Bab 03
Gejolak api cemburu
Sesosok wanita telanjang berdiri di atas tungku raksasa, ia tak peduli dengan peluh yang sudah membasahi sekujur tubuhnya bahkan mengalir dan menetes masuk ke dalam tungku tersebut. Ia tak peduli dengan kepulan asap yang menutupi sebagian tubuhnya yang terbuka. Sekalipun bara api membakar separuh bagian tungku, mendidihkan air di dalamnya, wanita itu tidak merasa terganggu, ia menggerakkan tubuhnya kesana – kemari, meliuk – liuk mengikuti kepulan asap yang memenuhi ruangan. Gerakannya begitu erotis penuh dengan aura mistis, penuh nafsu birahi. Membakar gairah siapapun yang memandangnya.
Di hadapan wanita itu, seorang laki – laki paruh baya, berjenggot panjang kelabu sebatas dada menatap tanpa berkedip. Duduk bersila dan urat pada bagian tenggorokan sesekali bergerak naik turun, ia menelan ludah dan sesekali pula menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Setelah lebih kurang 15 menit menari di atas bara api, wanita itu keluar dari tungku, wajahnya tampak begitu ceria, bercahaya dan menawan. Kulitnya kuning langsat dan kencang bagaikan ABG yang baru menginjak usia 17 tahunan. Setiap lekuk dan liku pada tubuhnya yang indah menyembunyikan usianya yang sudah 25 tahun. Aroma harum yang keluar dari tubuhnya bercampur dengan kepulan asap yang masih bergulung – gulung di udara sebagian merasuk ke dalam rongga hidung laki – laki itu.
Wanita itu berjalan menghampiri pria setengah baya yang masih duduk bersila menatap tungku, “Kuharap, keringatku yang bercampur dengan air tersebut itu setimpal dengan apa yang telah kaukerjakan untukku. Sisihkan sedikit untuk kuberikan pada seseorang. Mudah – mudahan, resepmu ini mampu membuatnya, bertekuk lutut, menyembah dan mengharapkan cintaku. Aku ingin dia menjadi milikku untuk selamanya,” katanya sambil meraih sebuah botol kecil dari handbag-nya, sesaat kemudian botol kosong itu sudah penuh oleh air yang masih hangat dan menebarkan aroma harum.
Laki – laki paruh baya itu mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu, “Terima kasih, aku takkan mengecewakanmu. Saranku, jangan sampai tatto bunga melati merah kecil pada pergelangan tangan kananmu diketahui olehnya atau oleh siapapun. Itu akan membuatmu celaka,” katanya. Wanita itu menatap pergelangan tangan kanannya, sebuah tatto bunga melati berwarna merah hati sebesar tahi lalat menempel disana, “Maksudmu, tatto melati ini ? Bagiku ini adalah simbol keberuntungan dari keluargaku... berani benar kau mencelanya,” katanya ketus.
“Aku hanya menyarankan.... kau boleh percaya boleh tidak. Seharusnya kau tak memerlukan tatto itu. Merusak keindahan yang ada di dalam dirimu, nona...” kata laki – laki paruh baya itu sambil mengelus jenggotnya. “Baiklah akan kuturuti saranmu, tuan... “ kata wanita itu sambil melangkah keluar ruangan sementara sepasang mata laki – laki paruh baya itu tak lepas menatapnya hingga pintu menghalangi pandangannya.
***
Malam itu, bulan purnama bersinar keemasan, menerpa bumi beserta isinya. Daun – daun rimbun pada pohon beringin yang tumbuh berjejer di kanan – kiri bahu jalan seakan tak berdaya dan membiarkan sebagian cahaya keemasan tersebut menerobos masuk dan memantulkan gambar dirinya pada dinding bangunan – bangunan tua yang berdiri berderet – deret di sepanjang jalan. Waktu itu jam menunjukkan pukul 19:30 WIB. Orang masih berlalu lalang, termasuk bayangan pria bertubuh jangkung kurus pada sebuah jalanan kecil tapi terhenti manakala ada bayangan lain menghadang jalan. Yang jelas pemilik bayangan itu wanita, ia sedang menundukkan wajahnya.
“Lina ... ngapain lu ada disini ?”
“Setya. Kebetulan lu dateng. Kemarilah ada sesuatu yang ingin gue perlihatkan,” sambil berkata demikian wanita itu berjalan perlahan – lahan menaiki tangga dan berhenti tepat di bawah jendela. Bayangan yang dipanggil Setya itu mengikuti dengan gerakan hati – hati pula, “Ini, kan kamarnye si Rico ? ngapain lu intip orang. Hm... gue tahu ...” ucapan Setya buru – buru dipotong, “Tutup mulut bawel, lu. Lihatlah ke dalam, pasti ga percaya dengan pandangan mata lu,”
Didorong oleh rasa heran bercampur penasaran, Setya menuruti perkataan Lina, dan untuk sesaat ia menyapu seisi ruangan yang diterangi oleh cahaya lampu pijar, hingga akhirnya tertuju pada 2 sosok tubuh bergumul menjadi satu, bergerak naik turun dalam keadaan tanpa selembar kain pun. Desah nafas mereka menimbulkan gairah siapa saja yang mendengarnya. “Hei, bukankah itu Rico dan Angel ?” bisik Setya. Lina menganggukkan kepalanya, raut mukanya tampak lesu dan tak bersemangat. Setya bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu diatas normal, ada rasa jengkel, kecewa. Keringat dingin bercucuran dan suhu tubuhnya meninggi, ia tengah dibakar api cemburu yang luar biasa.
“Gue sama sekali tak menyangka kalo mereka berdua orang – orang rendah dan bejat,” desisnya sementara sepasang matanya berkilat – kilat mengerikan. “Denger, Lin... yang di dalem itu bukan si Angel. Gue baru saja dateng dari rumahnya beberapa saat lalu,” Setya mencoba menjelaskan dan membuat wanita cantik itu heran, “Apa maksud, lo, Tya ?” tanyanya.
“Iye... di dalem ruangan itu bukan Angel. Die orang lain yang menyamar menjadi Angel,” sahut Setya.
“Lo, gile ya... jelas – jelas itu Angel ngapain lo bilang bukan ?”
“Berani sumpah, dech .... Gue tadi baru ke rumah Angel. Terus hendak mampir ke rumah Rico. Coba lo pikir, jarak rumah si Angel dengan rumah si Rico cukup jauh, butuh waktu setengah jam... mungkinkah Angel datang kemari sementara kalo dilihat dari keadaan mereka... jelas sudah melakukan itu cukup lama. Bukti kedua, lihatlah pakaian wanita yang berserakan di lantai itu, saat aku ke rumah Angel, die mengenakan celana jeans sebatas lutut en kaos hijau lumut, sementara pakaian wanita tersebut bukan pakaian yang dikenakan si Angel,” jelas Setya.
“Gue kagak ngerti, Tya ...”
“Jangankan lo, gue sendiri kagak ngerti. Sekarang mari kita pergi dari tempat ini, besok gue akan nemuin Rico dan menanyakan siapa wanita itu, emang die mirip Angel. Tapi, gue yakin die bukan Angel... masakan salah lihat. Lo tenang aja, gue pasti kasih penjelasan ke elo,”
“Pegang janji lo itu ... kalo ga bisa ngatasin ... gue yang akan kasih pelajaran bagi dua orang hina itu !” sahut Lina sambil membanting kakinya meninggalkan tempat Setya sendirian di tempat itu. Wajahnya merah padam sementara Setya hanya bisa memandangi punggung wanita itu hingga lenyap di tikungan jalan sambil menggeleng – gelengkan kepala.
***
“Brak !!” pintu kantor Angel di dobrak membuat seisi ruangan terkejut, semua mata memandang ke arah pintu, seorang wanita cantik berambut sebatas bahu berdiri sambil berkacak pinggang, sepasang matanya menatap liar ke arah Angel yang saat itu berada di belakang mejanya. Wajah wanita itu merah padam, hilang sudah kecantikannya, hilang sudah karismanya sebagai wanita yang anggun dan menawan yang ada di wajahnya kini hanyalah amarah. Lina pimpinan perusahaan PT. Cahaya Candika, salah satu perusahaan kosmetik terbesar di kota Malang.
“Semua, kecuali Bu Angel, keluar !” bentak Lina.
“Hei, Lina ... “ sapa Angel ramah mencoba untuk tersenyum tapi, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya, merobek sudut bibir kanannya dan membuat wanita itu terpelanting, “Gue ada kesalahan apa sama elo, kok tiba – tiba marah besar seperti ini,” tanyanya sambil berdiri dan berusaha untuk tetap tenang.
“Lo ga sadar kesalahan yang elo lakukan kemarin malam,” sahut Lina.
“Hei, gue kagak ngerti maksud, lo, Lin ? Jelasin, dong ... please,”
“Cih, dasar wanita tak tahu malu. Emang maling selalu berteriak maling, wanita seperti elo kalo ga dikasih pelajaran gak akan kapok, tahu !!” ujar Lina sambil hendak menampar lagi, tapi, sesuatu menahan pergelangan tangannya dari arah belakang. Saat Lina menoleh Rico sudah berdiri di belakang dan Lina tersenyum kecut, “Bagus juga akhirnya lo muncul, sekalian gue mau kasih pelajaran ke elo, cowok rendah !”
“Lina, ada apa ini ?” tanya Rico sambil terus memegangi pergelangan tangan Lina. “Lepaskan tanganku, ingat dengan siapa elo berhadapan ?” Lina berontak sambil menepiskan cengkeraman tangan Rico.
“Elo, sadar apa yang lo lakukan ini,” tanya Rico.
“Munafik. Berani benar elo bicara seperti itu pada gue. Lepaskan ato gue panggil security,” ujar Lina.
“Tidak, sampai elo kasih penjelasan,” sahut Rico.
“Semalem... lo en die melakukan perbuatan rendah di apartemen, kan ?! Gue melihatnya sendiri,” sahut Lina.
“Semalem ?!” tanya Angel heran, “Elo pasti salah lihat Lin... gue tidak sedang keluar kemarin,” sahut Angel sambil menatap Lina.
“Cih ! Gue ame Setya yang melihat kalian berdua bercumbu mesra. Tak tahu malu,”
Rico melepaskan pegangannya, “Jadi, kalian melihat itu ?” akunya. Pengakuan ini membuat Angel semakin heran, “Tolong, jelaskan lebih rinci ... gue masih kagak ngerti. Rico dan gue bercumbu mesra. Itu, sich tidak mungkin,”
“Elu ga perlu menutupinya, njel... kita semalem melakukannya, kan ?” tanya Rico. Angel menggeleng – gelengkan kepala, “Gue kagak ke apartemen elo, Ric...” katanya.
“Tidak... elo tidak perlu menutupinya lagi, njel ... ini yang gue cemaskan,” sanggah Rico.
“Nah, Rico udah mengaku, ngapain elo masih menutupinya ?” tatapan Lina makin liar bak serigala yang kelaparan.
“Tidak ! Gue bicara sejujurnya ... semalam Setya ke rumah pukul 18:30 bareng sama Yolan terus pulang sekitar jam 19:25. Ini pasti ada kekeliruan... Rico elo bilang gue ame elo bercumbu, sementara gue kagak keluar rumah setelah Setya ame Yolan pulang. Kalo kalian kagak percaya panggil saja Yolan ataupun Setya,” jelas Angel. Lina teretawa tawar, “Usul yang bagus.... masih juga elo membela diri, baik ... satu saksi lagi akan membuat kalian berdua angkat kaki dari perusahaan ini,”
Beberapa saat kemudian, Setya dan Yolan muncul, mereka berdua tanpa heran dengan perabotan – perabotan kantor yang berantakan. “Ada apa ini ?” tanya Yolan. Lina segera menghampiri Yolan dan Setya, “Mereka berdua sudah melakukan kesalahan fatal. Rico mengaku sementara Angel masih bersikeras tak mau mengakuinya,”
Yolan hanya menggeleng – gelengkan kepala, “Yah, Setya udah menjelaskan semuanya pada gue ... tapi, perbuatan elo ini gak bisa dibenarkan, Lin ...” katanya.
“Gue salah ?! gue ga ingin nama perusahaan yang kupimpin ini mejadi buah bibir di kalangan masyarakat luas. Tentu saja gue harus menjaga nama baik perusahaan sekalipun nyawa taruhannya. Sementara mereka bekerja padaku, dan apa yang mereka perbuat cukup memalukan... masih saja elo nyalahin gue,”
“Ga, Lin ... gue tahu niat elo baik... tapi, coba pikirkan nama baik elo juga di mata para pegawai lain. Bukan cuma pada Rico ato pun Angel, tapi semua yang bekerja disini. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati elo, gak perlu bertingkah laku kayak gini, dong ...”
“Bijaksana banget omongan elo.... sebenernya, elo di pihak mana gue ato mereka ?”
“Gue memihak siapa – siapa, gue cuma ingin elo dan yang lain bicara baik – baik. Itu doang,”
“Yol, coba elo kasih tahu si Lina ... apa kemarin gue keluar rumah. Masalahnya, Lina bersikeras menyalahin gue terus,” ujar Angel.
“Sebenernya, kami tanpa sengaja melihat elo ame si Rico berhubungan intim di apartemen Rico,” sahut Setya, “Gue sendiri kagak percaya kalo itu kalian. Terus terang semula gue ingin bicara baik – baik sama kalian tapi, tampaknya Si Lina ga sabaran,” kemudian Setya menjelaskan tentang apa yang kemarin ia lihat bersama Lina dan penjelasan ini membuat Angel murka, “Sekalipun gue jatuh hati ame si Rico ... sama sekali tak pernah terpikir untuk ngelakuin itu. Ini namanya fitnah,” kemudian ia menatap Rico, “Gue sama sekali tak mengira elo lakuin itu. Ternyata, elo ga berbeda dengan cowok – cowok yang lain, elo hutang penjelasan buat gue,” setelah berkata demikian Angel membalikkan tubuh dan berjalan meninggalkan tempat itu, “Akan gue cari kebenaran cerita itu, untuk memulihkan nama baik gue, pelakunya akan gue hadapkan ke hidung elo, Lin,”
Lina, Rico, Setya dan Yolan memandangi punggung Angel hingga lenyap di tikungan, tanpa sepengetahuan mereka, ada senyum dingin dari sudut ruangan. Senyum dingin penuh kemenangan, terukir pada bibir sensual milik seorang wanita cantik berambut panjang sebatas bahu, “Carilah kebenaranmu sendiri Angel... tak ada yang mau membantumu, sahabat – sahabat karibmu semuanya telah meninggalkanmu ... Rico, kau adalah milikku selamanya. Ini masih berlanjut, sayang .... berikutnya Yolan menyusul. Aku ingin tahu bisa jadi apa Lina tanpa mereka,” katanya dalam hati sambil melangkah perlahan – lahan mengikuti kemana Angel pergi.
***