Baru dua bulan Wulan dan Andre menikah, kebahagian sebagai pasangan pengantin baru masih mereka rasakan, walau uang sudah semakin menipis di dompet Andre, tapi cinta mereka yang masih membara tidak bisa di kalahkan oleh sedikitnya uang di kantong, meski harus makan dengan kecap dan kerupuk saja, tak jadi masalah.
"Dek, mas pergi kerja dulu ya"
"Ya mas, hati-hati di jalan ya"
Sebagai tukang ojek pangkalan, yang kadang dapat uang kadang tidak, Andre tetap melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
"Dre, lo semangat banget gue liat, selama lo punya bini"
"Ya abis kalo gue nggak ngojek, nggak enak gue di rumah terus"
Penghasilan Andre yang pas-pasan terpaksa harus tinggal bersama mertuanya, yang bekerja sebagai kuli bangunan untuk menghidupi keluarganya.
"Lan, memang kamu mau tinggal di sini terus, nggak mau ngontrak rumah?"
Ibu Minah yang merasa keberatan, yang setiap hari harus tekor uang belanjanya, karna terpaksa harus memasak lebih banyak.
"Mas Andre belum punya uang bu, gimana mau ngotrak rumah"
"Ya suruh usaha yang bener dong, kalo tiap hari ibu harus nombokin belanja terus, gimana tar sama sekolah adek-adekmu, udah tau bapak kamu cuma kuli bangunan"
"Ya, nanti Wulan kasih tau sama mas Andre"
Andre pusing tujuh keliling, dia tidak tau harus cari uang kemana, sedangkan melamar sebagai ojek online saja dia tidak di terima, dengan alasan sim motornya sudah habis masa berlakunya.
"Dek, memang kamu tidak punya tabungan sedikit pun?"
"Aku tidak punya tabungan lagi mas, uang tabunganku habis untuk nombokin pesta pernikahan kita"
"Mas bingung harus cari uang kemana, kalau tinggal di sini terus mas juga nggak enak sama orang tua kamu"
Mereka pun tidak bisa tidur, karna terus memikirkan jalan keluarnya.
"Mas, boleh nggak aku ikut kerja sama Mirna?"
Mirna anak tetangga, yang bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe, yang setiap hari menjadi omongan tetangganya.
"Aduh, masa kamu mau kerja begitu sih dek, nanti apa kata orang tua kamu"
"Ya, kita ngontrak rumah mas, lagian aku mau kerja apa, ijazah aja aku nggak punya"
"Terserah kamu deh, tapi kamu di sana jangan macem-macem ya"
Dengan menjual cincin kawin, akhirnya mereka mengontrak rumah, dan Wulan pun terpaksa harus bekerja menjadi pelayan di kafe bersama Mirna.
Wulan Pergi sore pulang pagi, membuat Andre bosan sendirian di rumah, dia menghabiskan waktunya nongkrong di pangkalan ojek bersama teman-temannya, uang hasil ngojeknya dia habiskan untuk berjudi, setelah hampir pagi dia menjemput Wulan dari tempat kerjanya, selama berbulan-bulan itu Andre lakukan, hampir setiap pas penbayaran rumah kontrakan tiba, mereka selalu ribut, karna Andre tidak pernah memberikan Wulan uang untuk membayar rumah kontrakannya, semua Wulan yang harus membayar.
"Kalau kamu begini terus, lebih baik kita cerai saja mas, kamu sama sekali tidak bertanggung jawab"
"Jangan ngomong sembarangan kamu, coba aja kalau kamu berani lari dari aku!"
Andre benar-benar memeras istrinya, bukan saja Wulan yang harus memenuhi kebutuhan rumah tangganya, Andre pun tidak malu meminta uang pada Wulan, untuk bermain judi, jika Wulan tidak memberikan, Andre tidak segan-segan memukuli Wulan.
Orang tua Wulan tidak bisa berbuat apa-apa, karna Andre sering mengancam, kalau keluarga Wulan ikut campur dalam rumah tangganya.
Diam-diam Wulan menjalin kasih dengan seorang tamu yang kerap kali datang ke kafe tempatnya bekerja, Wulan menceritakan apa yang dia alami, atas perlakuan suaminya, yang kerap kali memukul jika dia tidak memberikan uang kepadanya.
Karna kasihnya kepada Wulan, dan mendengar orang yang dia cintai mengalami penderitaan, akhirnya laki-laki itu membawa kabur Wulan, mereka pergi entah kemana, sedangkan Andre sibuk mencari istrinya kemana-mana.
"