Senyum yang dulu
Oleh Stefanie
"Wulan..."
"Ya?"
"Udah lama nunggu disini?"
"Engga, baru sebentar,"
"Maaf ya. Di jalan macet tadi." Ujar nya duduk di kursi taman tempat aku menunggu nya.
Lagi lagi Artha berbohong pada ku lagi. Dia bilang di perjalanan macet, padahal tidak.
Aku tahu, dia punya selingkuhan di belakang ku. Tapi dia merahasiakan nya di belakang ku. Aku tahu, tahu semua nya. Tapi aku tak berani berkata.
"Iya, tidak apa apa," ucap ku, dengan senyuman.
"Ayo pergi!" Dia segera bangkit dari kursi taman. Lalu pergi menghampiri motor trill nya.
"Ayo...." Aku segera naik ke motor nya. Hati ku terasa perih, saat ia berbohong dengan begitu mudah nya pada ku. Dia berdusta, sebegitu mudah nya?
Dia sangka aku percaya dengan omongan nya begitu? Jangan harap.
Aku sudah terbiasa seperti ini. Diduakan dan dibohongi.
Itu sakit,sakit sekali, sungguh. Itu rasa yang selalu ada di benak ku, saat aku bertemu dengan nya.
Kami baru berpacaran 7 bulan yang lalu, dan hampir 4 bulan aku tahu dia berhubungan dengan wanita lain, atau mungkin bisa lebih.
"Kau tidak apa apa? Kenapa kau melamun?" Artha yang sedang menyalakan motor bertanya kepada ku yang sedang berhenti memakai helm.
"Ti-tidak apa-apa." Jawab ku singkat lalu memasang helm kembali yang sekarang ada di kepala ku.
Ya, begini kalau aku berada di dekat Artha, memang menyenangkan, tapi ini sakit asal kalian tahu.
Berpura pura tidak tahu tentang hubungan nya dengan wanita lain.
Ya, ini salah ku juga, aku yang memaksakan dia memacari ku.
Aku tidak tahu nanti nya akan jadi seperti ini. Artha adalah orang yang aku kagum kagumi dari dulu saat aku ada di bangku SD.
Nekat, 7 bulan yang lalu, aku mengutarakan perasaan yang selama ini kupendam kepada nya, dan bodoh mya lagi aku malah bertanya kepadanya, apa dia mau berpacaran dengan ku. Itu aneh, sangat aneh. Tapi aneh nya lagi, Artha malah menjawab ya. Dan dari situlah kami berpacaran.
"Mau kemana?" Ucap nya, dengan suara sedikit tertimbun karena tertutup helm.
"Ketempat biasa aja."
"Pasar malam?"
"Iya." Aku segera naik ke motornya. Artha di depan dan aku di belakang nya. Kami berboncengan.
Udara sore hari mulai kurasakan saat Artha menjalankan motornya.
Matahari ingin menenggelamkan diri nya. Namun aku dan Artha malah keluar hahaha.
Tidak apa juga. Karena ini hari sabtu, malam minggu, harus nya kami bersenang senang, 'kan?
Artha segera berbelok ke kanan, memasang sen, dan segera berbelok.
Aku menatap punggung Artha yang berbalut hoodie abu abu.
Tatapan ku berubah menjadi sendu.Mau sampai kapan kau menutupi ini semua dari ku, Artha? Aku lelah sungguh.
"Ayoo,"
Tanpa kusadari, Suara Artha menginterupsi, ternyata kami sudah ada di pasar malam.
Ada beraneka macam pedagang yang ada di sana.
Macam macam makanan bisa di beli di sana.
Ini belum malam, tetapi sudah ramai oleh banyak pengunjung. Ada permainan.
"Artha?! Kok kamu ada disini?!" Wanita dengan tubuh semampai dan memakai gaun hitam putih menghampiri kami.
"Dan ini siapa, Artha!"
"Di-dia teman ku, Sayang." Hati ku terenyuh seketika, Sayang? Ini selingkuhan nya? Ah salah, ini pacar nya?
"Nggak usah bohong deh kamu!"
Plak
"Jadi ini! Karena dia kita ga jadi kencan?!" Perempuan di depan ku menunjuk nunjuk ku sinis.
Rasa nyeri mulai merambat ke pipi ku. Dada ku sesak seketika.
Air mata ku berlomba lomba untuk keluar. Tamparan nya sakit, tapi jelas hati ku lebih sakit.
Aku menunduk. Meredam rasa sakit yang menghujam dadaku bersahutan.
Baru tadi, aku berbahagia, sekarang sudah di sakiti seperti ini. Aku ingin marah, tapi aku tak tahu.
Harus marah dengan siapa.
Melampiaskan ini ke siapa.
Orang orang memperhatikan kami dengan pandangan bingung.
"Ar... Arthha hikss..."
Aku mengangkat kepala ku, menatap mata hitam pekat milik Artha.
"Wu-wulan, jangan menangis..."
Tak
Aku menepis tangan Artha yang tadi nya berniat untuk mengelap air mata ku yang jatuh.
"Benar? Kamu selingkuh?"
"A-aku bisa jelaskan, Wulan."
Air mata ku luruh seketika. Menggeleng tak percaya, dengan apa yang ia ucapkan, aku langsung melangkah pergi sebelum Artha sempat menghampiri ku.
"Wulan!"
Aku mengusap air mata kasar, terus berjalan cepat mengabaikan suara Artha yang masih menggema di belakang ku.
"Wulan dengarkan aku!" Artha berhasil mencekal tangan ku, sampai aku berbalik menatap nya.
Darahku naik, dan emosi melingkupi kuku sampai tangan ku mendadak terayun, menampar keras pipi nya.
Aku mematung sesaat, namun satu detik kemudian aku rasa dia pantas mendapat kan itu.
Hati ku terbakar, mendengar jawaban nya, bahwa itu benar.
"Wulan! Dengarkan aku!" Lagi lagi, Artha sukses mencekal tangan ku saat aku baru saja ingin menjauh.
"Kumohon dengar kan aku!"
"APA YANG PERLU AKU DENGAR DARI MU HAH!"
"Maaf..." Dia berkata lirih, sangat lirih dengan pandangan menunduk.
Dengan keberanian, sekali lagi, aku ayunkan tangan ku ke pipi nya.
PLAKK
Suara tamparan itu menggema sampai ke gendang telinga ku. Dari suara nya, ini lebih kencang. Sudut bibir nya mengeluarkan darah segar.
Sempat khawatir, tapi rasa itu tertutup oleh emosi yang mendidih.
"Wulan."
Artha melangkah. Ingin memegang tangan ku. Tanpa perasaan, aku langsung menepis nya kasar. Kesabaran ku sudah lewat ambang batas.
"KITA PUTUS!"
"Tidak! Kita bisa bicarakan ini baik baik!"
Dia menggeleng, sama sekaki tidak mengijinkan ku untuk membuat hubungan ini remuk.
Tapi, apa itu? Satu perempuan untuk satu laki laki! Dan dia? Apa?
Aku menatap lurus, dengan yakin. Lalu berucap, "Kau itu pasti bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari ku, Artha. Kau pasti bisa hidup tanpa ku. Aku ingin bebas, Artha! Aku ingin bebas! Kau mencintai dua orang sekaligus?!" Aku beralih menatap nya dengan sinis.
"Brengsek!" Tamparan ketiga meluncur mulus di pipi Artha. Darah ku mendidih. Sampai sampai aku berani berbuat seperti itu pada nya.
"Kau! Brengsek!" Pekik ku sementara dia tetap diam sambil memegangi pipi kiri nya yang kesakitan.
Aku membendung air mata yang ingin keluar. Buru buru aku pergi dari situ. Meninggal tempat sejuta kenangan bersama nya.
Aku sudah muak dengan kelakuan nya.
Akhirnya aku berani mengatakan itu dengan baik.
Berani mengambil resiko, serta tindakan.
Senyum, aku berjanji, untuk ke depan, agar tidak sama dengan yang sekarang.
Aku akan tersenyum ikhlas, karena beban ku terlepas.
Tidak ada lagi senyum palsu. Tidak ada lagi senyum agar memastikan baik baik saja.
Tidak ada senyum yang di buat buat. Ini mungkin sudah jalan nya, dengan seperti ini, semua akan lebih mudah. Kau dengan dunia mu.
Dan aku dengan dunia ku. Tak ada lagi apa apa diantara kita.