Aku tidak tahu sejak kapan ini terjadi, tapi kurasa ini karena aku melakukan pelanggaran di rumahku. Kalian tahu, di rumahku dilarang bercermin di ruang tengah pada saat tengah malam.
Ah, mungkin bukan hanya di ruang tengah rumahku saja, tapi dimana pun jika kita bercermin tengah malam itu dilarang.
Tapi, menurutku, orang yang melakukan itu hanya bisa melihat makhluk halus saja, bagaimana jika bukan hanya bisa melihat tapi makhluk halus itu akan mengikuti kita kemanapun sampai kita mati. Kecuali, jika kita melakukan pengusiran paksa padanya.
-3 Minggu Yang Lalu-
Aku hanya tinggal berdua dengan ibuku di rumah besar kami. Ayahku sudah tiada dua tahun yang lalu.
"Ahra, cepat tidur," seru ibuku dari arah ruang keluarga, kebetulan aku sedang ada di ruang tengah sambil mengutak-atik ponselku.
"Ini sudah malam, cepat ke kamarmu," lanjut ibuku yang kini sudah berdiri di hadapanku.
"Iya, mah," ujarku malas, ah ayolah ini masih jam sembilan dan ibuku mengatakannya seperti ini sudah tengah malam. Aku masih tetap fokus pada layar ponselku.
"Sekarang!" titah ibuku sambil merampas ponselku.
"Iya, iya."
Aku berjalan malas ke kamar dan tak lupa mengambil ponselku dari tangan ibu. Kita tak bisa hidup tanpa ponsel kan?
Malamnya, aku terbangun. Saat melihat jam, jam 1 dini hari.
'Ah, aku haus.'
Aku segera pergi ke dapur. Gelap, itulah yang pertama aku lihat. Ya, memang semua ruangan dimatikan memang begitukan seharusnya. Aku menyalakan layar ponsel yang kubawa, ini cukup untuk menerangi jalanku. Aku segera mengambil segelas air di kulkas.
Entah hanya halusinasiku saja atau memang ada seseorang berdiri di sana, aku tidak tahu. Aku menyipitkan mataku dan mengarahkan layar ponselku ke arah sana. Ternyata benar, di sana ada orang. Aku segera menghampirinya, karena kupikir itu ibu.
"Mah?" panggilku sambil terus mendekat.
Tapi, saat Aku sudah berjarak sekitar 1 meter, aku tidak melihat siapa-siapa. Ah, kupikir itu hanya halusinasiku.
Saat aku berbalik, aku terkejut dengan bayanganku sendiri di cermin. Ah, cermin larangan itu.
Aku menyebutnya begitu karena orangtuaku selalu melarang bercermin di sana. Pertanyaanku, kenapa di pasang di sini jika dilarang untuk bercermin?
Cermin ini memang besar, berukuran sekitar 3 meter lebih di setiap sisinya. Tanpa sadar, aku terus memandangi bayanganku di cermin itu.
"Kau cantik, " ucapku spontan. Lalu Aku tertawa konyol, karena merasa sedang berbicara dengan bayanganku yang merupakan diriku sendiri.
'Terima kasih' bisik seseorang tepat di belakangku.
Aku tak salah dengar kan, aku mendengar suara itu. Aku menoleh ke belakangku, tapi tak ada siapapun disana. Ini benar-benar menakutkan, kurasa harus segera kembali ke kamar. Aku terkejut karena merasa bayanganku tidak mengikuti langkahku.
Saat aku melihat bayanganku di cermin, tidak ada apa-apa. Aku bernapas lega, aku masih menatap bayanganku di sana, dan anehnya dia seperti membalas pandanganku.
Tiba-tiba dia mengangkat tangannya yang kini ada pisau, pisau? Aku tak sedang memegang pisau kan? Dia mengarahkan pisau itu padaku.
Aku melihatnya, cermin di hadapanku hancur seketika. Aku langsung berjongkok dan menutup telingaku sambil berteriak.
"Ahra, kau kenapa?"
Aku mendengar suara ibuku dari arah belakangku. Saat aku melihat ke arahnya, Aku langsung menangis ketakutan. Aku benar-benar takut, yang tadi, apa nyata?
"Ahra, apa yang kau lakukan di sini?"
Aku langsung memeluk ibuku yang kini berjongkok juga di hadapanku. Aku tak bisa menjawab pertanyaan ibuku, seakan-akan tangisan lah jawabanku.
---
Kini, sudah tiga minggu sejak kejadian itu, dan aku merasa seperti ada yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, atau lebih tepatnya mengawasi. Aku tidak mengatakan kejadian yang kualami ini pada ibuku.
Setiap aku melewati cermin itu, aku selalu melihat seseorang mengikutiku dari belakang. Tapi, saat aku memastikan tidak ada siapa pun di sana.
Malam ini aku sendirian di rumah, ibuku belum pulang karena masih mengurus pekerjaannya. Aku menunggunya sampai pulang, meski ini hampir tengah malam aku tak merasa kantuk sedikitpun. Aku memainkan ponselku untuk menemani rasa bosanku.
Tak lama, aku seperti mendengar suara sesuatu yang terseret dari arah ruang tengah, kebetulan aku sedang duduk di kursi ruang makan. Karena penasaran, aku beranjak ke ruang tengah untuk memastikan.
Aku benar-benar terkejut saat melihat apa yang terseret itu, bukan barang atau apapun, melainkan seorang perempuan yang menyeret dirinya agar keluar dari cermin. Ini pasti mimpi!
Namun, setelah melihat ia mencoba untuk berdiri dengan hal yang tak biasa, aku tahu ini kenyataan.
Aku segera berbalik untuk pergi melarikan diri. Tapi, entah kenapa dia bisa mencengkram kedua kakiku dan menyeret diriku. Aku tidak tahu apa yang dia mau, dia terus menyeretku.
Aku terus meronta ingin lepas dari cengkramannya, tapi aku semakin merasakan sakit di pergelangan kakiku, dan sayangnya ponselku terlepas dari genggamanku.
"Mamah!" teriakku yang berharap ibuku bisa mendengar, meski aku tahu itu tidak mungkin.
Aku kesakitan saat dia mencoba membawaku ke dalam cermin itu. Aku hanya bisa berteriak kesakitan. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Sekuat tenaga, aku meraih ponselku yang terjatuh tadi dan dilemparkan ke cermin itu. Seketika sosok perempuan itu menghilang bersamaan dengan pecahnya cermin di hadapanku.
Aku hanya bisa menangis ketakutan, dan tak peduli dengan luka serta darah yang mengucur di pergelangan kedua kakiku.
Pagi nya ibuku pulang, aku tertidur di ujung sofa karena menunggu ibu datang. Saat aku melihat ibuku, dia langsung memelukku sambil menangis. Dia bilang, itu akibatnya jika bercermin di tengah malam, meski aku tak sengaja melakukannya.
---
Aku mengerti kenapa ibu tidak menceritakan apapun padaku, karena aku tahu satu rahasia yang disembunyikan ibuku, ayahku mati karena cermin itu.