Pada 31 Oktober tahun 2000, pukul 18.30 tepatnya di sore hari yang indah, di salah satu kota terindah di dunia, Kota Vanesia, Italia. Lahirlah seorang bayi kecil yang cantik nan imut mengemaskan yang bernama Liora Eliana Ellysia atau yang sering disapa Liora.
Beberapa tahun kemudian
Liora Eliana Ellysia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik,anggun dan pintar.
Hidup bergelimang harta karna berasal dari keluarga konglomerat. Merupakan anak serta cucu perempuan satu-satunya dalam keluarga besarnya sehingga menjadikannya anak yang sangat disayangi oleh seluruh keluarganya. Liora juga di kenal sebagai anak yang baik serta ramah kepada semua orang sehingga banyak yang menyukai dan mau berteman dengannya. Dan karna hal tersebut juga tidak sedikit orang yang iri akan hidupnya Karana dianggap memiliki kehidupan yang sempurna.
Namun itu semua hanya terlihat di luar saja, semua orang tidak ada yang mengetahui bahwa Liora mempunyai kehidupan yang tidak seperti kebanyakan anak seumurannya yang dapat dengan bebas berpergian serta melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa harus terus menerus diawasi oleh orang tua mereka. Awalnya Liora pun memiliki kehidupan selayaknya anak seusiannya namun entah mengapa sejak berumur 13 tahun kedua orang tuanya mulai membatasi ruang geraknya, serta mulai membatasinya dalam melakukan berbagai hal, ia sendiripun tidak mengetahui mengapa kedua orang tua beserta keluarga bersarnya melakukan hal tersebut. Setiap kali dirinya bertanya mereka pasti akan selalu menjawab, bahwa semua yang mereka lakukan semata - mata demi kebaikannya. Seperti sore hari ini.
“ Ayah, ibu ?” Kata Liora memulai percakapan
“Iya sayang. Ada apa?” sahut ayah serta ibunya.
“Aku ingin meminta izin untuk sore ini, aku ingin ke pantai untuk menikmati senja” kata Liora meminta izin
“Tentu saja boleh sayang tapi kamu pergi ditemani kak Lio ya” kata sang ibu memberi izin
“Aku sudah besar untuk dapat pergi sendiri bu”sahut Liora agak kesal
“Sayang pergi bersama kak Lio ya ayah dan ibu tidak tenang jika kamu pergi sendirian”sahut sang ibu mencoba menjelaskan
“Hais Baiklah. Ayo kita segera pergi kak aku tidak ingin melewatkan keindahan senja sedikitpun” kata Liora meminta sang kakak untuk bergegas
Setibanya di pantai Bagni Alberoni salah satu pantai di Vanesia, Italia.
“Kak bisakah kamu meninggalkan ku sendiri” Kata Liora kepada sang kakak
“Tidak bisa. Kakak di suruh ayah untuk menjagamu” sahut sang kakak
“Hais. Baiklah tapi jangan terlalu dekat” balas Liora jengkel
“Baiklah kakak akan mengawasimu dari sini, jangan terlalu jauh ya” balas sang kak mengiyakan keinginan Liora
“Iya kak” balas Liora
Setelah merasa cukup jauh dari sang kakak, Liora pun mencari tempat yang bagus untuk menikmati senja di sore hari itu sambil merenungkan nasibnya.
“Hah.”terdengar helaan nafas berat di antara derunya suara ombak
“Mengapa ayah dan ibu bahkan kak Lio begitu posesif terhadap diriku, padahal aku sudah berusia 15 tahun dua tahun lagi aku akan genap menginjak usia yang ke 17 tahun, namun entah mengapa mereka selalu memperlakukanku layaknya sesorang anak kecil yang tidak dapat menjaga dirinya sendiri.” Gumam Liora merenung
“Tapi bukannya segala keposesifan yang mereka lakukan pada ku saat ini berawal sejak aku berusia 13 tahun. Sebelumnya mereka masih membiarkanku melakukan atau bepergian kemanapun yang aku mau. Hemm. Sepertinya ada yang mereka sembunyikan dariku, tapi apa itu? Ayah dan ibu pasti tidak akan mengatakannya pada ku jika memang benar ada yang mereka sembunyikan dariku.”Pikir Liora
“Bagaimana jika aku langsung saja bertanya kepada mereka, ya walaupun kecil kemungkinannya untuk mereka mengatakan yang sejujurnya yang terpenting aku sudah mencobanya” pikir Liora lagi
“Hais sudahlah, dari pada aku memikirkannya yang hanya akan berakhir membuatku sakit kepala lebih baik aku menikmati keindahan senja sore hari ini saja.” Gumam Liora menatap senja sambil tersenyum
Beberapa menit kemudian sang kakak menghampirinya dan mengajaknya pulang karna hari sudah mulai gelap. Liora pun langsung berdiri dan bersiap untuk kembali pulang
Malam harinya, saat berada dimeja makan.
“Bagaimana pemadangan senja hari ini sayang”kata sang ibu memulai percakapan
“Sangat indah Bu, seharusnya ibu juga ikut melihatnya pasti ibu akan sangat menyukainya”sahut Liora antusias
“Heh. Apa bagusnya senja? Senja hari ini pun terlihat sama seperti senja pada biasanya, tidak ada yang spesial.”kata sang kakak memulai pertengkaran
“Senja itu sangat sangat bagus kak, kakak saja yang tidak tau seberapa indahnya senja itu”sahut Liora kesal terhadap perkataan sang kakak
“Entah apa yang membuatmu sangat menyukai senja. Bagiku semua sama saja”kata sang kakak tidak perduli
“Lihat saja suatu hari nanti aku akan membuat kakak menyukai senja”sahut Liora yakin
“sudah sudah lebih baik kita mulai makan saja sebelum makanannya dingin” kata sang ayah melarai pertengkaran kedua bersaudara itu
Setelah makan
“Apakah ini waktu yang tepat untuk menanyakannya? ”batin Liora bertanya
“Hais sudah lah bertanya saja”batin Liora lagi.
“ Ayah, ibu ?” Kata Liora memulai percakapan
“Iya sayang. Ada apa?” sahut ayah serta ibunya.
“Apakah aku tidak bisa memiliki kehidupan yang normal selayaknya anak seusia ku? Mengapa ayah dan ibu selalu mengekangku ?” Tanya Liora kepada kedua orang tuanya.
“Itu semua kami lakukan untuk kebaikan dirimua Liora sayang” Jawab sang ayah.
“Iya, tapi mengapa ? Liora sudah cukup besar untuk menjaga diri Liora sendiri saat berpergian ayah, sehingga tidak perlu sampai hanya untuk keluarpun harus ditemani” Kata Liora kepada sang ayah
“Sayang, dengarkan saja apa yang ayahmu katakan semua ini kami lakukan demi kebaikanmu” Sahut sang ibu
“Hah. Baiklah Liora akan selalu melakukan apa yang ayah dan ibu katakan” kata Liora mengiyahkan apa yang kedua orang tuanya katakan, walaupun dirinya masih sangat penasaran dengan alasan yang menjadi latar belakang mengapa kedua orang tuanya sangat posesif akan dirinya tidak seperti kepada sang kakak yang selalu di bebaskan melakukan apapun yang diinginkannya.
“Terimakasih sayang karna kamu sudah mau mendengarkan apa yang ayah dan ibu katakan, percayalah semua ini kami lakukan demi kebaikanmu” kata sang ibu
“Baiklah ibu ayah kalau begitu Liora akan kembali lebih dulu ke kamar karna aku masih memiliki beberapa tugas yang harus aku selesaikan” kata Liora kepada ayah dan ibu nya
“Baiklah sayang belajarlah dengan rajin tapi jangan terlalu memaksakan diri ya“ kata sang ibu
“Jika ada yang tidak dapat kamu lakukan jangan sungkan untuk bertanya kepada kami. Jangan terlalu membebani dirimu dengan semua pelajaran tersebut. Iyakan Lio?” sambung ayah sambil bertanya kepada sang kakak.
“Iya. Apa yang ayah katakan benar jangan sungkan untuk bertanya atau bahkan meminta tolong kakak pasti akan selalu membantumu” jawab sang kakak sambil tersenyum melihatnya
“Kalian tenang saja aku bukan lagi seorang anak kecil sehingga tidak dapat melakukan tugas-tugas kecil tersebut” kata ku kepada ayah, ibu dan kak Lio
“Hahaha... ternyata anak ayah sudah besar ya?” tawa sang ayah yang di ikuti oleh ibu dan sang kakak.
Liora pun segera kembali ke kamarnya untuk belajar, namun dirinya tidak dapat fokus akan pelajarannya karna terus berpikir tentang alasan yang menjadi latar belakang mengapa keluarganya sangat posesif terhadap dirinya.
“Hah. Lagi – lagi jawaban ini yang aku dapatkan, mengapa aku tidak dapat seperti kak Lio yang dapat dengan mudah melakukan apa yang di inginkannya ? mengapa ayah dan ibu selalu melarangku melakukan sesuatu yang menurut mereka berat bagiku padahal menurutku aku dapat melakukannya dengan baik tanpa akan terjadi sesuatu yang membahayakan bagi diriku. Apakah karna aku merupakan seorang perempuan sedangkan kak Lio merupakan seorang lelaki ? Apakah menurut ayah dan ibu aku tidak dapat menjaga diriku sendiri dengan baik hanya karna aku seorang perempuan?” batin Liora
Sementara itu di meja makan setelah Liora menghilang di ujung tangga menuju kamarnya terjadi perbincangan yang cukup serius antara kedua orang tuanya beserta sang kakak.
“Ayah apa tidak sebaiknya kita mengatakannya saja kepada Liora mengenai penyakit yang di deritanya”kata sang kakak sambil melihat punggung sang adik yang mulai menghilang di ujung tangga menuju kamarnya
“Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya, jadi lebih baik kita katakan saja itu lebih baik dari pada dia mengetahuinya dari orang lain”lanjut sang kakak sambil mengalihkan tatapannya kepada sang ayah
“Iya kau benar kita memang sudah seharusnya mengatakan padanya mengenai penyakit yang di deritanya”sahut sang ayah membenarkan perkataan sang anak
“Tapi bagaimana kita mengatakannya kepada Liora bahwa dirinya mengidap penyakit leukemia”kata sang ibu
Pranggggg.......
Bunyi suara jatuh.
Seketika pandangan semua orang langsung tertuju kepada seseorang yang baru saja turun dan dapat di pastikan bahwa dia mendengar semua percakapan yang baru saja mereka bicarakan.
“A....apa Le....Leukemia ”gagap seseorang yang baru turun tersebut yang ternyata adalah Liora orang yang menjadi topik pembicaraan mereka
“ayah apakah itu be....benar?” tanya Liora kepada sang ayah memastikan
“Sayang kami bisa menjelaskannya”sahut sang ibu mencoba menjelaskan
“AKU BERTANYA APAKAH ITU BENAR”bentak Liora
“Iya sayang” kata sang ayah mengiyakan
“Mengapa kalian semua menyembunyikannya dariku”tanya Liora sambil menangis.
“Sayang tenanglah. Ayah dan ibu akan memastikan bahwa kamu akan baik baik saja”kata sang ibu sambil Memeluk sang anak perempuannya.
“Sayang sebaiknya kamu istirahat saja jangan terlalu memikirkannya. Biarkan itu menjadi urusan ayah, ayah akan memastikan bahwa semuanya akan baik baik saja.”kata sang ayah mencoba menenangkan.
Keesokkan harinya saat semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga.
“Sayang. Ayah sudah menanyakan tentang keadaanmu kepada dokter keluarga kita, menurutnya penyakit mu masih bisa di sembuhkan akan tetapi kamu harus bersedia untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang dan serangkaian pengobatan lainnya dan tentu saja semua itu memiliki efek sampingnya” kata sang ayah menjelaskan.
“Iya ayah Liora bersedia” yakin Liora
Satu tahun sudah setelah Liora mengiyakan untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang dan serangkaian pengobatan lainnya. Selama satu tahun lebih ini mereka semua terfokus pada pengobatan Liora. Setelah melakukan serangkaian pengobatan yang disarankan dokter, setelah satu tahun akhirnya Liora dinyatakan sembuh dari penyakit yang di deritanya.
“Hah. Akhirnya aku bisa mulai menjalankan kehidupanku layaknya anak seusiaku.”batin Liora merasa senang dan bersyukur
“Sayang karna kamu sudah sembuh bagaimana jika kita merayakannya”kata sang ayah memberi saran
“Bagaimana jika kita pergi ke pantai saja ayah, kita kesana untuk menikmati senja”kata Liora memberi saran
“Lagi lagi senja, kenapa kamu suka sekali dengan senja”kata sang kakak sinis
“Memangnya kenapa?”balas Liora tak kalah sinis.
“Hais, Kalian ini. Karna ini untuk merayakan kesembuhan Liora maka sudah diputuskan kita akan ke pantai untuk menikmati senja sesuai keinginan Liora.” Kata sang ayah
“Yeeeey.... Melihat senja” sorak Liora kegirangan
Berapa bulan kemudian.
Bruuuk......
Suara sesuatu yang jatuh.
Tiba tiba Liora jatuh pingsan saat sedang berjalan menghampiri keluarganya untuk makan malam.
Karna Liora yang tiba tiba pingsan membuat semua keluarganya langsung membawanya ke rumah sakit untuk di periksa.
Sesampainya di rumah sakit Liora langsung di larikan ke IGD dan sesuai dengan diagnosa dokter, penyakit leukemia yang sebelumnya di derita oleh Liora kembali bersarang di tubuh Liora, namun penyakitnya kali ini lebih ganas dari yang sebelumnya. Sontak mendengar hal tersebut semua keluarganya mendadak lemas tidak bertenaga, bahkan sang ibu sampai pingsan mendengarnya.
Akhirnya setelah mendapatkan perawatan Liora pun sadar dari pingsannya.
Setelah Liora sadar seluruh keluarganya menjelaskan kepadanya mengenai apa yang terjadi padanya dan juga menjelaskan bahwa penyakitnya yang telah dinyatakan sembuh itu, kembali lagi bersarang pada tubuhnya. Dan menurut para dokter Liora harus kembali melakukan transplantasi sumsum tulang belakang dan serangkaian pengobatan yang pernah dijalaninya sebelumnya.
Namun sayang sekali Liora sudah tidak mau lagi menjalani pengobatan bagi penyakitnya tersebut, seluruh keluarganya sudah mencoba membujuknya agar mau kembali menjalani pengobatan, namun dirinya tetap pada pendiriannya yaitu tidak mau lagi melakukan pengobatan.
Dan perbincangan tersebut pun berakhir dengan keputusan bahwa Liora tidak akan menjalankan pengobatan apapun lagi.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 31 Oktober 2017, pukul 17.00 tepatnya di sore hari yang indah, di salah satu pantai yaitu pantai Bagni Alberoni pantai yang merupakan tempat favorit bagi Liora untuk menikmati keindahan senja, tengah diselenggarakan sebuah pesta ulang tahun yang sederhana, dimana seluruh keluarganya berkumpul bersama untuk merayakan ulang tahun Liora yang ke 17.
“SELAMAT ULANG TAHUN LIORA SAYANG” teriak seluruh keluarganya mengucapkan selamat kepada sang berulang tahun.
“Terima kasih semuanya” balas Liora terharu.
Setelah mengucapkan selamat kepada yang berulang tahun acara di sore hari itu pun dimulai.
Selang satu jam kemudian tepatnya pukul 18.00 mereka semua berkumpul bersama di pinggir pantai untuk menunggu sang matahari terbenam.
“Kak apa sekarang kau sudah mulai menyukai senja?” tanya Liora menggoda sang kakak.
“Cih.” Decak sang kakak
“Ayolah kak jawab pertanyaan ku.” paksa Liora sambil memeluk serta bersandar di lengan sang kakak.
“Hais... Sebaiknya kau fokus saja pada senja mu yang indah itu, karna sebentar lagi mataharinya akan benar tenggelam.” mendengar perkataan sang kakak Liora pun langsung dengan cepat fokus kepada senja yang sangat disukainya itu.
Mereka pun menikmati senja tersebut bersama sama.
Saat senja mulai menghilang di gantikan gelap tepat jam 18.30, mereka semua saling berpelukan dengan Liora yang berada di tengah.
“Senja itu indah bukan?” tanya Liora
“Iya sayang” sahut kedua orang tuanya bersamaan.
“kak?” tanya Liora kepada sang kakak
Setelah mendengar pertanyaan Liora sang kakak Lio pun semakin mengeratkan pelukannya kepada sang adik sambil berbisik.
“Iya” bisik sang kakak
Namun setelah mengatakannya tidak ada lagi sahutan dari Liora, merekapun sedikit melepaskan pelukan mereka dan melihat bahwa Liora sudah menutup matanya, Awalnya mereka berpikir bahwa Liora hanya sedang menikmati pelukan tersebut tanpa mereka sadari bahwa tepat saat itu, 31 Oktober 2017, pukul 18.30 sore, Liora Eliana Ellysia, anak serta adik tercinta mereka telah menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan mereka.
Satu tahun kemudian
Pada 31 Oktober 2017, pukul 17.00 tepatnya di sore hari yang indah, di tepi pantai Bagni Alberoni, pantai yang merupakan tempat favorit bagi Liora untuk menikmati keindahan senja, berdirilah seorang laki laki yang memegang sebuket bunga mawar putih.
“Hai, sayang. Bagaimana kabarmu diatas sana?” tanya laki laki itu sambil memandangi langit senja di sore hari itu.
“Kakak yakin kamu pasti berada di tempat yang indah diatas sana, kamu juga pasti dapat melihat semua yang terjadi kepada kami di sini.
Sudah setahun kepergian mu, jujur.. kami semua terutama kakak, belum percaya akan hal tersebut mungkin karna kakak belum siap ditinggalkan olehmu.” lanjut laki laki tersebut.
“Kamu juga pasti dapat melihat bahwa kini kakak sudah sangat menyukai senja, ya kamu berhasil membuat kakak menyukai senja seperti yang pernah kamu katakan dulu. Karna hanya dengan melihat keindahan senja ini, Kakak merasa kamu tetap ada bersama dengan kakak. Liora Eliana Ellysia sayang... namamu, akan selalu terukir indah di hati kakak.
Setelah mengatakannya, Lio langsung berdoa bagi sang adik. Sebelum meninggalkan pantai tersebut, Lio terlebih dahulu meletakkan sebuket bunga mawar putih di pinggir pantai sehingga buket tersebut terbawah oleh arus ombak di sore hari itu.
-END-