Berkisah tentang seorang gadis bernama Levianna Clarissa. Dia sering dipanggil Anna, gadis yang sangat periang, cantik dan juga pintar. Dia juga memiliki banyak sekali teman, tetapi hanya tujuh orang yang ia sebut sebagai sahabat, sahabat yang selalu dia sayangi dan tidak akan tergantikan oleh siapapun.
Suatu hari, Anna dan sahabatnya bermain petak umpet didepan rumahnya (saat itu mereka masih berumur Tujuh tahun), karna Anna tidak terlalu suka main petak umpet jadi dia hanya duduk dan menonton sahabat-sahabatnya bermain. Ada satu sahabatnya yang melihat Anna hanya duduk dan menonton, jadi dia menghampiri si Anna.
“kenapa disini? Gak mau main lagi?” Tanyanya kepada Anna. “Aku hanya lagi gak mau main. Kamu sendiri ngapain kesini? Main sana, aku semangatin dari sini” jawab Anna pada temannya itu. “aku disini aja deh. Aku nemenin kamu disini. Lagipula gak enak kan sendirian... Buat apa punya temen kalau tetap sendirian gitu”
Dia adalah Kenzo. Orang yang sangat perhatian kepada teman-temannya. Alasan kenapa masa kecil Anna sangat bahagia Karna adanya Kenzo. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena terjadi sebuah peristiwa yang membuat Anna trauma. Suatu hari Anna dan Kenzo pulang sekolah bersama. Anna melupakan sesuatu dikelas jadi dia meminta Kenzo untuk menunggunya disini. Saat Anna kembali, sesuatu tak terduga terjadi.. Anna melihat Kenzo yang berlumuran banyak darah dan didepannya yang ada mobil seperti hancur begitu.
“KENZO!!” Anna berteriak pada Kenzo yang mengalami kecelakaan. Penduduk yang menyaksikan kejadian itu langsung menelpon ambulans. Kenzo dibawa ke Rumah sakit dan langsung dimasukkan ke ruang ICU. Tidak lama kemudian, datanglah orang tua mereka dengan keadaan sangat panik. Empat puluh menit berlalu, dokter keluar dari ruangan itu. Mereka langsung menanyakan keadaan Kenzo.
“Baik untuk keluarga pasien. Saya mohon maaf, saya sudah berusaha untuk menyelamatkan Kenzo. Namun Tuhan lebih menyayanginya. Kenzo tidak bisa diselamatkan.” Penjelasan dokter tersebut membuat mereka semua terkejut sekaligus sedih. Anna yang mendengarnya juga tidak bisa menahan lagi, akhirnya tangisnya pecah. Dia menyalakan semuanya kepada dirinya sendiri, bahkan dia menyalakan bahwa seharusnya dia tidak meninggalkan Kenzo sendirian disana.
Tujuh tahun kemudian. Anna kini sudah berumur empat belas tahun. Dia juga sudah masuk SMP dan bertemu dengan teman baru. Anna memiliki empat seorang sahabat yang menemaninya di SMP ini, dan teman-temannya itu mirip dengan sahabat-sahabatnya di masa kecil. Anna pindah ke luar kota bersama dengan keluarganya karna perkerjaan ayahnya. Semenjak Anna pindah, Ia jarang sekali berkomunikasi ataupun menelpon sahabat-sahabatnya sewaktu kecil dulu. Anna yang sekarang bukan lagi Anna yang dulu.
Dulu Anna yang sangat periang kini menjadi Anna yang dingin dan cuek. Sahabat SMP nya yang tau akan masa lalunya Anna, berusaha untuk menuntun Anna untuk melihat kedepan, tetapi lagi-lagi Anna selalu melihat kebelakang. Dia selalu melihat masa lalu daripada masa depan.
Anna kini seperti berada di lubang yang dalam dan juga gelap. Hanya ada satu cahaya, yaitu jalan keluarnya. Sahabat Anna menjulurkan tangannya agar bisa menarik Anna keluar dari lubang itu, tetapi di sisi lainnya, orang-orang yang sangat di sayangi oleh Anna dimasa lalu juga menjulurkan tangannya agar Anna tetap berada disini.
“Anna, kau tetap disini kan?” Kenzo mengulurkan tangannya pada Anna yang melihat lurus kearahnya. “Jangan Anna! Kau tidak boleh menerimanya! Ingat! Jika kau terus melihat kebelakang, maka penyesalan mu tidak akan pernah selesai! Raih tangan kami!” teman-temannya yang ada diatas menasihati Anna agar tidak terpengaruh oleh kehidupan masa lalu. Anna sendiri bingung harus pilih mana, dia ingin tetap di masa lalu, tetapi sisi lain dia juga ingin melihat kedepan.
Anna hanya duduk dan memegang telinganya. Dia lelah akan semuanya, tetapi juga tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Anna tak ingin mendengar teriakan yang mana ia harus raih. Akhirnya Anna memilih untuk tetap di tengah posisi itu, tidak berharap kembali ke masa lalu tapi juga tidak pergi ke depan yang jauh.
"Maaf membuatmu bingung dengan pilihan ini Anna. kau tau betapa sayangnya kami semua padamu. Kami ingin kau fokus dengan masa depan, jangan bergantung pada masa lalu. Ingat! Aku pergi duluan itu juga bukan salahmu, ini adalah salahku yang tidak memperhatikan sekitar. Kau tidak perlu membawa penyesalan ini sampai kau dewasa biarkan aku yang membawa, kau cukup nikmati kehidupamu dengan teman-temanmu itu ya dan.. aku mencintaimu Anna".
Kenzo memberikanku pelukan terakhir sebelum dia menghilang. Aku juga ingin mengatakan bahwa aku juga menyukainya tetapi terlambat. Walaupun Kenzo sudah mengatakannya tetap saja hatiku masih belum tenang. Sesuai dengan keinginan Kenzo, aku menerima uluran tangan dari temanku yang diatas. Mereka sangat senang.
Waktu berjalan begitu cepat. Kini aku sudah SMA, aku fokus untuk masa depanku. Sesekali aku menelpon sahabat kecilku dan sahabat SMP untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Setiap Minggu sekali, aku pergi ke makam kanzo untuk sedikit curhat akan tugas sekolah yang menumpuk bagaikan gunung.
terkadang aku melihat kebelakang, bahwa Kenzo selalu bersamaku dimana pun. Ketika ada presentasi tugas, aku sedikit tidak percaya diri karna karyaku yang tidak sebagus teman-teman lain, tapi Kenzo mendorong bahuku dan mengatakan.. "heh..apa yang kau takutkan. Ayo cepat, teman-teman mu itu mau lihat karyamu tau. Aku akan melihat mu dari jauh, jangan khawatir".
Setelah disemangati seperti itu aku sangat bahagia. Masa SMA aku sedikit melaluinya bersama Kenzo. Memang menakutkan, tetapi jika kau bersama dengan orang yang disukai takut itu akan menjadi semangat.
Kini aku telah lulus SMA. Aku berencana untuk tidak kuliah. Lalu apa? Tentu saja menikah. Ada seseorang yang telah menunggu ku untuk mau menikah dengan ku. Kami menikah setahun kemudian. Di hari pernikahan ku, banyak sekali tamu undangan. Mama dan papa bahkan kedua orang tuanya Kenzo juga datang.
Tetapi orang yang ku tunggu masih tidak datang. "Anna, apa masih ada seseorang yang kamu tunggu?" Tanya Dyan. Yaps! Dyan adalah orang yang akan menjadi suamiku.
"Eh..itu.." aku melihat-lihat sekeliling. Akhirnya kenzo muncul dengan Taxedo berwarna putih. "Baiklah ayo". Pernikahanku berjalan dengan sangat lancar sekali.
Kini saatnya aku berganti baju karna pernikahannya sudah selesai. "Anna selamat atas pernikahan mu dengan Dyan". Kenzo datang sambil menyodorkan buket bunga sebagai hadiah pernikahan ku. "Terimakasih banyak Kenzo!". Saat aku menerima buket bunganya tiba-tiba Kenzo memelukku.
"Anna, kau harus bahagia.Tidak! Tapi wajib bahagia. Aku tak menyangka sahabatku yang dulunya masih kecil sekali akhirnya menikah. Anna maaf ya tapi aku harus pergi sekarang, tugas ku untuk menjagamu sudah selesai. Sampai jumpa". Aku berteriak memanggil Kenzo sebelum dia menghilang lagi. Pada akhirnya aku terlambat lagi. Aku duduk dilantai sambil menangis dan memegang bunga yang dihadiahkan oleh seseorang paling berharga dari masa lalu.
"Kenzo.. terimakasih banyak.."