Cerita ini mengandung unsur konten dewasa
harap kondisikan usia anda.
#onlyfor21+
Wanita itu terbaring lemah tanpa mengenakan sehelai benangpun yang melekat pada tubuh indahnya, hanya air mata yang dapat mengisyaratkan bahwa ia sedang tidak baik baik saja dan berkata….
"Kau selamat sayang,"dan Maafkan aku."ucapnya sambil tersenyum serta air mata yang mengalir membasahi pipi halusnya.
Dimalam yang dingin Edward kala itu terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk, ia langsung memeluk erat istri yang sangat ia sayangi dengan penuh kecemasan, ia tak ingin istrinya ikut terlibat dalam masalah besar yang sekarang menimpanya.
"Ada apa sayang."tanya Mely, istri Edward.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku."jawab Edward cemas.
"Sayang dengarkan aku, tak ada alasan bagiku untuk meninggalkan laki-laki sepertimu."balas Mely kepada suami yang sangat ia sayangi itu.
Edward tak lagi menjawab ucapan istrinya, tapi ia masih tetap memeluk erat tubuh Mely.
"Tenanglah sayang, kau pasti bermimpi buruk lagi."ucap mely menenangkan suaminya tersebut.
Ini bukan kali pertama Edward bermimpi buruk tentang istrinya, bahkan ini adalah yang kesekian kalinya ia memimpikan hal yang sama tanpa adanya perubahan dalam alur cerita mimpinya tersebut.
Cupp
Mely mencium kening suami tercintanya, ia berusaha menenangkan Edward dengan penuh kasih sayang.
dan Edward langsung tenang karena kecupan manis dari wanita yang sangat ia cintai dan ia sayangi itu.
Edward pun kembali tertidur dalam pelukan hangat Mely yang kala itu masih terjaga memikirkan tentang mimpi buruk Edward yang berulang kali tanpa berubah sedikitpun.
Keesokan harinya, Edward yang sedang mendapati istri tercintanya sedang memasak di dapur, dipandanginya tubuh indah Mely yang hanya memakai lingre transparan yang membuat bagian dalam tubuh istrinya tersebut terlihat kala mentari menyeruak masuk menyinari tubuh indah sang istri yang tampak begitu menggoda.
"Tubuh indah itu hanya akan menjadi milikku selamanya."batin Edward.
Edward langsung menghampiri Mely dan menciumi tubuh Mely yang membuat Mely merinding dan menggigit bibir bawahnya karena merasa geli sekaligus nikmat dengan apa yang sedang Edward lakukan pada tubuhnya.
"Eemm… sayang kamu sudah bangun."tanya Mely sambil sedikit mendesah.
Namun Edward yang kala itu sedang asik-asiknya melahap leher istrinya itu tak menghiraukan pertanyaannya, ia masih terus bermain dengan dengan bibirnya yang menggerayangi lekuk tubuh indah Mely, sang istri pun hanya diam dan menikmati apa yang dilakukan suami mesumnya itu, sambil sesekali mendesah nikmat serta menutup kedua matanya karena terlena oleh setiap sentuhan bibir Edward yang nakal.
"Aku mau ini,"ucap Edward sambil merabah gumapalan kenyal dibalik tipisnya lingre yang Mely kenakan.
Mely tak menjawab apa yang Edward katakan, ia hanya mampu mendesah dan tubuhnya mulai bereaksi dengan menggeliat merasakan sensasi dari permainan bibir serta jari jari Edward yang tak akan dapat ia tahan.
Lalu Edward membalikan tubuh indah istrinya itu agar menghadap ke arahnya dan ia langsung menciumi tubuh Mely dengan buasnya, mereka yang sama sama merasakan kenikmatan tiada tara itu langsung bercinta dengan penuh gairah, Mely yang saat itu tak dapat menahan desahannya mulai meracau merintih keenakan, tanpa mereka sadari bahwa ada seseorang yang sedang mengintai memperhatikan mereka yang sedang bercinta di balik kaca dapur itu.
Setelah adegan panas itu selesai Edward dan Mely pun sarapan tanpa mengenakan sehelai benang pun pada tubuh mereka, Mely yang duduk diatas pangkuan Edward sambil menyuapi suami tercintanya itu dengan sangat manis.
Hari mulai siang, Edward harus ke kantor untuk mengerjakan beberapa hal penting yang tak bisa ia tinggalkan, ia terpaksa meninggalkan istrinya sendirian di vila dengan rasa berat hati, namun hal yang penting itu tetap membawanya pergi berlalu meninggalkan sosok wanita cantik yang tak tak lain adalah istrinya.
Mely pun melanjutkan pekerjaan rumahnya ia mencuci sendiri pakaian suaminya itu dengan perasaan bahagia
ia dapat mengingat betul kepuasan batin yang diberikan Edward yang membuatnya tersenyum nakal.
Sore hari yang sangat indah di tepi pantai, Mely menikmati pemandangan itu tanpa Edward yang memang belum pulang dari kantor, ia duduk di balkon villa milik suaminya itu yang menghadap tepat di pesisir pantai. ia duduk dengan hanya menggunakan baju kemeja putih milik Edward, baju itu tampak longgar karena tubuhnya yang ramping.
Tutt..tutt.tutt...
Mely meraih handphone tersebut lalu mengangkat panggilan masuk yang tak lain adalah Edward.
"Halo sayang."ucap Edward menyapa.
"kenapa kamu belum pulang?,"aku sangat merindukanmu."jawab Mely dengan wajah cemberut.
"Maaf tampaknya aku belum bisa pulang sayang."jawab Edward dengan berat hati karena tak dapat pulang lebih awal.
"Baiklah sayang,"tapi kamu jangan telat makan ya."ucap Mely mesra.
"Iya sayang,"kamu juga harus menjaga dirimu selagi aku tak ada disampingmu."balas Edward.
Setelah beberapa saat mereka menyudahi percakapan manis lewat handphone itu, Mely yang sudah tau Edward yang tak dapat pulang lebih awal langsung masuk ke dalam villa, ia melepaskan kemeja yang kenakan dan menjatuhkannya ke lantai, sekarang ia berjalan dengan tak memakai apapun, ia menuju kamar mandinya, ia membersihkan tubuhnya sambil sesekali melihat tanda merah di bagian daerah intimnya hasil karya Edward, ia pun tersenyum bahagia tak sabar menantikan kepulangan Edward sang suami yang sangat ia cintai itu.
Namun Mely yang baru saja sudah mandi dengan hanya menggunakan handuk menutupi tubuhnya yang indah dan menggoda iman itu berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur, ia mengambil anggur secukupnya lalu meminum anggur itu sambil menari nari bahagia, dan tiba tiba ia langsung dibekap oleh seseorang yang sudah mengintai dari pagi itu langsung membawa Mely ke ruang tengah dan menghempaskannya di atas sofa empuk lalu menarik paksa handuk yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya, tampak raut wajah yang kagum dari laki laki yang memandangnya itu tak berkedip sama sekali melihat Mely yang kini telanjang, Mely berusaha menutupi tubuhnya menggunakan tangan.
"Siapa kamu? dan mau apa kamu."tanya Mely gemetar takut.
Tak ada jawaban dari laki laki yang berbadan besar serta ototnya yang tampak mengembang dibalik baju hitam yang laki laki itu kenakan.
Mely langsung berlari menuju kamarnya, ia berharap dapat menemukan handphone miliknya lalu menelpon Edward, namun belum jauh ia berlari ia malah terjatuh karena ia sangat panik pada saat itu.
Mely yang kini berada dalam pelukan laki laki itu tak dapat berkutik lagi, bahkan hanya untuk menggerakan kepalanya pun ia tak bisa, laki laki yang penuh nafsu itu mulai mencium tubuh Mely menghisap bibirnya yang menggoda itu, Mely Berusaha sekuat tenaganya melawan sambil menangis, ia tak mampu melakukan apa-apa lagi, ia kehabisan tenaga, sementara laki-laki itu mulai menghisap leher Mely dan membuat beberapa tanda merah menyala, Mely hanya bisa menangis dan berteriak, laki laki itu lalu menjilat seluruh bagian tubuh mely yang membuat Mely menangis sejadi jadinya.
"Aku mohon lepaskan aku."ucap Mely memohon sambil menangis.
Namun laki laki itu sedikitpun tak menghiraukan permintaan Mely, ia yang saat itu hanya bisa terbaring lemah, hanya bisa pasrah dengan kali ini ia menangis tanpa suara hanya ada air mata yang mengalir tanpa henti.
Mely berteriak kencang saat laki laki itu berhasil menodainya, tubuh yang ia rawat serta selama ini hanya untuk Edward ternyata dinikmati orang lain itulah yang membuatnya merasa sangat sedih sampai tak sanggup berkata apa-apa lagi.
Setelah selesai menikmati tubuh indah Mely orang tersebut memakaikan baju Mely lalu menggendongnya dan beranjak keluar dari villa itu.
"Mau dibawa kemana aku."tanya Mely tak berdaya lagi.
"Istirahatlah, aku akan membawamu pergi ketempat yang sangat nyaman."jawab laki laki itu.
Mely yang kesal, dan marah pada dirinya sendiri mulai menangis lagi sambil memukul dada bidang laki laki misterius itu, namun tetap saja ia tak berdaya, dan akhirnya ia berhasil dibawa pergi tanpa perlawanan oleh laki laki itu.
Di tempat lain Edward yang baru selesai dengan pekerjaannya, langsung menelpon Mely ia akan memberitahu istri tercintanya itu bahwa ia telah selesai dengan urusannya dan segera pulang.
Namun alangkah terkejutnya ia saat, mendengar suara yang mengangkat telepon bukanlah istrinya melainkan suara laki laki tua bersuara serak basah, laki laki itu tertawa lalu berkata.
"Jika kau ingin dia selamat datanglah kemari."ucap laki laki itu.
"Bajingan kalian apakan istri."bentak Edward sangat marah.
Namun tiba-tiba sambungan terputus, sebuah pesan masuk lalu Edward membuka pesan itu yang berisikan lokasi, Edward langsung pergi menuju tempat itu tanpa membawa satupun bodyguardnya, ia langsung mencari cari tempat tersebut dengan wajah pucat bercampur sedih, karena mimpi buruk yang ia takutkan benar-benar terjadi.
Edward telah sampai di tempat itu gedung tinggi terbengkalai dan sangat kotor, lalu ada pesan lagi yang menyuruh Edward naik ke lantai paling atas gedung itu, tanpa banyak berpikir Edward menuju lantai atas, ia menaiki dan tangga yang berputar putar itu, dan ia sudah sampai di atas gedung, ia langsung berlari mendapati Mely istri yang sangat ia cintai itu hanya terduduk lemas terikat tali di atas kursi tanpa mengenakan pakaian selembar pun.
Edward berusaha mendekati Mely dengan tangis dan perasaan hancur, namun belum sampai ia menyentuh istrinya itu ia ditembak.
Doorrrrr…
Edward berteriak histeris kala itu kakinya tertembak, bukan karena sakit melainkan teriakan marah kenapa ia tak dapat menggunakan kekuatannya untuk menolong istrinya, ia berdiri lagi mendekati istrinya yang masih pingsan itu dan sekali lagi suara ledakan pistol itu yang membuatnya harus tergeletak, namun ia tetap berusaha untuk menggapai istri tercintanya itu, dengan tangisan ia memanggil nama Mely, ia terus merayap menggunakan kedua tanganya saat kakinya tak lagi dapat berfungsi, dengan sekuat tenaga ia merayap menyeret kaki tak bergunya itu.
Tiba-tiba Mely terbangun, saat ia mulai membuka matanya perlahan dan lalu menghentak-hentakan badannya ketika ia mendapati Edward yang tak berdaya merayap menyeret kedua kakinya itu berusaha mendekatinya, tangisan Mely terdengar di telinga edward, lalu seseorang mendekati Mely dan membisikan sesuatu, Mely mengangguk menerima tawaran tersebut, Mely melihat ke arah Edward sambil menangis, perlahan ikatan tangan serta mulut Mely dibuka, Mely berteriak berusaha mendekati Edward.
Namun, ia harus menepati janjinya pada Bos mafia itu, laki laki itu hanya tersenyum lalu mendekati Edward, dan Edward memaki orang tersebut karena ia mengenalnya dengan sangat jelas ia mengenal wajah itu, wajah musuh lamanya yang bangkit kembali dari kematiannya yang saat itu baku tembak karena memperebutkan wilayah, Edward yang saat itu memimpin gangnya menghabisi gang bos Mafia tersebut memenangkan pertempuran itu, ia menembak bos mafia itu hingga tewas, namun kenyataannya ia tak membunuh bos mafia itu.
"Bajingan, aku sudah menembak mu mati di depan mata kepalaku sendiri."ucap Edward tak percaya.
"Hahaha lihatlah aku berdiri tepat di depanmu."ucap bos mafia tersebut sambil menginjak kepala Edward.
"Lepaskan istriku dia tak ada urusanya dengan masalah ini."tegas Edward.
"Hahahahaha."
Bos mafia itu hanya tertawa lalu berkata…
"Lihatlah aku akan merebut kebahagiaanmu."ucapnya dengan tatapan penuh dendam.
Ia langsung menyuruh anak buahnya pergi dari atas gedung, sekarang hanya tinggal mereka bertiga, seseorang dengan penuh dendam, Mely yang menangis terisak isak talanjang, dan Edward yang tergeletak dengan kedua kaki yang tak berguna.
Bos mafia itu mulai meraih tangan tubuh telanjang Mely, ia tak menyakiti tubuh Mely karena ia selalu lembut dalam memperlakukan wanita, Edward yang melihat itu terasa sangat sedih dan terhina, Mely yang hanya bisa menangis melihat Edward pun menuruti semua perintah Bos mafia itu dengan harapan Edward akan selamat seperti yang dijanjikan oleh bos mafia itu.
Bos mafia itu memberikan pil kepada Mely dan menyuruh Mely meminumnya, Mely melihat ke arah Edward yang hanya menggeleng gelengkan kepalanya memberi tahu jangan melakukan hal itu, namun demi keselamatan Edward, ia rela menelan pil itu.
Edward yang tahu akan pil yang diminum Mely pun menangis terisak isak karena pil itu adalah pil perangsang, tak lama pil itu mulai bereaksi Mely merasakan ada sesuatu yang berbeda seketika ia merasakan ingin bercinta karena birahinya tak tertahan lagi efek dari pil itu , tua bangka itu meraih tubuh Mely,
Mely tak melakukan perlawanan sama sekali malah terlihat sangat menikmati permainan tua tu bangka itu yang menikmati tubuhnya dengan lahap, sementara itu Edward menangis, berteriak memanggil nama istrinya itu, hancur hatinya menyaksikan adegan panas istrinya yang ditunggangi oleh si tua bangka bangsat itu, terlihat pemandangan dimana Mely sangat menikmati permainannya dengan si tua bangka itu, Edward terus memanggil nama Mely dan terus berusaha mendekat, kini ia tepat berada dibawah kursi tempat Mely yang sedang ditunggangi tua bangka itu, ia jelas mendengar istrinya mendesah namun mengeluarkan air mata, Bos mafia itu hanya tertawa puas karena melihat hancurnya hati Edward, ingat pun mempercepat gerakanya lalu memeluk Mely, sambil menciumi Mely yang membalas ciuman itu dan melingkarkan kedua tangannya pada leher tua bangka itu.
Edward yang hancur kini tak lagi menangis, ia perlahan merayap menjauh dari Mely yang sedang menikmati permainan dari tua bangka itu, dengan rasa amarah serta kehancuran yang sangat hebat dalam hatinya, ia berusaha mencari bantuan, ia tak perduli lagi pada Mely, karena baginya itu tetap lah penghianatan, ia terus berusaha untuk keluar dari gedung itu.
Semuanya berakhir setelah puluhan anak buah Edward datang, membunuh satu persatu anggota bos mafia itu sampai tak tersisa, bos mafia yang tak ingin ditangkap langsung mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri, Edward selamat, ia hanya menangis sejadi jadinya, ia sangat tak menduga akan jadi seperti ini, ia tak mau lagi melihat Mely dan segera akan mengurus surat perceraiannya dengan Mely setelah ia pulih, Sementara itu Mely yang tergeletak lemah tak berdaya hanya tersenyum dengan air mata yang membasahi pipinya, ia berhasil, Edward selamat.
"Kau selamat sayang, aku harap kau dapat memaafkan apa yang telah aku lakukan, karena itu semua demi keselamatanmu, dan aku harap kau dapat melanjutkan hidupmu seperti biasa, aku harap kau mendapatkan wanita yang mampu membuatmu bahagia.
Selamat tinggal sayang," selamat tinggal."ucap Mely dalam hati sambil menangis tersedu-sedu.
Semua sudah berakhir, Edward yang sudah berangsur pulih hanya dapat merenung, ia sudah menggugat cerai mantan istri tercintanya itu, sementara di tempat lain Mely yang juga selamat, mengabdikan dirinya dengan menjadi biarawati, ia ingin menghapus semua dosa dosa yang pernah ia lakukan, ia menyetujui gugatan Edward, ia sangat bahagia mantan suami tercintanya itu selamat, sesuai dengan apa yang ia harap kan, ia selalu berdoa untuk setiap kebahagiaan Edward, kini semua sudah berubah, hanyalah kenangan indah yang menjadi pahit di ingatan masing-masing, yang Mely punya kini hanyalah sebuah foto pernikahannya dengan Edward yang masih tersimpan rapi dan terawat di dalam lemarinya.
Waktu berjalan begitu cepat, semua sudah kembali pada pilihan masing-masing, Edward menjalani hari seperti di awal hidup dengan ceria dengan banyak orang yang perduli padanya, begitupun dengan Mely yang kini menjalani hidup dengan penuh tawa namun, ia tetap menyimpan rasa sayang dan cintanya kepada Edward untuk selamanya hanya untuk Edward bahkan sampai ia mati pun ia tak akan merubah apa yang sudah ia pilih.
Pagi hari yang begitu indah, mereka memandang langit lalu berkat…
SEMANGAT."seru mereka kompak walaupun berbeda tempat.
Tamat.
Cerpen karangan : iit arianto
Kategori : Romance,sedih