"Seharusnya rasa ini tak pernah hadir Tuhan…"
"Kamu berkata apa Fir?" sahutku yang tak sengaja mendengar sayup-sayup ucapan Firda. Belakangan ini dia sepertinya sering gelisah, termenung sendiri dan mendadak jadi pendiam. "Kamu kenapa Fir? Kalau ada masalah cerita dong!! Jangan dipendam sendiri."
"Gak papa Nit, aku baik-baik aja kok.." jawabnya sambil berlalu pergi meninggalkan meja kantin.
Bel tanda masuk berbunyi, aku segera menuju ruang kelas. Saat aku memasuki ruang kelas, ternyata Firda sudah duduk di mejanya, dan aku mengambil tempat untuk duduk pula di sampingnya. Firda adalah temanku sejak duduk di bangku SMP. Sekarang kami kembali satu sekolah lagi di sebuah sekolah SMK Negeri di daerah kami. Rumah kami tak begitu jauh, hanya berjarak beberapa Km saja. Ini membuat kami sudah seperti saudara sendiri.
Kami sering menginap di salah satu rumah kami ketika ada tugas, atau sekedar curhat sampai ketiduran. Firda termasuk gadis yang ceria, lincah, sedikit tomboi, tapi terkadang dia juga begitu anggun. Kalau soal cowok, dia adalah cewek yang paling cuek. Gak mudah untuk ngebuat Firda terkesan sama seorang cowok. Tapi yang kali ini nampak sangat berbeda. Dia murung tak jelas, diam tanpa sebab, tak jarang dia melamun bahkan saat pelajaran berlangsung.
"Kamu kenapa sih Fir? Aku kan temen Kamu, cerita dong kalau ada apa-apa, siapa tau aku bisa bantu Kamu."
"Nit, emangnya salah ya kalau aku suka sama cowok?" sontak aku terhenyak dan tertawa geli.
"Ya ampun Fir, jadi selama ini kamu lagi galau gara-gara cowok?" Aku tak henti–hentinya tertawa geli mendengar pertanyaan Firda.
"Dasar lo Nit, aku tanya beneran nih?" jawab Firda sinis.
"Hehe, gak gitu Fir, aku geli aja, ternyata kamu masih normal juga. Hahaha."
"Kurang ajar lo Nit"
"Emang dia siapa sih Fir? Anak sini juga?"
"udah deh gak usah bahas kemana–mana, jawab dulu pertanyaanku tadi."
"Haha, ya gaklah Fir. Emang udah kodrat kita kan sebagai manusia untuk saling mencintai, ya gak?"
"Hmm, gitu ya Nit.."
"iyalah, emangnya dia siapa sih?"
"Bukan siapa–siapa Nit" jawab Firda sambil agak tertunduk. Sepertinya kali ini dia benar–benar sedang galau karena cinta. Aku semakin penasaran saja, siapa sih cowok yang bisa bikin sahabatku ini galau gak karuan.
Sepulang sekolah, seperti biasa Firda mampir dulu di rumahku untuk mengerjakan tugas kami yang menumpuk se gunung kelud, hehe. Sesampainya di kamarku, Firda langsung duduk di depan meja riasku dan berkaca di depannya sambil berkata.
"Eh Nit, aku emangnya cuek banget ya?"
"Kenapa kamu tanya kayak gituan Fir? Bukannya Kamu emang cuek, seluruh orang bahkan semut di kolong aja tahu, Kamu itu cuek bebek."
"Ya gak apa-apa, kan biar tahu aja penilaian orang ke aku itu gimana.."
"Eh bentar deh, kamu gak lagi terpengaruh sama cinta semu gak jelas gitu kan?"
"Apaan sih Nit, semu gimana maksud Kamu?"
"Ya semu. Kamu kagum sama orang, tapi kamu gak berani bilang, kamu pendem aja rasa itu, eh lama kelamaan kamu nyerah juga dan ngakuin kalau itu cinta, iya kan?"
"Kok kamu bisa ngomong gitu sih Nit? Emang kelihatan banget ya?" aku tertawa geli dengan jawaban polos sahabatku ini. Maklumlah, saking cueknya dia, aku bisa menebak bahwa ini adalah cinta pertamanya.
"Fir, kita sahabatan udah lama banget, aku tu udah paham gelagat–gelagat kamu. Gak mungkin kamu nanya–nanya soal penampilan kalau gak lagi kasmaran, iya kan?"
"Aku gak nanya soal penampilan, weee."
"Iya emang gak, tapi belum…"
"Udahlah, mending kita ngerjain tugas tadi aja Nit, dari pada pusing sama omongan kamu, njlimet!!"
"haha, dasar tomboi!"
Mentari sudah mau istirahat, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan Firda pamit pulang karena takut nanti kemalaman di jalan.
"Aku pulang dulu ya Nit, thanks ya.. besok aku main lagi,"
"Oke Fir, sip dah. Hati–hati ya…"
"Oke Nit, Ibu Kamu mana? Aku mau pamit."
"Ibu lagi arisan di luar, ntar aku pamitin aja."
"Oke Nit, Assalammualaikum…"
"Waalaikumsallam.. take care Fir.."
"Yoi.."
Sepulangnya Firda, aku masih saja bergumam, "Aneh banget itu anak, gak biasa–biasanya kayak gini" Saat aku kembali ke kamar, ternyata ada secarik kertas yang tertinggal.
"Mungkin ini milik Firda, tapi apa ya?" Rasa penasaran itu muncul di benakku seketika. Aku buka lembaran kertas yang terlipat itu dan aku membaca isinya. Ternyata itu adalah curhatan si Firda. Benar banget, ini anak lagi kasmaran, sayangnnya di curhatannya dia tak menulis nama si cowok. Wah, aku semakin penasaran aja dibuatnya.
Pagi itu, tak seperti biasanya, Firda tak datang ke rumahku untuk berangkat bersama. Katanya sih, dia mau datang agak pagian ke sekolah, karena ada tugas. Padahal aku tahu banget, semua tugas kan udah kita selesaikan kemarin sore. Sesampainya di kelas, aku sudah melihat Firda yang lagi sibuk menulis entah apa.
"Hay, nih kertas kamu kan? Kemarin ketinggalan di kamar."
"Haaa? Haduh, pasti kamu udah baca? Nita!!"
"Yee, bukan salahku, siapa suruh kamu ninggalin itu di kamar."
"Hehe.. iya deh" Aku duduk di samping Firda dengan rasa penasaran yang semakin menjadi.
"Fir, siapa sih dia?"
"Siapa apanya Nit?"
"Udah deh gak usah ada rahasia. Kayak sama siapa aja sih Fir."
"Hehe, dia temen kita kok Nit, dia udah lama kita kenal Nit, dia selama ini diam ada rasa sama aku Nit, tapi aku takut."
"Takut kenapa Fir? Emangnya dia nuntut apa dari kamu?"
"Bukan Nit, ini bukan masalah dia nuntut ini-itu, tapi aku gak mau aja kalau persahabatan ini harus berakhir pada jurang cinta.."
"Wuihhh.. kamu mendadak jadi pujangga gini sih Fir!!" jawabku dengan dilanjutkan tawa tak terbendung.
"Loh, iya kan Nit, dari dulu itu prinsipku. Aku gak mau dengan mudah mengubahnya Nit.."
"Udahlah Fir, sekarang intinya kamu suka gak sama dia?"
"Hehe, iya sih"
"Terus, apanya yang kamu bingungin coba? Tinggal di iya in aja kok repot?"
"Tapi prinsipku Nit."
"Prinsip kan cuma masalah kata–kata, tinggal diamandemen aja kalau emang udah kadaluarsa. Iya kan?"
"Hehe, oke deh Nit."
"Siapa dia Fir?" tanyaku penuh telisik.
"Dion Nit." sontak hatiku seperti tersambar petir di siang bolong. Bagaimana tidak, Dion adalah teman kami juga sejak kelas 3 SMP. Tapi belakangan ini kami jarang sekali bertemu dengan dia. Sebenarnya, aku juga ada rasa sama dia. Tapi mendengar curhatan Firda tentang Dion, aku semakin memantapkan diri untuk tak menganggap perasaan itu lagi.
"Wah, kok baru tahu aku Fir? Kamu pinter banget sih nyembunyiin itu dari aku?"
"Hehe, tadi pagi aku ketemu Dia di sini Nit, lalu Dia…."
Tett… bel sekolah kami berbunyi, sontak perbincangan kami terputus karena ternyata guru killer matematika kita sudah stand by di depan kelas.
Seusai bel tanda istirahat, Firda bergegas ke luar. "Nit, aku duluan ya, ok"
"Kamu mau kemana Fir?"
"Ada deh, daaaa" Firda berlalu pergi begitu saja. Tak tahu mengapa, air mataku tiba–tiba menetes, seolah ada sebilah pisau yang baru saja menghunus jantungku.
"Ya Tuhan, kenapa harus dia? Harus dia yang mencintai sahabatku?" begitu ujarku dalam hati.
"Hay Nit, kok Kamu ngelamun aja sih? Kita mau pulang gak?" suara Firda membuyarkan lamunanku kala itu. Tak sadar ternyata bel pulang sudah berbunyi.
"Eh iya Fir, aku ngantuk banget, bukannya ngelamun." Begitu dalihku. Aku takut Firda berpikir yang bukan–bukan tentang aku.
"Huww.. dasar tukang tidur. Yuk pulang, lanjutin ngantuk kamu di rumah!" Kami bergegas ke luar kelas, sampai aku harus melihat kenyataan pahit yang tak seharusnya aku lihat secepat ini.
"Hay Nit," begitu sapaan Dion terhadapku.
"Eh, hay Dion. Oh, kamu mau jemput Firda ya?"
"Hehe, iya, gak apa-apa kan Nit?"
"Gak apa-apalah. Ya udah aku duluan ya. Daa…"
"Daa Nit.." ujar Doni dan Firda bersamaan.
Kejadian siang itu membuatku berpikir, mungkin ini jawab doaku selama ini untuk Firda. Dia sudah menemukan cowok yang bisa membuatku lega melepas dia. Yap, dia sudah seperti Adikku. Tak ayal kalau aku ingin yang terbaik untuknya. Dan tentang aku? hah sudahlah, mungkin Dion bukan yang satu-satunya di dunia ini. Bisa jadi ada sosok pengganti yang diam–diam menunggu hadirku. Daaa…
Cerpen Karangan: JimRam
Jimin and Rama