak lama kemudian, ia sudah sampai ke anak tangga penghubung lantai 4 dengan lantai 5. Biasanya ia naik lift tapi hari ini memilih menaiki anak tangga. Wajahnya benar – benar lesu, sementara pikirannya penuh dengan pertanyaan, di dalam dirinya berkecamuk berbagai macam perasaan yang membuatnya harus menyendiri, menenangkan pikiran. Jalan satu – satunya adalah lantai 5 yang berupa sebuah tanah lapang yang cukup luas dengan latar belakang langit biru, perbukitan hijau dan pegunungan. Yah, sebuah tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran yang kalut atau jemu dengan berkas – berkas kantor yang menumpuk.
Angel melepas sepatunya dan melompat sedikit untuk kemudian duduk di tepian tembok pembatas halaman. Ia sudah biasa melakukan itu, tapi, bagi orang lain duduk di tempat seperti itu urusannya adalah maut, tergelincir sedikit saja pasti terjatuh dan mendarat di halaman parkir dalam keadaan bersimbah darah, tak bernyawa lagi.
Sepasang mata Angel menerawang jauh, menatap lurus ke arah perbukitan dan pegunungan yang membiarkan sebagian badannya berselimut awan tipis. Ia membiarkan angin memainkan tiap helai rambut hitamnya yang memiliki panjang sebatas tengkuk.
“Hmm... sebuah tempat yang indah untuk membuang kejenuhan, ya ?” kata – kata itu mendadak terdengar di telinga kiri Dan Angel buru – buru menoleh. Si pemilik suara adalah seorang wanita cantik, berambut hitam panjang sebatas bahu. Sepasang mata indah wanita itu juga menatap lurus ke depan sementara jari – jemarinya yang lentik bergerak naik turun beriringan di badan tembok “Drep... drep ... drep... drep” suara itu muncul saat jari jemari itu mengetuk badan tembok.
“Grace... ngapain lu ada di tempat ini ?” tanya Angel.
“Sama seperti elu, gue sumpek ngurus pesanan kosmetik milik toko – toko make up di kota ini. Gue pikir mending istirahat sebentar menenangkan jiwa dan raga ... eh, ga tahunya elu juga ada disini,” kata wanita yang dipanggil dengan sebutan ‘Grace’ itu. “Kalo gitu gue turun saja daripada gangguin elu,” sambungnya sambil hendak melangkah pergi.
“Tunggu ... gue sebenarnya butuh temen yang bisa diajak curhat. Elu ga perlu pergi, dech... kalo mau bisa temeni gue disini,” cegah Angel.
“Biasanya, elu ame Yolan, Lina en Rico... kenapa malah milih menyendiri ?” tanya wanita itu.
“Yah, gue pas lagi ga mood bicara ame mereka sekarang,”
“Kalian berantem ?”
“Hanya salah paham doang, bukan masalah besar...”
“Selesein saja, beres, kan ?”
“Kalo masalahnya simpel, pasti cepat selesai, tapi, masalahnya ga sesimpel itu. Untuk berbagi pun jelas ga sembarangan orang bisa diceritain,”
“Kalo gitu, elu merokok saja. Orang bilang merokok bisa bantu kite cari solusi. Gue juga ngalami, kok...”
“Sorry ... gue kagak merokok. Gue paling benci dengan apa yang namanya nikotin,”
Wanita itu tersenyum tipis, “Hmm, terus dengan diem kayak gitu apa ketemu jalan keluarnye ? Gue heran, elu biasanya keliatan ceria, energik en bersemangat, tapi, hari ini lesu banget. Tampang elu kayak orang lama kagak mandi. Pucat. Gue jadi kagak tega, kalo elu ga keberatan, gue bisa jaga rahasia, kok,”
“Seburuk itukah ?”
“Kalo kagak percaya ... itu ada kaca, lihat tampang kusut elu itu,” Grace menunjuk ke arah sebuah kaca yang menggantung di dinding.
“Ah, biarin saja. Gue kagak peduli,” kata Angel sambil menghela nafas panjang, “Toh, ga akan merubah keadaan,”
“Hei, keliatannya elu bener – bener ga semangat hari ini, njel... kalo boleh tahu, apa yang nyebabin elujadi kayak gini ? Gue jadi kagak tega lihatnya,”
“Mungkin elu sudah denger kalo Bu Lina marah besar di kantor gue ?”
“Belum, tuh ... emangnye ada masalah apa ? Padahal sebelumnya kalian kayak saudara kandung, kemana – mana selalu bareng bertiga dengan Yolan. Kok akhir – akhir ini hubungan kalian dingin banget,”
Angel tersenyum kecut, “Elu, bener .... emang kami ada masalah, bahkan Si Lina nekad mau mecat gue dari perusahaannye,”
“Kok sampek separah itu... emangnye ada apa ? Setahu gue perusahaan ini, kalian bertiga – lah yang pegang peranan penting. Maksudnya, kalianlah pendirinya... kok tiba – tiba jadi kayak gini ?”
“Ada seseorang yang berusaha mencemarkan nama baik gue... mungkin orang tersebut ga akan berhenti sampek disini saja, Grace... yang heran, kejadian itu berawal semenjak gue jadian ame si Rico. Dulu – dulu ga pernah ada masalah kayak gini. Jangan – jangan ini ada hubungannya dengan cowok itu,” jelas Angel.
“Hm, elu jangan sembarang tuduh kalo enggak ngerti duduk perkara sebenarnya. Elu mestinya harus segera bergerak bukannya merenung sendirian di tempat ini,”
“Apa maksud elu, Grace ?”
“Maksud gue, elu harus segera menyelesaikan perkara ini supaya ga berlarut – larut. Kalo eluemang ga salah ga perlu takut,”
“Gue kagak takut, cuma ga tahu harus dimulai dari mana untuk membersihkan nama gue yang tercemar,”
“Elu, bisa ajak Rico bicara empat mata, setelah itu jika emang ga ada masalah dari kalian berdua, baru temui Bu Lina untuk diberi pengertian. Untuk sementara ini, Bu Lina ga bisa diajak bicara dengan kepala dingin. Elu butuh libur sementara, lihat apa yang akan terjadi pada perusahaan ini tanpa adanya elu yang ngebantuin Bu Lina. Gue salut dengan kerja keras elu. Gue masih inget, perjuangan kalian bertiga, Yang satu sibuk ngurusin telepon yang berdering hampir setiap menitnya, yang satu nyatet pesenan en yang satu ngurus pengiriman. Ga ada kata menyerah di dalam diri kalian. Situasi sesulit apapun bisa kalian atasi bersama, masakan masalah gini sudah ngebuat elu nyerah,”
Angel termenung, perkataan Grace yang panjang lebar menyadarkan dirinya, “Iye, thanks atas nasihat elu, Grace. Dulu gue kira elu ga suka diajak bicara tapi, kini ... baru gue tahu asyiknya bicara dengan Elu, Grace,” katanya sambil membalikkan badan, melangkah meninggalkan tempat itu dihantar dengan tatapan dingin Grace. Setelah tubuh Angel menghilang Grace tersenyum misterius, “Well done, Grace ... very smart for preety girl like me,” katanya dalam hati, setelah itu ia mengeluarkan sebatang rokok Lucky Strike dari saku jeansnya, menyulut dan menikmati asap rokok yang segera saja menyebar ke segala penjuru tempat itu, sementara sepasang matanya menerawang lurus memandang bukit di depannya.
“Akting yang bagus untuk wanita licik sepertimu, Grace,” suara itu berat, membuyarkan lamunan dan angan – angan wanita itu. Dari sebelah kanan muncul seorang laki – laki paruh baya berjenggot panjang sebatas dada. Kedatangannya mengejutkan wanita itu, “Kau ... untuk apa kau datang kemari ?”
Laki – laki berjenggot panjang itu mengelus jenggotnya perlahan, sementara, sepasang matanya yang kecil menatap Grace tanpa berkedip, senyum yang tersembunyi di balik kumis dan jenggotnya seakan mengisyaratkan sesuatu. Wanita cantik itu tertawa tawar, “Iya, Bang .... aku paham apa yang kau inginkan. Tapi, bersabarlah ... aku pasti memenuhi janjiku padamu,”
“Kau pikir aku tak tahu, apa yang ada di benakmu, Grace ? Kau hanya menjadikanku sebagai alatmu untuk merusak hubungan mereka. Setelah mereka hancur, pastinya, kau akan mencampakkanku pula dan kau hanya ingin enaknya saja. Bukankah, itu rencanamu ?” kata orang itu dingin.
Grace menatap tajam ke arah laki – laki di hadapannya, ia tersenyum manis penuh dengan gairah, “Bang Ujang tak perlu berpikir demikian, ya... percayalah, aku pasti tidak akan ingkar janji. Ehm... baiklah, kemana kita akan pergi sekarang ? Aku adalah milikmu seutuhnya, Bang,” katanya diiringi dengan desah nafas berat, membangkitkan nafsu birahi siapa saja yang mendengarnya, terlebih KAUM ADAM. Jari jemarinya yang lentik berkulit kuning langsat dan sedikit berbulu tipis, meraba rambut hingga sekujur tubuh pria itu. Membuat laki – laki itu gemas, ia tertawa sambil menarik tangan wanita cantik bertubuh sintal itu.
***
Wanita cantik bertubuh sintal, berambut hitam panjang sebatas bahu itu keluar dari gubuk kecil beratap rumbiah. Ia merapikan pakaiannya yang masih awut – awutan sesekali menyeka keringat yang masih membasahi kening, pipi, dan lehernya. Ia menatap ke arah gubuk sejenak, “Laki – laki yang luar biasa, tidak kalah dengan Rico. Tak kusangka sekalipun usianya sudah mencapai setengah abad, tapi, tetap luar biasa. Sekalipun jijik, namun demi Rico, aku akan melakukan apapun, walau harus berjalan di atas bara api,” katanya dalam hati sambil mengeluarkan 4 buah boneka jerami.
“Kalau kau ingin membuat hubungan mereka bertambah runyam, gunakan boneka ini. Tempelkan foto mereka dan masukkan beberapa helai rambut ke dalam tubuh boneka ini. Maka, kau bisa melakukan apapun yang kauinginkan, bahkan, nyawa mereka. Jangan sampai boneka ini terlepas dari tanganmu. Kalau itu terjadi, semua mantra yang ada di dalamnya, akan balik menyerangmu dan aku pun tidak bisa berbuat apa – apa,”
Kata – kata itu terngiang – ngiang di telinganya, ia tersenyum dan memasukkan boneka jerami itu ke dalam had bag-nya, “Hm, aku ingin melihat, apakah Bang Ujang, dukun mata keranjang itu benar – benar bisa diandalkan ? Lina... kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan pada keluargaku. Tunggulah, semuanya akan menjadi milikku dan tak perlu lagi aku menjadi jongos yang selalu direndahkan orang ? Yah, hanya masalah waktu saja,”
Wanita itu menengadah ke langit, menatap langit yang saat itu dipenuhi dengan bintang gemintang. Ia merogoh saku jeansnya, mengeluarkan rokok yang tinggal sebatang dari bungkusnya. Beberapa detik selanjutnya, nyala merah kecil telah membakar ujung rokok tersebut dan asapnya yang dihembuskan dari bibir sensual wanita itu berpadu dengan kabut – kabut tipis yang melayang – layang di udara, mengiring berlalunya tubuh wanita tersebut dari tempat itu.
***