BAB 02
KEPOLOSAN PEMUDA KAMPUNG
Kelap – kelip lampu hias seakan mengikuti dentuman musik techno yang diputar kencang, sekencang teriakan hiruk pikuk, sorak – sorai seluruh penghuni ruangan yang melambai – lambaikan tangan di udara mengoyak kepulan asap rokok bercampur soda. Dentuman tersebut menggetarkan seisi ruangan, menaikkan adrenalin, menggoyang setiap aliran darah dari dalam tubuh para pendengarnya. Kepala, tubuh, kaki dan tangan serasa digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata berupa gelombang suara yang dikeluarkan oleh setiap loudspeaker tertanam pada dinding – dinding kedap suara.
2 sosok tubuh, pria – wanita perlahan – lahan berjalan memisahkan diri menuju sudut ruangan yang temaram, jauh dari keramaian untuk kemudian duduk di tepi. Rico dan Angel menyeka keringat yang mengalir dari dahi, wajah, dan leher. “Tumben, lu ngajak gue ke tempat ini. Lu, kan tahu ... gue kagak suka di tempat – tempat hiruk pikuk kayak gini,” protes Rico tapi, air mukanya menunjukkan rasa puas dan senang. Wanita yang duduk di hadapannya tersenyum nakal, “Iye, gue tahu ... tapi, toh akhirnya lu ikut seneng, kan ? Jangan bo’ong, dech,”
Rico tersenyum tapi masih belum bisa menyamarkan rasa kesalnya, “Dasar, lu... gue kagak bisa nolak kalo jalan bareng ame lu, Njel...” katanya sambil mencubit hidung Angel yang mancung. Wanita itu pura – pura kesal, ia melengos tapi, gerak – geriknya ini justru semakin menarik di mata pemuda berumur 42 tahun itu. Sekalipun usianya sudah kepala 4 tapi, wajahnya tidak berbeda dengan remaja berumur 20 tahunan, sementara, Angel adalah seorang wanita yang berumur sekitar 36 tahun, wajah ‘babyface’ – nya yang bulat telur, membuat siapa saja tak mengira bahwa umurnya sudah kepala 3. Cantik menawan dengan bibir sensualnya yang merah delima serta pakaian You Can See merah mudanya. Memperlihatkan kulit dadanya yang putih seputih salju dengan tahi lalat imut sebagai penghias batas garis tengah leher dan dadanya. “Dasar laki – laki buaya,” katanya sambil meneguk sodanya.
Rico memandangi Angel dengan tatapan tak berkedip, “Nyesel gue ga kenal lu dari dulu... yang gue harapkan bisa kenalan ame Si Lina, tapi, yang muncul en ngebuat gue tertarik justru, elo ....” kata Rico. Angel menatap Rico dalam – dalam, “Elo jangan merajuk ... di saat begini masih saja mikirin orang lain, dasar ga punya perasaan,” katanya sambil membuang muka ke ruang tengah, pandangannya tampak kosong, “Gue tahu ... dari dulu, lu inginnya ketemu sama Lina, tapi, anak bengal itu terlalu sibuk ngurusin kerjaannya sehingga ga ada waktu buat berbagi,”
“Eh, kalo boleh tahu ... kalian itu sudah berapa lama jadi sahabat ?” tanya Rico. Angel menghela nafas panjang, “Lama. Tepatnya, saat kami masih anak – anak sampai sekarang. Kami pun berencana untuk ... jika salah satu dari kami nikah, maka, nikah bareng – bareng. Lo tahu, ga ... sebenernya, kalo bukan gara – gara kami, si Yolan sudah lama nikah dengan sohib elo, Setya. Tapi, kami minta agar jangan ingkar janji. Dia berniat ngenalin salah satu dari kami ke elo karena saat itu gue udah punya doi. Tapi, sayang doi gue ga seperti yang diharapkan... “ jelas Angel.
“Maksud lu, apa ?”
“Doi gue cuma ingin ambil keuntungan dari gue. Doi berasal dari keluarga yang broken, hutang numpuk dimana – mana. Saat jadian sama gue, entah ga bisa dihitung berapa duit yang keluar buat lunasin hutang – hutangnya. Pertama gue anggap doi butuh modal untuk buka usaha, tapi, nyata – nyatanya kosong malah terlibat judi dan lain sebagainya. Lu bisa bayangin ... gue ikhlas mengorbankan segala – galanya demi doi ... tapi, malah diberatakin. Jadi, terpaksa gue mulai dari awal lagi, padahal si Lina ame si Yolan sudah ngasih nasihat ke gue, cuman gue aje yang bandel. Mudah – mudahan lu ga kayak si Robert itu. Kalo emang kayak gitu, mending gue ga nikah seumur hidup. Nasib kami ini mirip banget, entah kenapa, padahal ga ada hubungan darah atau apa,”
“Lu ga pantes bilang gitu, Njel ... gue kasih rahasia dikit, ya ...” air muka Rico yang tampak serius itu membuat Angel tak bisa melepaskan pandangannya ke wajah pria idamannya itu, “Lu mau bilang apa ?”
“Lu tahu, ga ... begitu si Setya berencana mau ngenalin kalian, gue jadi malu ... karena, status berasal dari keluarga kurang mampu. Takut ngebuat kalian kecewa, terlebih Lina yang bolak – balik ke luar negeri, bisnis plus liburan. Trus wajah selebriti lu yang harus rutin mendapat perawatan jutaan rupiah ... gue mana sanggup kalo status ekonomi menjadi pembatas atau penghalang, ngelakuin semua itu,” kali ini Rico menundukkan wajahnya dalam – dalam ke lantai ruangan tak berani menatap wajah Angel yang bak bidadari itu.
“Plak !”
Rico merasakan pipi kanannya panas, membuatnya tersentak kaget dan menatap nyalang ke arah Angel, “Lu ... kenapa gue ditampar ?” tanyanya. Angel menatap tajam ke arah Rico, “Berani bener lu ngatain gue kayak gitu !” bentaknya. Rico gugup dan salah tingkah, “Emangnya gue salah omong, ya ? Gue hanya nyampein apa yang jadi uneg – uneg di dalam hati,” katanya.
“Denger,” kata Angel, “Jangan lu kira semua wanita itu sama. Baik Gue, Lina dan Yolan bukan wanita yang kayak gitu. Lu kira kami ini suka disebut cewek matre ? Hei, selama lu sehat, rajin dan ulet kerja, uang bakal datang bak air bah, tahu.... sedikit pede-lah jadi cowok. Gue ga ingin denger kata – kata itu lagi keluar dari mulut elo, tahu ?!”
“Iye... iye, gue tahu. Gue salah, maapin, ya ...”
“Si Setya itu contoh bagus buat elo ... die pernah berkata bahwa keluarganya juga bukan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas, tapi, selama die bisa kerja, ga ada alasan baginya merendah kayak elo tadi. Nah, gue ingin tahu lu sanggup, ga kerja beberapa kali lipat ngebantuin gue cari duit ato kalo bisa ngembangin usaha ... selamanya lu jadi cowok yang patut dibanggakan. Lo bisa ganti topik pembicaraan, ga ? Jangan lemes kayak orang kelaperan gitu,”
“Gue emang laper, kok ... Dari tadi pulang kerja terus elo ajak ke diskotik ini. Gimana kalo kite keluar cari makan ? Bukannya apa, sebanyak apapun duit yang kite punya harus diirit, kan ?” Pada saat itulah bola mata Angel berputar dan pandangannya tertuju pada seorang pemuda berambut jabrik yang berjoget tak keruan di mimbar atas.
“OMG. Oh, ya... gue sampek lupa. Kite sudah ada di diskotik ini sejak pukul 20:00 tadi, gue sampek lupa kalo kite sama – sama belum makan. Ayo, kite keluar dari tempat ini,” sahut Angel sambil meneguk habis sodanya lalu menarik lengan Rico keluar dari tempat itu.
Angel dan Rico melangkah keluar ruangan sementara Robert masih berjoget mengikuti ritme musik techno yang kini diputar lagu lebih keras dengan bass menggelegar bagaikan letusan gunung dan memekakkan para pendengarnya.
Tubuh muda – mudi itu bergerak makin lama makin jauh menuju tempat parkir yang letaknya tak jauh dari diskotik KEMALA, salah satu tempat hiburan malam di kota Malang yang sekalipun tidak semegah diskotik – diskotik lain namun, memiliki fasilitas lengkap dengan kamar serba guna, ber AC dan rumah makan tingkat dua.
Letaknya memang cukup jauh dari pusat kota, tapi, pengunjungnya membludak. ABG – ABG juga tante – tante girang yang kesepian lebih sering menghabiskan waktu disana. Entah sudah berapa kali tempat itu jadi sasaran sidak para pejabat berwenang juga SATPOL PP, tapi, justru makin ramai dikunjungi orang dari berbagai kalangan ekonomi menengah ke atas.
Rico dan Angel sudah berada di dalam mobil yang kini melaju santai di sepanjang jalanan kota Malang yang diterangi gemerlap lampu – lampu kota. Mobil Innova abu – abu dengan plat nomor N 2176 TS tersebut berhenti pada sebuah rumah makan sea food di daerah Landung sari. Aroma harum segera menggelitik hidung mereka saat turun dari mobil, cacing – cacing di dalam perut pun mulai bergolak, rasa lapar pun kian menjadi – jadi.
Angel memilih tempat paling pojok. Tempat yang strategis untuk melihat suasana sekitar halaman belakang, dimana disana – sini berdiri bangunan tradisional khas Jawa dengan kolam air tawar di sekelilingnya. Lampu - lampu lentera yang menerangi isi kolam membuat geli siapapun yang memandang makhluk – makhluk di dalamnya. Bergerak ke sana – kemari sesekali menyembulkan kepala dan mulutnya saat ada makanan masuk ke air. Berebut, tumpang tindih dan saling kejar bagi mereka yang mendapatkan secuil atau beberapa cuil makanan di mulutnya. Gemericik air di sela – sela musik klasik yang diputar menimbulkan kesan tersendiri bagi para pendengarnya. Santai dan rileks dibanding dentuman musik techno atau house musik serta sorak – sorai orang pada Diskotik KEMALA. Bagi pasangan – pasangan muda – mudi yang baru mulai pacaran, suasana tersebut lebih romantis.
Hal yang sama dialami Angel dan Rico. Dunia seakan milik mereka berdua, yang satu cantik menawan dan yang satu tampan dan gagah. ‘Pasangan yang serasi’ begitu tanggapan para pengunjung lain yang secara tidak sengaja ataupun sengaja beradu pandang. Rico yang baru pertama kali memasuki rumah makan Sea Food Fresh ‘n Fun tersebut tak habis – habisnya berdecak kagum dengan tata letak ruang yang menurutnya perfect hingga melupakan rasa laparnya. Angel hanya tersenyum memandanginya.
“Hei... lu kesini hanya untuk mengagumi arsitek bangunan beserta tata letak ruangan doang atau memberi makan cacing – cacing di dalam perut lo ? Dari tadi gue lihat, lu ga habis – habisnya terkagum – kagum dengan seisi ruangan ini,” perkataan Angel ini menyadarkan Rico. Pemuda itu menarik kursi dan duduk di hadapan Angel, “Yah... maklum gue, baru pertama kali ini masuk ke tempat mewah seperti ini. Lu lihat saja perabotan – perabotan indah itu, juga kolam dengan ikan – ikan nila dan tombro segede itu. Alunan musiknya pas untuk suasana hati yang tenang dan damai. Ga seperti di diskotik tadi,”
“Dasar pemuda kampung ... bagi gue itu sudah biasa. Lina dan Yolan juga sering datang ke tempat ini untuk makan, kok ...” celetuk Angel sepasang mata bulatnya bergerak naik turun sementara jari – jemarinya yang lentik dan halus membolak – balik halaman pada buku menu di meja, “Lu mau pesan apa ?” tanyanya kemudian sambil menyodorkan buku menu itu ke hidung Rico. Sepasang matanya terbelalak lebar, daftar makanan dan minuman serasa aneh baginya, “Gue kagak tahu harus milih yang mana ? Harganya selangit, nasi putih saja satu mangkuk kecil Rp. 10.000,” bisik Rico.
“Hei, inget pesan gue tadi... jangan malu – maluin, dong ... gue yang traktir. Elo milih menu apa saja sesukanya, ini masih murah dibanding yang lain,” ujar Angel, “Ato gue yang pilihkan untuk elo ?” sambungnya. Rico mengangguk perlahan, “Iye, dech terserah elo aja, gue nurut,” katanya.
Angel mengalihkan pandangannya ke arah pelayan yang sejak tadi berdiri menunggu dengan sabar, “Tolong, bumbu rujak kepiting lengkap dengan sambel bajaknya, tapi, jangan terlalu pedas. Terus nasi putihnya satu bakul sedang. Jus lemon ... 2 gelas besar,” katanya. Pelayan itu mengangguk sopan dan ramah, setelah itu bergegas pergi.
“Eh, tadi sebelum kita pergi dari KEMALA, gue lihat mantan cowok lo beraksi di panggung. Terus setelah itu elo buru – buru pergi . Boleh gue tahu alasannya, ga ?” tanya Rico.
“Die emang suka caper ... gue kagak tahu kalo si Robert datang ke klub malem ini,” ujar Angel lesu.
“Kelihatannya elo masih ada hati sama si Robert, ya ? Kok tampang lu kusut masai gitu ?”
“Sebenernya, si Robert beberapa hari yang lalu telepon gue, dia nyesel minta baikan ame gue. Tapi, gue udah trauma ame die ... ga ada tempat lagi bagi die ... plus saran Lina ame Yolan supaya gue jauhin cowok playboy en pengeruk harta itu. Udah dech ga usah bicarain die ... jadi BeTe, tahu ?!” Angel tampak kesal sekali.
“Ok, merusak suasana aje. Gue juga kagak suka bicarain mantan doi,”
Makanan yang dipesan tiba, asapnya menebar ke segala penjuru ruangan, baik Rico dan Angel sudah tidak bisa menahan rasa laparnya, “Makanan kesukaan kami datang, gue harap elo gak kaget ame hidangan yang tersaji di meja,” kata Angel sambil menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang menggemaskan, membuat Rico sama sekali tak melepaskan pandangannya ke wajah wanita di hadapannya itu.
“Hei, elo ngelamun apa ?” ujar Angel membuyarkan lamunan Rico.
“Eh, ya... terus terang gue ga habis pikir bagaimana cewek secantik dan semenarik elo, bisa milih gue yang kampungan ini,”
“Crot !”
Sebuah cairan berwarna merah melesat ke arah wajah Rico, sebagian bumbu dari bumbu rujak kepiting di dalam cobek sudah menempel di pipi kanan Rico. Itu adalah ulah usil Angel yang menyemprotkan bumbu tersebut ke wajah Rico, “Ha... ha.. ha... lihat wajah elo lucu sekali,” Angel tertawa penuh kemenangan. “Njel, elo ... “ Rico tampak gusar tapi, sama sekali tak ada rasa marah, justru hatinya mendadak merasa girang. Ia tersenyum sambil menyeka pipinya dengan tissue, “Satu kosong, ya ...” katanya sementara matanya terbelalak memandang hidangan kepiting sebesar 2 kali telapak tangan orang dewasa dengan bumbu – bumbu merah menghiasi badannya, “Ini, apa ?” tanya Rico. Angel tersenyum, “Maaf, ye... gue kagak sengaja. Ini namanya bumbu rujak kepiting. Gue udah bilang ke pelayan supaya jangan terlalu pedas bumbunya, lambung gue ga bisa diajak kompromi dengan bumbu sejenis lombok, lada ataupun yang lain. Mudah – mudahan, elo cocok dengan masakan kesukaan kami ini,” jelas Angel masih tak dapat menahan rasa gelinya.
“Besar sekali ... bagaimana cara makannya, terlebih dengan sumpit dan kaki – kakinya yang keras begini,” kata Rico sambil menaruh ujung garpu ke badan kepiting dan “Crot !” cairan merah memercik keluar dan tepat menyambar hidung Angel, membuat cewek itu terkejut, “Oh, Shit,” umpatnya spontan. “Satu sama,” sahut Rico sambil tertawa geli, “He... he... he... karena sama – sama kena bumbu, gimana kalo kite buat pilihan. Mau makan atau main semprot bumbu ?” godanya sambil mengambil selembar tissue untuk kemudian menyeka bumbu yang menempel di hidung mancung Angel penuh perhatian. Wanita cantik itu tak menolak, ia merasa senang diperlakukan secara lembut oleh Rico, “Untuk kali ini gue nyerah dech ... kite makan aje. Terima kasih,” katanya lalu buru – buru menundukkan wajah dari sudut matanya mengalir cairan sebening embun. Yah, seumur hidup baru kali ini diperlakukan begitu lembut oleh seorang cowok.
Di sudut ruang yang tak jauh dari tempat mereka duduk menyantap makanan sambil sesekali bersenda gurau, seorang wanita duduk sambil menatap dingin, sama sekali tak beralih semenjak kedua pasangan itu tiba. Ia duduk sendirian sambil sesekali meneguk potongan – potongan batu es yang sebagian sudah mencair. Saat Angel dan Rico meninggalkan tempat itu, iapun mengikuti dari belakang hingga sampai di area parkir.
Kijang Innova abu – abu yang membawa Angel dan Rico melaju menjauh, wanita itu masih mengamati mobil tersebut hingga menghilang di tikungan jalan, “Kalian ... kalian tampak bahagia sekali. Tak kusangka begitu cepatnya Rico melupakanku. Angel, Lina dan Yolan ... semuanya telah menghancurkan hidupku, aku tidak terima. Aku harus melakukan sesuatu,”
***