( Babak Pertama :
Gadis Cantik Berpita Merah Muda )
Setelah lebih kurang 4 jam terguncang – guncang dalam bus yang penuh sesak, bergumul dengan peluh keringat dan asap rokok, sampailah aku di kota kelahiranku, L. Menurut perhitunganku dari kota M melewati kota PS, jika naik bus kota, harusnya sudah sampai dari jam 19:00 tadi. Sayangnya, perhitunganku ini meleset, lupa bahwa di pinggiran kota KL tadi oleh para penduduk kerap kali dijadikan area pasar tradisional yang tidak pernah sepi dari kerumunan penduduk setempat. Macet total. Perjalanan tertunda selama 3 jam. Hampir sekujur tubuhku serasa kebas dan kaku semua, terlebih pinggang.
Aku melirik ke jam tanganku. Sudah pukul 22 lewat, pantas saja tidak ada kendaraan yang lewat, padahal jarak rumah dengan terminal ini cukup jauh. “Ah... sudahlah, yang penting, aku harus segera pulang. Semakin cepat, semakin baik,” kataku dalam hati sambil mempercepat langkah – langkahku.
Kota L, bukanlah sebuah kota industri seperti SR, JM, PR, PS, JK dan lain sebagainya, namun, kota yang sedang berkembang.
Sebagian besar mata pencaharian penduduknya, bertani dan berkebun. Maka, tak heran ... saat pagi hingga siang menjelang, disana – sini banyak dijumpai pematang sawah dengan padi – padinya yang menghijau sepanjang musim penghujan dengan latar belakang bukit, lembah dan pegunungan. Tetapi, saat malam tiba, suasana gelap gulita dan hampir setiap daerah diselimuti oleh kabut yang senantiasa menebarkan hawa dingin. Listrik terbatas.
Demikian pula malam ini, aku menelusuri jalanan berkabut, jaket kulitku nyaris tak sanggup menahan hawa dingin yang merayap masuk melalui tengkuk dan menyebar ke setiap pembuluh darah, nadi dan jantung, padahal aku sudah menaikkan sebagian kerahku. Tapi, rasanya hawa dingin itu tak mau dihentikan begitu saja. Mereka berusaha membuatku beku. Hingga akhirnya, aku mendengar suara gemericik air di depan sana. Aku sudah memasuki pertigaan jalan. Jika aku belok ke kiri, menuju JEMBATAN MERAH, kalau mengambil jalan lurus, rumah sudah tidak jauh lagi. Tapi, jalanan tersebut gelap gulita dan lebih lengang terlebih malam – malam seperti ini. MALATI. Demikianlah rumor yang beredar di kalangan penduduk kota L. Aku menghentikan langkah – langkahku, keraguan mulai merayapi dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Otakku dipenuhi berbagai macam perasaan.
“Ah, masa bodoh ... yang penting aku harus segera sampai di rumah, sudah hampir jam setengah dua belas,” Sebisa mungkin aku mengumpulkan keberanianku, setelah membaca ayat kursi, kuambil jalan lurus.
15 menit kemudian, suara air itu makin terdengar dengan jelas. Aku sudah tiba di lokasi yang disebut MALATI itu. Aku mengeluarkan senter mini yang selalu tersimpan dalam kantong jaketku, walau jarak sorotnya hanya mampu menjangkau 1 meter saja, namun, cukup membantu melihat keadaan jalan yang gelap gulita dan berkabut seperti ini.
Sewaktu aku masih kecil, jalanan ini sering disebut jalan neraka. Disebut demikian karena termasuk jalan yang paling rawan kecelakaan.
Tidak adanya pembatas jalan, banyaknya pepohonan lebat yang tumbuh di sepanjang jalan, minimnya penerangan yang sampai sekarang pun belum terealisasi. Banyak sekali birokrasi yang membuat pembangunan daerah terhalang. Itu terjadi setelah ditutupnya pabrik beras terbesar di kota ini. Namun, setelah terjadi pergantian kepala pemerintahan beserta sistemnya, lambat laun pembangunan mulai terealisasi meski belum menyeluruh karena terbatasnya anggaran daerah. Plus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat waktu itu.
Jadi, dengan anggaran yang pas-pasan itu, dibangunlah besi pembatas jalan yang sederhana, paling tidak, bisa meminimalisir kecelakaan di lokasi Malati tersebut.
Tapi, dugaan mereka keliru... kecelakaan yang berujung maut masih saja terjadi. Yang masih segar dalam ingatanku adalah sebuah mobil jip menabrak pembatas jalan hingga masuk ke dalam sungai yang saat itu aliran airnya sangat deras. Menewaskan para pengendaranya yang ternyata sepasang pengantin baru. Jenazahnya, hilang terbawa arus sungai. Satu minggu kemudian ditemukan di sungai G, desa sebelah yang jaraknya 8 km dari lokasi kejadian.
Malati, ramai di saat pagi hingga siang, tetapi, menjadi daerah mati saat malam menjelang. Mengingat peristiwa masa lalu yang terjadi, membuat bulu kudukku meremang dan langkah-langkah kakiku terhenti manakala cahaya dari lampu senter menyorot sesosok bayangan 6 meter di depan.
Bayangan seorang wanita.
Dia mengenakan pakaian putih, rambutnya ikal dan sebagian diikat oleh pita, berwarna merah muda.
Aku menggosok-gosok kedua belah mataku, memastikan bahwa apa yang kulihat itu benar dan bukan halusinasi ku.
"Wanita itu duduk di salah satu sisi bagian pembatas jalan. Siapa, dia dan kenapa malam-malam begini berada disini .... sendirian lagi. Jangan-jangan...." tanyaku dalam hati.
Aku terkesiap, rasa-rasanya tidak mungkin ada orang yang berani berada di tempat ini apalagi perempuan, kecuali, jika dia bukan wanita baik-baik.
Tapi, tidak mungkin... jika ada salah satu warga, khususnya, gadis muda yang menjadi PSK, nasib mereka lebih celaka lagi. Beruntung kalau diusir, akan tetapi, jika diarak keliling kota sambil ditelanjangi... nasibnya akan lebih parah. Lalu, siapa dia.
Ragu, khawatir dan takut... itulah yang kurasakan saat berjalan mendekatinya. Dan, rasa khawatir itulah yang bicara terlebih dahulu manakala melihat wajah wanita itu. dia cantik jelita. Sepasang matanya tampak berbinar-binar manakala beradu pandang denganku, hidungnya mancung dan bibirnya sensual. Merah merekah. Aku terkesima. Aku khawatir karena ... terus terang sekalipun sudah berusia kepala 3, tapi, hingga saat ini belum ada teman hidup alias kekasih, khawatir karena kecantikan wanita itu membuat lutut ini gemetar dan harus menunda perjalanan pulangku.
"Selamat malam, mbak..." sapaku dengan suara gemetar.
Wanita itu tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tumbuh teratur. Lesung Pipit pada kedua pipinya membuatku semakin terkesima.
"Mengapa ada di tempat ini malam-malam begini ? sendirian lagi, mbak ?" kembali aku bertanya.
"Mas sendiri... mengapa malam-malam begini ada disini ?" ia balas bertanya. Suaranya bening bagai air di telaga, gerak-geriknya makin membuatku salah tingkah.
"Kelihatannya, Mbak bukanlah orang asli penduduk kota L ini, ya ? Dimana rumah pean ?" aku kembali bertanya tanpa sadar aku sudah dua atau tiga kali ini bertanya tanpa menjawab pertanyaannya dulu.
"Maaf, mbak... saya lancang banyak tanya," kataku. Aku merasakan pipiku panas dan merah seketika saat mengatakan hal itu.
"Tidak apa-apa, mas... wajar saja seorang laki-laki bertanya banyak hal kepada wanita yang baru dijumpainya. Tapi, mana dulu pertanyaan Anda yang harus dijawab ?" katanya sambil menatap ke arahku tanpa berkedip.
"Oh, iya... sekali lagi saya minta maaf karena tak bisa mengendalikan mulutku. Tetapi, benarkah pean bukan asli penduduk sini ?"
"Saya sudah lama tinggal disini, mas... terus terang, saya memang bukan asli penduduk sini,"
"Lalu, mengapa anda berada disini tengah malam begini ? Apakah tidak tahu dengan rumor yang beredar di kalangan warga sekitar bahwa tempat ini disebut tempat Malati atau pembawa sial ?"
"Terima kasih atas perhatiannya, mas... kalau boleh tahu, siapa namanya ?"
Aku semakin salah tingkah, gugup sekali manakala wanita itu berjalan mendekat dan begitu sampai di depanku, barulah aku menyadari bahwa kulitnya putih pucat, tapi, kecantikannya membuatku merasa tidak betah memandangnya lama-lama. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, namun, wanita itu tidak berhenti memandangiku bahkan selalu berusaha menatap mataku.
Ia tertawa kecil, "Apa anda baru pertama kali ini berbicara di hadapan seorang wanita ? Lihatlah wajah itu, merah tak keruan. Apa anda menolak untuk berbicara dengan saya ?"
"Ti... tidak, mbak... nama saya Wisnu... terus terang... saya tidak pernah melihat wanita secantik Mbak... Mbak...,"
"Maggie," sahut wanita itu, "Namaku Maggie Gyllenhaal," sambungnya sambil menjulurkan tangan kanannya ke arahku.
"Maggie Gyllenhaal ?" ulangku sementara tangan kananku gemetaran, menyambut tapak tangan yang putih berjari lentik itu. Kami berdua saling berjabatan tangan. Tapi, buru-buru aku menarik tanganku, karena selain tangan itu sedingin es, aku pun belum pernah bersentuhan dengan lawan jenis. Wanita bernama Maggie itu tertawa, "Senang bisa bertemu denganmu... sayangnya, aku harus segera pulang. Mudah-mudahan, besok kita bisa bertemu lagi," kata wanita itu sambil berjalan membalikkan badannya, aku mencegahnya.
"Tunggu, mbak... kalau boleh tahu dimana rumahmu ?"
Wanita itu membalikkan badan, senyumnya memang benar-benar membuatku terkesima, ia mengangkat telunjuk kanannya dan menuding lurus-lurus ke arah cerobong asap di seberang sungai. Setelah itu tubuh Maggie lenyap di antara rimbunan semak-semak yang masih tertutup kabut dingin.
"Astaga... berani sekali ia berjalan sendirian di tempat ini," kataku dalam hati. Aku masih berdiri termenung di tempat itu, hingga sebuah suara lantang membuyarkan lamunanku.
"Hei, siapa itu ?! Apa yang kau lakukan disana ?!"
Aku menoleh. 5 meter di belakang tampak 3 orang pria berpakaian Hansip berdiri sambil menatap ke arahku. Aku mengenal mereka...
Paijo, Paimo dan Hendrawan teman bermainku saat kanak-kanak.
Kedatangan mereka melegakan hatiku yang saat itu masih diliputi penasaran dengan wanita cantik berpita merah muda yang bernama Maggie itu.
"Kalian ... " seruku, " Ini aku, Wisnu,"
seruku.
"Ngapain kau ada di tempat ini, Nu ? Apakah kau tak tahu dimana kita berada ?" ujar Paijo sambil menarik tanganku.
"Iya, aku tahu... aku dari kota M, menemui teman sekolahku. Kemalaman di jalan," jelasku.
"Ya, sudah... untung kau bertemu dengan kami, kalau tidak... kau bisa-bisa jadi tumbal dedemit tempat ini," sahut Paimo.
"Hus, Ojo ngomong sembarangan. Wes jam 24, ayo pada balik," ajak Hendrawan. Kamipun segera beranjak dari tempat itu. Namun, aku masih penasaran dengan wanita yang bernama Maggie Gyllenhaal itu. Jelas, dia bukan asli penduduk sini. Tapi, dia mengaku, sudah tinggal lama di Malati ini, timbullah keinginanku untuk bertemu lagi dengannya esok hari.
( Bersambung Babak Kedua )
( update tgl. 04 Feb 2023 )