Sebelum ituu, ini isinya sangat penuh keju.
━✿✿
━✿✿
"Gimana? Gak apa apa?" Tanya Riel lembut pada Mora yang tertunduk menatap bekas tangannya. Riel awalnya marah, tapi marah dia benar benar tidak berlangsung lama. Rasa sayang pada Mora lebih menguasai, apa lagi saat melihat wajah itu sedih.
Mora menggeleng pelan, matanya masih sedikit merah dan sembab akibat Riel juga. Bukan sepenuhnya salah Riel, hanya seperempat. Riel di samping Mora menghela napas lega. "Maaf ... Riel gak mau Mora kenapa napa."
Tangan Mora menggenggam pelan, karna pergerakannya membuat Riel menatap mata indah Mora. Tertampang senyum manis dari gadis itu, padahal ya Mora sendiri sedang terluka dengan darah yang keluar dari kulitnya pelan. "Eum ... Itu harus di obatin, Mora." Ucap Riel sedikit pelan.
Karna ucapan Riel itu mata Mora jadi menatap lengannya. "Ah, iya juga."
"Tunggu ya, Riel ambil kotak obat dulu. Mora tunggu di sini."
Kalian tau? Mora gemas dengan sikap satu pemuda turunan Surabaya. Siapa lagi selain Riel yang covernya manly dalamnya sangat berbeda. Karna itu juga Mora luluh luar dalam.
Pasal kenapa tangannya terluka. Itu sebab pikiran serta keadaan yang membuat Mora cukup tertekan. Memang agak berlebihan, tapi sayang berhasil membuat keadaan mental Mora juga turun.
Tadi, ia sedikit melukai lengan dengan benda tajam. Mora cukup stress. Tekanan yang terjadi terlalu banyak, otaknya juga sedang kalut dengan berbagai masalah yang datang segerombolan. Siapapun akan merasa tertekan kalau tau sebab kenapa Mora seperti ini selain alasan di atas. Bodoh, itu benar kalau melihat yang di lakukannya. Bahkan Riel saja kesal tidak terkira sampai membentak dia. Bukan sikap Riel kalau membentak Mora bahkan mengumpatinya dengan kata 'Bodoh'. Riel itu lembut tidak terkira pada Mora. Tapi sayang kelakuan bodoh Mora membuat Riel kesal. Mora mengakui kalau kelakuannya tadi itu bodoh, ya Riel tidak begitu salah.
"Sini tangannya." Suara Riel membuyarkan lamunan Mora. Tangannya di ambil pelan oleh Riel, sampai laki laki itu meringis ngeri melihat luka Mora. Walau tidak terlalu dalam, tapi kan itu sakit sampai darahnya keluar walau sedikit.
"Kalau sakit bilang ya." Mora hanya bisa menganggukan kepala. Dia terhipnotis dengan pesona Riel yang sangat lucu, imut dan jauh dari aura terlihat tegas di luaran sana kata orang orang. Di tambah, laki laki itu menggunakan baju dengan warna pastel sekarang. Biasanya memang nyentrik, bahkan dengan warna gelap, tapi auranya itu berbeda.
"Shh.."
"Ah, maaf." Berujar sangat sangat lembut. Lihatkan? Bagaimana Mora tidak memberi hati pada orang satu ini?
"Gak papa, lanjut aja. Aku tahan."
"Bener ya? Lagian Mora ngapain sampai begini? Kan Mora juga yang kesakitan, gara gara itu Riel sakit liatnya."
"Riel ngerasa gak berguna karna Mora gak bilang apa apa sama Riel, padahal setiap hari Mora sama Riel. Mora gak seharusnya begini. Riel gak mau Mora ngelakuin hal bahaya lagi."
Mora terdiam, bahkan sampai kalimat selanjutnya masih terlontar dari mulut Riel. "Mora itu bisa berbagi keluh kesah sama Riel, Riel di sini buat jadi sandaran Mora kalau Mora capek. Riel mau jadi rumah Mora, karna Mora itu rumah Riel selain Bunda."
"Riel sayang banget sama Mora. Mora tau gak? Mau sebanyak apapun Riel bilang ini Riel gak akan pernah bosen, tapi gak tau kalau Mora sebagai pendengarnya."
"Aku emang pernah bilang bosen kalau kamu ungkap rasa sayang itu? Gak pernah, loh." Mata tajam Riel yang di tampilkan untuk orang lain, kini mata itu sangat imut dan lembut seperti kepada sang Bunda.
"Takutnya begitukan." Riel selesai mengobati luka lengan Mora. Kini sedang di bereskan semua bekasnya tadi.
"Riel, coba liat aku sebentar." Riel dengan segera menoleh pada Mora, menatap mata itu masih dengan tatapan yang sama. Banyak rasa sayang yang Mora lihat di mata Riel.
"Kenapa?"
"Asal Riel juga tau, aku gak pernah bosen terima semua rasa kasih sayang tulus yang Riel kasih ke Aku." Mora tersenyum sangat teduh, dan itu memunculkan semburat merah pada pipinya. Semakin bertambah lucu di mata Mora, sungguh.
"Peluk?" Tawaran dari Mora tentu di setujui oleh Riel.
"Hm? Sampai besok?"
"Kamu mau sampai besok?" Tawaran yang menggiurkan sekali lagi untuk Reil. Dengan polos dan semangat Riel mengangguk.
Mora mengangguk santai, "Kalau begitu, sini."
Dengan senang Riel masuk ke pelukan Mora. Menerjang tubuh yang lebih mungil sampai kepalanya tersandar di sofa. Tubuh Riel jelas lebih berat, di tambah dia menerjang dengan semangat. "Kalau sampai besok, Riel nginep di sini ya?"
Mora tertawa, dia tau Riel merindukan pelukan ini karna Mora selalu sibuk, sampai lupa waktu dan Riel. "Iya sayang,"
"Kalau gitu ayo kita ke kasur, biar Mora langsung bobo." Tangan Mora mengacak surai lembut hitam yang perlahan memanjang dan terurus dengan sehat.
"Ayo. Pelukannya di lepas dulu tapi." Walau bisa di lihat Riel tidak rela tapi dia mengikuti kata Mora. Menyusul untuk tidur di kasur sebelah kanan, agar tangan kiri Mora yang terluka tidak tertimpa antara tubuh dia dan Mora nanti.
Mata besar yang imut sama seperti pasangannya mengerjap perlahan. Menyesuaikan sedikit cahaya yang masuk ke mata saat masih tidak terlalu terbuka. "Selamat pagi, sayangnya Riel ..." Karna suara di hadapannya berhasil membuat Mora sepenuhnya membuka mata.
Sebelum menjawab dia terkekeh lembut, di sertai suara bangun tidurnya Mora berkata. "Pagi juga sayangnya Mora." Katanya seperti itu.
Kalau begini Riel malah salah tingkah sendiri, kenapa juga pacar dia lucu sekali saat bangun tidur. "Makan sarapan dulu yuk," Ucap Riel saat Mora sudah terduduk mengumpulkan nyawa pagi hari.
"Aku gosok gigi dulu." Riel mengangguk lucu, Mora bahkan mengusak surai hitam Riel dengan gemas. Ini ya yang terjadi kalau berpacaran satu sama lainnya sama sama imut dan lucu. Gemas terus di setiap waktu.
Benar saja, pipi Riel menjadi merah sampai ke kuping. Rasanya ingin berteriak kalau dia memiliki pacar se menggemaskan Mora. Sungguh, kenapa pula perempuan itu sangat lucu di matanya.
Padahal Riel begitu juga di mata Mora.
Setelah selesai dengan sarapan pagi mereka kini kedua pasangan itu sudah duduk kembali di kamar Mora. Duduk di meja rias milik si gadis lebih tepatnya. Tangan Riel sibuk mengeringkan rambut Mora dengan sesekali di sisir agar lebih rapih. Surai Mora begitu lembut untuk Riel.
"Udah, sekarang gantian Mora." Riang Riel memberi hairdryer pada Mora dan segera duduk di bangku itu. Mora tersenyum, antusias Riel seperti ini sangat jarang di perlihatkan pada banyak orang.
Juga, jarang ada yang tau kalau Riel segitu menggemaskan saat berdua saja bersama Mora. "Rambut kamu gak di warnain kaya kak Hayden?" Riel menatap Mora dari cermin.
Lalu menggeleng, Riel itu nyentrik tapi Haydenlebih nyentrik darinya. "Riel mau gini aja, warna hitam."
"Waktu itu kamu warna ungu, lucu loh Riel." Riel mengulum bibir dalam, sekarang tubuh itu berbalik menghadap langsung ke Mora di belakang tadi.
"Kalau Mora suka, Riel warnain ungu lagi deh." Mora terkekeh tangannya terus menyisir lembut rambut halus Riel. "Ini kan rambut kamu, hak kamu dong. Aku juga gak minta tuh."
Riel berdecak, menatap dengan bibir sedikit mengerucut. Ngambek sepertinya. Tangan Riel malah memeluk pinggang Mora mendekatkan perut ke wajah Riel, dengan gemas dia menggeleng geleng kan kepala. Mencari sedikit rasa nyaman bersandar di perut Mora. "Mora anter Riel ke salon, mau ganti ungu."
Mora menaruh hairdryer saat selesai mengeringkan. Sedikit menunduk menatap Riel. Lalu turun bungkuk untuk niat berjongkok sedikit mencapai rambut Riel dengan kepalanya. Di cium pelan dan menikmati wangi rambut Rei, wangi mint. "Gak kok, Riel bagus black hair."
Riel mendongak dan wajah Mora tertampang dengan dekat di hadapan. Riel tersenyum, sampai pergerakan setelahnya Riel tercengang, sangat terkejut.
"Bi-bibir, Mora?" Tanyanya perlahan kembali pada alam sadar setelah di buat melayang saat benda kenyal itu bersentuhan satu sama lain.
"Hihi, bibir kamu lucu deh, cantik juga."
"Mora ngagetin ih!" Dia kaget sampai rasanya jantung ingin loncat dari tempat atas afeksi yang Mora lakukan dengan tiba tiba, jelas tanpa aba aba sedikit pun.
Tangan Mora mengusak rambut, sepertinya kalau dekat dekat dengan Riel terutama rambut, dia sangat hobi mengusak itu dengan lembut.
Lalu berdiri dari posisinya tadi, sembari berkata "Kamu hari ini kelasnya sama kaya jam kelas ku kan?" Katanya dan di angguki Riel.
Mora sendiri segera ngambil tas yang tergantung di samping lemari baju. Melihat Riel yang juga mengambil tas di meja nakas samping kasur kamarnya. "Mora, Riel mau ajak Mora keluar kalau kelas udah selesai nanti. Bisa gak?" Jelas, apa sih yang tidak untuk Riel itu.
"Bisa kok, kita ketemu di parkiran ya?"
"Enggak mau, Riel ke kelas Mora aja nanti. Jadi Mora kabarin Riel kapan selesainya." Benar kan betapa imut laki laki satu ini. Lihat saja, setelah sampai di depan umum sikapnya akan sangat dewasa dari pada ini.
"Oke deh, Mora nurut aja sama Riel." Riel senang, tentu dengan jawaban Mora yang membuatnya puas selalu. Entah tentang apapun itu.