View
Hatiku kembali remuk, saat melihat pak Aland membuang cokelat pemberian ku ke tempat sampah.
Nafasku sesak, aku terburu buru ijin kepada Lani, satu rekan kerjaku saat makan siang. Dia cukup terkejut ketika melihatku meminta ijin. Aku sedang makan siang di tempat kerjaku, meja kerjaku.
Aku berjalan sambil berlari ke arah toilet. Ini bukan yang pertama kali nya.
Dia, sering membuang cokelatku. Ah, tidak. Bukan cokelat saja. Semua pemberianku, dia buang!
Tapi mengapa harus di depanku? Bukan nya aku ingin cokelatku dibuang, tapi, alangkah lebih indah seperti itu, membuang cokelat pemberianku di belakangku.
Karyawan kanan kiri mulai berbisik, sambil menatapku iba.
Sial, mengapa jalan ke toilet terasa jauh!
Ah itu dia! Aku membuka pintu dan membanting nya keras keras.
BAM!
Suara debaman pintu sampai di telingaku. Aku menghampiri wastafel dengan perasaan campur aduk.
Menatap kaca di depanku. Pantas saja mereka terlihat seperti, ekspresi air muka ku terlihat sangat kentara. Apa mungkin aku harus belajar drama? Sudahlah, lupakan.
"Anna.. Kamu gapapa?" Seseorang muncul di cermin kaca. Yang arti nya sekarang ia berada di belakangku.
Dia Ocha. Sahabatku masa SMA. Sampai-sampai sekarang bekerja di tempat yang sama. Hanya beda pekerjaan. Ia bagian personalia, dan aku bagian administrasi.
Perlahan-lahan, ia mulai mendekat. Buru-buru aku mengusap air mataku yang hampir jatuh.
"A-aku g-gapapa," Ujarku sesak. Lalu berfokus pada cermin di depan.
"Na, jangan maksain, kalau kamu enggak kuat, kamu bisa mundur..."
"Aku lihat, kamu makin tersiksa setiap hari nya. Jangan maksain diri kamu, Na." Terus nya lagi, menyentuh pundakku perlahan.
"Aku tidak memaksakan diriku, aku tidak mau menyerah."
Dia menepuk bahuku, "Hei, Na, mungkin dia bukan untukmu, pasti ada orang yang lebih baik daripada pak Aland."
Aku tau itu, tapi aku tidak mau.
"Na–"
"Bisa tidak kamu jangan mematahkan semangatku?!" Aku geram, sedikit marah.
Fakta nya, dari tadi ia mengoceh terus untuk membuatku mundur, menyerah dan lain-lain.
"Aku cuma enggak mau liat kamu disakiti lebih dari ini, Na."
"Itu bukan urusan kamu."
"Aku cuma mau bantu kamu, Na."
"Itu enggak membantu sama sekali."
Ocha terlihat menghela napas. Dia perlahan-lahan melepaskan tangan nya dari bahuku. Dia menatapku.
"Lalu, bagaimana aku bisa membantu mu?"
"Apa saja. Kau bisa menanyai nya."
"Hei, aku enggak terlalu dekat pada nya."
Ocha terdiam.
Otak kami masing-masing bekerja keras. Memikirkan cara yang cocok.
"Ah! Aku engga menemukan nya!"
"Ish, lalu bagaimana? Cari lagi."
Kami berdua kembali berpikir. Dahi kami sudah mengerut sedari tadi.
"Ah! Bagaimana kalau kamu confess ke pak Aland!"
***
Setelah melewati malam pemikiran yang berat. Akhir nya pagi juga. Sejak malam aku tidak tidur.
Memikirkan bagaimana cara nya, apakah bisa, bagaimana reaksi pak Aland.
Kepalaku terasa ingin pecah kemarin.
Pagi ini, aku sudah berangkat ke kantor dengan semangat.
Saat makan siang, aku akan menem– maksudku confess perasaanku pada nya.
"Pagi," Sapa ku, pada setiap orang yang berada di lorong, dengan membungkukkan badan.
"Pagi."
"Pagi."
"Pagi."
Mereka berbalas balasan. Hari ini aku terasa sangat bersemangat. Terlihat bahagia. Entahlah nanti siang, masih sama atau tidak.
"JAM MAKAN SIANG!" Kata rekan kerjaku, yang duduk bersebrangan denganku dengan wajah cerah. Dia terlihat berapi-api.
"Ah, makan siang, yuk makan dulu."
"Yuk, makan siang bareng."
"Kamu duluan aja deh, aku masih belum selesai."
"Aku nitip mie ayam satu."
"Aku nitip dong."
Suara dari belakangku terdengar riuh. Aku menarik nafas.
Sempat ada beberapa keraguan dalam hatiku.
Katakan sekarang atau tidak?
Akhir nya, aku membulatkan keputusanku.
Menyemangati diri ku sendiri, lalu masuk ke dalam ruangan pak Aland, Atasan ku sendiri.
Aku asal masuk saja. Tanpa memikirkan bagaimana kit berbicara. Aku berpikir keras. Cara nya seperti apa?
"Kenapa kamu masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu?" Tanya nya menghadapkan kepala nya ke arahku.
Aku sedang di tatap nya. AAAAAAA.
"Ma-maaf pak," Jawab ku membungkukkan badan berkali-kali.
"Hah, oke yasudah, kamu mau ngapain ke ruangan saya?"
"Eu-eum... Bi-bisa kita makan siang bersama? Ini agak pribadi pak."
"Oh, oke."
Semudah itu? Aku kira, Pak Aland akan tidak bisa menyetujui nya. Fakta nya, jadwal nya 'kan sangat padat sebagai CEO di kantor ini.
Pak Aland mulai berjalan, mendahului aku dibelakang nya.
"Mau makan apa?"
"Ah, Bagaimana kalau restoran depan?"
"Oke."
Dia berjalan, di depanku. Pikiranku berkecamuk.
Aku pusing, sangat.
Apakah aku harus bilang pada nya? Tapi, bagaimana?
Ya, walaupun saat mengungkap perasaan mu pada dia harga diriku masih ada. Tapi tetap saja. Aku gengsi.
"P-pak."
"Iya?"
Diam. Aku melawan diriku yang ingin menyampaikan perasaanku pada nya.
Sungguh, rasa nya aku mau menghilang saja.
Sampai sampai, dia berhenti. Lalu menghampiriku yang ada di belakang.
"Ada apa?"
"Ah i-itu..."
"Apa?"
"SAYA SUKA SAMA BAPAK!" Pekikku keras. Mata ku tertutup, aku tidak mau melihat respon nya. Orang orang yang berada jalan mulai memandang kami.
Aku bisa merasakan mata nya yang menatap kami.
"Maaf, maaf." Ujar dia membungkuk. Lalu sedetik setelah Pak Aland mengatakan itu, mereka mulai berjalan lagi seperti biasa nya.
Lalu Pak Aland melayangkan pandangan nya ke arahku.
"Kenapa kamu bilang kayak gitu?"
"Y-ya saya harus bagaimana?" Aku menunduk. Rasa nya sesak.
"Bapak, bagaimana?" Aku menendang batu-batuan di samping ku.
Dia terlihat menghela napas berkali kali.
"Anna, maaf..."
"Kenapa?!"
"Saya enggak bisa balas perasaan kamu."
Aku seperti dihantam batuan besar. Rasa nya sesak luar biasa.
Menahan air mata yang siap meluncur ke bawah di pelupuk mata ku.
Dadaku seperti dihujami oleh banyak pisau. Aku masih menunduk.
"Maaf, saya... Saya ga mau terobsesi sama kamu, Anna."
"Kenapa?"
"Obsesi buat saya kehilangan banyak orang yang saya cintai. Jujur, saya mau kamu. Saya ingin berada di sisi kamu. Tapi, jika saya mau seperti itu, bukan nya saya obsesi ke kamu 'kan? Maaf. Tapi saya menyukaimu sungguh." Dia mencengkram bahuku pelan. Menatapku dengan mata nya hitam dengan penuh arti.
Terdiam. Rasa sesak masih melingkupi ku. Terlalu sesak.
Sampai dia memelukku, ya Pak Aland.
"Maaf." Dia membisikkan kata itu, berkali kali di telingaku.
Tangisku pecah. Rasa nya sesak.
Kami tidak bisa bersatu. Kami tidak bisa bersama.
"Itu alasan saya, membuang pemberianmu di depan kamu. Saya enggak ingin nyakitin hati kamu, Na."
Nafasku terburu buru. Hidungku merah.
Air mata masih tidak mau berhenti. Dia memeluk ku semakin erat.
"Maaf, saya ga mau terobsesi dengan hal dunia..."
"Tapi, u-untuk pendampi–"
"Saya, ingin bekerja sampai akhir hayat saya. Saya enggak mau terobsesi padamu. Saya enggak mau terobsesi, Anna. Saya ingin mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi, saya juga menyukai kamu. Tapi maaf, saya tidak bisa," Ia membisikkan kata itu di telinga ku. Cukup lembut, dan sangat menyesal.
"Maaf telah menyakiti hati mu. Saya harap kamu bisa mengerti keputusan saya." Dia melepas pelukan kami.
"Aku menyukai mu. Tapi maaf..."
Aku masih terdiam. Tangisan ku mulai berhenti.
"Maaf."
Rasa sesak, bercampur sedih, kesal, marah menjadi satu. Aku sedih. Sangat.
Tapi aku juga senang, karena dia menyukaiku juga. Rasa nya campur aduk. Dia masih diam di tempat nya.
Mungkin memang kami tidak bisa bersatu. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan bersama. Aku akan belajar melupakan mu.