Aku sangat senang bisa bertu dengan pangeran impianku hingga aku tak mampu menggambarkannya. Waktu berlalu begitu cepat ternyata sudah sejam aku ngobrol dengan Will sudah saatnya aku untuk pulang, kalau tidak ibu bisa marah karena aku telat pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat dan itu sudah bisa dibilang waktu menjelang pagi. Apa yang akan dikatakan oleh para tetangga kalau sampai merekantak aku pulang hingga lebih dari jam 12 malam. Ternyata Will paham melihat ekspresi wajah ku yang sedang dilema. Dia pun menenangkan ku dan memberi harapan bertemu lagi dilain waktu. Tapi aku takut kalau-kalau Will tak mau lagi menemui ku karena tau siapa aku yang sebenarnya. Dan dengan berat hati kami pun berpisah malam itu.
Sudah satu minggu berlalu tanpa kabar dari Will aku sudah mencoba menghubunginya tapi gagal dan SMS ku juga tak dibaca. Aku sudah siap dengan semua kenyataan ini walau pun ada sedikit rasa kecewa dalam hatiku, tapi aku sadar mungkin saja dugaan ku benar Will tak ingin lagi bertemu dengan ku karena tau statusku yang seorang karyawan kafe biasa. Akan tetapi hati kecil ku menolak tak mampu menerima kenyataan itu, dan seingat ku hari itu Will tak menggambarkan wajah tidak suka kepada ku, karena dia begitu ramah dan juga selalu tersenyum manis bahkan dia juga mudah bergaul walaupun aku baru dikenalinya dan ditemuinya.
Sebulan kemudian Will menghubungi ku dan mencoba menjelaskan alasan mengapa dia tak mengabari ku selama ini. Dia mengajak ku bertemu lagi saat aku pulang kerja dan kami pun bertemu lagi di taman tempat kami mengobrol sebulan yang lalu.
Ketika tiba saat janjian aku menghubungi ibuku untuk mengatakan padanya kalau kafe sedang ada acara dan aku harus bekerja sampai larut lagi agar ibu tak menungguku untuk pulang. "maafin Sandra bu… Sandra terpaksa harus berbohong karena hal ini"
Aku ingin bertemu dengan Will hari ini bukan hanya karena merindukannya, tapi tujuan utama ku adalah aku ingin jujur kepadanya dan mengungkapkan semuanya termasuk nama asliku. Aku berlari sangat terburu-buru karena aku ingin sampai ditempat janjian tepat waktu. Ternyata Will suda tiba duluan dari pada aku dan dia tersenyum kepada ku dan berkata dengan ramah "lama tak bertemu Ayu, bagaimana kabarmu." aku hanya tersenyum dan mengatur nafasku.
"Ayu maafin aku ya karena aku lama gak ngasih kabar ke kamu, kamu pasti sangat cemas ya." sambungnya lagi sambil menepuk punggungku dengan lembut.
"Gak apa-apa, aku gak papa kok, mungkin saja kamu memang gak mau lagi menghubungi ku setelah kita bertemu, dan itu bukan salahmu Will."
"Gak Yu kamu salah, aku selalu ingin bertemu kamu, aku ingin mengenal kamu lebih dekat lagi, dan aku memang sangat sibuk dengan pemotretan akhir-akhir ini karena jadwalku tiba-tiba saja jadi sangat padat, bahkan waktu istirahat saja sangat terbatas." jelasnya padaku
"Kalau memang itu alasan kamu gak apa-apa, aku juga mau minta maaf padaku tentang sesuatu…" aku menjawab dengan ragu-ragu karena aku takut mengecewakan dia.
"minta maaf tentang apa, memang kamu membuat salah apa padaku?" William menatapku dengan tatapan penasaran
"Maafin aku Will, sebenarnya aku benar-benar salah sama kamu Will...sebenarnya nama ku bukan Ayu, aku adalah..."
"apa? Tidak mungkin, bagaimana bisa" Will terlihat sangat terkejud dengan penuturan ku barusan.
"Maaf Will, sebenarnya nama ku adalah Sandra bukan Ayu. Aku sengaja membuat nama samara saat menghubungi radio waktu itu karena aku malu jika ketahuan teman-teman ku aku pasti akan ditertawakan dan diledek sama mereka."
"Jadi kamu malu mengenalku dan kamu juga bohong soal pengakuanmu yang mengatakan kalau kamu suka sama aku?" William terlihat sangat marah padaku.
"Gak, bukan gitu kamu jangan salah paham dulu Will, aku tak pernah bohong soal perasaanku dan juga aku tak malu mengenalmu, hanya saja aku..." Aku buru-buru menjawab tapi aku berhenti ditengah kalimat karena aku bingung harus bilang apa.
"jadi apa? Hanya ingin main-main denganku begitu." William semakin marah
"Tidak Will, aku hanya malu karena aku cewek biasa dan tak punya apa-apa, tidakkah kau pikir aku terlalu berani untuk jatuh cinta kepada seorang supermodel seperti kamu, bagi aku kamu itu sempurna Will dan aku tak cocok bersamamu. Dengan mengenalmu seperti ini saja sudah membuatku sangat bahagia, jadi aku tak ingin lebih dari ini karena aku sadar diri siapa diriku ini." kelasku pa Jang lebar pada William karena aku memang sudah memutuskan untuk jujur dan mengakui semuanya. "Jujur pada awalnya aku hanya kagum padamu, namun perasaanku itu tumbuh semakin besar dan kuat. Bagi seorang gadis miskin seperti ku ini aku tak berani untuk memiliki mimpi yang terlalu tinggi apa lagi sampai memimpikan untuk bersama denganmu, jadi tolong maafkan aku Will."
"kamu itu salah aku menganggap kamu bukan cewek biasa tapi kamu adalah orang special bagiku, aku sangat terkesan dengan keberanian mu jujur dan mengungkapkan segala rasa suku padaku di radio yang dapat didengar oleh semua orang kalau kamu suka sama aku, tapi ternyata aku salah. Aku salah sangka atas segalanya, dan rupanya semua itu hanyalah permainan kamu, kamu telah menipu ku dan mempermainkan perasaanku." William berkata dengan nada kecewa padaku.
"Tidak bukan begitu, maafin aku Will aku gak ada maksud seperti itu. Semua yang aku katakan di radio itu semuanya adalah kebenaran." Aku membela diri dan berharap kalau Will memaafkan aku.
"Sudah cukup! Sudahlah, aku sudah muak dengan semua ini, aku gak mau lagi terlibat dengan permainanmu ini!"
William sangat kecewa dengan pengakuan ku, dia beranjak dan berlalu pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari ku lagi. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi saat itu. Aku hanya bisa diam dan menangis menyesali semua kebohongan ku. Tapi aku sama sekali tak bermaksud membohongi William. Aku pulang ke rumah dengan muka murung. Ibu menghampiri ku dengan rasa khawatir.
"Kenapa nak, ada masalah apa sayang? kok kamu baru pulang kerja udah cemberut begitu mukanya? Katanya tadi mau pulang telat karena di kafe sedang ramai"
Kata-kata ibu bagai petir yang menyambar tepat di hatiku seolah-olah mengingatkan akan kebohongan ku kepada ibuku, tanpa ku sadari air mata ku langsung mengalir lagi bagai badai yang datang bersamaan dengan derasnya hujan malam itu, dan air mataku telah membanjiri wajah ku. Aku memeluk ibuku dan minta maaf atas kebohongan ku selama ini.
"Ibu maafin Sandra bu, Sandra sudah berbohong kepada ibu, sebenarnya Sandra tidak pernah kerja lembur selama ini dan semuanya adalah alasan Sandra saja…..”
Ibuku memelukku kuat-kuat dan memintaku untuk tidak meneruskan kata-kata ku. Ternyata ibuku sudah tahu tentang kebohongan ku sejak awal. Ibuku memang meminta ayahku untuk melihatku setiap aku bilang padanya kalau aku lembur. Dan ayah hanya diam melihatku dari jauh lalu melaporkan semuanya kepada ibu tentang pertemuan ku dengan William di taman sepulang kerja. Ternyata ayahku selalu mengikuti ku secara diam-diam. Aku sangat malu dan menyesal telah membohongi kedua orang tuaku selama ini.
"Sudahlah ibu dan ayah sudah maafin kamu, lain kali kamu tidak boleh mengulanginya lagi, kalau kamu ingin bertemu dengan temanmu bawalah dia pulang ke rumah dan kenalkan dia dengan ibu dan ayah, tidak baik keluyuran diluar dengan seorang pria apa lagi kamu ini anak perempuan, tidak enak kalau dilihat tetangga." Ibu menjelaskan dengan lembut, dan pernyataan maaf dari ibu sungguh sangat membuatku merasa lega.
Hari-hari ku berlalu tanpa kabar dari William tapi ibu selalu menyemangati ku hingga aku tak putus asa. Malam itu hujan sangat lebat dan itu mengingatkan ku akan hari-hariku terdahulu yang selalu terdiam menunggu sampai hujan reda untuk bisa pulang ke rumah. Tapi hari ini sepertinya hujan tak akan segera reda karena semakin lama hujan semakin lebat saja dan bergemuruh serta kilat menyebar menerangi langit malam seolah telah mencambuk relung hatiku berkali-kali. Malam pun semakin larut dan hujan semakin menjadi hingga aku sangat kedinginan menunggu sendirian di depan kafe, taksi pun tak ada yang kosong melewati depan kafe ku.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah meluncur di depan ku, aku hanya diam menyaksikan seorang laki-laki muda keluar dari mobil itu yang ternyata itu adalah William. Dia mendekat dan menarik tangan ku ke dalam mobil. Aku hanya terdiam dan menurut. William mengantar ku pulang. Dia tak berkata sepatah pun, dia hanya menanyakan alamat rumahku setelah itu diam membisu seribu bahasa, aku pun tak berkata apa-apa suasana menjadi beku. Mobil William melaju dengan kencang mengantarkan ku ke depan rumah, aku segera turun tak sempat mengucapkan terimakasih dia sudah berlalu pergi.
Malam itu aku tak dapat memejamkan mata. Aku tak dapat melupakan bayang-bayang william, namun aku selalu menyadarkan dirimu akan kenyataan yang ada. Aku pun menghubungi radio RCC lagi dan aku menceritakan tentang ceritaku dan permohonan maafku pada seseorang yang aku samarkan namanya. Dan beberapa hari kemudian William datang ke rumah untuk menemui ku. Aku sangat kaget dan juga bingung.
"Ayu, mmm maksud ku Sandra aku sudah memaafkan mu, dan aku tak bisa membohongi perasaanku jadi kamu masih mau kan menemui ku?" Tuturnya padaku dan hal itu membuatku jadi semakin bingung.
Aku menatap William dengan heran, aku tak bisa membaca apa yang sedang dia pikirkan sebenarnya. "Nak, ibu sudah mendengar semua ceritanya dari nak Willi, ibu dan ayah menyerahkan semuanya padamu karena yang akan menjalani adalah kamu."
"Maksud ibu apa?" Aku semakin bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Sandra, kemarin aku sudah bilang pada orang tuamu dan aku juga sudah mengatakan tujuanku. Jadi sekarang aku hanya ingin mendengar persetujuan mu. Kamu masih mau kan menemui ku dan menungguku, karena aku akan menyelesaikan semuanya dan setelah keluargaku tiba di sini aku akan segerah melamar mu, kamu mau kan?" William menjelaskan padaku dan aku merasa sangat senang mendengar penuturan itu.
"Dengan senang hati Will, aku senang mendengarnya, aku pikir kamu sudah melupakan ku dan membenciku." Aku menjawab tanpa berfikir panjang.
"Aku tak dapat melupakan mu San karena aku sangat mencintaimu." William menjawab dengan senyumannya yang sangat manis. "Tak pernah meninggalkanmu, aku hanya mengawaimu dari jauh karena aku tak tau harus bagaimana memulainya setelah aku meninggalkan mu malam itu tanpa sepatah kata pun, maafkan aku Sandra. Aku sungguh sangat mencintaimu."
Sandra sangat bahagia mendengar pengakuan dari William dan akhirnya mereka jadian serta hidup berbahagia bersama.
Tamat