Satu hal yang membuat kita tetap menanti seseorang adalah harapan. Perasaan yang tak pernah lelah meski seringkali dihajar kalah. Berkali-kali didera luka dan kecewa. Namun memilih untuk tetap bertahan. Bahkan saat kau bunuh dengan sangat kejam, perasaan itu masih saja bertahan. Sakit bukanlah hal yang harus dijelaskan. Hanya saja ada yang lebih kuat yang tak mampu dijabarkan. Sesuatu yang tak tampak, namun membuat bertahan meski terancam dicampakkan. Meski sesak memenuhi ruang hati. Orang-orang seringkali menyebutnya cinta buta. Namun, kau percaya itulah yang disebut cinta.
Jam digital di pojok kafe tempatku bekerja menunjuk angka 10, langit tak lagi terang, aku masih di sini, tak bergerak karena takdir Tuhan sedang menyapa, hujan yang sedari tadi bertamu ke bumi belum juga menunjukkan tanda redanya, tiba-tiba saja perasaan itu datang ditemani dinginnya angin malam. Perasaan yang membuatku tak ingin melakukan apapun selain menikmatinya. Kedatangannya malam ini tentu saja tak mengagetkanku karena hampir setiap malam aku dihampirinya, entah sekedar menyapa atau mungkin punya maksud lain. Yang aku tahu, aku menikmati setiap tusukan yang ia berikan kedalam dadaku.
Ketika harapan tidak sesuai dengan keinginan? Mungkin hati akan merasa sakit, tapi aku mencoba menyakinkan hati kalau semua adalah garis hitam di dalam hidupku.
1 tahun yang lalu, ketika aku menduduki kelas 3 SMP aku dibuat bingung dengan berbagai pilihan. Anak remaja yang tidak tahu dunia seluruhnya, harus memilih antara aku harus sekolah dan berkerja ketika keinginanku untuk bersekolah terhenti begitu saja aku terpaksa mengubur semua mimpi, cita-cita, harapan dan semua yang ada di dalam imajinasi kecilku.
Aku memang bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang kaya raya, bukan anak yang bisa melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi. Tapi aku hanya seorang anak yang terlahir dari keluarga sederhana, ayahku berkerja sebagai pedagang sedangkan Ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga. Sedih memang, tapi aku coba untuk ikhlas menjalani kehidupan di dunia yang fana ini. Aku masih percaya akan sebuah keajaiban dan mukjizat yang datangnya dari Allah asal aku berusaha sekuat tenaga dan terus berdoa sebaik baiknya kepada Allah SWT. Agar aku bisa melanjutkan sekolah dan bisa membuat kehidupan ini berubah.
Pukul 23.12 aku tiba di rumah, tak mengulur waktu ku rebahkan tubuh di kasur yang empuk sambil mengamati setiap lembaran majalah, tak terlewatkan sebuah foto cowok tampan Mahendra William. Aku memperhatikan dengan seksama wajah tampan itu, matanya, hidungnya dan bibirnya merupakan paduan wajah yang sangat sempurna. Mulai dari hitungan detik itu aku mulai mengagumi sosok tampan Mahendra.
Ternyata rasa kagum itu bukan rasa sesaat tetapi terus berkembang setiap harinya, dua hari hingga aku mulai menyadari rasa itu bukanlah rasa kagum biasa layaknya penggemar kepada sosok yang diidolakan. Rasa itu lebih tepatnya rasa tertarik antara laki-laki dan perempuan yang kerap disebut dengan kata cinta. Tiada hari yang ku lewatkan tanpa melihat foto Mahendra William.
Setiap hari selalu berlalu dengan melihat wajah tampannya untuk membuatku semangat dan mulai memunculkan harapan-harapan konyol layaknya difilm romantis yang dapat bertemu dengan sang idola dan mengungkapkan perasaan cinta. "Hahaha, lucu sekali" aku mulai menepuk keningku sendiri untuk menyadarkan ku dari mimpi disiang bolong. Namun hanya dengan hal itulah yang bisa membuatku melupakan betapa sakitnya hari-hari yang ku hadapi setiap harinya.
akumulasi mencoba mencari informasi tentangnya diberbagai media social tapi aku tak dapat menemukan jawaban yang memuaskan hingga suatu hari aku merasa putus asa dan mencurahkan keluh kesahku di suara radio 100.15 RCC (Radio Curhat dan Cinta). Malam itu pikiran ku benar-benar kalut hingga aku menghubungi kontak radio tersebut untuk mencurahkan semua beban pikiran ku agar aku merasakan sedikit rasa lega dari sesak yang terus mendera dadaku semakin membuatku sulit untuk bernafas.
"Selamat malam radio RCC (Radio Curhat dan Cinta) FM, dengan siapa saya bicara?" Dinda
"Selamat malam juga kak Dinda, ini aku Ayu (nama samara ku) dari Sidoarjo". jawabku
"Ok. Dengan Ayu mau curhat tentang apa ni?" Dinda
"Aku mau curhat tentang perasaan sukaku pada seseorang yang tak tak bisa untuk ku gapai." jelas ku
"ok silakan Yu, dan semoga apa yang kamu sampaikan Iki bisa didengarkan oleh orang yang kamu tujukan" Dinda.
Dinda adalah nama penyiar radio malam itu, orangnya sangat baik dan juga ramah. Dia mendengarkan cerita ku dengan seksama sampai aku selesai bercerita. Dia memberikan ku saran-saran yang cukup membuatku tenang dan merasa lega malam itu, dia juga bersedia membantu jika ada yang menghubunginya untuk menanyakan masalah itu, siapa tau diantaranya ada yang seperti nama dalam harapan ku. Awalnya aku gak begitu yakin dengan cara itu karena aku malu kalau sempai teman-teman ku pada tahu tentang cerita konyol ku. Namun, aku berfikir tak ada salahnya untuk mencoba, dengan memberi nama samaran aku yakin tak akan ada yang tau kalau itu adalah aku.
Setiap harinya aku jadi setia mendengarkan siaran RCC setiap kali aku pulang kerja, karena suara itu selalu diputar pada jam malam. Dan beberapa minggu kemudian tepatnya hari Sabtu hp ku berdering, aku melihat ada nomor yang tak ku kenal sedang memanggil, aku membiarkannya karena aku anggap mungkin itu adalah nomer salah atau orang iseng.
Dan beberapa hari kemudian nomer itu kembali memanggil, aku mencoba mengangkat panggilan itu karena merasa penasaran, namun aku terlambat, karena kelamaan panggilan itu keburu mati. Karena penasaran beberapa jam kemudian aku mencoba mengirim sebuah pesan kepada nomor tersebut.
"Maaf ini siapa ya?"
Aku terus menunggu balasan sms ku hingga aku sibuk dengan segala pekerjaanku dan pulang. Keesokan harinya saat aku terbangun di pagi hari masih juga belum ada balasan. Aku pun melupakan SMS itu karena aku menganggap kalau itu hanyalah spam.
Aku kembali ke kafe untuk bekerja lagi dan tepat pukul 18.00 ku lihat HP ku ada dua pesan yang ku terima, ku coba buka satu persatu dari pesan itu yang berbunyi "sorry, mengganggu. Aku Will." Isi dari pesan itu. Jantungku berdegup kencang membaca sms tersebut, aku tak begitu yakin kalau itu adalah Mahendra William, tapi aku sangat berharap itu benar dia walau itu hanya khayalan semu.
Setelah itu aku membaca pesan yang kedua "benarkan ini Ayu?". Pandanganku jadi kabur karena mataku berkaca-kaca, sungguh konyol.
Tanpa memikirkan apa-apa aku spontan menangis semakin deras karena merasa senang hingga aku terkejut saat bosku menegurku "kamu kenapa San kok menangis, apakah beban pekerjaan begitu membuatmu susah? Sampai-sampai kamu menangis seperti itu." Dengan cepat aku malu-malu aku menjawab "ah bos… tak ada yang sulit bagiku. Dan Sandra tak merasa berat bekerja dengan bos, justru aku sangat bersyukur karena bos mau menerima aku bekerja di sini." Bosku tersenyum dan menyuruh ku segera bersiap-siap untuk kembali bekerja lagi.
Sebelum beranjak pulang tak lupa aku membalas pesan itu. "maaf tadi aku sangat sibuk karena banyak pelanggan yang datang ke kafe tempatku bekerja, iya ini Ayu, kamu beneran Will yang gambarnya ada di majalah remaja itu?" balasku dengan sedikit ragu, setengah jam kemudian saat aku sampai di rumah tak lupa aku memeriksa HP ku untuk memastikan ada balasan dari orang yang bernama Will. Harapan ku tak sia-sia satu pesan ku terima dari Will. "Iya gak apa-apa, kapan kita bisa ketemu?" aku sangat senang Will mengajak ku untuk bertemu. Tanpa berfikir lagi aku langsung membalas "bagaimana kalau besok malam sepulang aku kerja". Will langsung membalas "Ok aku tunggu kamu besok, jam berapa kamu selesai bekerja dan dimana tempat kerjamu." Aku pun langsung membalasnya "aku selesai pukul 22.00 aku bekerja di kafe lencana muda" dan aku sangat senang aku tak sabar ingin bertemu dan memastikan itu benar-benar Mahendra William atau bukan.
Waktu yang ku tunggu sudah tiba, pukul 22.00 aku sudah selesai bekerja, aku bersiap-siap untuk pulang dan tanpa menunggu lama HP ku berdering ada panggilan dari Will. Ternyata Will tak susah mengenaliku dan menemukan tempat kerjaku karena saat itu hanya aku yang tersisa dan yang lainnya adalah rekan kerja priaku. Will ternyata dia sudah berdiri tepat diambang pintu dan menatapku. Aku yang melihat seseorang berdiri dan memanggil namaku menjadi sebuah kejutan……. Aku benar-benar melayang melihat sosok tampan tinggi berparas sempurna, itu memang benar-benar William, William yang selalu ku tunggu-tunggu dan selalu ku mimpikan disetiap tidurku.
Bersambung...