Aku adalah anak yang cerdas dan pintar. Selalu memenangkan juara perlombaan dalam hal pelajaran maupun olahraga. Berbeda dengan kehidupan keluargaku tidak begitu baik seperti pencapaianku. Aku serasa hidup Sebatang Kara, karena Ibuku telah lama meninggal dan ayahku ku hanya seorang pemabuk dan suka bermain wanita.
Aku merasakan kehidupan seperti itu dari SMP hingga saat ini aku berkuliah. Aku bisa bertahan selama ini, karena aku bertemu dengan seorang wanita. Seorang wanita yang cantik, baik hati dan ceria. Membuatku selalu terhibur dan ceria melihat tingkahnya. Mengisi kekosongan hatiku akan seorang sosok yang aku idam-idamkan.
Aku tahu, aku bisa saja memasuki sekolah favorit manapun, tetapi aku memilih mengikuti sekolah yang dimasuki olehnya. Kami sebenarnya cukup dekat, karena kami sudah berteman sejak SMP. Terlebih lagi aku selalu membantunya dalam setiap ujian. Tak jarang juga kami belajar bersama ketika akan menghadapi ujian. Tak hanya belajar bersama, kami juga sering pergi bersama hanya untuk bersenang-senang.
Aku merasa dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku, tetapi semua itu salah. Waktu dia memasuki semester 5, dia berkenalan dengan seorang pria. Pria tersebut 5 tahun lebih tua daripada Diandra. Pria tersebut bekerja disebuah perusahaan besar dalam bidang keuangan. Tiap hari kulihat Diandra dijemput menggunakan mobil Ketika pulang kuliah.
Setiap hari saat mereka pergi berdua, tanpa ketahuan mereka aku mengikuti dari belakang. Aku mengikuti mereka menggunakan sepeda butut ku karena memang aku berasal dari keluarga miskin. Sebenarnya aku mengawasi mereka untuk menilai, Apakah lelaki yang didekati Diandra adalah laki-laki yang baik atau tidak.
Tapi suatu ketika gelagat pria tersebut sangat aneh seolah-olah ingin merebut tubuh Diandra saat di dalam mobil. Aku terpancing emosi dan menabrakan sepedaku tepat di belakang mobilnya hingga mobilnya mengalami kerusakan. Lantas pria tersebut keluar dari mobil dan menghampiriku hendak memukul, tetapi dilarang oleh Diandra yang mengatakan bahwa aku adalah temannya sejak kecilnya. Pria tersebut akhirnya mengurungkan niatnya dan memarahiku serta meminta ganti rugi, tetapi diantar memohon agar aku dilepaskan untuk mengganti rugi kerusakan mobilnya.
Sebenarnya aku tahu pria tersebut bukanlah seorang pria yang baik, karena saat aku mengikutinya, dia sering pergi ke sebuah bar untuk bermain dengan kupu-kupu malam. Aku tidak ingin mencampuri urusan hubungan Diandra sebenarnya, aku hanya ingin Diandra tahu dengan sendirinya.
Selepas insiden penabrakan kemarin Diandra datang kepadaku dan memarahiku. Meminta aku untuk menjauhi dirinya. Akhirnya aku mengatakan semuanya tentang pria tersebut, tetapi Diandra berkata bahwa dia tidak peduli dengan itu, dia hanya peduli dengan uangnya. Diandra mengatakan bahwa dia ingin menikahi pria itu agar bisa membantu biaya pendidikannya serta biaya sekolah adik-adiknya.
Aku tidak setuju dengan pilihan Diandra dan aku memutuskan untuk bertindak lebih jauh lagi. Aku datang ke rumah pria tersebut dan menyabotase mobilnya agar terus maju menambah kecepatan tanpa bisa dihentikan. Esok paginya, tanpa kecurigaan pria tersebut menaiki mobilnya. Kecepatan mobil tersebut terus bertambah tanpa bisa dikurangi. Pria tersebut akhirnya menabrak sebuah rumah yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Aku Sejak pagi sudah duduk di depan rumah tersebut menanti pria tersebut menabrak.
Aku duduk di depan rumah tersebut untuk memastikan saat pria tersebut menabrak, pria tersebut sudah mati atau belum. Setelah menabrak, kulihat pria tersebut sudah dalam keadaan tidak bernyawa dengan kepala yang hancur. Dalam hatiku tiba-tiba kurasakan sensasi bahagia dan puas melihat pria tersebut sudah mati dengan mengenaskan.
Besoknya kudatangi Diandra untuk menyampaikan rasa turut berduka kepadanya. Kulihat di matanya terlihat sedih, dan aku datang untuk menghiburnya. Diandra malah menjauhiku dan pergi meninggalkanku. Sejak saat itu Diandra sudah berusaha menjauhiku. Setelah 1 tahun kejadian tersebut, Diandra memiliki kekasih yang ternyata kakak kelas kami yang berbeda umur 1 tahun dengan kami.
Aku melihat mereka berduaan dan selalu tampil mesra. Membuatku semakin cemburu dan terbakar emosi. Aku berkaca apakah diriku jelek, dan aku sering bertanya pada teman sekelasku wanita Apakah aku jelek. Banyak teman wanita di kelasku mengatakan bahwa aku seorang yang tampan. Aku memiliki paras kulit yang putih, hidung mancung, alis tebal, bibir merah dan lesung pipit. Aku heran kenapa Diandra tidak mau menjalin hubungan dengan ku apakah karena aku miskin. Memang kekasihnya saat ini berasal dari keluarga kaya.
Emosiku semakin terpancing ketika melihat pacar baru Diandra mencium bibir Diandra di depan mataku. Kuputuskan untuk menyingkirkan pacar baru Diandra. Ku sabotase AC mobil pria itu menggunakan gas nitrogen. Besoknya aku mendengar ada seorang lelaki yang mati di dalam mobil karena kekurangan oksigen. Polisi memeriksa dan ternyata disimpulkan terjadi kebocoran pipa gas knalpot yang masuk ke dalam mobil.
Diandra sejak kejadian itu hingga lulus tidak pernah berhubungan lagi dengan laki-laki. Aku merasa bahwa dia sudah trauma menjalin hubungan karena setiap lelaki yang dicintainya berakhir mati. Setelah lulus Aku bekerja di sebuah perusahaan pertambangan besar dan jauh dari Diandra. Selama bertahun-tahun aku tidak mendengar kabar Diandra dan ketika aku pulang ke kampung halaman, aku mendengar bahwa besok Diandra akan melangsungkan pernikahan.
Seketika niat jahatku muncul kembali untuk menghabisi calon suami Diandra. Kali ini aku akan meracuni calon suaminya beserta keluarganya, dengan cara memberikan racun sianida pada hantaran makanan yang diberikan oleh keluarga Diandra. Tak Butuh waktu lama seluruh keluarga calon suaminya, beserta calon suaminya meninggal karena keracunan.
Dalam keadaan terpuruk aku muncul dan menghibur Diandra. Tanpa rasa curiga Diandra mencurahkan seluruh perasaannya kepadaku. Aku sudah menjadi orang yang sukses dan kaya. Akhirnya Diandra baru mau mengakui bahwa aku layak menjadi suaminya, setelah kami memutuskan menjalin hubungan selama 4 bulan.
Entah kenapa dalam hatiku tidak timbul rasa ingin memiliki Diandra lagi dan malah ingin menyiksanya. Kuputuskan hubungan dengan Diandra dan membuatnya jadi sakit hati kepadaku, tapi entah kenapa aku merasa puas dan senang.
Akhirnya kuputuskan untuk menyiksa Diandra dengan cara membunuh setiap lelaki yang mendekati Diandra seumur hidupnya. Sebagai rasa balas dendam ku karena Diandra telah melihatku hanya dari material saja bukan dari ketulusan cintaku. Karena setiap lelaki yang mendekatinya kubunuh dengan sadis, seolah-olah kematian mereka karena kecelakaan. Akhirnya membuat Diandra menjadi frustasi dan memutuskan untuk bunuh diri saat usianya menginjak umur 35 tahun. Aku datang di pemakamannya melihat dengan puas di atas makamnya. Aku tertawa bahagia dengan lepas di atas makamnya.