"Sister Complex!" tuduhnya.
Aku mencintai adik angkatku! Dia wanita dan kami tidak terikat darah!
Kenapa aku harus berpisah dengannya?
***
ULTIMATUM (revisi again)
#2247 kata
#CintadanObsesi
Ayam-ayam tertatih kembali ke kandangnya. Burung-burung beterbangan menuju sarangnya. Sandyakala berganti pemandangan malam. Nyanyian jangkrik meringkik dalam sunyinya. Bintang-bintang mulai bermunculan menerangi langit Curug, desa kecil di pedalaman nusantara.
"Sister Complex!" teriak Edrick memecahkan keheningan malam di desa Curug. Orang-orang berdiam diri dalam rumah. Enggan ikut campur dengan urusan mereka.
"Katakan! Katakan apa yang bisa Abi lakukan untuk menghilangkan candu Abang!" bentaknya lagi. Mata biru menyalak terang. Ingin sekali menghajar pemuda di depannya, tetapi tertahan akan isakan istrinya.
Edrick, seorang kepala keluarga biasa. Pindah ke Curug sepuluh tahun yang lalu, membawa anak dan istri yang luar biasa menawan. Paras mereka berbeda dengan orang desa umumnya, hidung mancung yang dominan, alis hitam, bibir marun dan tubuh tinggi.
Edrick hidup berbaur dengan baik. Bekerja bersama Sang Istri membuka kafe di pusat kota. Perjalanan yang mereka tempuh cukup memakan waktu, enam jam pulang pergi. Sesekali menginap disana. Bekerja keras setiap hari hanya untuk menyenangkan istrinya, Elena. Padahal, Edrick merasa itu tidak perlu. Dia masih punya tabungan bahkan untuk kedua anaknya hidup sampai tua nanti. Namun, Edrick hanya mendapat cubitan disertai jelitan mata cokelat Elena.
"Abang mau Anna, Abi. Restui, Abang ingin menjaga dan mencintai Anna!" Mata zamrud itu menggenang, bersiap mengeluarkan air mata. "Sungguh, Allah tahu ... sudah lama, Bi ... Abang tidak tahu harus bagaimana lagi!" Tangisan pemuda itu terdengar pilu. Ia benar-benar tidak tahu apa yang salah pada hatinya. Ia menyayangi Sang Adik, tetapi sadar akhir-akhir ini rasa itu lebih kearah ingin memiliki.
"Abang tega! Berani-berfikir-seperti-itu!" Teriakan Elena bergema di seluruh ruangan, masih belum menerima kenyataan anak lelaki yang mereka angkat, bertingkah diluar akal sehat. Jika saja mereka terlambat pulang ... Elena menggeleng-gelengkan kepala mengusir prasangka buruk dalam benaknya.
"Sadar, Bang! Anna itu saudara perempuan Abang! Meskipun, bukan adik kandung tetapi Abi dan Ummi membesarkan kalian sebagai saudara! Tidak bisakah-tidak bisakah Abang pikirkan kebersamaan tujuh belas tahun ini?!" Edrick bergetar menahan amarah. Sungguh, jangan sampai ia mencelakai ... jika saja, saat itu Elena tidak bersikeras mengambil anak lelaki di panti asuhan. Jika saja kecelakaan tidak menghilangkan buah hati kedua mereka.
"Edrick, aku ingin anak laki-laki," ungkap Elena seusai operasi pengangkatan bayi pertamanya 17 tahun lalu. Maka, sore itu Ricky yang masih berusia empat tahun dibawa pulang, sebagai penghibur hati Sang Istri.
Racun yang tertelan membuat Elena kehilangan bayi lelaki berusia tujuh bulan dalam kandungannya bahkan hampir merusak aset Elena sebagai seorang perempuan. Kolega biadab yang mengkhianatinya, Edrick tidak pernah melupakan kejadian itu sekalipun.
"Abang sudah mencoba berulang kali. Tidak bisa, Bi. Restuilah! Abang bisa menjaga Anna. Abang akan menikah dengan Anna," mohon Ricky.
Edrick menghela nafas kasar. Memijit keningnya. Kesabaran Edrick sedang diuji. "Berhenti mengucapkan kalimat itu, Ricky!"
"Ta-tapi ...."
Plaakk! Bekas tangan Elena memerah di wajah putih Sang Kakak yang telah ia besarkan. Elena tidak habis pikir tentang perasaan Ricky. Terpaut empat belas tahun, Elena tidak menyangka jika Ricky benar-benar tidak bisa menjadi kakak bagi anak perempuannya. Perlakuan-perlakuan ambigu itu masih melintas dalam benak Elena.
"TETAP TIDAK, kecuali-kami-mati! Mintalah restu pada aku yang sudah mati!" Semua orang menatap ke asal suara. Edrick tidak main-main dengan kata-kata yang baru terucap, ia tidak memiliki asumsi dengan mati cepat. Kesehatannya baik, musuh sudah tersingkir sepenuhnya, gaya hidup sehat setiap hari. Apa yang akan mengambil nyawanya? Sekali lagi, masih berlagak sombong. Tidak pernah belajar tentang kematian.
"Maaf ... Abi, Ummi. Ricky salah! Ricky akan membawa semua kebaikan dari keluarga ini untuk selamanya. Terima kasih. Ricky pamit!" Lelaki itu berjalan menjauh, ucapan Sang Ayah terus berdenging.
Ricky telah bertekad akan menagih kata yang telah terucap. 21 tahun, dengan pendidikan yang telah ditempuh dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Tidak ada yang menolak jenius ini, bukan? S2-nya masih berjalan, tetapi ia sudah memutuskan. Ricky benci dijauhkan cintanya! Ia merasa salah. Namun, suka. Sepuluh tahun lagi Ricky janji akan kembali, menagih janji untuk menjemput kekasih.
***
Mega merah perlahan terkuak seiiring senja yang berlalu. Alam berkicau, bergemericik bersahutan. Angin pagi menyejukkan jiwa. Waktu terus bergulir tanpa diminta. Semua di pagi hari terasa sangat indah. Anna bergumam dalam hati. Setiap pagi, ia berusaha tidak melewatkan nutrisi jiwanya yaitu shalat subuh. Mata biru mewariskan mata Abi itu menelisik ayat-ayat Al-Qur'an dihadapannya.
"Anna?" panggil Elena yang berdiri di samping pintu.
Ummi datang, bibir indahnya menyentuh kening lebar Anna. Kulit tangan lembut, membelai kepala. Lalu, merengkuh wajah kecil Anna. Suara selembut beledu milik Ummi berkata. "Barakallah fi umri', Sayang. Semoga usia Anna berkah, diselamatkan dunia akhirat dari dosa, dituntun ke jalan lurus-Nya. Semoga kelak Allah pertemukan dengan pasangan yang mampu menolong Anna beribadah sebaik-baiknya. Pasangan yang membantu Anna meraih derajat tinggi di akhirat. Jodoh baik nan lembut yang akan selalu menjaga di setiap keadaan, seperti Ummi dan Abi yang telah menjaga amanah dari Allah yang terindah ini."
Senyum Anna mengembang cantik, secantik mentari yang mengintip di balik awan putih. Membalas senyum di wajah Elena. Anna berbincang ria bersama Ummi-nya sebelum bersiap-siap untuk sekolah.
Empat puluh menit kemudian, Anna telah berada di depan meja makan. Anna sangat menikmati sarapan pagi ini.
Matahari sedang berjalan menuju petala langit ketika sarapan selesai. Anna membereskan piring. Lalu, merapikan baju, mengambil tas dan melangkah ke ruang tamu. Namun, terhenti saat ....
"Happy birthday to you, happy birthday to you ... happy birthday, happy birthday, happy birthday, Annaaa ...."
Anna merona, tersenyum haru. Keluarganya sedang memegang balon dan kue ulang tahun tanpa lilin, yang tidak terlalu besar. Mereka tidak mengerti hal lain, hanya ingin membuat suasana hari ini meriah saja.
Detik-detik yang sangat berarti. Anna mengucapkan keinginan, memotong kuenya. Lalu, menyuapkan sepotong kecil kepada orang-orang yang sangat Anna sayangi itu.
***
"Kak, ayo bareng," ajak Abi.
"Yang bener?" sahut Anna melongo.
"Iya, Anna. Ayo bareng!" ujar ketiga adik kembar serentak. Adik kembar entah anak kandung siapa. Terlantar di dalam keranjang baju di pinggir desa mereka delapan tahun lalu. Edrick memutuskan pindah ke kota setahun kemudian. Meninggalkan hidup sederhananya di desa.
"Ta-tapi, nanti telat semua," gumam Anna kecil.
Sontak saja, cicitan kecil Anna mengundang tawa semuanya. Anna membelalakkan mata birunya yang sudah besar. "Kenapa?"
"Kakak lupa? Kita 'kan sudah telat." Senyum Edrick terukir, sungguh heran anak gadisnya sangat pelupa.
Hal yang tidak biasa ini, membuat mereka tersenyum sepanjang perjalanan. Bercanda bersama dan tertawa bersama.
"Anna, mau kado apa?" tanya Si Bungsu. Paling kecil diantara kembar, Fitrah.
"Mbak Anna tidak minta apa-apa." Anna menyubit pipi Fitrah yang cubby. Raut muka yang dicubit membuat mereka tertawa bersama.
"Anna, bahagia'kah?" tanya kembar berwajah kecil, Faqih.
"Tentu saja Anna bahagia. Apalagi jika terus bersama kalian. Anna sangat bersyukur Allah memberi Anna keluarga ini. Faqih pasti bahagia juga 'kan, seperti Anna?"
"Faqih sangat-sangat bahagia, Anna. Apalagi, nanti sama-sama bisa berkumpul kembali dalam jannah-Nya, hehe ..." jawab Faqih terkekeh. Kembar tiga itu tidak mirip sama sekali, tetapi sifat dan sikap mereka saling menyerupai. Seusia ini mereka telah hafal juz 29 dan 30.
"Masya Allah," celetuk Edrick seraya menyetir.
"Anak-anak kita, 'kan Abi?" Senyum bangga Elena terukir di wajahnya, berseri-seri. Kemudian, yang lain tertawa kembali.
Tidak lama kemudian ....
Dooor! Jalanan bergema dengan suara letusan senapan, berkekuatan tinggi.
" Umiii ... Abiii!" pekik Anna dan kembar bersamaan. Secara naluriah, mereka merunduk kecuali Edrick. Rasa takut mengiris jantung, dia menginjak rem kuat.
"Astagfirullah ... astagfirullah!" Edrick mengucap berulang-ulang.
Anna memeluk pinggang Abi. Elena merangkul ketiga kembar di kursi belakang.
"Abii kenapa? Be-begini ... Abii," tanya Anna tergugu. Mereka merasakan kendaraan berputar, ban selip, sabuk pengaman mengekang dan tidak bisa berkutik. Edrick berusaha mengontrol laju mobil. Namun, mobil berputar semakin cepat, tergelincir hingga ke tepi jalan, jurang terbuka lebar disana.
Masih dengan panik, Anna mengambil ponselnya. Namun, benda itu jatuh dari tangan ketika mobil membentur dan menerobos sisi trotoar. Meluncur, tiba-tiba saja sudah di dalam jurang. Logam-logam mobil berderak, kaca dan udara menusuk masuk ke dalam mobil.
"ABI!!!" teriak mereka serentak, ketika kantong udara membentur tubuh Abi.
Fahri melepas pecahan kaca yang tersisa di jendela mobil. Anak delapan tahun itu tangannya berlumur darah seketika. Kaca berdarah, Fahri gunakan untuk memotong tali sabuk pengamannya.
"Anna, Fahri sayang Anna. Kita-semua-saling-menyayangi, tetapi harus ada yang selamat. Anna, cari bantuan dan tolong urus jenazah kami nantinya! Ji-jika sudah menjadi jenazah-Anna yang baik-baik ya," lirih Fahri bersamaan air mata yang terus jatuh. Air mata dari mata lebam, raut muka adiknya yang panik. Namun, suara Fahri yang membujuk Anna membuat Anna menggeleng-gelengkan kepala cepat.
"Ti-tidak-tidak-tidak boleh, Fahri ..." sangkal Anna. Pecahan kaca masih bergerak cepat. Tangan mungil Fahri yang menggenggam erat kaca, membuka kulit menjadi luka lebar. Hana memberontak, menyingkirkan tangan adiknya. Kenapa? Kenapa ingin menyelamatkannya! Biarkan dia bersama mereka.
"Lepaskan, Fahri! I beg you!" mohon Anna.
Braaak!
Suara logam berderit. Pecahan kaca dan batu tajam kembali menerobos masuk. "Umii-miii ... Faqih ... Fitrah ... Abii-abii ..." jerit Anna ketika melihat darah hangat mengalir dari kepala Ummi dan memandang mereka yang tidak sadarkan diri lagi.
"Aaaaaargh! Ti-tidak! Fahri!" Tiba-tiba, Fahri mendorong Anna keluar dari pintu mobil.
"Tidak! Jangan Fahri!" Mobil itu tergeser, menyeruak melalui semak-semak seolah meluncur, lalu mulai berguling. "FA-FAHRIIII! TIIIDAAAKKK!"
"Aaaarghhh ... Ti-tidaakk! Tidaaakkk!"
"Tidaaakk!"
"Jangan-jangan-jangan-pergi ... Huuuhuu."
"Astagfirullah! Astagfirullah! Al-allahu akbaaarr ..." Anna mengucap ketika melihat mobil itu menuruni lereng hingga ringsek. Sesak. Jantungnya seperti diiris sembilu. Anna hampir tidak bisa bernafas. Paru-parunya terasa sesak, sangat sesak dan rasa sakitnya. Ya Allah, rasa sakit itu. Anna menggigil, belum selesai keterpakuannya. Anna terkejut, dinginnya pistol menempel di pelipis kiri.
Anna segugukan, terdiam. Kemudian, menoleh. Hujan deras dan air mata mengaburkan pandangan. Seorang tinggi besar memakai penutup wajah hitam. Lelaki bertopi tidak tampak wajahnya, mengarahkan pistol ke arah Anna.
***
"Tidak!" sentak Hana. Terbangun dengan mimpi buruk lagi. Anna menghapus air matanya. Mimpi yang sama setiap malam, selama satu tahun ini selalu menghantui.
Anna menopang tubuhnya bangun. Kemudian, menengadahkan kedua tangan. Berdoa kepada Sang Pencipta Siang dan Malam, doa bangun tidur, doa dijauhkan marabahaya.
Sedari kecil, Anna sudah terbiasa menglafadzkan doa itu. Umminya tidak akan suka jika tahu Anna melewatkan doa-doa yang dianggap sepele oleh sebagian orang.
Ummi ... Anna tersenyum sendu mengingat Ummi.
***
"Selamat pagi, Bibiku tersayang," sapa Anna manja pada bibinya.
"Selamat pagi, Bidadari." Lusi tersenyum lembut dan mengelus hijab peach Anna.
"No, Bibi! Jangan-panggil-aku-bidadari!"
"Kenawhy?"
"Nanti sayap indah keluar menyeruak dari tubuhku, Bibi. Kemudian, kembali ke Kahyangan bersama kawanan, hehe." Anna menggaruk-garuk hijabnya.
"Haha ... kau imut sekali, Sayang."
Anna tersenyum usil. "Bibi seperti baru tahu saja. Paman kemana, Bi?"
"Sudah berangkat. Pamanmu bilang, hari ini rektor meminta semua dosen datang lebih awal. Akan ada rapat penting. Ini, makanlah cepat! Nanti kamu telat."
"Omelet? Astaga, Bibi! Bibi sangaaat mengerti kesukaan Anna. Ana uhibbuka fillah ma aunth, muaacch." Anna mengecup pipi bibinya dengan bibir yang berlepotan minyak.
Lusi hanya tersenyum. Lalu, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Anna. Anna selalu ceria, semenjak kepergian Edrick dan Elena. Kedua adiknya yang sangat ia rindukan.
Lusi dan Rahmat meminta Anna tinggal bersama mereka. Mereka belum dikaruniai anak selama dua belas tahun pernikahan. Kehadiran Anna membawa kebahagiaan tersendiri di rumah sederhana mereka.
Anna membereskan piring bekas sarapannya. Kemudian, pamit. Ia berencana memasukkan berkas-berkas yang diminta kampus yang mengundangnya. Nilai-nilai yang sudah di input sekolah, membuat beberapa universitas tertarik untuk mengundangnya. Sedangkan dia tinggal mengkonfirmasi persetujuan untuk berkuliah di tempat yang tidak terlalu jauh dengan kediamannya. Diterima tanpa tes, dan mendapatkan beasiswa penuh selama empat tahun pendidikan Strata-1. Siapa yang tidak mau? Anna membenak.
Mengendarai kuda beroda dua. Anna tiba di tempat tujuan lebih cepat dari yang ia bayangkan. Tertulis di gerbang besar dengan tinggi lima meter. Pos keamanan di sisi kiri dan slogan selamat datang di sebelah kanan.
Universitas Islam Negeri Andalusia (UINA).
"Kampus Impian! Sambut kedatanganku, rasakan langkahku dan nikmati perjuangan penuh doa dan semangat yang selalu menyertaiku!" jerit Anna seraya mengacungkan tinggi-tinggi kepalan tangannya. "Bismillah, aku pasti bisa!"
"Insya Allah, semangat!" Anna tersenyum semringah.
Tanpa Anna sadari bahwa mata semua orang tertuju padanya. Terutama di sudut ruang lantai tiga yang berkaca gelap, seorang lelaki mengernyit geli melihat kelakuan Anna. Ia mengenalnya? Tentu. Lelaki itu masih ingat. Anna terseok-seok menangis dan berlari ke arahnya dengan tubuh polos yang basah akibat hujan. Wajah pucat, pakaian kumal dan tubuh menggigil.
"Pak! Tolong! Tolong aku! A-ada-se-seseorang yang berusaha membunuhku! Tolong!" mohon Anna dengan kedua tangan menangkup di depan dada. Meminta dengan sangat.
Anna tidak mengingat siapa dirinya sama sekali? Wajar, karena saat itu usia Anna masih sekitar tujuh tahun? Usia mereka yang terpaut jauh. Ia baru kembali satu bulan ini, sendirian menatap ke arah langit. Menikmati rintikan hujan membasuh muka dan tubuh. Rencananya berjalan lancar. Kemudian, ia melihat Anna ragu-ragu menghampiri. "Dia akan memintamu," gumam lelaki tinggi berwajah tampan itu.
Anna terduduk. Ia lelah? Mungkin, sangat-lelah! Ricky yang masih berdiri menelisik penampilan Anna memegang kedua lututnya, menangis terisak. "Adik kecilku sudah dewasa." Senyum mengukir wajah dingin Ricky.
"Pak, aku mohon! Aku tidak mengada-ngada. Bapak bisa melihat sendiri! A-abi-Ummi-adik-adikku masih berada di jurang sana! Entah masih hidup atau tidak!" teriak Anna.
"Aku tidak setua itu untuk kau panggil bapak!" Ricky membolehkan kepalanya. Ketiga kembar yang tidak bersalah ikut terbunuh, ia menyayangkannya. Sepulang dari sini, ia berjanji akan memberi pelajaran pada bawahan yang tidak becus itu.
Ricky melanjutkan langkah. Berjalan menuju mobil dengan ringan. Mengambil mantel dan payung untuk Anna kenakan. "Tunjukkan tempatnya!" perintah Ricky seraya mengulurkan mantel dan memayungi tubuh basah Anna dari hujan.
"I-iya, terima-kasih-Kak." Anna bengong, tapi cepat tersadar. Kemudian, berlari menunjukkan jurang yang menjadi saksi bisu kecelakaan tragis keluarganya. Kecelakaan disengaja oleh suruhan bayaran Ricky.
Ricky berjalan di belakang menyusul Anna, memakai mantel untuk dirinya sendiri dan menghubungi kantor polisi terdekat menggunakan handphonenya. Polisi setempat tidak akan bisa menyelidiki kasus ini.
"Dengan polisi daerah xxx, ada yang bisa kami bantu?"
***
Setahun yang lalu, melihat wajah Anna yang semringah kembali mengingatkan akan rasa. "Memainkan peran pahlawan sangat mudah." Ricky menyeringai puas.
Seseorang mengetuk pintu dan mendekat. "Mr. Ricky, rapat akan dimulai lima belas menit lagi."
Ricky memejamkan mata sebentar, dan mengangguk kecil. Kemudian, melihat tempat Anna berdiri tadi, meski Anna sudah tidak ada disana. "Lihatlah, kau datang sendiri Anna. Restu Abi dan Umi menyertai cinta kita."
Curup, 2020.
Do Not CoPas!
Share Only 😘
Tinggalkan jejak ya 🌺💓
Note:
-I Beg You : Ungkapan permohonan/meminta dengan sangat. Diatas kata Please.
-Ana uhibbuka fillah ma aunth : Aku mencintaimu, bibiku. Ini campuran arab-inggris suka-suka aku doang wkwk Jika salah tolong diingatkan!