Secarik kertas diantara kita
Kisah cinta yang berawal dari kesalahpahaman temanku hingga menjodohkan kita berdua seakan akan aku menyukaimu.
Itu berawal setelah pertandingan volly yang dilaksanakan di sekolahmu hanya untuk pertemanan sekolah kita. Aku bukan orang yang cerewet, tapi sebaliknya. Aku diam melihat teman temanku berbicara bebas dengan yang lainnya yang bahkan mereka belum kenal sebelumnya. Saat itu aku hanya melempar tersenyum kepada setiap orang yang tersenyum melihatku.
Ketika pertandingan dimulai, kau belum terlihat dimana mana. Sampai akhirnya pertandingan segera selesau, kau baru menampakkan dirimu. Saat itu aku tidak begitu memperhatikanmu, toh aku tidak mengenalmu. Tetapi aku selalu merasa seseorang memperhatikanku, dan ketika aku melihat ke arah samping ternyata itu kamu. Saat itu terlintas sebuah nama di pikiranku "Farid". Entah darimana datangnya nama itu, tiba tiba saja terlintas ketika melihatmu. Ternyata setelah aku bertanya kepada salah satu temanku, itu memang namamu. Aku bingung, kenapa nama itu terlintas begitu saja seakan akan aku tau namamu sejak awal. Aneh!
Keesokannya, aku menceritakan hal itu kepada teman temanku. Reaksi mereka diluar ekspektasiku, bagaimana mungkin mereka menyimpulkan aku menyukaimu. Padahal kenyataannya aku baru tahu namamu, mengobrol saja belum. Hingga ketika suatu hari kamu datang ke sekolahku untuk tanding sepak bola di lapangan luas yang baru saja dibangun. Saat itu terjadi cekcok dan sandiwara yang kemudian di besar besarkan. Temanku masih heboh meneriakan namamu dan menyebutkan bahwa aku menyukaimu. Aku syok, perempuan itu memang cerewet. Kau menoleh mencari arah suara dan kau menemukan aku yang sedang mengomeli temanku itu. Kau tidak kesal atau pun membuang muka dengan sengaja, kau tersenyum seakan kau tidak keberatan menerima pernyataan temanku. Saat itu aku benar benar malu karena temanku yang salah paham tentang ceritaku.
Beberapa saat kemudian, kita berada di sekolah yang sama. Temanku masih menjodohkan kita, tapi kali ini temanmu juga ikut ikutan yang membuatku semakin malu untuk sekedar menatapmu. Tapi entah kenapa, aku yang awalnya menentang kini mulai luluh seakan perasaab itu benar adanya. Mungkin itu karena aku sering memperhatikanmu sebagaimana kita berada di sekolah yang sama. Dimana tidak sehari pun aku tidak melihatmu yang selalu terlihat bercanda dengan temanmu. Sayang, kita ditempatkan di kelas yang berbeda. Tetapi hal itu tidak membuat kita berhenti di jodohkan, hingga akhirnya kita bertukar nomor handphone. Rasanya campur aduk, malu, senang, tapi takut juga. Aku takut jatuh cinta kepada orang yang brengsek, sepertu yang ku alami sebelumnya.
Butuh waktu beberapa bulan untuk kita pdkt. Saat itu hampir setiap hari kita berbalas surat. Temanku akan mengambil suratnya darimu kemudian aku membalasnya. Surat menyurat ini terjadi karena kamu tidak punya handphone dan hanya ada nomor handphone yang dimasukkan kedalam handphone milik kakakmu. Dimana kita hanya bisa sms an pada hari jumat ketika kamu libur pesantren.
Dalam surat itu kamu selalu mencantumkan kata kata gombal yang terkadang membuatku tertawa karena umpamanya. Bahkan kau pernah menyebutku seperti bunga bangkai. Kau lucu sekali, membuat hari hariku semakin cerah. Perasaan yang awalnya tidak ada, kini perlahan tumbuh dengan sendirinya. Pernyataan cinta dari orang lain berani aku tolak karena aku berharap kita segera pacaran. Tapi kau sepertinya terlalu malu untuk menyatakan perasaanmu, hingga membutuhkan waktu yang lama untuk mengatakannya.
Akhirnya kita pacaran. Semua orang sangat mendukung hubungan kita, bahkan para guru pun tidak merasa terganggu. Setiap wali kelasmu mengajar di kelasku, dia selalu bercanda dengan membawa bawa namamu agar aku tersipu malu. Dan benar, aku tidak dapat menyembunyikan perasaanku saat itu. Setelah kita pacaran pun, kita masih bertukar surat lewat temanku. Mereka tidak keberatan mengantarkan surat dari orang yang sedang kasmaran itu. Bahkan aku tidak pernah memberikan imbalan apa apa kepada mereka. Anehnya mereka sendiri lah yang memang ingin membantu kita yang malu bertemu satu sama lain. Terkadang kita hanya bertukar surat, berpapasan, dan mencuri curi pandang. Kita tidak mempunyai keberanian untuk saling menatap, mengonrol satu sama lain. Membuat mereka yang berada di sekitar kita merasa penasaran. Hari hari berjalan lancar sepertu biasanya hingga 8 bulan lamanya.
Hubungan kita berlanjut lumayan lama, hingga bulan ke 8 kita tidak lagi bertukar surat. Sebelumnya karena buku kita menipis, kamu membeli buku khusus untuk kita menulis surat. Itu cukup membantu karena tidak perlu lagi menyobek buku pelajaran. Tapi hanya sebentar, kemudian kamu punya handphone sendiri. Kita mulai menggunakan facebook untuk mengirim pesan, tetapi masih di hari hari tertentu karena kamu berada di pesantren.
Beberapa hari berjalan lancar, sampai suatu ketika kamu tidak bisa di hubungi. Dan anehnya, aku juga tidak melihatmu di sekolah. Aku masih berpikir positif, tidak mungkin kamu main dibelakang aku. Karena aku mulai kesal, akhirnya aku curhat ke teman temanku tentang hal itu. Mereka tidak tau harus menjawab bagaimana karena mereka memang tidak tau. Hingga mereka hanya menyuruhku untuk bersabar dan terus berpikir positif. Suatu hari, aku mendapat kabar dari salah satu temanku yang membuatku kecewa. Dia mengatakan kamu chat an dengan calon murid ajaran baru. Ku pikir ya mungkin itu hanya menanyakan tentang sekolah kita. Tapi ternyata kamu tidak merespon apa apa, sampai akhirnya aku meminta hubungan kita ini berakhir pun kamu tidak meresponnya. Aku bingung harus bagaimana, secara aku tidak melihatmu selingkuh, hanya kenyataan kamu tidak pernah lagi mengirim kabar dan membalas chat ku.
Suatu hari di penerimaan murid ajaran baru, aku melihatmu berbincang dengan salah satu perempuan. Perempuan itu terus menoleh ke arahku dengan melemparkan senyum yang lebar. Seakan dia bilang "aku menang", itu membuatku sangat kesal. Aku membenci perempuan itu juga mantanku yang terus terang menunjukkan kemesraan kala itu. Ternyata benar apa yang sudah temanku katakan, kamu berselingkuh dengan perempuan itu. selamat telah menjadi pasangan baru!
Berbulan bulan aku habiskan supaya bisa move on dari kamu. Terimakasih kepada teman temanku yang selalu menghiburku ketika aku sedih, hingga akhirnya aku bisa move on meskipun agak lama. Ya pantes lama, kita tidak pernah bertengkar sepanjang menjalani hubungan itu. Makanya ketika temanku bilang kamu chat an dengan perempuan lain, aku tidak percaya. Aku pikir kamu orang yang begitu menghargai perasaanku, ternyata tidak. Aku berterimakasih atas momen bahagia yang telah kamu berikan. Aku sebenarnya tidak mau melihatmu wajahmu lagi karena itu cukup memuakkan. Setelah aku move on, aku kembali jatuh cinta kepada seseorang yang berada di kelas yang sama denganku. Meskipun aku memilih untuk diam dan tidak mengungkapkan isi hatiku karena aku tau dia tidak menyukaiku.
Ku pikir setelah itu kamu tidak akan mengangguku lagi, tapi aku salah. Kamu datang lagi ketika hubungan kalian sudah selesai. Hampir setiap hari kamu muncul di jendela melihatku yang sedang berada di kelas. Kemudian ketika aku menoleh, kamu akan tersenyum seperti tidak punya rasa bersalah sedikit pun. Tapi maaf, aku sudah sangat muak melihat wajahmu itu. Aku berharap kamu dapat menemukan orang lain, tapi ternyata tidak. Sejak itu kamu sepertu orang bingung yang pdkt dengan 2 perempuan sekaligus. Benar benar brengsek!!
Andai surat menyurat tidak terhenti karena teknologi. Karena menurutku, membaca surat lebih menyenangkan dibanding membaca chat. Meskipun chat lebih praktis bisa kapan saja, tetapi surat harus menunggu beberapa hari untuk sampai.