Kamu yakin kita pernah bertemu sebelumnya, tanya seorang lelaki sambil menunjuk ke dadanya. Pertanyaan tersebut ia tujukan kepada seorang perempuan, sesaat setelah perempuan itu mengambil sebuah kursi kemudian duduk di sebelah lelaki itu. Ini pertanyaan kali kedua, selang beberapa menit sebelumnya, lelaki itu pun mengajukan pertanyaan yang kurang lebih sama, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?
Perempuan itu memandang dengan tatapan mata yang terkesan aneh, sepertinya ia sedang memberi isyaratkan kalau pertanyaan yang ditanyakan oleh lelaki tersebut tak lebih dari sebuah pertanyaan yang tolol!
Sementara si lelaki menatap perempuan itu dengan tatapan mata yang menunggu, sampai-sampai ia terlihat sedikit mencodongkan wajahnya, agak mendekat ke muka perempuan itu. Karuan si perempuan itu terlihat kikuk.
Seorang pramusaji menginterupsi, berdiri diantara mereka, sebelah tangan si pramusaji bergerak mengangkat sebuah gelas dari sebuah nampan, sebuah gelas keramik yang berisi coklat hangat. Si pramusaji itu meletakan gelas tersebut ke sisi kanan si perempuan, sambil mengucapkan sesuatu, yang tak penting yang terkesan cuma untuk bersopan-sopan. Si perempuan menyahut dengan senyum dan kepala yang terangguk. Si pramusaji melirik ke si lelaki. Si lelaki pun balas melirik. "Sekarang waktunya," ucap si pramusaji seraya terkikik.
"Waktunya? Waktu apa!?" Si lelaki mengulang perkataan si pramusaji dengan perasaan bingung.
"Bukankah ini malam yang tepat untuk mengungkapkan perasaanmu. Lihat ke atas..." Si pramusaji menudingkan telunjuk ke langit malam. Si lelaki pun mengikuti arah gerak telunjuk tersebut. Di atas sana malam cuma diisi dengan satu gemintang yang berpendar terang, setidaknya itu terlihat dengan mata telanjang.
"Lalu?" Si lelaki masih terlihat bingung.
"Ambil dan berikan untuknya," kata si Pramusaji kesal, kemudian ia pun buru-buru berbalik badan. Si perempuan terkikik lucu. Si lelaki masih menggeleng bingung.
Dari kejauhan si pramusaji pun berteriak seraya merentangkan kedua tangannya ke udara. "Bro, ini malam Valentine jadilah pria yang romantis buatnya, setidaknya buat malam ini saja."
"Apa itu malam Valentine?" tanya si lelaki pada si perempuan. Untuk sekali lagi si perempuan itu menatap dengan bingung. Dan untuk sekali lagi si lelaki menunggu jawaban dari si perempuan.
"Ada apa denganmu?!" Kalimat tersebut terlontar keluar dari bibir si perempuan, dengan mendesis, sepertinya ia mulai terlihat agak kesal.
Si lelaki mengulang perkataan tersebut dengan mengganti 'mu' dengan 'ku'. "Ada denganku!?"
Si perempuan mengangguk sambil menyesap isi yang tersaji di dalam gelas keramik itu. Segelas coklat hangat yang ia sesap secara perlahan-lahan.
"Yang kutahu aku sedari tadi duduk santai disini kemudian datang seseorang wanita menghampiri, tidak kurang tidak lebih. Lalu selang berapa lama seorang lelaki memintaku untuk mengungkapkan perasaan. Perasaan yang aku tidak tahu itu apa!?" Kata si lelaki berucap panjang lebar dan di penghujung kalimat ia mengakhiri ucapan tersebut dengan bahasa isyarat tubuh dimana dengan sengaja kedua tangan setengah terbuka di dada sambil dada itu terangkat naik bersamaan dengan terangkatnya dada itu bibir bagian bawahnya agak ditarik ke depan.
"Kau sakit!?" Si perempuan menempelkan buku jemarinya ke kening si lelaki. Si lelaki merespon bingung, untuk kesekian kali. "Jangan bercanda! Kau baik-baik saja kok!" Si perempuan terkikik kecil sembari tangan yang tadi ia tempelkan ke kening si lelaki ia kibaskan begitu saja.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya!?" Iya, Tuhan pertanyaan tersebut terlontar kembali dan sekali ini dibumbui dengan sorot mata yang tajam dan menyelidik.
Yang ditanya menggeleng kesal. Namun, si lelaki tampaknya menafsirkan berbeda. "Kalau begitu kenapa kamu duduk di sebelahku?"
Si perempuan mendesah panjang. Si lelaki terlihat bingung. "Oke aku jujur! Kemarin aku jalan dengan Bram. Dan Bram menembakku, tapi aku menolak. Karena yang ada di hatiku cuma..." Sekonyong-sekonyong si perempuan menyerocos, setelah dengan lebih dulu ia membusungkan dadanya.
"Bram!? Menembak!? Hati!? Iya, Tuhan..." Si lelaki berucap dengan terbatah-batah sambil bangkit berdiri dengan sepasang bola mata yang ia buka lebar, sepertinya ia terkesan..
Si perempuan buru-buru bangkit berdiri sambil tangan si lelaki ia raih. "Kamu tak perlu semarah itu. Aku tidak punya perasaan lebih kepada Bram."
"Apakah aku sedang berbicara manusia?!" Sekonyong-sekonyong si lelaki berucap demikian. Jelas itu terlihat dari sorot matanya tadi yang bukan memperlihatkan kesan marah tapi sesungguhnya kesan takutlah yang terbaca.
"Maksud mu apa!?" Si perempuan mendengus kesal. Si lelaki melirik ke tangan yang menggenggam pergelangan tangannya. Kemudian tatapan mata itu beralih ke bawah, lebih tepatnya ke kaki si perempuan, sepertinya ia ingin memastikan kalau kedua kaki jenjang tersebut benar-benar menjejak ke tanah. Si lelaki mengangguk lega.
"Kamu ingin beri aku kejutan apa sih?" Si perempuan menatap dengan tatapan mata yang menyelidik. Tampak berpikir, selang kemudian si lelaki mengulang perkataan tersebut.
Si perempuan ikutan mengulang seraya kepalanya terangguk-angguk bersama sorot mata yang antara berbinar senang antara penasaran dan bercampur rasa sedikit agak kesal.
"Kenapa harus ada kejutan dan kenapa aku harus memberi kejutan?" Si lelaki mengajukan pertanyaan tersebut.
"Karena malam ini adalah malam Valentine. Dimana pada malam ini seseorang akan memberikan sesuatu kepada seseorang yang lain. Yang mana pemberian tersebut ia berikan dengan dilandasi oleh perasaan..." Si perempuan menghentikan omongannya, ia tampaknya sungkan untuk meneruskan omongannya. Tapi gestur wajah dan sorot mata si lelaki terkesan sedang menunggu lanjutan kalimat tersebut. "Apakah ada seseorang yang lain yang telah mengisi hati itu?" Si perempuan berucap lirih.
"Tentu saja ada," Si lelaki berucap sekenanya. Si perempuan kaget, bahunya tertarik ke belakang, tangan yang menggenggam pergelangan tangan itu terlepas. Si lelaki tersenyum semadyanya. Si perempuan perlahan membalikkan badan, sepertinya ia hendak...
"Tapi aku tak tahu dia siapa?" Ucap si lelaki itu kemudian. Lagi-lagi kesan yang terbaca dari mimik mukanya adalah kesan bingung. " Aku menemukan secarik kertas di atas meja kerjaku. Secarik kertas yang bertuliskan pesan, memintaku untuk datang ke tempat ini. Katanya, ia yang telah lama menaruh hati padaku akan mengutarakan isi hatinya kepadaku." Si lelaki melanjutkan omongan. "Dan aku pun sesungguhnya telah lama menaruh hati kepadanya tapi..."
"Tapi..." Si perempuan terlihat menunggu dengan perasaan hati yang sungguh sangat berdebar-debar. Karena sesungguhnya si perempuan itu lah yang telah menuliskan pesan di secarik kertas tersebut. Kemarin sore, yang ia letakkan di atas meja kerja si lelaki, sebelum ia balik ke rumah.
"Tetapi setiap kali aku menyebutnya, baik itu terlontar maupun cuma terucap di dalam hati saja, maka setiap kali itu pula sesuatu kekuatan yang datang dan berasal entah dari mana sekonyong-sekonyong akan menghisap seluruh kemampuan daya ingatanku. Namanya jadi seolah terlarang untuk kuucapkan. Nama itu tak ubahnya seperti kutukan buatku. Tapi nama itu... Aku sungguh mencintai si pemilik nama itu. Suatu hari aku ingin sekali mengatakan padanya, kalau aku..." Si Lelaki menjeda omongannya, kemudian ia menatap si perempuan tersebut dengan tatapan mata yang terkesan sendu. Kini giliran si perempuan yang menunggu lanjutan dari kalimat tersebut.
"Kalau aku... Ah, sudahlah lupakan toh kamu bukan siapa-siapaku!" Si lelaki sekonyong-sekonyong mengibaskan tangan, berbalik badan, sepertinya ia hendak berlalu dari hadapan si perempuan. Dan benar saja ia benar-benar melangkah, dua langkah, kemudian berhenti, berbalik, lalu berkata. "Tapi, kenapa aku bisa mengingat kalau ia memintaku untuk datang ke tempat ini ya," Si lelaki terkesan bingung. Si perempuan diam tertegun. Si lelaki tersenyum tersipu. "Tidak penting!" Sekali lagi tangan ia kibaskan begitu saja. "Nona, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Itu pertanyaan terakhir sebelum mereka benar-benar berpisah. Dan si perempuan diam tak menyahut. Tapi di dalam hati si perempuan tersimpan kecamuk perasaan tentang sesuatu di masa silam.
"Setiap lelaki yang mencintaimu akan melupakanmu! Itu adalah harga yang harus bapak bayar agar bapak bisa menyelamatkan kehidupan keluarga kita!"