"Aku minta maaf... aku janji! Aku tidak akan mengulanginya lagi.."
Berulang kali kalimat itu ku ucapkan. Terlalu bodoh, aku katakan.
Namaku Xixi. mungkin kalimat itu akan terus terngiang di telingaku. Aku punya seseorang yang begitu setia padaku. Begitu tulus menyayangiku. Namun, entah kenapa aku bertindak sangat bodoh kala itu.
Aku kerja di PT X di kota A. Di tempat kerja itulah, aku mengenal beberapa rekan kerja lelaki dan wanita. Dan salah satu di antara lelaki-lelaki itu, menjadi satu teman dekatku. Sementara, aku sudah memiliki lelaki yang akan menjadi calon imamku.
"Xixi.. hari ini makan siang bareng yuk?? kbetulan kerjaanku uda kelar nih..", ajak lelaki itu padaku.
"Haih... yaa ya... aku juga tinggal dikit kok.. lanjut ntar lagi aja deh.." , ujarku padanya, sambil merapikan hamparan buku yang ada d depanku.
Kami berdua berjalan keluar ruangan.. pergi keluar mencari tempat makan siang berdua saja, yaa... hanya berdua saja.
Seperti itu, berulang kali, dan hampir setiap hari, kecuali hari minggu, libur.
Dan hanya di hari minggu, aku bisa bersama dengan calon imamku, Radit.
Setiap hari minggu, Radit datang ke rumahku. karena dia juga bisa libur kerja hanya hari minggu. Di hari lain, dia hanya bisa sibuk kerja lembur setiap hari. Bahkan terkadang,, tak pernah ada waktu bahkan hanya untuk memberikanku kabar meskipun hanya lewat pesan singkat.
Sementara aku, aku wanita yang masih butuh perhatian setiap hari, butuh kasih sayang, meskipun itu hanya lewat pesan singkat, bagiku tak mengapa. Tapi Radit, tidak begitu.. Jika aku tak menghubunginya, dia tidak menghubungiku.
Aku dan Denny, rekan kerjaku itu, setiap hari bertemu. Setiap kali makan siang bersama, dan bahkan, setiap saat selalu ada di sampingku. Karena dia bekerja di tempat yang sama denganku.
Dia masih single, belum punya pasangan, dan itu, membuatnya merasa nyaman padaku.
Tetapi aku masih dalam batasku, aku ingat, aku sudah memiliki lelaki calon imamku. Aku takkan pernah menduakannya, pikirku saat itu.
Tetapi entah kenapa, pikiranku kacau saat itu.. Aku benar-benar tak menyangka, jika saat itu, aku mengiyakan Denny, untuk menjadi teman dekatku, lebih dr teman.
"Xixi,, qta uda bersama lama, aku uda ngerti kamu, km jg uda ngerti aku.. Xixi,, kamu mau gak jadi pacarku??", ucap Denny padaku sembari memegang tangan kananku dan menatap dalam padaku.
Aku membalas tatapannya, "Den,, tapi km tau kan, aku dah punya tunangan,, dan aku...",
Belum selesai aku bicara, Denny menyahut...
"Xixi,, aku gak apa jadi yg kedua, asalkan aku bisa bareng terus sama kamu,, aku bisa deket smaa kamu, itu udah bisa buat aku seneng. Aku nyaman sama kamu, Xixi.." , ucapnya padaku penuh harap.
Dan entah kenapa tanpa pikir panjang, aku mengangguk, mengiyakan kalimatnya itu.
Seketika dia mencium tanganku sebagai tanda bahwa aku telah menyetujuinya.
Hari berlalu, hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Dan ada hari dimana aku,
"K E T A H U A N S E L I N G K U H " ..
Hari minggu, seperti biasa, Radit datang ke rumahku. Dan sabtu malam, terakhir aku bertukar pesan dengan Denny.
Handphoneku ku taruh di meja. Aku lupa, bahwa aku belum sempat menghapusnya karena aku bangun siang hari ini. Radit, entah kenapa dia yang tak biasa memegang handphoneku, tiba-tiba membukanya.
Dan disitulah petaka di mulai. Pesan chatku dengan Denny, Radit sudah membaca semuanya. Isinya tidak begitu menarik, hanya saja, semua tentang perhatian Denny padaku.
Aku keluar membawa baki minuman dan ku letakkan di meja. Aku melihat raut wajahny yang masam. Aku ajak dia tersenyum, tapi tak ada balasan darinya.
"Xixi, kamu jujur sm aku, Denny itu, siapa??", ucapnya sambil menatap tajam padaku.
Degg!
Jantungku serasa mau copot. Darimana dia tau soal Denny? pikirku.
"Oh,, Denny itu rekan kerjaku..", jawabku dengan santainya.
"Jadi, kalo temen kerja itu boleh sayang-sayangan gitu ya??" kasih perhatian lebih ke kamu, gitu, terus ajak makan bareng, tiap pagi, malem, tiap saat kasih kabar sm kamu, gitu???" , tanyanya panjang lebar padaku.
Aku kembali menatap ke arahnya. Dengan senyum tipis di wajahku, aku menjawabnya, " Yank,, kamu tau kenapa aku begitu?? karena aku butuh perhatian!!"
Sekilas kami terdiam terpaku saling menatap.
Tak lama kemudian, Radit berdiri sambil meraih lenganku.
"Kamu tau, kenapa aku gak bisa memberi perhatian lebih untukmu?? kenapa aku gak bisa seperti lelaki pujaanmu yang di luar itu??? Ha!! Kamu tau kenapa??Karena aku memilih untuk menabung untuk masa depan kita nanti, untuk anak-anak kita nanti!!! Apa kamu pernah memikirkan sejauh itu, ha !! Kalo memang kamu tidak suka dengan sikapku yng seperti ini, kamu silakan memilih laki-laki itu, Sebelum terlanjur jauh melangkah lagi. Karena aku juga tidak suka kamu seperti ini di belakangku!"
Radit mengehempaskan lenganku yang sedari tadi dipegangnya. Dia bergegas mengambil jaket yang ada di kursi dan membalikkan badannya beranjak meninggalkan rumahku.
Aku terdiam dan seketika air mata menetes membasahi pipiku..
Aku bergegas berlari ke arahnya. Menarik tangannya dan memeluknya.
"Aku minta maaf, yank.. Aku khilaf.. Aku janji! Aku tidak akan mengulanginya lagi..
Aku mohon kamu maafin aku... Aku bakal jauhin Denny.. aku janji,yank..?" , ucapku sambil memeluk erat Radit, kekasihku yang juga calon imamku.
Radit hanya membatu. Terdiam sesaat, tak lqma dia menatap ke arahku, dan membalas pelukanku.
"Aku sayang sama kamu Xixi,, " , ucapnya padaku sembari mencium keningku.
"Aku benar-benar minta maaf... ", sahutku.
"Please, jangan kamu ulangi. Aku benar-benar sayang sama kamu. Aku pengen yang terbaik buat kita nanti, sayang. Jadi kumohon kamu juga ngertiin posisi aku. .", balas Radit.
"Ya, sayank... Aku juga sayank sama kamu.
Maaf.. karena aku menduakanmu.. "
Radit mengangguk dan terus mencium keningku berulang kali. Kami pun kembali ke rumah dan ngobrol lagi seperti biasa.
Dan akhirnya, aku melepas hubunganku dengan Denny. Meskipun satu kantor, aku tetap menjaga jarak dengannya, karena aku sudah berjanji pada Radit. Hingga pada suatu hari Denny memilih untuk resign dari perusahaan demi untuk jauh dariku.
############