Grek ...
"Aku pulang," ucap ku saat masuk kedalam Apartemen sepetak yang aku sewa dari nenek tua kala dua tahun lalu.
Bruk!
"Haah.. Lelah sekali." Aku meresahkan diriku ke kasur lipat sembari menatap langit-langit.
~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~
Tok ... tok ... tok ....
'Sial pasti itu nenek pemilik Apartemen ini, dia pasti ingin menagih karena aku sudah sebulan menunggak bayaran.'
Tok ... tok ... tok ....
"Siapa?" Sahutku dari dalam.
Namun tidak ada jawaban sama sekali hingga ketukan terakhir, barulah aku membuka pintu.
Tok ... tok ... tok ....
Grek....
"Hmmm?"
Aku melihat seseorang berbaju kemeja biru dipadukan dengan celana dasar cream.
Tetapi saat aku membuka pintu aku belum melihat wajahnya karena aku yakin seseorang ini lebih tinggi dariku.
Aku perlahan-lahan mulai menikan kepalaku dan menatap wajah seseorang yang sedang berada di depanku.
"Hay!" Sapanya.
Deg ... deg ... deg ...
Glek ... (aku menelan saliva dengan susah payah)
Mataku bulat sempurna kala melihat laki-laki yang tak pernah aku fikirkan datang menghampiri Apartemenku sembari tersenyum manis.
"Ha... hay."
"Hari ini kau tidak bekerja ya?" Tanya laki-laki ini.
"Iya, ada apa kak?"
"Aku ingin mengajakmu keluar. Apa kau mau?" ajak pertama dari teman laki-laki yang aku kenal.
"Kemana?"
"Ikutlah sebentar."
"Baik, tunggulah aki akan bersiap-siap."
Brak!
Deg ... deg ... deg ....
"Kak Joan!?" gumamku.
~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~
Aku pun pergi bersama kak Joan di hari libur. Aku hanya mengikutinya saja dan aku hanya bisa mentap pundak yang begitu gagah berada di depanku.
"Jalannya jangan di belakang Ra, sini di samping biar bisa ngobrol bareng."
"I-Iya kak."
"Aku ngajak kamu keluar kayak gini gak ada yang marah kan?"
"Gak ada kok kak, aku masih sendiri."
Tap .... (aku menutup mulutku sembari mengumpat ke diri sendiri.)
'Raira! Kenapa ngomong kayak gitu? Dasar bodoh!'
'Tapi bentar, kayaknya ini hanya mimpi deh!'
Aku mulai mencubiti tanganku namun tak ada rasa tapi ada beberapa hal yang membisikan diriku kalau ini bukanlah mimpi.
'Ini bukan mimpi. Ini kenyataan!'
'Apasih?! Pertanda apa ini jika benar ini adalah mimpi?' umpatku lagi.
"Kenapa Ra?" Tanya kak Joan.
"Hmm? Apa kak?" aku pun tersadar dari lamunan.
"Kenapa ngelamun? Nanti kalau salah injak jalannya gimana?" Ucap Kak Joan.
Entah kenapa hangat sekali rasanya jika bersama dengan kak Joan. Tidak seperti saat aku bersama dengan kak Geri.
Padahal aku lebih dekat dengan kak Geri dibandingkan dengan kak Joan tetapi...
"Aku menyukaimu," ucap kak Joan secara tiba-tiba.
Deg....
"Apa kak?"
"Tidak bukan apa-apa. Lupakan saja, aku hanya ingin kau tau itu."
Deg ... deg ... deg ....
"Sudah berapa lama kau bekerja di toko usaha milik Geri?"
"Sudah sekitar 3 tahun."
"Lalu kau dapat apa?" Tanya kak Joan.
"Entahlah, aku juga tidak tau."
"Pindahlah ke perusahaan ku. Aku membutuhkan sarjana seperti gelar yang kau miliki untuk menjadi Sekretaris pribadi ku."
"Kau minta gaji berapapun akan ku berikan dan tempat tinggal mu juga akan berbeda dari Apartemen yang sekarang."
"Terimakasih kak tawarannya tetapi...." Kak Joan memungkas ucapnku.
"Datanglah ke perusahaan Geoni di dekat Cafe Lilin aku akan dengan senang hati menyambut mu datang."
"Akan aku pertimbangkan tawaran mu kak."
"Makan yuk!"
"Ayok."
Dan hari itu aku bersenang-senang bersama kak Joan hingga sore tiba, Kak Joan mengantarkan aku lagi ke Apartemen.
Saat sampai di depan Apartemenku, aku melihat seseorang berjas hitam datang dengan membawa sebuah koper cokelat.
"Siapa?" Sapa ku langsung menghampiri pria itu.
"Kak Geri? Kenapa?"
"Maaf, aku tidak bisa mempekerjakan kamu lagi di perusahaan."
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena ..."
Tok ... tok ... tok ... tok ... tok ... tok ....
"RAIRAAAAA! BANGUN!"
"RAIRA! KITA TELAT KE TOKO LOH!"
"Hmm?"
Bruk...
"Astaga aku bermimpi."
"Tunggu aku akan siap-siap."
~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~▪︎~
"Kau ini Raira! Kita terlambat tau."
"Iya-Iya Len maaf, ini kesalahan ku."
"Tunggu!" Lena menahan langkahku dan matanya terbelalak kala melihat toko perusahaannya kak Geri di segel kuning.
"Apa? Apa kita akan di pecat?"
Bruk!
'Apa ini ada hubungannya dengan mimpi tadi malam?'
"Apa yang terjadi dengan kak Geri?" gumamku.
'Datanglah ke perusahaan Geoni di dekat Cafe Lilin aku akan dengan senang hati menyambut mu datang.' (teringat ucapan kak Joan)
"Apa aku harus pergi?"
"Kemana?" Tanya Leni.
"Entahlah."
Aku mengira mimpi semalam adalah mimpi terindah tetapi ternyata mimpi itu adalah pertanda buruk ketika di dunia nyata.
"Harus mencari pekerjaan dimana lagi kita Len?" Tanya aku ke Lena sembari menatap langit biru yang kosong.
▪︎
▪︎
▪︎
▪︎
Next or End?