14 Februari 2023...
Mungkin tanggal ini akan menjadi tanggal yang tidak akan pernah bisa aku lupakan sepanjang sisa umurku...
Saat ini statusku masih menjadi seorang istri dan juga seorang ibu dari seorang putri kecil yang menurutku sangat cantik. Bagiku, dia adalah anugerah yang paling indah yang Tuhan berikan untukku, tapi sayang, sepertinya dia terlahir di keluarga yang salah.
Diusianya yang baru satu tahun, dia sudah sering melihat ibunya menangis atau ibunya bertengkar dengan ayahnya padahal aku dan suami tinggal berjauhan karena pekerjaan suami. Aku tidak menginginkan hal seperti ini karena aku tahu kalau putriku bisa merasakan apa yang kurasakan, tapi setiap kali melihatnya air mataku sulit sekali untuk kutahan. Aku sangat mencintainya, tapi aku tidak mampu menciptakan keluarga yang harmonis untuknya.
Suamiku, pria yang sangaaaaat aku cintai. Sebelum menikah dengannya, aku bermimpi bisa membangun keluarga yang harmonis bersamanya. Dia berasal dari keluarga yang broken home dan hidupnya di masa lalu sangat berantakan, dia pemabuk, dia pernah terjerat narkoba, dan aku bukanlah wanita pertama yang tidur dengannya, tapi dia meyakinkan aku kalau dia ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi. Aku berpikir dia bersungguh-sungguh dengan niatnya itu untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik dan kami menikah!
Hari itu sangat indah untukku, hari di mana aku akhirnya bisa mengucap janji untuk setia saling mendampingi dengan pria yang kucintai. Aku sangat bahagia, dia pun terlihat bahagia, tapi aku tidak pernah mengetahui bagaimana hatinya, apakah hatinya juga berbahagia atau tidak?
Aku mendambakan kehidupan yang harmonis seperti yang orang lain rasakan, katanya setahun pertama akan menjadi masa yang sangat indah, masa-masa pengantin baru, tapi tidak untukku. Saat itu aku tidak bekerja dan sulit sekali mencari pekerjaan untukku karena saat itu adalah masa pandemi covid-19, aku hanya di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, melayani suami, dan menulis cerita-cerita kecil di sini. Apakah aku sangat tidak berharga? Untuk pertama kalinya suamiku membandingkan aku dengan seorang wanita di kantornya yang berusia jauh di bawahku. Dia selalu memuji-muji wanita itu karena dia tangguh dan memiliki pekerjaan, bahkan dia berani memuji wanita itu di hadapan temanku yang juga temannya dan juga teman wanita itu.
Mungkin kalian bingung, jadi sebelumnya aku pernah bekerja di tempat yang sama dengan suamiku tapi aku resign karena mendapatkan pekerjaan yang kurasa saat itu lebih baik karena aku tidak perlu bekerja secara shifting. Aku juga mengenal wanita itu, dia memang wanita yang baik dan lembut. Tapi pantaskah aku dibanding-bandingkan dengannya?
Aku mulai bekerja sejak aku lulus SMA, apapun pekerjaannya selagi itu halal aku kerjakan, meskipun hanya bergaji kecil. Sedikit demi sedikit pekerjaanku meningkat hingga akhirnya aku bisa bekerja di sebuah kantor yayasan sekolah yang cukup terkenal, saat itu akupun melanjutkan kuliah dengan biaya dari orang tuaku dan aku menambahkannya sedikit. Ayahku sempat diberhentikan dari pekerjaannya dan dituduh macam-macam padahal ayahku selalu punya loyalitas tinggi terhadap pekerjaannya, tapi beliau orang yang polos dan sangaaaat tulus sehingga orang sering memanfaatkannya hingga akhirnya beliau dituduh macam-macam. Ketika ayahku tidak bekerja, aku dan kakakku bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dibalik kekurangan kami, kami bekerjasama untuk membuat kedua orang tua kami bisa makan dan tidur dengan baik, hingga akhirnya ayahku bisa kembali bekerja.
Akupun melanjutkan kuliahku setelah sempat tertunda, yang sebenarnya hanya tinggal menyusun skripsi, tapi percayalah bekerja sambil menyusun skripsi itu hal yang sangaaaat sulit (untukku). Kalian yang sedang berjuang menyusun skripsi sambil bekerja, semangatlah! Setelah kalian berhasil menghadapinya, kalian akan mendapatkan hasil yang memuaskan dari perjuangan itu dan kalian akan berbangga pada diri kalian karena perjuangan itu tidak mudah tapi menurutku kalian bisa berbangga dengan diri kalian! Semangat!
Karena skripsiku tak kunjung kelar, akhirnya orang tuaku menyuruhku untuk berhenti bekerja dan fokus dengan skripsiku, aku menuruti perintah mereka karena memang dosen pembimbingku sangat sulit untuk ditemui karena jam mengajarnya berada di jam-jam kantor dan aku merasa tidak enak karena sering ijin untuk keluar kantor sedangkan aku memegang bagian keuangan. Setelah perjuangan beberapa bulan akhirnya aku lulus dan setelahnya aku merantau ke ibu kota.
Dengan dibantu sahabat, akhirnya aku bisa bekerja di tempat suamiku bekerja, di sanalah kami bertemu. Itulah perjuanganku di dalam hidup, menurut kalian pantaskah perjuanganku dibandingkan dengan wanita teman sekantor suamiku itu yang jelas dia baru pertama kali bekerja dan dia pun kuliah dengan uang dari kedua orang tuanya? Aku tidak sedang menyalahkan perempuan itu, aku hanya sekedar menanyakan apakah kehidupan seseorang pantas dibanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain? Setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Jadi, mengapa suamiku bisa membandingkan aku dengan wanita baik itu?
Kami sempat bertengkar besar saat itu, masih sangat lekat diingatanku bagaimana masa-masa itu, bahkan hatiku masih terasa sangat sakit ketika mengingatnya. Diusia pernikahan kami yang ke 6 bulan, tidak jauh dari pertengkaran hebat itu, aku mendapatkan anugerah dengan kehamilanku. Aku benar-benar sangat bahagia dengan kenyataan itu, kutinjukan hasil test itu pada suamiku, ia hanya bengong, dia bilang kalau dia tidak tahu harus bagaimana tapi dia bilang dia sangat bahagia. Ya, dia terlihat bahagia, tapi sekali lagi, aku tidak tahu apakah hatinya benar-benar berbahagia.
Aku mengalami pendarahan dan nyaris kehilangan janinku diawal kehamilanku. Dokter menyarankanku untuk benar-benar bedrest selama trimester pertama, di situ suamiku benar-benar melayaniku dengan baik. Aku yang rewel, mual-muntah, dan tidak bisa melakukan apa-apa karena harus bedrest, dilayani dengan sangat baik oleh suamiku. Dia melakukan segalanya bahkan membersihkan rumah dan membersihkan kelima kucing kami dengan sangat baik. Kupikir dia pria yang sangat baik saat itu, tapi....
Diakhri kehamilanku, menjelang kelahiran putriku, seseorang merasukinya dengan judi online. Inilah awal kehancuran rumah tanggaku. Orang itu merupakan security di tempat suamiku bekerja, dia menceritakan pengalamannya yang berhasil menang sekitar 70 juta dari perjudian online. Entah bagaimana dia bisa mempengaruhi suamiku, akhirnya suamiku pun tergoda untuk menghasilkan uang secara instan dengan judi online.
Kami menggadaikan BPKB motor kami untuk mempersiapkan kelahiran putri pertama kami, tapi tanpa sepengetahuanku, uang itu digunakannya untuk berjudi online. Saat itu aku belum mengerti bagaimana judi online itu, ketika aku memeriksa mutasi rekening milik suamiku, banyak sekali transaksi aneh, entah itu transfer uang ke temannya berkali-kali atau ke naman-nama yang tidak kukenal sebelumnya. Aku menanyakan hal itu padanya, dia bilang kalau temannya meminjam uang sementara padanya. Aku mencoba memperingatkannya karena waktu persalinanku hanya tinggal sebentar lagi dan aku akan melahirkan di kampung halamanku, dia mengiyakannya.
Singkat cerita aku melahirkan putri cantikku di kampung halaman, dan di saat itu juga aku baru mengetahui kalau yang dimaikan oleh suamiku adalah judi online. Uang yang semula akan digunakan untuk persalinanku nyaris habis dan tidak cukup untuk menanggu biaya semuanya. Aku memang menggunakan BPJS ketika persalinan, tapi ada beberapa tambahan biaya yang harus kubayarkan, akhirnya kami meminjam uang lagi kepada teman, kalau tidak seperti itu, aku fan bayiku tidak akan bisa keluar dari rumah sakit.
Di sinilah mulai rusaknya keuangan rumah tanggaku. Kami memang bukan orang yang berkelebihan, kami kadang-kadang masih meminjam uang kepada sodara untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi kami selalu berhasil melaluinya, tapi tidak dengan dimulainya judi online. Keuangan rumah tangga mulai kacau balau. Uang hilang begitu saja tanpa tahu ke mana perginya, yaa... perginya ke judi online suamiku!
Diawali dengan judi online, lama kelamaan dia mulai membohongiku dengan banyak alasan agar ia bisa mendapatkan uang. Aku yang mulai pusing dengan rutinitas merawat bayi dan mengatur keuangan yang semakin lama semakin tidak karuan itu akhirnya menyerahkan urusan keuangan kepada suamiku, aku hanya meminta separuh dari gajinya sebagai nafkah untukku. Ya... pada teorinya aku meminta separuh gajinya untuk nafkahku dan dia menyanggupinya tapi kenyataannya dia tidak pernah memberikan separuh gaji sesuai janjinya itu untuk nafkahku. Dia hanya memberikan sisa dari uangnya dan jumlahnya sangat sedikit bagiku, tapi aku masih bersyukur saat itu, setidaknya aku masih mendapatkan nafkah.
Setelah mengenal judi online dan keuangan kami kacau, kami sering kali bertengkar dan yang menjadi alasan keributan kami adalah aktivitas perjudiannya itu karena aku sesekali memeriksa mutasi rekeningnya. Aku sangat marah karena hobi berjudinya semakin menjadi-jadi hingga akhirnya dia tidak bisa menafkahiku! Sedih rasanya! Aku memiliki bayi, aku mengasuhnya sendiri tanpa bantuan suami karena kami tinggal berjauhan, dan ditambah aku harus menerima kenyataan kalau suamiku sekarang menjadi seorang penjudi! Hancur rasanya hidupku, tapi kalau aku hancur, bagaimana dengan putriku? Bukankah dia lebih hancur? Dia baru saja bisa melihat dunia tapi yang dilihatnya dunia yang sangat kelam. Padahal menurutku dia sangat cantik, dia benar-benar sama seperti yang kudoakan selama ini, tapi awal kehidupannya saja sudah sangat kelam, bukankah dia lebih menyedihkan dari pada aku?
Sekarang putriku sudah berumur lebih dari satu tahun, dia sudah mulai bisa berinteraksi. Setiap kali dia melihatku menangis atau bertengkar dengan ayahnya, dia selalu menatapku tanpa melakukan apa-apa dan berkata apa-apa. Aku sedih karena memperlihatkan sesuatu yang buruk untuknya. Pertengkaran aku dan suamiku tidak jauh dari persoalan judi online dan keuangan yang buruk itu.
Sampai dititik aku bertanya pada suamiku, apa yang akan membuatnya berhenti berjudi online, dia menjawab kalau seluruh hutangnya sudah lunas. Baiklah, aku memutuskan akan kembali bekerja untuk membantunya melunasi hutangnya yang sudah sangaaaat banyak. Dia menyetujuinya dan merasa senang, saat itu. Aku berjuang mencari pekerjaan sampai akhirnya suamiku mendapat tawaran dari bos lamaku yang ingin mempekerjakan aku kembali di sana. Bukankah ini seperti rencana Tuhan yang luar biasa? Ya, sangat luar biasa! Aku merasa sangat bahagia karena kupikir menemukan jalan keluar untuk membuat suamiku berhenti dengan kemaksiatannya itu.
Aku disuruh untuk menunggu orang yang akan resign dari perusahaan itu, aku sabar menunggunya! Tapi... apakah kalian berpikir kami tidak ribut dan suamiku berhenti berjudinya? Tidak! Tidak ada yang berubah dari keadaan kami! Suamiku masih terus melakukan hobi buruknya itu meskipun aku sudah pernah bicara padanya kalau aku akan membantunya mencicil hutang dengan gajiku kelak. Aku memintanya untuk tidak menambah hutang itu, tapi setiap kali kami berselisih, suamiku kembali meminjam uang pada temannya untuk berjudi dan ketika kami berbaikan lagi, dia selalu menyalahkan aku dan menyuruhku untuk membayarkan hutangnya itu karena uang gajinya aku yang pegang. Miris! Buatku ini sangat miris! Bagaimana untuk kalian? Dan itu tidak terjadi hanya sekali! Berkali-kali!
Karena akan kembali tinggal bersama dengan suamiku, kami membutuhkan rumah kontrakan yang lebih besar, karena kami juga akan membawa ibuku untuk menjaga putriku selama aku bekerja dan kami sepakat untuk memberikan pembantu untuk membantu ibuku. Untuk menyewa rumah yang lebih besar, tentunya kami juga memerlukan biaya yang lebih besar, akhirnya kami sepakat untuk meminjam kepada seseorang dengan bunga yang cukup besar, tapi kami pikir ya sudahlah untuk modal memulai kehidupan yang lebih baik lagi nantinya. Setelah uang pinjaman itu cair, aku membayarkan beberapa cicilan yang tertunggak karena uangnya dipakai untuk berjudi online oleh suamiku.
Aku membayarkan tunggakan kontrakannya selama 2 bulan, cicilan hutang pada teman-temannya, dan juga cicilan motor selama 2 bulan beserta bunganya, sisalah uang itu hanya untuk mengontrak rumah sewa yang baru. Aku sudah mengungkapkan semuanya pada suamiku, tapi suamiku malah meminta uang untuk service motornya senilai 500 ribu. Aku mencoba berdiskusi dengannya, aku bilang untuk menundanya sampai waktu gajiannya, hanya sampai waktu gajiannya, dia merajuk. Telponku dan chatku sering tidak diangkat dan dibalas. Lalu beberapa hari kemudian ia survey rumah sewa yang baru, dia meminta uang bensin padaku, kuberikan uang 50 ribu kepadanya tapi dia marah, dia ingin aku memberikannya 100 ribu. Aku tidak memberikannya karena kuhitung itu akan cukup untuknya membeli bensin dan makan satu kali, tapi dia marah besar padaku bahkan dia mengataiku dengan sebuatan 'kotoran'. Kutelpon dia untuk menanyakan tentang rumah sewa itu, dia tidak pernah mengangkat teleponku dan chatku pun tidak pernah dibalasnya.
Sampai pada hari ini, aku mendapatkan kabar baik tentang pekerjaan yang sudah kunantikan, bos lamaku itu menyuruh suamiku untuk memberikan berkas-berkas lamaranku dan suamiku memberitahukannya pada ibuku. Aku segera merapikan lamaran dan berkas-berkasnya, kukirimkan melalui email dan chat kepada suamiku, tapi kalian tahu perlakuan apa yang kudapat? Setelah berkomunikasi panjang setelah beberapa hari kami tidak berkomunikasi, semuanya diakhiri dengan keributan besar. Kembali kami meributkan perihal keuangan. Dia memaksaku untuk memberikan uang service motor kalau mau lamaranku diproses. Aku tidak memberikannya, kalia tahu kenapa aku tidak memberikannya?
Uang yang ada ditanganku tersisa tinggal 13 juta, sementara uang sewa rumah kami selama setahun sebesar 15 juta, pemilik rumah tidak mau menerima sewa selama 6 bulan. Aku masih harus mencari 2 juta lagi untuk memenuhi biaya tersebut, belum lagi biaya untuk pindahan karena aku berada diluar kota dan memerlukan uang sekitar 3 juta untuk mengangkut barang-barang (Dari hasil survey yang sudah kulakukan). Aku sudah mengutarakannya pada suamiku tapi suamiku tetap meminta uang service motor itu dengan ancaman tidak akan memberikan lamaran itu pada bosku. Kalian pasti berpikir mengapa aku tidak memberikannya langsung kepada bosku? Aku menanyakan alamat yang harus kukirimkan tapi suamiku tidak mau memberikannya, aku menanyakan nomor bos lamaku itu pun dia tidak mau memberikannya. Kalau aku bertanya pada teman lamaku di kantor itu bukankah itu akan mencoreng nama baiknya di sana? Orang pasti akan bertanya mengapa tidak meminta pada suaminya sendiri? Ya bukan?!
Berkali-kali aku menelepon suamiku, aku mencoba membujuknya tapi sia-sia, aku malah semakin terluka dengan perlakuannya. Teleponku sering diabaikan. Dia mengangkat teleponku tapi membiarkanku bicara sendiri tanpa ada respon darinya. Apakah aku pantas mendapatkan perlakukan seperti ini?
Aku yang sangat lelah dengan sikap suamiku hanya bisa menangis, bahkan karena terlalu sesak, aku sampai muntah di kamar mandi. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba ayahku menghubungiku (Ayahku bekerja jauh dari rumah dan hanya sebulan sekali pulang ke rumah) untuk menanyakan perihal pekerjaan itu dan di situ aku tidak bisa menahan emosiku, aku menangis sejadi-jadinya. Aku yang sudah sangat sesak dengan sikap laki-laki yang sangat kucintai itu, hanya bisa mengadu pada ayahku. Aku merasa sangat sakit, tapi aku yakin ayahku merasakan sakit yang lebih dalam mendengar putri satu-satunya mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya sendiri. Sejujurnya aku tidak mau membuat ayahku merasakan kesedihanku, tapi aku benar-benar sudah tidak kuat untuk menahan semua beban ini. Maafkan aku, pa!
Ibuku pun memiliki respon yang sama dengan ayahku, beliau menunjukkan amarahnya secara langsung di hadapanku, dan kedua orang tuaku menyuruhku untuk mengikhlaskan pekerjaan itu. Orang tuaku menginginkan aku tetap di kampung halaman bersama mereka. Aku merasa sangat lega saat itu, tapi entah bodoh atau bagaimana, di hati kecilku ini masih mengharapkan bisa kembali berbaikan dengan suamiku meskipun dia sudah memperlakukanku seperti itu. Aku masih mengharapkan rumah tangga ini bisa diperbaiki dan kami memiliki kehidupan yang lebih baik sesuai cita-cita kami di awal pernikahan kami.
Sampai aku menyelesaikan tulisan ini, masih ada sedikit cinta yang terselip untuk suamiku dan berharap kami bisa kembali bersama dengan memperbaiki semuanya yang sudah hancur. Bodohnya aku! Bodoh kan aku?!
Untuk suamiku tercinta, pria yang sangat kusayangi...
Aku selalu ingin menjadi penolongmu dalam keterpurukan hidupmu, aku mau berjuang bersamamu untuk memulai semuanya dari awal, tapi bisakah kamu meninggalkan semuanya itu? Demi rumah tangga kita... demi putri cantik kita...
Kumohon... aku ingin putriku merasakan kehidupan keluarga yang utuh, dia tidak pantas merasakan semua keburukan yang kita buat.
Suamiku, bisakah kita memperbaiki semuanya?
Ataukah kamu malah setuju untuk mengakhiri semuanya?
14 Februari 2023...
Sebuah ujung dari pernikahanku?