Bagas mengerjap saat mendengar derap langkah di ruang tengah. Perlahan ia bangkit dan mendapati Kirana—sang istri—melenggang masuk kamar, melewati dirinya.
"Kenapa baru pulang, Ran? Kamu tau sekarang udah jam berapa?" tanya Bagas begitu ia menyusul Kirana yang tengah sibuk melepas blazer, menyisakan kemeja putih polos.
Wanita itu berdecak, memutar bola mata dengan malas. "Mas, aku itu capek abis lembur. Bisa nggak ngomelnya nanti aja?"
Setelah mengatakan itu, Kirana masuk ke kamar mandi, mengabaikan ocehan suami yang ia anggap justru menambah beban pikiran.
Sementara, Bagas hanya menggeleng putus asa, ini adalah kali kesekian Kirana pulang larut malam dengan alasan lembur hingga mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri. Lalu, setiap kali ia menasehati, maka hanya akan berujung pada perdebatan tak berkesudahan.
Namun, kali ini Bagas harus tegas, setelah siang tadi Bi Asih menelpon dengan nada khawatir, memberi kabar bahwa Elok—putri kecil Bagas—demam tinggi. Pria itu tak bisa untuk tidak panik luar biasa saat akhirnya pulang dan mendapati Elok kejang-kejang, lalu tanpa pikir panjang membawa bidadari kecilnya itu ke rumah sakit terdekat.
Berkali-kali Bagas menghubungi Kirana, berharap wanita itu segera datang dan mendekap erat putrinya untuk memberi ketenangan. Namun, hanya suara merdu operator yang menyambangi telinga pria itu. Kirana tidak bisa dihubungi, bahkan pesan yang ia kirim centang satu. Lalu, salahkah pria itu jika malam ini meminta penjelasan?
Bagas menunggu Kirana selesai dengan ritual mandinya yang tergolong lama, walau mata lelaki itu terasa berat. Raganya meronta minta istirahat setelah seharian mengurus Elok di rumah sakit hingga akhirnya membawa pulang setelah dokter mengizinkan.
Daun pintu kamar mandi terayun pelan, menampilkan sosok berparas ayu di baliknya yang hanya menggunakan jubah mandi. Ekspresi wanita itu datar, seolah tak ada pria yang tengah duduk di tepian ranjang memperhatikannya.
"Kita perlu bicara, Ran," kata Bagas pelan, memecah keheningan kamar yang dingin.
"Aku capek, Mas."
"Elok sakit, kamu nggak bisa dihubungi."
"Ya terus? Udah nggak apa-apa kan dia? Aku tuh kerja, Mas, nggak setiap saat pegang hape. Aku sibuk!" Kirana tetap fokus memilih piama di dalam lemari.
Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir istrinya, Bagas menatap tajam. Amuk redam yang ia tahan seharian ini, meronta ingin ditumpahkan. Namun, rupanya pria itu mampu mengendalikan diri dengan baik. Ia hanya menghela napas panjang, lalu menghempaskan.
"Apa kamu tidak merasa khawatir? Elok anak kita, terlahir dari rahim kamu. Tapi kenapa kamu memperlakukannya seolah dia anak tiri?"
Kalimat yang diucapkan pria itu sebenarnya pelan, bahkan nyaris tak terdengar andai sunyi tidak mendominasi. Namun, mampu membuat gerakan tangan Kirana yang sibuk mengambil baju terhenti, lalu menoleh pada pria yang saat ini memandanginya dengan tajam.
"Maksud kamu apa, Mas? Justru karena Elok anak kandung aku, makanya aku kerja keras supaya kebutuhan dia terpenuhi, semuanya. Aku nggak mau anak kita kekurangan." Kirana berkata dengan sengit.
Sumbu pada petasan sudah mulai disulut. Tinggal menunggu berapa lama mereka akan bertahan dengan keheningan, lalu meledak mengumbar amuk redam yang bersemayam.
"Berhenti seolah kamu membesarkan Elok sendirian! Ada aku, suami kamu yang masih mampu mencari nafkah, Ran. Jangan lupakan itu."
Aura panas mulai menguar, mengalahkan udara yang keluar dari alat pendingin ruangan. Pengap mulai menyergap, mengabaikan malam yang semakin gelap.
Kirana tersenyum miring mendengar Bagas berseru. Kini wanita itu menghadap sempurna ke arah suaminya, kedua tangan melipat di dada. Bersidekap, seolah menantang.
"Aku nggak lupa, Mas. Sama sekali nggak lupa, kalau gaji kamu sangat kecil," ujar Kirana seraya menjentikan ujung ibu jari dan kelingkingnya. "Nggak akan cukup buat memenuhi kebutuhan keluarga kita. Nggak sebanding sama gaji aku."
Bagas melotot, seolah tak percaya kalimat menohok itu terlontar dari bibir ranum Kirana. Pria itu berdiri, menggeram, lalu mencengkram bahu wanita di depannya.
"Kamu ... berani kamu ngomong begitu ke suami?"
Kirana menepis tangan kokoh yang mencengkeram bahunya. Balik mengintimidasi dengan mendorong dada pria itu hingga mundur satu langkah.
"Iya, kenapa? Kamu kaget, Mas, denger aku ngomong gini? Aku udah nahan semua ini sejak lama, Mas. Aku capek hidup susah kalo ngandelin gaji kamu! Terus sekarang, dengan gaji aku yang gede, kamu berani ngatur-ngatur aku buat ngurus Elok? Udah ada Bi Asih, Mas. Dia yang udah aku gaji buat ngurus seluruh keperluan anak kita. Jadi, berhenti berlagak seperti imam yang berkuasa di rumah ini!"
Petir membelah bentangan langit yang gelap, rembulan bersembunyi di balik awan nan pekat. Bintang-bintang berlarian undur diri, berganti dengan rintik hujan yang mulai turun ke bumi.
Jika tugas seorang imam keluarga adalah untuk membimbing anak dan istrinya menuju jalan ke surga, Bagas siap lahir batin. Namun, jika tugas suami harus mendulang bongkahan permata, lelaki itu menyerahkan semua urusan duniawinya kepada Sang Maha Kuasa. Bukan ia tak mampu, atau tak mau. Sejauh ini pria itu sudah berusaha, berikhtiar semampunya, walau hasil yang ia dapatkan belum maksimal, tapi ia berharap sedikit lembar-lembar rupiah yang ia terima membawa berkah.
Lalu, sekarang istrinya membandingkan gaji mereka, jelas Bagas kalah telak. Sedari awal meraka mengenyam jenjang pendidikan yang berbeda, hanya karena satu rasa yang dikatakan cinta akhirnya mereka bisa bersama. Menyemai rasa hingga tiga tahun lamanya. Namun, kenapa Kirana baru mempermasalahkannya sekarang?
Bagas menunduk, bukan karena ia tak bisa tegas kepada Kirana. Hanya saja, pria itu sadar, selama ini gaji yang ia beri hanya cukup untuk kebutuhan primer. Sedangkan gaji Kirana mampu memenuhi kebutuhan sekunder, bahkan tersier. Dua unit mobil dan satu unit motor bebek yang terparkir rapi di garasi adalah buah manis dari gaji sang istri.
"Atau, jangan-jangan kamu yang lupa, Mas. Kalau sebenarnya kamu bergantung hidup sama aku," ucap Kirana setelah sekian detik tak ada kalimat yang terlontar dari pria tegap di hadapannya.
"Elok dan karir aku itu prioritas, Mas. Tapi ada saat di mana karir harus aku utamakan, karena Elok udah ada yang ngurus. Hidup itu pilihan, Mas. Kalau bisa dibikin mudah, kenapa harus dipersulit?"
Bagas mendongak, menatap lekat mata perempuan di depannya. Iris itu, yang dulu memancarkan binar keceriaan nan menyejukan, kini menatap sengit.
"Kirana, kamu sadar dengan ucapan kamu?" tanya Bagas dengan penuh penekanan.
Kirana hanya mengedikan bahu, tak acuh.
"Secara terang-terangan kamu udah merendahkan aku, suami kamu. Menjatuhkan martabat suami dengan tolak ukur urusan duniawi. Sampai kapan kamu akan begini terus, Ran?"
Hujan di luar semakin deras, petrikor menguar, kilat menyambar-nyambar, tapi hawa panas masih mendominasi kamar yang dihuni dua insan yang berperang, saling menatap tajam.
"Aku capek, Mas, hidup sama kamu."
Petir kembali menyambar hingga ulu hati Bagas bergetar. Cukup satu kalimat yang terlontar dari istrinya, tapi bermakna luas. Menyangkut batas masa kini dan masa yang akan datang. Pria itu menggeleng cepet, maju satu langkah, berusaha merengkuh tubuh istrinya. Namun, wanita itu menghindar, dan Bagas semakin yakin bahwa istrinya sudah menabuh genderang perang.
"Maksud kamu apa, Ran?" Suara Bagas melunak, pria itu berusaha mengajak istrinya berbicara baik-baik.
"Kita butuh istirahat, Mas."
Bagas mengangguk, barangkali emosi Kirana tak terkendali karena ia terlalu lelah setelah seharian bekerja.
"Iya, ayo kita istirahat."
"Bukan raga kita, tapi hubungan kita."
Sepersekian detik Bagas mencerna kalimat itu, ia bukan pria dungu yang tak tahu maksud tersirat dari ucapan istrinya.
"Aku butuh sendiri, Mas. Aku nggak mau dikekang hanya karena status aku sebagai istri kamu. Aku berhak bahagia, Mas." Kirana mengatakan kalimat itu dengan sedikit bergetar.
Bagas tercengang. "Maksud kamu apa, Ran? Kamu bercanda, 'kan?"
Bagas harap ini semua hanya lelucon, tapi secuil harapan itu menguap saat Kirana menggeleng. Tak ada air mata saat wanita itu berujar, membuat Bagas yakin istrinya sudah memedam rasa ini sejak lama.
Tubuh tegap itu terduduk di ranjang, syaraf motoriknya lumpuh tak bisa digerakkan setelah petir tak kasat mata tiada henti menyambar. Bagas merasa menjadi pria yang tak berguna, merutuki diri karena tak mampu membahagiakan istri dan membuatnya bertahan.
Sebelum ini, suami istri itu kerap kali berdebat, saling menyudutkan, saling menyerang meski tak ada raga yang terluka. Namun, justru katana tak kasatmata saling menusuk, mencabik harga diri dan pada puncaknya malam ini, keping-keping puzzle yang telah mereka susun rapi perlahan berceceran. Berserakan saat salah satu minta dilepaskan.
"Jadi, aku bener-bener gak ada artinya lagi buat kamu?" Bagas mendongak, kembali menatap Kirana yang masih berdiri di dekat lemari.
"Aku serendah itu, ya, Ran?" Bagas bergumam, nadanya terdengar putus asa. Wajah pria itu perlahan memucat, seolah aliran darah semakin lambat mengalir dalam raganya.
Hening sesaat, rinai hujan di luar sana semakin terdengar. Beberapa titik-titik air itu mengintip dua sejoli yang saling menyakiti dari jendela seolah mereka ditakdirkan jatuh ke bumi sebagai saksi dua sejoli sedang berada di ambang perpisahan.
"Aku lelah, Mas. Percuma aku sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya harus mendekam dalam rumah cuma ngurus anak dan suami. Aku ingin diakui dunia bahwa aku berpotensi, Mas. Dan aku rasa, kita nggak satu misi. Ambisi kita berbeda, Mas. Kita ... benar-benar berbeda." Kirana mengucapkan kalimat terakhir dengan pelan dan penuh penekanan.
Bagas tak perlu minta penjelasan lagi setelah ini, pria itu sadar dari mana asal usulnya. Perlahan pria itu bangkit, menyeret langkah menuju pintu sebelum akhirnya berkata, "Aku sadar, Ran, kita bagaikan senja dan arunika. Mewarnai hari tapi tak pernah bersua dalam waktu yang sama."
Setelah itu, Bagas berderap menuju kamar putrinya. Dengan hati-hati ia mengelus rambut lembut gadis kecil berusia dua tahun. Lalu ia membungkuk, mencium kening anaknya dengan lama. Menyalurkan kasih sayang yang tiada terkira. Karena setelah ini, ia merasa tak layak lagi berada di bawah atap yang sama. Walau berpisah dengan keluarga serasa dicabut nyawa dengan paksa. Harga dirinya telah luruh bersamaan air Tuhan yang jatuh.
Bukan lelaki itu tak mampu untuk bertahan atau tak punya ketegasan, tapi ia berpikir, baik dia maupun Kirana butuh waktu dan suasana yang tepat untuk membicarakan ini. Bukan dalam suasana panas dan ego membumbung tinggi.
Satu bulir bening menetes dari pelupuk mata pria berkaus putih itu, membasahi kening Elok yang suhunya sudah normal kembali. Bagas menarik diri, lalu menutupi tubuh gadis mungil itu dengan selimut hingga dada. Kemudian beranjak setelah sebelumnya berbisik di telinga Elok. "Ayah sayang Elok. Sangat. Suatu saat nanti kita pasti berkumpul kembali."
Langkah Bagas terhenti saat Kirana berdiri di ambang pintu kamar Elok. Wanita yang sudah berbalut piama itu memperhatikan interaksi suami dan anaknya. Sudut hatinya tercubit, ada sesal yang menyelusup dalam dada.
"Aku titip Elok, Ran. Aku percaya, kamu Ibu terbaik yang pernah ada. Terima kasih sudah mengizinkan aku hadir jadi bagian hidup kalian. Aku pamit." Setelah mengatakan itu Bagas melewati Kirana yang mematung.
Pria itu keluar, tanpa membawa apa-apa. Tak ada deru mesin sebagai pertanda pria itu pergi, membuat Kirana berlari, menyusul keluar dan memastikan kalau suaminya masih ada.
Dua kereta kencana dan satu kuda besi masih terparkir rapi di garasi, tapi sosok lelaki yang pamit undur diri sudah tak ada. Kirana berlari ke halaman, matanya menangkap sosok Bagas tengah berjalan dalam kegelapan. Di bawah guyuran hujan tanpa perlindungan. Melangkah tak tentu arah, pasrah pada buana yang mengajaknya bercanda.
Petir menyambar satu kali lagi, kilatnya menerangi sosok Bagas yang berjalan dalam kegamangan, dan Kirana yang kini berdiri dengan keraguan.
Mata Kirana membulat sempurna saat sebuah mobil melaju kencang ke arah Bagas. Tak sempat diperhitungkan dalam bilangan fisika, berapa cepat Kirana harus berlari untuk mendorong Bagas agar menepi karena sekarang, wanita itu hanya bisa menganga melihat pria yang beberapa menit lalu ia sakiti sudah terkapar di aspal jalanan.
"Mas!" Di bawah kolong langit wanita itu menjerit, sesal tiada tara mendera. Andai ia bisa menahan Bagas sebentar saja, andai tadi ia menurunkan sedikit saja egonya.
Andai waktu bisa ia putar beberapa ribu detik yang telah lalu. Andai semesta masih berbaik hati padanya untuk memperbaiki semua, maka ia akan menjadi istri yang salihah.
Penyesalan memang selalu datang di akhir kisah. Saat Kirana mendekap tubuh suaminya yang berlumuran darah, ia masih mendengar satu kalimat meluncur dari bibir pria itu.
"Titip Elok, Ran."
Lalu pria itu menutup mata, beristirahat dalam pangkuan-Nya. Hujan malam ini sebagai saksi, bahwa mereka benar-benar beristirahat di alam yang berbeda, menyisakan sesal yang tak terhingga.