THE TEENHUNTER
Untuk mengungkap sebuah misteri pembunuhan berantai, pemerintah mengirim aparat terbaik mereka ke sebuah kota kecil. Kota itu bernama San, selama setahun terakhir terjadi pembunuhan setiap hari Sabtu. Para korbannya adalah anak-anak muda. Sejak 2 bulan pertama terjadi kasus tersebut para anak muda berhenti untuk keluar nongkrong pada malam hari, namun pembunuhan tetap berlanjut. Banyak korban yang ditemukan tewas di kamar mereka sendiri. Tanpa suara atau keributan apapun, semua korban hanya ditemukan tewas di hari Minggu pagi. Pembunuhan dilakukan secara acak dan tak berpola, para polisi kewalahan.
Aksara seperti biasa terus mencari pola ataupun celah dalam kasus, namun karena terus menemukan jalan buntu dia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Atasannya datang bersama 2 utusan pemerintah pusat.
"Pak!" Aksara memberi hormat.
Atasannya kemudian memperkenalkan, "Aksara, ini Pak Gulf dan anaknya, Devanka. Mereka akan membantu kita untuk mengurus kasus ini."
"Senang bertemu dengan Anda, saya Aksara." wanita itu menyalami kedua rekan barunya.
"Sepertinya saya yang paling senior di sini. Hahaha, mungkin saya akan kalah dengan anak-anak muda seperti kalian." Ucap Pak Gulf sambil menepuk pundak putranya.
"Apa sudah ada perkembangan mengenai kasus ini?" Devanka bertanya.
Aksara menjawab sambil menggeleng, "Sayangnya belum ada tambahan petunjuk sedikitpun, kami bahkan tidak mengerti apa motif pembunuhan ini."
"Boleh saya lihat catatan selama ini?" tanya Devanka.
"Tentu!" Aksara mempersilahkan.
Mereka terus menganalisis dan mencari petunjuk sekecil apapun, namun selain petunjuk pelaku menggunakan senjata tajam dan target pembunuhan adalah anak muda mereka tidak mendapatkan petunjuk lain. Di saat mereka sedang serius adik Aksara, Achira, datang membawakan makanan.
"Kak!" Achira memeluk Aksara.
"Adik kamu?" Pak Gulf bertanya.
Aksara mengangguk lalu menjawab, "Dia satu-satunya keluarga saya yang tersisa."
"Sekarang saya tahu kenapa kamu tidak mau menyerah dengan kasus ini!" Pak Gulf menatap Achira.
"Target pelaku semua remaja, sedangkan adiknya masih berseragam SMA. Mana mungkin dia nyerah gitu aja?" ucap Devanka setelah melihat seragam sekolah Achira.
Achira menatap foto-foto yang tertempel di dinding, para korban tampak mengenaskan. Matanya berhenti pada sebuah foto, tatapan itu tampak sendu. Itu adalah foto tetangganya, kamar mereka saling berhadapan dan sering saling sapa. Namun sejak 4 bulan lalu dia hanya menatap jendela yang tertutup, tanpa seorang pun yang menyapanya seperti dulu.
"Kamu kenal dengan korban ini?" Devanka bertanya.
"Chira, jangan dipaksa." Aksara memeluk adiknya.
"Ada apa?" Pak Gulf menjadi penasaran.
Aksara kemudian menjelaskan, "Dia tetangga kami, kamarnya dan kamar Achira berhadapan. Saat kejadian berlangsung Achira melihat siluetnya, dia trauma dan mimpi buruk selama beberapa hari."
"Jadi.... dia adalah saksi mata satu-satunya yang kita punya." Devanka membuka kotak bekal yang dibawa Achira.
"Jangan ambil makanan orang lain!" tegur Pak Gulf.
Mereka kemudian menyusun rencana sementara untuk menangkap pelaku, di hari Sabtu para polisi berpatroli dan di tempatkan di beberapa titik. Sebenarnya cara ini pernah dilakukan, namun tetap saja ada korban. Sudah dikejar dari segala arah namun pelaku seperti angin yang menghilangkan tanpa jejak.
"Devan, bagaimana keadaan di sana?" Pak Gulf mengintai dari kantor polisi.
"Malam Minggu di sini sepi, ga asik." jawab Devanka.
"Berhenti!!!" perintah Aksara tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya rekan di depan.
"Semua siaga! Lampu di rumah itu mencurigakan!" Aksara menunjuk sebuah rumah dengan lampu yang terus berkedip.
Setelah lokasi terkirim tim lain langsung bergegas. Devanka melihat sosok misterius berlari dengan sangat cepat dan langsung mengejarnya. Tim dipecah, beberapa memastikan keadaan rumah sementara yang lain mengejar sosok misterius itu. Devanka berlari secepat yang dia bisa, hampir saja tertangkap namun sosok itu berbelok. Devanka tak sempat menikung dan melewati gang kecil itu, saat berbalik sosok itu sudah menghilang. Tak menyerah, Devanka terus menyusuri sampai keluar gang.
Devanka melihat seorang gadis terduduk di depan pagar sebuah rumah, ia mendekat perlahan. Semakin dekat sosok itu tampak tak asing. Devanka sangat terkejut melihat gadis dengan wajah penuh darah itu.
"Achira!!!"
Aksara datang dengan panik,"Chira!! Kamu gapapa?! Chira!!!"
Achira tak menanggapi sama sekali, Aksara langsung membawanya ke rumah sakit. Tim lain melapor, korban tewas bersimbah darah dan kedua jari tengahnya terputus. Lagi-lagi mereka gagal menangkap pelaku, Achira juga harus mengalami syok untuk kedua kalinya. Di serang tepat di depan rumah padahal hanya ingin membuang sampah, malam yang buruk baginya.
Sudah 3 hari Achira di rumah sakit, meski kondisinya belum terlalu stabil setidaknya sudah bisa menanggapi orang lain. Devanka tak ingin membuang-buang waktu, dia membawa sebuah boneka beruang dan sekaleng cat merah. Dia meminta Achira untuk memperlihatkan bagaimana pelaku menyerangnya. Tangan Achira yang dilumuri cat perlahan menyentuh wajah boneka, lalu mencekiknya. Devanka menanyakan ciri fisik pelaku, "Perempuan, sama tinggi. Rambut.... panjang...." Achira menjawab.
Aksara memeluk erat adiknya, wanita yang selalu bersikap tegas itu kini menangis. Devanka merasa bersalah karena meminta keterangan dari seorang korban yang masih syok, namun setidaknya petunjuk tentang pelaku bertambah. Pak Gulf menyimpulkan jika pelakunya adalah seorang remaja juga, namun motif pembunuhan masih menjadi misteri. Semua berharap petunjuk ini menjadi titik terang dari kasus penuh teka-teki ini.
Di hari Sabtu aparat keamanan menyamar dan mengintai di rumah-rumah yang dicurigai, selama di rumah itu terdapat siswi SMA atau baru lulus sekolah maka akan di awasi. Anehnya tak ada hal mencurigakan yang terjadi sepanjang malam, semua tampak tenang. Sampai keesokan harinya juga tak ada laporan kematian mendadak yang masuk. Aksara baru saja menghela nafas lega, namun tiba-tiba dia mendapat telepon dari pihak rumah sakit.
"Apa?! Hilang?!"
Devanka yang baru menyuap mi instannya langsung tersedak, "Huk! Huk! Apa yang hilang?"
"Achira! Dia mendadak hilang!" Aksara mengemasi barang-barangnya dengan cepat.
"Bergerak dengan cepat! Bisa jadi dia dalam bahaya!" Pak Gulf mengambil kunci mobil.
"Aksara, kamu cek ke rumah. Biar kami cek cctv rumah sakit!" Devanka memberikan kunci motornya.
Aksara berkendara dengan kecepatan tinggi, dia bergegas masuk dan memeriksa setiap ruangan. Tak ada jejak Achira sama sekali, namun dia menemukan gantungan kunci adiknya penuh dengan darah. Di rumah sakit Pak Gulf memeriksa rekaman cctv, Achira berjalan keluar rumah sakit dengan baju pasien sekitar pukul 8 malam. Jejak Achira menghilang di sana.
Mereka kembali ke kantor polisi, Aksara sangat ingin membuat laporan orang hilang namun ini belum 24 jam. Pak Gulf semakin yakin jika saat ini Achira berada di tangan pelaku pembunuhan berantai.
"Achira udah tau ciri-cirinya, jadi target kali ini pasti dia. Betapa bodohnya aku, kenapa aku ga jagain dia! Kakak ga berguna!" Aksara memukul kepalanya sendiri.
"Nak, kamu harus tenang! Keberadaan Achira belum diketahui, kamu harus berfikir positif! Ga akan terjadi apa-apa sama adik kamu!" Pak Gulf menghentikan Aksara.
Devanka menatap denah kota, "Penduduk di kota ini makin sedikit, bisa-bisa dalam waktu singkat kota ini berubah jadi kota mati."
Pak Gulf juga nampak frustasi, "Ya, itu bisa aja terjadi. Murid SMA di sini jadi sangat sedikit, tidak lebih dari 20 orang dalam tiap angkatan."
Selama sebulan Achira menghilang, pembunuhan berantai juga berhenti. Hal ini dapat membuktikan jika Achira adalah kunci utama dari kasus ini, keberadaannya dan pelaku menghilang dalam waktu bersamaan. Di saat itu muncul kecurigaan di benak Devanka, namun dia menyimpannya untuk diri sendiri karena tidak ingin melukai perasaan Aksara. Devanka melakukan penyelidikan secara rahasia, dia pergi ke sekolah-sekolah dan mencari sosok yang mirip dengan keterangan Achira. Hasilnya kebanyakan siswi memiliki ciri-ciri seperti itu, Achira sendiri juga memiliki ciri fisik yang sama. Devanka semakin curiga, akhirnya dia melakukan hal nekad.
Hari Sabtu berikutnya Devanka keluar dengan seragam SMA yang dia pinjam. Devanka berjalan pelan menyusuri jalanan dengan pistol dibalik jaketnya. Tiba-tiba seseorang menariknya ke sebuah gang gelap.
"Ssttt... ini aku!" gadis itu membungkam mulut Devanka.
Devanka terbelalak melihat gadis di depannya ternyata adalah Achira yang sudah menghilang selama sebulan. Achira melepas tangannya perlahan, kemudian menuntunnya ke suatu tempat. Devanka mengikuti tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Mereka tiba di sebuah bangunan terbengkalai, Achira nampak sangat waspada.
"Tempat apa ini?" Devanka bertanya.
"Tempat di mana semua jawaban dari teka-teki berada!" jawab Achira.
"Maksudnya?" Devanka belum mengerti.
"Jalan perlahan dan hati-hati!" Achira memperingatkan.
Mereka berjalan perlahan, namun Devanka tak sengaja menginjak jebakan. Achira bereaksi dengan cepat dan berhasil menghindar, namun lengannya tersayat. Devanka menyarankan untuk pergi, namun Achira menolak dan terus maju.
"Jadi selama sebulan kamu ke tempat ini sendiri?" tanya Devanka ketika melihat semua foto korban dan foto Achira tertempel di dinding.
"Target udah ditentukan dari awal, sebelum terbunuh maka target ga akan berubah. Karena itu selama aku menghilang ga akan ada kasus pembunuhan." Jelas Achira.
"Tapi kenapa kamu ga sembunyi di kantor polisi aja?" tanya Devanka.
"Bodoh! Tempat paling berbahaya terkadang adalah tempat terbaik untuk bersembunyi!" jawab Achira.
Prang!!!!
Suara berisik muncul di ujung tembok, mereka langsung berlari secepatnya. Pelaku terus menembak, lagi-lagi Achira harus terluka. Sebuah peluru menancap di bahunya. Setelah berhasil keluar dari bangunan tua itu mereka belum bisa bernafas lega, tiba-tiba saja 3 ekor anjing entah datang dari mana langsung mengejar mereka.
Setelah berlari cukup lama akhirnya mereka selamat, Devanka membawa Achira ke rumah sakit. Tak lupa dia juga menghubungi Aksara. Setelah mendapat penanganan Achira langsung dibawa pulang. Setelah Devanka menceritakan tentang bangunan terbengkalai semua orang melakukan persiapan. Mereka menuju lokasi namun sepertinya pelaku sudah berhasil kabur.
"Selidiki dengan cepat! Temukan setiap jejak!" perintah pak Gulf.
"Siap!!!"
Beberapa hari berlalu, pelakunya hilang begitu saja. Achira tetap tinggal di rumah dengan pengawasan Aksara. Tingkah Achira berubah, dia lebih sering diam dan menatap keluar jendela. Setelah menjadi bungkam dia lagi-lagi menghilang, secarik kertas tertinggal di atas meja kerja Aksara.
"Sebenarnya ada misteri apa dibalik semua ini?" Aksara duduk memandangi surat di hadapannya.
Dear Sister:
Kak, maaf Chira harus pergi. Kalau kakak mau mengakhiri semua ini datang ke bangunan terbengkalai itu. Kakak harus datang sendirian, kalau ada orang lain yang datang pembunuhan akan terus berlanjut.
Aksara mendatangi bangunan tua itu, dia berjalan mengendap-endap.
"Achira? Kamu dimana?" Aksara memanggil.
Seseorang muncul di belakangnya lalu berkata, "Benar-benar kakak yang setia, hahaha!!'
Aksara berbalik dan bingung, "A... Achira?"
"Surprise.... hahaha!!!" Achira tertawa dengan puas, itu adalah pertama kalinya Aksara mendengar tawa psikopat dari sang adik.
"Maksud kamu apa?" Aksara tak mengerti.
"Astaga..... bodoh banget sih? Beneran bodoh atau ga mau nerima kenyataan?" Achira menodongkan pistol.
"Dek, kenapa kamu harus kayak gini???"
Dorr!!!!
Achira melepas tembakan, "Kenapa? Hahahaha!!!! Mereka itu cuma anak-anak berandalan yang ngerti aturan, hidup mereka ga berarti apa-apa. Harusnya kakak berterima kasih dong, setidaknya beban kakak lebih ringan dengan menghilangnya para pembuat onar kaya mereka!"
"Achira, yang kamu lakukan ini salah!" bentak Aksara.
"Salah? Ini ga salah! Aku cuma meringankan beban kakak doang! Hahaha!" Achira tertawa.
Aksara menyadari jika yang di depannya bukan lagi Achira, adik tersayangnya. Perasaannya campur aduk, dia tidak tau harus memiliki pekerjaan atau saudarinya. Di saat itu Achira bersiap menarik pelatuk pistol, "Malam ini adalah kematian untuk target terakhir!"
Aksara balik menodong Achira, tangannya bergetar. Tiba-tiba para polisi menerobos, Achira mengarahkan tembakan ke dinding. Karena aksinya itu para polisi langsung menembakinya, tubuhnya tumbang dan seketika tewas. Aksara terduduk lemas, dadanya terasa sangat sesak.
"Aksara!" Pak Gulf mencoba menyadarkan.
"Ga.... ga mungkin.... Chira!!!!" tangis Aksara pecah seketika.
"Kenapa harus kamu???" Devanka ikut lemas melihat orang yang baru saja dia tembak.
Polisi memeriksa lokasi sekali lagi, mereka menemukan sebuah kotak berisi data para korban dan bagaimana mereka dibunuh. Yang mengejutkan adalah nama terakhir dalam daftar, nama Achira dengan keterangan tewas dibunuh polisi. Semua misteri sudah terungkap. Tidak lagi terjadi kasus pembunuhan berantai dan kota perlahan menjadi ramai kembali.