#10
Sore itu, alam seakan tidak bersahabat.
Mendung bergulung – gulung di langit desa Nakampe Gading, cahaya kilat seakan mencabik – cabik awan – awan hitam tersebut sambil sesekali terdengar suara guntur menggelegar. Angin berhembus dengan kencang, seakan hendak memporak porandakan jalanan yang kami lewati menuju Kali Kidul. Sore itu, Kali Kidul dan sekitarnya tidak lagi seindah saat aku dan Joan pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu.
Saat kami tiba di tempat Mbah Buluk, dari jauh tampak barisan cahaya – cahaya api berjalan berarak dan menghilang tepat di dalam bangunan yang disebut Sendang itu.
“Ritual TAPA BRATA YOGA SAMADHI, sebentar lagi akan dimulai,”
Suara berat itu mengejutkan kami, mendadak saja Mbah Buluk sudah berdiri di belakang kami.
“Edan !” seru Joan, “Apakah Mbah Buluk selalu muncul tiba – tiba seperti ini ?” tanyanya dengan nada kesal.
Mbah Buluk seakan tidak mendengar perkataan Joan itu, ia berjalan menghampiriku dan menatapku tajam walau sepertinya tatapannya itu seakan tidak tertuju pada satu titik. “Nduk, kalian pergilah ke dalam Sendang itu. Apapun yang terjadi, Mbah Buluk harap kalian bisa mengendalikan diri. Jangan bertindak nekad, tunggu sampai Mbah Buluk dan Mbah Joglo tiba disana. Berhati – hatilah,”
“Baik, Mbah...” kataku.
“Satu hal lagi,” kata Mbah Buluk, “Mbah Abang masih menjagamu. Jika kau bisa bertemu dengannya, bantulah kami untuk menghadapi Mbah Jauhari itu. Sekalipun kepandaian kami setara dengannya, tapi, bila kita bersatu, dia akan lebih mudah ditundukkan,”
“Bagaimana caranya, Mbah ? Saya tidak memiliki kemampuan untuk bertemu dengan sosok – sosok gaib itu,”
“Kemarilah, Mbah Buluk akan memberitahukan caranya,”
Aku menurut dan kakek berbaju hitam itu membisikkan sesuatu ke telingaku.
“shang hyang cipto gumono, rawuhaken sejatining Mbah Abang kang aperojo hing songgobuono rawuh, rawuh, rawuh mijil ono ing pangarsaningsun”
( Mantra ini tidak serta merta bisa digunakan oleh orang yang belum melalui proses lelaku, puasa atau memang menjalani sebuah ilmu kebatinan. Singkatnya, tidak sembarang orang bisa melakukannya tanpa seijin langit / TUHAN ).
“Kau bisa melakukannya nanti, nduk,” Mbah Buluk kemudian menepuk bahuku tiga kali, setelah itu membalikkan badannya dan setelah sampai di ujung ruangan, ia berbelok dan tubuhnya menghilang. Joan dan yang lain terpaku, sebagian dari mereka menanyakan apa yang telah dibicarakan Mbah Buluk padaku, aku memilih untuk diam.
Joan menoleh ke arah Hudi dan teman – teman lain.
“Kalian tunggu disini, biar aku dan Joan yang masuk ke Sendang. Aku tak ingin terjadi apa – apa pada kalian,” tegasnya.
“Andai kami bisa membantumu,” ujar Bella lemah, hal itu ditanggapi Joan hanya dengan senyuman.
“Kalian berhati – hatilah,” ujar Yulia, “Cepatlah kembali dan pergi dari sini,”
“Kalian juga, berhati – hatilah,” kata Joan sambil memeluk mereka. Kami segera meninggalkan tempat itu dan melangkah menuju Sendang.
***
SEPTEMBER, 2012
“WARNING !!!
UNTUK 21 + KE ATAS
PADA BAGIAN INI TERDAPAT UNSUR YANG MUNGKIN BISA MEMPENGARUHI SISI PSIKOLOGIS, SEPERTI : KEKERASAN FISIK, KEKERASAN SEKSUAL, MUTILASI DAN LAIN SEBAGAINYA. HARAP PARA PEMBACA YANG BUDIMAN MENYIKAPINYA SECARA BIJAK DAN BIJAKSANA. TERIMA KASIH ATAS KERJA SAMA DAN PENGERTIANNYA,”
Saat memasuki Sendang, ruangan yang berbentuk lorong memanjang itu tampak gelap gulita. Dengan berbekal lampu senter di tangan, kami menyusuri lorong itu sambil meningkatkan kewaspadaan kami.
“Hai, takkan kubiarkan kalian pergi sendiri, ijinkanlah aku menemani kalian,”
Seruan itu mengagetkan kami, Hudi sudah berada di belakang kami, wajah Joan merah padam. Entah kami harus senang atau sedih dengan munculnya Hudi itu.
“Bagaimana dengan Bella dan Yulia ?” tanya Joan.
“Akhmad bisa diandalkan, kok. Sudahlah, lagipula aku penasaran dengan apa yang disebut sebagai patung angkara murka oleh Mbah Buluk,”
“Kalau sampai terjadi apa – apa pada mereka kaulah yang harus bertanggung jawab,” ancam Joan, Hudi hanya menanggapinya dengan senyuman.
Sekian lama kami berjalan menyusuri lorong itu, sayup – sayup terdengar jeritan dari arah depan. Jeritan ketakutan di sela – sela tangis dan lantunan kidung. Dari arah depan tercium aroma wangi yang aneh. Aroma yang selalu kucium saat memasuki wilayah - wilayah yang disakralkan oleh warga Nakampe Gading. Tapi, aroma tersebut lebih menyengat dan 20 meter di ujung sana, kami bisa melihat ruangan itu terang. Teriakan itu semakin lama semakin jelas saat kami mulai mendekati ruangan tersebut.
Pemandangan tidak manusiawi segera terpampang di hadapan kami, darah kami bergolak bagaikan kawah gunung berapi. Tubuh Bianca dibaringkan pada lantai yang basah oleh genangan darah. Tangan dan kakinya terikat kuat pada empat pasak tiang besi dan tubuhnya tidak tertutup sehelai kain pun. Telanjang bulat. Sementara itu, para penduduk, khususnya laki – laki berdiri telanjang sambil menatap Bianca yang meronta – ronta.
‘TINGGG....”
Dua batang besi pipih itu dibenturkan satu sama lain, pria yang berdiri paling depan membungkuk di hadapan Bianca, setelah mengatupkan kedua belah tapak tangannya di dada, ia melakukan hubungan intim dengan Bianca. Wanita itu meronta, menjerit dan menangis memohon untuk dikasihani, tapi, tak seorang pun mempedulikannya.
Lima menit sudah, Bianca harus berjuang menahan sakit pada alat vitalnya. Namun, ternyata derita itu tidak juga berakhir, saat Mbah Jauhari membenturkan dua batang besi pipih di tangannya, pria kedua melakukan hal yang sama. Demikian pula pria ketiga, keempat dan seterusnya hingga sepuluh pria.
Saat pria kesebelas hendak melakukan ritual yang sama, terdengar seruan keras dari kerumunan penduduk yang duduk menghadap PATUNG ANGKARA MURKA.
“Hentikan !!”
Joan muncul dan hendak melangkah menghampiri Mbah Jauhari, tapi, Pak Udin, Pak Rusli dan Pak Sujar menghadangnya.
“Jangan bodoh, Mbak Joan... ini memang harus dilakukan untuk ....” ucapan Pak Udin ditutup dengan kepalan tinju kiri Joan. Laki – laki itu terkejut, hidungnya patah dan berlumuran darah.
“Kalian kira kami bodoh, ha ? Ritual macam apa ini menodai wanita secara bergiliran, dasar warga bejat tak bermoral !!” bentak Joan sambil kembali mendaratkan tinjunya ke luka Pak Udin.
“Kalian !” sahut Pak Sujar pada yang lain, “Jangan diam saja, tangkap perempuan tak tahu adat ini !!”
Beberapa laki – laki bertubuh gempal segera menghadang dan menyerang Joan. Joan kali ini tidak main – main, tangan dan kakinya bergerak kesana – kemari menghempaskan para penyerangnya sambil melangkah maju berniat menuju ke arah Bianca yang masih lemas tak berdaya itu. Tapi, tertahan oleh warga.
Melihat situasi yang tidak memungkinkan itu, Joan melompat mundur. Di hadapannya para warga sudah berdiri, mencegah Joan untuk masuk lebih ke dalam.
Joan tersenyum sinis dan dingin, “Hm... inilah sifat asli penduduk NAKAMPE GADING. Baiklah, aku tak akan sungkan – sungkan lagi,” katanya sambil mencabut dua buah pisauyang terselip di pinggangnya. Aku dan Hudi yang masih menyusup diantara kerumunan penduduk ngeri sekali melihat penampilan Joan saat itu. Ia seperti bukan Joan yang kukenal, tapi, lebih mirip bidadari pencabut nyawa dengan pakaian hitam dan pisau tajam berkilat – kilat pada kedua tangannya.
“AAAKKKHHH .....”
Bunyi teriakan itu mengejutkan semua orang, saat mereka membalikkan badan, Mbah Jauhari telah membelah dada hingga bagian bawah Bianca. Darah menyembur keluar. Tubuh Bianca berkelojotan, sepasang matanya terbelalak lebar, mulutnya ternganga. Setelah Mbah Jauhari mengeluarkan seluruh organ dalam di tubuh Bianca, ia mencampakkan tubuh yang sudah dibelah itu ke dalam kolam. Air kolam yang semula jernih perlahan – lahan memerah dan para penduduk wanita satu persatu menceburkan diri ke dalam kolam itu.
Tak dapat kulukiskan bagaimana perasaan kami saat itu, terlebih Joan. Joan berteriak nyaring dan tubuhnya bergerak cepat sementara pisaunya berkelebat menyambar kesana – kemari. Ia kalap. Setiap mata pisau berkelebat, korban berjatuhan dalam keadaan mengerikan. Sasaran Joan adalah leher para penduduk Nakampe Gading, tidak peduli pria ataupun wanita.
Suasana Sendang hiruk pikuk, darah berceceran dimana – mana. Beberapa warga berusaha meringkus Joan dengan segala cara, tapi, Joan terlalu tangguh untuk mereka. Aku dan Hudi memandangi kejadian itu dari tempat agak tersembunyi. Tapi, mendadak kepalaku seperti dihantam sesuatu yang cukup keras, pandanganku kabur dan kesadaranku perlahan – lahan menghilang.
Saat aku membuka pelupuk mataku, aku merasakan punggungku seperti tertahan oleh sesuatu yang cukup dingin dan aroma aneh menggelitik hidung, tangan dan kakiku terikat, dan pertama kali yang kulihat adalah Joan dan Hudi. Mereka juga terikat, sementara wajahnnya babak belur, menunduk ke lantai ruangan. Di sisi lain, penduduk desa tampak duduk bersila, mulutnya komat – kamit, matanya terpejam dan wajahnya menunduk.
“TAPA BRATA YOGA SAMADHI, siap dilakukan,” pemilik suara berat itu adalah Mbah Jauhari yang berdiri tidak jauh di samping kami, “Beruntung hari ini kita memiliki 3 orang yang siap dijadikan tumbal untuk LELEPAH,” katanya sambil diiringi tepuk tangan dan yel – yel dari para penduduk yang ternyata juga dihadiri oleh penduduk asing, kami tak mengenal mereka.
“Tiga muda – mudi ini sangatlah cocok untuk lelepah yang telah memakmurkan NAKAMPE GADING ini,” Mbah Jauhari memulai pidatonya saat para hadirin mulai tenang.
Joan mulai sadar dari pingsannya, ia tampak lemas sekali, tubuhnya basah oleh darah dan keringat, sementara Hudi tampak ketakutan.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang ?” bisik Hudi.
“Kita sudah gagal menyelamatkan Bianca. Aku juga gagal melindungi kalian, tinggal menunggu mati.” kata Joan putus asa, dua titik bening mengalir dari sudut matanya.
Aku terdiam seribu bahasa, mataku menerawang jauh sekali ke langit – langit ruangan. Sebagian asap dari dupa dan obor, menutupinya, mendadak aku teringat oleh ucapan Mbah buluk. Bibirku bergetar dan antara sadar dan tidak terucap, “Jangan khawatir, kita masih memiliki orang yang bisa mengeluarkan kita dari sini,”
Joan menatapku, sebelah matanya bengkak dan membiru, “Siapa ? Mbah Buluk, Mbah Joglo, Bella atau yang lain ? Mereka tak mungkin bisa menyelamatkan kita, Cel. Sekalipun aku menyandang gelar juara satu pada pertandingan internasional Taekwondo, tapi, nyatanya aku adalah sampah,”
“Jo, selama ini ... aku mengenalmu sebagai wanita yang tegas, tegar dan berani... tak pernah ada dalam kamusmu kata menyerah... jadi, cobalah untuk bertindak demikian. Aku yakin kita pasti bisa pergi dari tempat ini,” hiburku.
Baru saja aku menutup mulutku, mendadak seisi ruangan serasa bergetar hebat, sekalipun hanya beberapa menit, cukup membuat suasana panik dan tegang. Mbah Jauhari pun tampak terkejut, “Gempa Bumi,” desahnya perlahan nyaris tak terdengar, namun kami yang terikat tak jauh dari tempatnya berdiri, dapat mendengarnya dengan jelas sekali.
“Kakek tua !!” seru Joan tiba – tiba, “Kalau kau ingin membunuh kami... bunuh saja tak usah banyak bacot !! Dasar munafik !!”
“Plak !”
Pak Sujar menampar keras pipi Joan, membuat bibirnya pecah dan menambah luka pada wajah Joan. Joan tertawa tawar, “Kau pun bukan orang baik – baik ! Hatimu busuk penuh dengan iri hari, kepura – puraan dan dendam, masih saja berlagak ramah ! Aku takkan melepaskanmu sekalipun jadi hantu !!”
“Bicaralah seenak perutmu, bocah bau kencur ... toh, sebentar lagi kau takkan bisa mengoceh karena kami akan mencincang dan memakan dagingmu,” kata Pak Sujar.
Baru saja menutup mulutnya, mendadak terdengar suara raungan keras dan menggema.
“RRRROOOOAAAARRRR !!!”
“Mungkin, kami datang terlambat. Tapi, jangan khawatir, Mbah Buluk akan memberimu tanda agar kau bersiap – siap meminta bantuan Mbah Abang. Kami akan melumpuhkan mereka semua, kalian segeralah pergi dari desa ini. Masalah, Mbah Jauhari, serahkan pada kami, nduk....” itulah nasihat yang diberikan oleh Mbah Buluk tadi sewaktu hendak memasuki Sendang. Aku memejamkan mata dan menundukkan wajahku dalam – dalam, pada saat itulah terlintas wajah Mbah Abang, dan aku segera membacakan mantra untuk memanggil Mbah Abang.
***
Sekelebat cahaya putih menerpaku dan di hadapanku sudah berdiri seorang wanita tua bongkok dan berbaju merah. Ia menaruh kedua tangannya di punggung sementara sepasang bola matanya yang putih menatap ke arahku. Sekalipun wajahnya tampak menyeramkan, namun, aku merasakan aura yang cukup besar di dalam dirinya, tanpa sadar aku menganggukkan kepala dan dia membalasnya dengan anggukkan kepala. Ia menyeringai mengalihkan pandangannya ke arah Mbah Jauhari.
Mbah Jauhari tampak terkejut hingga melompat kaget. Kedua lututnya serasa tak bertenaga, tubuhnya bergetar hebat sekali. Terlebih munculnya 2 ekor harimau di tengah – tengah ruangan. Harimau Hitam dan Harimau Putih.
Mendadak angin berhembus kencang, dari arah lubang udara, gumpalan – gumpalan asap putih tipis bergerak masuk, melayang – layang di udara dan entah kemana perginya tali – temali yang mengikat tangan dan kaki kami. Asap putih tipis itu meliuk – liuk bagaikan menari di udara, membentuk siluet – siluet aneh. Mengelilingi semua orang yang berada di tempat itu.
Tubuh Joan melorot ke bawah, ia tampak lemas sekali. Sekalipun ia menyandang juara nomor satu taekwondo dunia, tapi apalah gunanya menghadapi puluhan orang. Ia mengalami cedera yang cukup parah. Buru – buru aku dan Hudi memegangi tubuh Joan sebelum ia menyentuh lantai. Udara di sekitar ruangan serasa menyesakkan dada, seakan di dalam ruangan itu dipenuhi oleh hawa aneh.
Mbah Abang mengalihkan pandangannya ke arahku, bagai digerakkan oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, kami beranjak meninggalkan tempat itu. Beberapa warga berusaha menghalangi kami, namun, mendadak mereka terpental ke belakang beberapa tindak. Tatapan mata mereka mendadak liar dan beringas, menggaruk – garuk tangan kaki dan tubuh, menjambak rambut dan membentur - benturkan kepala ke dinding sambil sesekali menangis, sesekali pula tertawa tak terkendali. Mereka bagaikan orang yang kerasukan.
Kejadian yang sama dialami oleh penduduk lain, mereka menjambaki rambutnya sendiri, bergulingan di tanah, menggaruk – garuk tangan, kaki dan tubuh, membentur – benturkan kepala di lantai ataupun tembok hingga pecah sambil sesekali tertawa, sesekali pula menangis. Suasana jadi kacau balau. Salah satu kejadian yang membuat kami tak bisa melupakannya adalah kepala Mbah Jauhari terpisah dari tubuhnya saat 2 harimau itu mengepung dan mencabik – cabik tubuhnya dan Mbah Abang membakar semua yang ada di dalam Sendang itu dengan cahaya obor. PATUNG ANGKARA MURKA seakan tak bergeming memandangi kejadian itu. Malam itu juga, kami meninggalkan NAKAMPE GADING dalam kekacauan dan perasaan bersalah karena tak mampu menyelamatkan Bianca, Pedro, Parto dan Ikbal.
***
E P I L O G :
Pada Tanggal 17 Oktober 2012 ...
Aktivitas vulkanik Gunung Raung meningkat. Status Gunung Raung dari normal naik menjadi waspada. Sehari kemudian, pada 22 Oktober 2012 statusnya kembali naik menjadi siaga dan membawa dampak di daerah sekitarnya.
8 Kecamatan di tiga kabupaten masuk dalam peta terdampak erupsi Gunung Raung. Ke-8 Kecamatan tersebut berada di Kabupaten Banyuwangi, Jember dan Bondowoso. Data tersebut diambil dari peta potensi bencana Pos Pengamatan Gunung Api Raung di Banyuwangi.
Dari tiga Kabupaten, Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang paling banyak miliki wilayah terdampak. Ada 5 Kecamatan, yakni, Genteng, Sempu, Songgon, Glenmor dan Kalibaru. Disusul 2 kecamatan di Kabupaten Bondowoso. Di antaranya, Sumber Ringin dan Sukosari.
Banjir lahar panas telah meluluh lantakkan desa NAKAMPE GADING yang dulunya disebut Desa SINUHUN PANGAYOMAN dan sekitarnya. Adat istiadat dan kultur budaya mereka hilang dari ingatan desa – desa tetangga. Sebagian besar penduduknya, tewas tersapu awan panas.
Kami adalah saksi. Saksi dari sekian banyak saksi yang tersisa, yang pernah hidup berdampingan dengan warga disana. Sekelompok pemuja berhala dan gemar sekali menjadikan daging sebagai makanan favoritnya. DAGING MANUSIA.
Sekelompok arkeolog berhasil menemukan benda yang terkubur selama puluhan tahun di bawah tanah, sebuah patung raksasa berwarna hitam legam bentuknya aneh dan mengerikan. Patung itu tampak hidup saat cahaya-cahaya obor dan api menyinarinya. Bertanduk empat, sepasang mata merahnya membelalak lebar dan mulutnya terbuka, memperlihatkan deretan gigi yang runcing dan pada ujung gigi tersebut berwarna merah darah. Bertangan sepuluh, yang masing-masing membawa berbagai macam benda, 2 diantaranya diletakkan pada dada, sementara yang lain memegang kepala manusia, jantung, pedang, trisula, tombak, gada, piring dan cangkir.
Beberapa orang pekerja lari terbirit – birit saat memandangi patung itu, tapi tidak bagi seorang laki – laki paruh baya berlepotan debu pada pakaian dan keringat diatas permukaan kulitnya yang sudah membentuk peta kota. Hawa mistis keluar dari tubuh patung tersebut. Laki – laki itu tersenyum sambil berkata, “PATUNG ANGKARA MURKA, akhirnya ... aku menemukannya,”
Ia tertawa. Tawanya menggema, menyebar ke segala penjuru tempat itu. Dari kejauhan sayup – sayup terdengar raungan beberapa ekor harimau seakan merasa resah dan gelisah, seakan tak mengijinkan patung itu jatuh ke tangan manusia.
_ T A M A T _
( Selasa, 07 Feb 2023 )
SALAM DARI PENULIS :
Akhirnya, cerita ( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading ... setelah melalui berbagai proses yang cukup panjang dan melelahkan, selesai juga. Begitu banyaknya kendala yang ditemui oleh penulis, membuat cerita ini tertunda cukup lama. Tapi, memang itulah yang harus saya jalani demi memberikan yang terbaik bagi para pembaca / penggemarnya.
Saya menyadari, dari sekian banyak bab yang ditulis masih jauh dari harapan para pembaca, jauh dari sempurna. Tapi, saya berharap, para pembaca bisa menikmati alur cerita ini dari awal hingga akhir, walau ada kesan kurang greget atau terburu – buru. Itulah sebabnya, saya tidak bosan – bosannya menunggu kritik dan saran para pembaca sekalian agar dalam penulisan kisah – kisah selanjutnya, lebih berbobot tak mudah dilupakan banyak orang.
Sebenarnya, masih banyak kejadian yang dialami Cella dan teman – teman selama di NAKAMPE GADING, tapi, itu justru membuka luka lama mereka, mengulang kepedihan hati mereka dan nantinya akan memperburuk masa – masa pemulihan pasca traumanya. Jadi, penulis hanya menceritakan sebagian saja pengalaman mereka itu, kelak nantinya bisa dipetik hikmahnya oleh para pembaca.
Jika ada hal – hal yang kurang berkenan di hati para pembaca sekalian, saya mohon maaf sebesar – besarnya. Terima kasih atas kesediaan pembaca dalam membaca kisah ini dari awal hingga akhir. Sampai jumpa lagi dalam kisah – kisah saya selanjutnya.
Salam Dari Penulis
( Selasa, 07 Februari 2023 )