Apa kamu pernah merasakan pengalaman yang tidak mengenakkan terlebih lagi bertepatan dengan Helloween? Apa itu akan jadi sesuatu yang mengerikan?
Lalu apakah permen cokelat bisa mengobatinya? Kukira semua orang mempunyai permen cokelat saat ini. Entahlah, aku bisa merasakan permen itu terasa manis atau pahit. Emmm, bagaimana ya?
Halloween memang banyak berisi kisah-kisah yang konon katanya mengerikan, dan hal itu juga membekas di dalam perasaan Lee Mary, seorang wanita pekerja berusia 23 tahun.
Kringg!.. kringg!.. (suara dering ponsel)
"Apa kamu punya waktu malam minggu ini? Kuharap kamu mau meluangkan waktu akhir pekanmu bersamaku," terdengar suara seorang lelaki bertanya pada Mary.
Kim Daniel, seorang lelaki berusia 27 tahun, yang dikenal Mary tiga belas tahun silam karena suatu kejadian di malam Halloween.
"Tidak. Aku tidak mau keluar. Seperti yang kamu tahu, pesta perayaan itu aku sangat membencinya," tolak Mary tegas.
Kejadian tiga belas tahun yang lalu memang sulit untuk dilupakan oleh Mary. Trauma yang dialami oleh anak-anak berusia 10 tahun tidaklah mudah untuk hilang.
"Ayolah, kumohon. Kejadian itu kan sudah lama sekali, dan lagi pula ada aku bersamamu," pintanya memelas.
Tangan Mary tampak gemetar memegangi ponsel. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menjawab pertanyaan Daniel, padahal dalam hatinya tidak ingin pergi hari itu.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Mary penasaran.
Daniel tampak senyum sambil lihat wajah Mary di video call. Ia tampaknya sedang menyiapkan kejutan untuk sekretarisnya itu.
"Itu rahasia persiapkan dirimu saja," jawabnya.
Mari hanya mengangguk sambil tersenyum memandang wajah Daniel lewat video call itu.
"Pak CEO, saya ingin bertanya yang tadi siang belum selesai soal rencana dinas Senin depan," ucapnya meledek Daniel.
Melihat tingkah laku Mary membuat Daniel menjadi gemas tak sabar untuk segera bertemu, padahal mereka baru berpisah jam 7 malam tadi.
"Tiba-tiba jadi formal ya, Sekretaris Lee?" jawabnya.
Daniel kemudian menjelaskan tentang rencana dinas ke luar negeri hari Senin depan. Apa ini bisa dihitung lembur ya untuk sepasang kekasih itu?
"Daniel," panggil Mary pelan.
Daniel tampak mengerutkan dahinya sehingga alisnya tampak terangkat. Tentu, ia merasa penasaran.
"Terima kasih, untuk sekarang dan tiga belas tahun lalu," ucap Mary perlahan.
Daniel tersenyum amat lebar mendengar ucapan kekasihnya.
"Kalau begitu aku mau minta sesuatu sebagai hadiah," ujar Daniel.
Tanpa pikir panjang, Mary menganggukkan kepalanya. Ia juga beranjak menuju tempat tidur karena jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 11 malam.
"Pumpkin pie dan cokelat hangat. Jam enam, Villa Rosemary," jelas Daniel.
Mary tersenyum setuju. Lalu mereka mengakhiri panggilan video itu.
"Good night, honey." sambil menutup panggilan.
Pagi hari, tepatnya hari Sabtu ini, Mary bersiap membuat hadiah pesanan Daniel. Padahal sebenarnya Daniel tahu kalau Mary tidak suka pumpkin pie, bukan karena rasanya, tetapi kenangannya.
Waktu pun berlalu, bersamaan dengan persiapan Mary dengan gaun dan pumpkin pie-nya. Di depan rumah, seorang sopir dan mobil mewah warna merah-hitam sudah menunggu kedatangan Mary.
Dengan berbalut gaun warna hitam dan oranye yang dikirimkan oleh Daniel pagi ini, Mary berjalan masuk ke dalam mobil.
"Ayo jalan, Pak!" ucapnya pada sopir pribadi Daniel.
Perjalanan ke villa itu memakan waktu sekitar setengah jam. Lokasinya memang tidak jauh dari ibu kota dan rumah Mary.
Sesampainya di tempat itu, Mary berjalan masuk dengan santai seperti sudah sangat mengenal seluk-beluk villa mewah itu. Langkah kakinya tanpa ragu langsung menuju lantai tiga tempat Daniel berada.
Di ruangan besar yang lebih besar dari apartemen Mary, dan hiasan yang mewah di setiap sudut ruangan, berdiri seorang lelaki yang amat dicintainya.
"Aku datang," ucapnya berjalan masuk.
"Tidak kusangka kamu berani sampai sini. Pasti kamu sudah melihat persiapannya di lantai satu," ucap Daniel mendekati kekasihnya.
Mary tersenyum ringan sambil meletakkan hadiah yang ia bawa di atas meja.
"Tentu. Kamu yang bilang bahwa kamu ada disini, jadi aku lupa segalanya. Langkah kaki ini tidak bisa menunggu bertemu denganmu," ucapnya menyiapkan pie dan cokelat hangat.
"You know me, honey. Aku senang kamu sudah mulai melupakannya,"
"All right. Kita makan dulu ya sebelum dingin," sambil menyodorkan pie di depan Daniel.
Mereka berdua segera menuju meja tempat ditaruhnya pie dan minuman cokelat hangat di ruang itu. Mereka duduk berseberangan dengan jarak yang dekat karena ukuran meja yang tak terlalu besar.
"Makanan apapun yang kau sentuh dengan jarimu akan menjadi nikmat, Mary," ucapnya mengecup tangan mungil Mary.
"Daniel, bolehkah aku bercerita?"
"Tentu."
"Tiga belas tahun lalu kau datang menyelamatkanku dari penculikan itu. Malam Halloween dan perayaannya masih membekas dalam diri ini. Aku sangat takut dengan malam yang gelap itu. Dan teriakan anak-anak menginginkan permen cokelat yang berubah jadi tangisan masih berdenging di telingaku setiap datangnya hari ini. Awalnya aku tidak menyangka ada anak laki-laki berusia 14 tahun yang datang menyelamatkanku. Aku sangat bersyukur walaupun hanya bertemu malam itu saja dan tidak bertatap muka lagi selama sebelas tahun. Sampai dua tahun lalu aku bertemu Pak CEO yang sangat baik padaku. Ia mengubah diriku dan trauma yang aku alami. Trauma setiap perayaan ini datang," ucapnya menatap Daniel.
Daniel tampak mendengar dengan teliti sambil menikmati pie yang dibuat Mary.
"Lalu, apa kau menyukai CEO itu?" tanyanya penasaran.
Mary mengangguk malu. Wajahnya mulai berubah kemerahan.
"Dia memberikan banyak kebahagiaan sampai aku lupa tentang kejadian itu. Tahun lalu aku mengacaukan semua persiapannya dan lari sambil menangis ketakutan. Tapi kali ini, aku bisa melalui ujian di lantai satu. Boneka, labu, dan lampion itu sudah tidak berpengaruh karena Pak CEO sedang menungguku. Terima kasih, Daniel atas semua yang kau lakukan," ucapnya tersenyum.
Sekali lagi Daniel tersenyum lebar melihat tingkah menggemaskan kekasihnya. Untung saja ia masih dalam batas kesabarannya.
"Tentu, Mary. Now, you are my everything. Aku akan lakukan yang terbaik untukmu,"
"Thank you so much, my Daniel. I love you," ucapnya sambil menggenggam tangan Daniel.
"I love you too,"
Malam Halloween itu berubah menjadi hangat dengan sepotong pumpkin pie dan secangkir cokelat hangat. Rasa ketakutan dan trauma yang membekas perlahan menghilang. Semoga kasih sayang dan kehangatan itu terus terasa diantara keduanya.