P R O L O G :
"Jangan kau kira, ini akan berakhir sampai disini, mas... perlakuanmu padaku juga pada keluargaku, tidak mungkin akan hilang begitu saja. Kelak, kau harus mempertanggung jawabkan seluruh perbuatanmu itu," kata Sari sambil menyeka hidung dan sudut bibir kanannya yang basah oleh darah akibat tamparan Romlan.
Sepasang mata wanita cantik itu menatap tajam ke arah pemuda yang berdiri di depannya sambil memeluk seorang wanita cantik bertubuh sintal yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Ditha.
Wanita bertubuh sintal itu menangis mencoba melepaskan pelukan Romlan, sepertinya, ia merasa jengah dengan tatapan tajam menusuk milik Sari. Ia merasa bersalah sekali dengan perbuatannya itu. Tapi, itu bukan karena kehendaknya sendiri melainkan paksaan dari Romlan untuk melayani nafsu bejatnya.
Jika dipikir-pikir, peristiwa itu adalah kesalahan pribadi masing-masing. Sari terlalu sibuk dengan pekerjaannya... yah, setelah menikah dengan Romlan... Sari lah yang menanggung beban hidup suami. Jam kerja kantor dimulai pukul tujuh pagi, pulangnya nyaris diatas jam dua siang paling telat jam setengah tiga.
Tidak berhenti disitu, sepulang dari kantor, Sari langsung membantu pamannya menjaga toko bahan pecah belah dan tutup jam delapan malam. Hampir setiap hari Sari berkutat dengan kesibukannya yang nyaris tak pernah libur. Sepulang dari kerja, Sari harus membersihkan rumah sementara, Romlan sendiri sibuk berkecimpung dalam dunia seni lukis yang ... boleh dibilang pekerjaan tidak pasti karena tidak semua orang berminat dengan lukisan.
Di pihak Ditha, karena kasihan melihat Sari bekerja pontang-panting sendirian tak ada yang mengurus rumah, maka, dia membantu Sari melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Ibu rumah tangga kebanyakan. Mencuci, memasak, membersihkan lantai dan lain sebagainya, sesekali ia memenuhi lemari es milik Sari dengan sayur mayur, buah-buahan juga cemilan.
Walau ia merasa bahwa tidak seharusnya melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan ibu RT, akan tetapi, karena tidak memiliki pekerjaan pasti, Ditha dengan tulus dan ikhlas melakukan semuanya itu. Karena seringnya datang ke rumah Sari, mau tidak mau, pertemuannya dengan Romlan yang hampir setiap hari ada di rumah plus kecantikan dan kemolekan tubuh Ditha, membuat Romlan gelap mata. Di pihak Ditha yang selalu gagal dalam hubungan asmara, juga merasa iba karena jarang sekali melewatkan waktu bersama sang istri, mereka terlibat dalam hubungan gelap.
Hari itu, entah mengapa Sari merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, sesuatu yang salah maka, ia memutuskan untuk pulang awal dan ... ternyata, benar saja... didapatinya Romlan dan Ditha tengah bercinta.
Adu argumen terjadi, membuat panas suasana, karena tak tahan atas nada suara tinggi sang isteri, Romlan menampar wajah Sari hingga, wanita itu terpelanting dengan luka di pelipis kiri, hidung dan sudut bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah tiada henti.
Sari sama sekali tidak menyangka bahwa sang suami tega memukul dan menamparnya. Jarang sekali bahkan tidak pernah terjadi selama mereka berdua merenda bahtera rumah tangga bersama.
"Terserah, kau mau bilang apa... kau gagal dalam menjalankan kewajibanmu sebagai isteri... maka, jangan salahkan aku selingkuh. Sebaiknya, kau urus pekerjaanmu sendiri, biar kami melakukan apa yang harus kami lakukan," ujar Romlan.
"Baiklah, kalau itu maumu, mas... mulai sekarang berhati-hatilah kalian. Sebelum hal ini diketahui oleh keluargaku juga penduduk di kota ini... sudahi saja permainan terlarang kalian," ancam Sari.
"Kau mau mengancam kami ?! Silahkan saja... toh, semua warga disini tahu siapa kau itu sebenarnya,"
Sari membalikkan badan, dalam guyuran hujan dan gelegar suara guntur, ia berjalan keluar dan tubuhnya menghilang di antara rimbunan pohon beringin yang berdiri berjejer. Mendadak terdengar suara tawa mengerikan memenuhi segala penjuru di tempat itu, menggema, menulikan telinga ... semakin lama, semakin menjauh untuk kemudian hilang.
Romlan menatap Ditha dalam-dalam, "Hari ini juga aku akan melamarmu, jadi, bersediakah kau menerima lamaranku ?"
Ditha menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia tak tahu harus berkata apa. Ada perasaan senang, ada pula perasaan bersalah karena menurutnya, telah merusak rumah tangga Sari.
***
Dua tahun kemudian...
Dua pasangan muda-mudi itu duduk di kursi pelaminan yang cukup indah dengan segala pernak-perniknya. Semua mata memandang dengan perasaan kagum. Baru pertama kali ini desa Rubuk Mumu, diadakan hajatan semeriah dan semewah ini.
Sebagian besar para warga diundang ke pesta pernikahan Romlan dan Ditha. Sepasang mata Ditha menyapu ke sekeliling, ia tampak cantik menawan dengan riasan pengantin, tetapi, tak mampu menyembunyikan rasa cemas dan khawatir di wajahnya. Dua tahun setelah peristiwa Sari lewat, wanita bertubuh sintal itu masih dihantui oleh rasa bersalah.
Hingga pandangannya, tertuju pada sekelompok orang berpakaian hitam-hitam yang duduk paling ujung. Penampilan mereka aneh dan sepertinya bukan berasal dari desa ini.
Saat pesta pernikahan selesai dan saat mereka memasuki kamar pengantin, mereka terkejut...
Sesosok tubuh digantung pada langit-langit kamar. MAYAT....
Mayat itu sudah tak memiliki kulit, lidahnya terjulur sementara matanya terbelalak lebar seakan menatap kosong ke arah mereka.
Ditha histeris. Teriakannya memenuhi ruangan kamar, menerobos melalui lubang-lubang udara bergema memenuhi sekitar, beberapa tamu yang sebagian belum beranjak dari tempat itu, melompat kaget. Bagai digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, mereka yang sebagian besar adalah famili atau saudara Ditha bergegas menuju ke kamar pengantin.
"Astaghfirullah...." seru mereka nyaris bersamaan. Ditha duduk meringkuk di sudut ruangan, tubuhnya gemetar tak keruan bagai kedinginan. Ada orang mati di malam pengantin, pastilah bertanda buruk atau jelek.
( Bersambung )