PLAKKK.....
Suara tamparan keras mendarat di pipi kiriku, semua orang mulai berkerumun menyaksikan adegan tersebut, seolah-olah di depan mereka layar tancap.
"Dasar licik, kamu sengajakan ngelakuin hal ini? biar Mas Bayu menceraikan aku?!" bentak wanita berkuncir kuda padaku.
Yeah, wanita itu adalah istri kedua suamiku sekaligus sahabatku. Aku lah yang salah meminta suamiku untuk menikahinya, karena diriku tak kunjung di berikan zhuriat (anak).
Beberapa kali mas Bayu menolak untuk menikah lagi, namun aku bersikeras memaksanya, hanya karena bisik-bisik tetangga yang kerap kali mengusik telingaku.
Seringkali orang-orang mengatai ku 'mandul' dan wanita tua yang tak mampu memiliki anak,. Awalnya aku hanya diam karena suamiku selalu mensupport dan memberikan aku ketenangan dalam perihal ejekan orang-orang yang sering mengusik ku.
"Mas ..., apa kamu tidak berkeinginan memiliki anak?" tanyaku lirih, pada mas Bayu, yang tengah duduk di sampingku.
"Nis ..., aku sudah cukup punya kamu, kalau memang Tuhan belum memberikan kita keturunan, kita tinggal adopsi anak!" ujarnya dengan perkataan sama.
Mendengar hal itu, lagi-lagi mulutku hanya terdiam menatap wajah tampanya mas Bayu, sungguh bukan aku tidak ingin mengadopsi anak, tapi hati kecilku, aku ingin melihat mas Bayu dalam versi kecil, namun itu tak kunjung hadir dalam keluarga kecil kami.
Orang tua kami selalu menuntutku agar cepat melahirkan keturunan, tapi mas Bayu tetap membelaku dengan ungkap bijak hingga perihal anak tak lagi mereka bicarakan.
Suatu hari, ibu mertuaku memanggil ku untuk datang kerumahnya, ada perasaan tak enak bila berhadapan dengannya.
Yeah ..., benar saja, saat datang kerumahnya, aku melihat ia duduk bersama dengan seseorang wanita yang aku kenali. Wanita itu adalah Aneta Rukmin, sahabatku.
"Eh, Anisa?" sapanya padaku dengan melempar senyum manis.
Aku membalas senyumnya sebisa ku, karena bibir ku tak lagi bisa leluasa tersenyum bebas tatkala berhadapan langsung dengan mertuaku.
"Loh kalian sudah saling kenal?" tanya mertuaku dengan menatap Aneta manis.
Tapi ketika pandangan kami saling bertautan ia justru menatapku sinis. Aku juga ingin bertanya pada sahabatku Aneta yang meningalkan ku, saat hari pernikahan ku dengan mas Bayu. Namun bibir ku masih saja terkunci saat asyiknya dia berbicara dengan mertuaku.
Aku hanya duduk sembari menatap mereka dari arah depan, hingga beberapa jam kemudian mereka tersadar bahwa aku masih di depan mereka. Entah sejak kapan dia berubah, tatapan yang dulu bersahabat dengan ku kini menjadi dingin dan penuh emosi.
Beberapa bulan berlalu, Aneta seringkali mampir ke rumah, antara bahagia ataukah sedih aku pun tak tau, intinya hatiku masih berfikir positif padanya.
Hingga rumor tersebar di kalangan mak-mak di komplek ku, karena Aneta seringkali mampir ke rumah ku. Dengan naif dan bodohnya aku meluruskan rumor tersebut, memanfaatkan Aneta agar mas Bayu mau menikah lagi.
Setelah bujukan dan cerita-cerita tentang Aneta saat kami masih kuliah, mas Bayu akhirnya mau menikahi sahabatku. Saat aku ingin memberikan kabar itu sekaligus meminta bantuan untuk menjadi rahim penganti untukku, dia akhirnya setuju, wajah yang menatap ku dingin kini berseri-seri bahagia tatkala aku menceritakan kesetujuan mas Bayu yang menikahi dia.
Beberapa minggu kemudian...
Hari ini adalah hari pernikahan suamiku dengan sahabatku, bohong jika aku mengatakan hatiku tak tercabik-cabik saat melihat suamiku duduk di pelaminan bersama dengan wanita lain, Namun ku tepis karena kuatnya keinginan ku memiliki anak bersama mas Bayu.
Di malam hari, aku menatap kosong kamar milik mas Bayu, yang mana kamar tersebut adalah saksi bisu kami memadu kasih. Kini mas Bayu sudah bersama dengan wanita lain dengan ranjang panas, sepanas hatiku yang menahan sakit.
Di tengah lamunan ku, suara gedor pintu, membuat ku tersentak, aku pun buru-buru membuka pintu tersebut.
"Mas Bayu ...?" ucapku terkejut menatap suamiku yang berdiri tegap, dengan baju pengantin yang masih utuh.
"Sayang ..., aku nggak mau menyentuh wanita lain selain kamu," ucapnya memandangiku dengan wajah memelas.
Aku hanya terdiam menatap suamiku dan tak percaya ia lari di hari malam pengantinnya, dan datang menemuiku. Perkataan tersebut membuat hati teguh ku luluh, lalu menarik kerah suamiku dan mendorongnya masuk kedalam kamar kami.
"Tidak, ini salah, seharusnya mas Bayu bersama Aneta!" batinku yang berusaha memberontak namun kalah dengan akal sehatku.
Keesokan paginya, kami bertiga duduk bersama menikmati hidangan yang sudah ku persiapkan, seperti biasa mas Bayu berangkat kerja, dengan mencium keningku, dan hanya melewati Aneta.
Aneta yang melihat ketidak adilan mas Bayu, justru memaksa dirinya untuk mencium mas Bayu di depanku, yang membuat ku terkejut bukan lah ciuman Aneta pada suamiku tapi reaksi kasar yang mas Bayu tunjukan membuat ku terkejut.
"Dasar jalang gila?!" ketusnya emosi menatap tajam Aneta. Aneta yang mendengar umpatan kasar berlari ke kamarnya sembari membanting pintu dengan kasar. Mas Bayu yang melihat itu justru mengacukannya dan kembali menatap ku dengan senyuman manis.
Membuat ku semakin heran dengan sikap tak biasa suamiku, setelah kepergian mas Bayu, aku kembali mendekati Aneta, di sana aku melihatnya menangis.
"Nis, kamu bisa-kan, suruh mas Bayu datang ke kamar ku, bagaimana bisa aku hamil, kalau mas Bayu enggan menyentuh ku," ucap Aneta menangis sembari memeluk ku.
"Na-nanti aku coba kasih tau, mas Bayu," ujarku dengan lirih, sembari mengelus rambut Aneta.
Seperti biasa Mas Bayu mau menuruti perintah ku, dia mendatangi Aneta, tapi itu tidak bertahan lama, belum lewat satu jam, mas Bayu datang padaku, dengan wajah emosi.
Hal seperti itu terulang kembali, aku menjadi curiga mas Bayu tidak pernah lemah syahwat saat bersamaku, dia bisa tahan sampai satu jam atau dua jam saat bersamaku, tapi entah kenapa bila dia bersama dengan Aneta, itu tak bertahan sampai satu jam, ia datang padaku dan mengauliku.
Dua bulan berlalu ....
Keesokan paginya seperti biasa aku bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan untuk kami bertiga, aku menghitung tanggal hari subur Aneta.
Tiba-tiba kepalaku pusing, semua terasa sesak hingga tubuhku jatuh terkapar di atas lantai, membuat pagi Aneta dan Mas Bayu panik.
Aku terbangun di atas ranjang rumah sakit, menatap suamiku yang masih panik, melihat ku yang terbaring. Rasa kepanikan itu hilang dengan pelukan hangat mas Bayu.
"Syukurlah kamu bangun," ucap Bayu mencium keningku.
"selamat kamu hamil," bisiknya dengan gembira, mendengar hal tersebut membuat ku tersentak kaget.
Bagaimana bisa aku hamil? padahal kami sudah berikhtiar segala macam obat dan terapi, tapi tak kunjung hamil. Pertanyaan tersebut kerap kali mengusik ku namun perasaan bahagia itu mampu ku tepis saat aku tau bahwa diriku sedang mengandung.
Beberapa hari aku berada di bangsal rumah sakit, Aneta tak sekalipun menjenguk ku, yang hanya setia merawat ku tak lain adalah mas Bayu.
Karena taletannya merawat ku, akhirnya aku bisa pulang ke rumah, suamiku hanya bisa menganterku sampai di depan rumah, dia bergegas memutar belikan mobilnya karena beberapa pekerjaan tertunda karena sibuk merawat ku.
Di
Kembali ke awal....
Setelah tamparan itu, Aneta tak sengaja mengucapkan hal busuk yang pernah ia lakukan pada keluarga ku, tak terduga dan tak menyangka penyebab utama agar aku tak bisa hamil itu semua ulah Aneta sahabat ku sendiri.
Ia sudah lama merencanakan semua itu, menyewa ART yang sudah juga anggap angota keluarga untuk menghancurkan hubunganku dengan mas Bayu.
"Dasar licik, apa yang kamu berikan pada Bayu? menyentuh ku saja dia tak sudi, setiap aku menggodanya dengan pakaian apapun, alat reproduksinya tak bisa berdiri di depanku, sampai aku mengira dia impoten?!" bentaknya marah dengan nada tinggi.
Membuat mulut ku mangap akibat terkejut, ternyata selama ini suamiku tak pernah menyentuh Aneta, jadi untuk apa aku menghitung tanggal kesuburan seseorang yang bahkan dia sendiri belum di sentuh suamiku?
Aku pun juga terheran, padahal selama ini 'itunya sangat berfungsi dengan baik, yang membuat ku kelelahan setiap malam! ingin rasanya aku mempertanyakan hal itu, namun ku tahan karena masih banyak orang yang menyaksikan perdebatan kami, hingga mas Bayu tiba-tiba berada di belakang ku.
Ia kembali menatapku melihat pipiku yang bengkak akibat tamparan keras Aneta, mas Bayu mengepal tangannya, namun ku gengam dengan erat. Membuat Mas Bayu menghela napas.
"Aku ingin pisah, mulai sekarang aku yang menceraikanmu," ujar Aneta menatap tajam pada Bayu, aku pun di buat terkejut setengah mati akibat perkataan Aneta.
Dengan senyum bahagia mas Bayu memeluk ku dan menyetujui perpisahan itu, membuat Aneta berlalu dengan air mata.
End