Pada pinggiran trotoar, Laura duduk bersedekap. Di depannya lalu lalang kendaraan mulai terlihat jarang--setengah jam yang lalu hari telah berganti. Baru saja ia duduk di pinggiran trotoar itu sebelumnya ia merebahkan tubuhnya di satu pojokan teras sebuah toko, sebuah toko yang penjual aksesoris motor, Toko Jaya Motor, namanya. Oleh sebab kehadiran seseorang yang ia rasa agak mencurigakan ia memilih untuk melipir ke pinggiran trotoar itu. Padahal orang tersebut hanya duduk bersandar saja di situ. Dengan kepala yang tertunduk dan jaket hitam yang menutupi muka, jelasnya melirik ke arah Laura saja tidak. Sepertinya, apa yang sedang dilakukan orang tersebut tidak ada bedanya dengan apa yang sedang Laura perbuat, hanya ingin mengistirahatkan tubuh. Laura menoleh, kemudian menduga-duga dalam hati, usia orang tersebut tak berselisih jauh dengannya.
Gerimis turun, memang beberapa hari ini, setiap malam larut begini, hujan akan turun, walau dengan intensitas yang rendah kayak begini, tapi tetap saja akan basah, namanya juga air.
Tak pelak Laura pun beranjak mencari tempat berteduh. Dengan satu tangan yang menudungi kepala, Laura berlari. Dan entah kenapa langkah kakinya bergerak ke arah toko tersebut.
Laura berdiri bersandar dengan kedua tangan yang mengapit di dada, ia agak berdiri menjauh. Sebentar kemudian gerimis mengguyur lebat, ini diluar kewajaran.
Orang yang duduk tertunduk itu terdengar terbatuk. Laura melirik, agak takut. Sekian menit kemudian ia kembali terbatuk sekali ini kepalanya menengadah. Benar dugaan Laura dari paras wajahnya jelas terlihat kalau usia orang tersebut tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Dia pun menjengkitkan kepala, itu sebuah bahasa isyarat yang bertujuan hendak menyapa, seulas senyum tipis ia umbar bersamaan dengan itu. Laura pun membalas, meski agak rikuh.
"Sendiri," suaranya terdengar berat. Laura diam tak menjawab. "Di rumah ada masalah," ia bertanya. Sekali lagi Laura diam tak menjawab. Orang tersebut hanya menganggukkan kepala.
Tak berselang lama jari jemari orang tersebut digerak-gerakkan ke arah Laura. Adapun tindakan dari menggerak-gerakan jari jemari tersebut tak lain adalah berbicara melalui bahasa isyarat. Bahasa isyarat yang jamaknya digunakan bagi orang-orang yang mengalami masalah pendengaran dan mulut.
Laura merespon dengan delikkan mata. Orang tersebut paham maksud dari delikkan mata tersebut, ia pun mengangguk lucu.
"Lari itu bukan jalan keluar," ucap Orang tersebut kemudian. Laura merespon dengan kepala yang tertunduk. Orang tersebut sekali mengangguk kemudian ia balik menundukkan kepala.
Hujan masih mengguyur dengan intensitas yang sama, dengan dibantu oleh hembusan angin yang bertiup kencang, tempias berkali mendarat ke muka Laura. Maka mau tak mau Laura harus masuk lebih ke dalam. Itu berarti ia harus mendekat ke orang tersebut.
'aku merindukan suatu hari tanpa malam dimana kanak-kanak riang berkejaran orang-orang duduk santai di pinggir-pinggir taman. aku merindukan suatu hari tanpa malam dimana lawan adalah kawan ia menjadi karib yang tak lekang dihantam kerasnya jaman. aku merindukan suatu hari tanpa malam dimana si tua pelukis tiada lelah menumpahkan kenangan demi kenangan adalah kanvas menjadi cerita lalu si anggun matahari mencerna dengan sebuah senyuman.' Suara orang tersebut sembari kepalanya menengadah ke angkasa malam, setelah sekian menit berselang hanya hujan yang berbicara diantara mereka.
'hari tanpa malam adalah kerinduan yang membeku bersama deru debu yang berjibaku dengan peluh lalu kau menghunuskan sembilu berharap pada hujan yang sendu aah kenapa senja yang kau kukutuki tanpa malu. Dulu, kini dan nanti kita hanya bisa merindukan padahal renta usia tak mampu lagi menahan dan langkah kaki pun masih juga berjalan angkuh disini pilihan kita tersisa satu sebab kerinduan hanya membuat mata kita terpejam maka tak ada yang lebih baik selain dari menghadapi kenyataan.' Laura bersuara.
"Ah, bisa ngomong juga ternyata!" Orang tersebut berseru girang. Laura tersipu malu. "Suka bersyair?" tanya orang tersebut. Laura merespon dengan gelengengan kepala.
"Terus..." Orang tersebut terlihat bingung.
"Itu puisi yang ditulis oleh bapakku. Sehari sebelum dia... Orang-orang dari negri Nun telah membawanya pergi padahal mereka telah berjanji akan mengantarkan kembali. Tapi sampai hari ini..." Laura berucap lirih.
"Mereka hanya menjalankan tugas," desah orang tersebut. Laura tersenyum miris. Sebentar kemudian ia menjatuhkan kepalanya.
"Jika saja aku punya hak untuk membenci aku ingin membenci mereka seperti aku membenci kematian yang datang seperti seorang pencuri. Jika saja aku punya hak untuk membenci aku ingin sekali membenci mereka seperti aku membenci musim gugur yang melapukkan dedaunan. Jika saja aku punya hak untuk membenci aku ingin sekali membenci mereka seperti aku membenci setiap bibir yang terus saja berusaha mencari-cari pembenaran dari sebuah kesalahan. Jika saja aku punya hak untuk membenci aku begitu ingin membenci mereka seperti aku membenci apa-apa yang pantas aku benci!" Orang tersebut bersuara dengan lantang.
'tapi yang kubisa hanya mengucapkan syukur, pada kematian pada musim gugur pada bibir yang pandai bersilat lidah pada apa-apa yang kubenci, s'bab hanya itu yang diajarkan padaku sedari kecil!' Laura bersuara lirih. 'padahal begitu ingin aku menyangkali.'
Hujan berangsur-angsur pelan. Dan kedua anak Adam itu pun saling bersitatapan.
"Suatu hari tanpa malam jangan pernah percaya pada pengharapan. Di keranjang banyak tahun-tahun yang telah berlalu sekedar jadi tumpukan kenangan. Dan kita pun tertawa dan kita pun menangis bersama-sama orang bilang kita hilang kesadaran diantara sepi menghantui berkerudung hujan di bumi yang kian kelabu." Mereka serempak berucap. Selang kemudian mereka sama-sama terdiam.
"Kau tahu jalinan puisi-puisi itu?" Tanya Orang tersebut. Laura menggangguk. "Aku pertama kali membaca puisi itu sejak aku berumur delapan tahun dan aku langsung jatuh cinta." Kata Orang tersebut.
"Penulis puisi itu bapakku." Ucap Laura lirih.
"Penguasa yang picik!" Geram Orang tersebut.
"Hari ini puisi itu genap berusia dua puluh lima tahun." Kata Laura dengan pandangan mata yang tertuju ke angkasa malam.
"Kalau begitu harus kita rayakan!" Seru Orang tersebut yang sekonyong-sekonyong menarik lengan Laura. Laura ditarik menjauh dari atap toko. Mereka berdiri di tengah jalan saling berpegangan tangan. Orang tersebut menengadahkan kepala. Laura pun mengikuti. "Kita teriak sama-sama. Hitungan ketiga..." Kata Orang tersebut. Laura mengangguk!
"satu...
"dua...
"tiga...
"MERDEKA... MERDEKA... MERDEKA...!"
Hujan terus mengguyur dan mengguyur.