“Ketika mencintaimu membuatmu berubah terhadapku, aku rela hanya menjadi bayanganmu.”
~Kenzo Ellias
“Kedekatan ini membuatku menyadari, bahwa aku memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat.”
~Rahel Queena
Hosh… hosh… hosh…
“Sial,” umpat seorang gadis dengan pakaian seragam putih abu yang berdiri di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup.
“Terlambat lagi kan gue, ini karena terlalu damai menjalani hidup,” ucapnya sambil terkekeh sendiri.
Karena gerbang sekolah tutup akhirnya ia mendudukan diri di jalan sambil bersandar di pagar sekolah menghadap jalan. Ya seperti itu lah kelakuan seorang gadis berambut sebahu dengan mata yang indah, memiliki wajah yang sungguh cantik dan body yang bisa dikatakan sangat sempurna untuk seukuran gadis SMA.
“Ehem…”
Mendengar suara deheman gadis itu pun berbalik melihat ke arah gerbang sekolah sambil menampilkan deretan giginya.
“Terlambat lagi?” kata seorang laki-laki sambil bersedakap dada, kata-katanya lebih terdengar seperti pernyataan dibandingkan pertanyaan.
“Hehehe…” terdengar kekehan dari mulut gadis cantik itu, sambil beranjak berdiri dan merapikan
rok nya yang terlihat kusut.
“Eh babang Kenzo sayang, bukain dong gerbangnya nanti Rara teraktir,” ucapnya memelas sambil
mengedipkan matanya.
“Kenapa tu mata, kedip-kedip seperti orang ayan,” ucap lelaki tadi yang dipanggil Kenzo dengan
posisi yang masih sama sambil memiringkan kepalanya.
“Ish, babang Kenzo mah gitu, sekali ngomong langsung ngena di hati. Ayolah bantu Rara,” ucapnya lagi sambil menggosokan kedua tangannya dengan ekspresi memelas.
Rara sungguh berharap dibantu lagi untuk kesekian kalinya membukakan pintu gerbang sekolah oleh
lelaki yang ada di depannya itu. Karena hanya dialah Rara selalu bisa lolos dari hukuman karena keterlambatannya, Rara tidak tau kenapa lelaki di depannya ini sungguh baik mau membantu nya
lolos dari hukuman. Entahlah Rara tidak tau, yang hanya ada dalam pikirannya jika lelaki di depannya
ini merupakan musuh sekaligus sahabatnya.
Pria yang di panggil Kenzo itu tersenyum melihat tingkah gadis di depannya, tersenyum sangat tipis
sampai Rara pun tidak bisa melihatnya.
“Lain kali jangan telat lagi, ini terakhir kalinya kamu bisa lolos dari hukuman,” Kenzo berkata sambil membukakan pintu gerbang sekolah.
“Nah gitu dong dari tadi,” gerutunya.
“Jadi ketua osis itu harus baik supaya sekolah ini sejahtera, hahahaha.”
Kenzo hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rara, gadis yang diam-diam ia sukai.
***
“Telat lagi neng?”
“Ya begitulah hidup harus kita jalani,” jawab Rara sambil meletakan tasnya dan menelungkupkan
kepalanya di atas meja.
“Eh buset gue tanya apa loe jawabnya apa, heran gue punya sahabat modelan kayak loe. Kiki sahabat
loe nih, bener-bener luar biasa nasubiloh. Gue cuma bisa elus dada dah liat kelakuan anak satu ini,
jam pelajaran udah kelar baru nongol,” ucap Maya.
“Temen loe juga maimunah,” kata gadis yang dipanggil Kiki, sambil melemparkan pulpen kearah
Maya namun berhasil ditangkap oleh Maya sebelum pulpen iu mendarat di jidatnya.
“Eh Ra loe tau gak?”
“Kagak, kan loe belum ngomong neng jadi mana gue tau,” sambar Rara.
“Hais… makanya dengerin dulu ogeb gue belum selesai ngomong,”
“Jadi gini, loe tau ternyata si Kenzo demen sama loe Ra,”
“Kok loe tau nyet?” sambar Kiki dengan raut wajah yang terkejut.
“Masa sih May, kan nih si Rara selalu ngajak ribut si Kenzo. Loe yakin dia demen ma si Rara?”
sambung Kiki.
“Yakinlah masa gue bohong, soalnya kemarin gue gak sengaja nguping pembicaraannya Kenzo sama
temennya di lapangan basket. Udah gitu si Kenzo bilang dia bakal tetep menyimpan perasaanya buat loe Ra, karena dia gak mau ngerusak pertemanan loe ma si Kenzo hanya karena loe nanti menjauh
setelah loe tau perasaan Kenzo,” papar Maya.
“Buset dramatis bener loe ceritanye May, kagak ada yang lebih melow lagi gitu? Gue mau nyiapin
air mata nih,” sambar Kiki.
“Kampret loe Ki, gue lagi cerita nih loe malah ngelawak,” kesal Maya sambil melempar tissue
bekasnya.
“MAYAAA!!!!”
“Hehehehe… abisnya loe bikin gue kesel duluan sih jadi tanggungjawab ditanggung pemenang
hahahaha,” Kiki hanya mendengus mendengar perkataan sahabat gesrekya itu.
“Gimana Ra perasaan loe sama si Ken? Apakah berdebar-debar?”
“Em gimana ya?”
“Hah loe tu gak konek sama sekali?!” kesal Maya, Kiki hanya menjadi penyimak pembicaraan kedua
sahabatnya.
“Dua hari lagi Ra kita minggat dari sekolah ini, masa lo gak bisa mengartikan perhatiannya Ken sih,
kesel gue sam loe deh,”
“Buset kata-kata lo gak ada yang lain apa, minggat segala,” omel Kiki, yang dibalas lirikan sadis oleh
Maya.
“Entah bagaimana aku mengungkapkannya, aku menyadari kebersamaan selama ini, perhatian Ken
selama ini bukan hanya perhatian seorang teman. Tapi aku terlalu takut untuk mengungkapkan
perasaanku, ya kali perempuan dulu nyatain gengsi dong,” batin Rara
“Ra… Ra… Ra… lah malah bengong ni bocah.”
“Liat besok aja deh, gue bingung.”
Maya dan Kiki hanya mengedikan bahunya melihat sahabatnya yang sama sekali tidak mempunyai
pengalaman pacaran, hingga kini sahabat mereka yang kadang gesrek itu tidak menyadari perasaannya.
***
Dua hari kemudian dihari kelulusan.
“Buset akhirnya Kiki lulus mak…” seru Kiki.
“Akhirnya lulus juga, kalian ada rencana studi di mana?” tanya Rara.
“Gue mau nyusul mak gue ke Aussie, bosen gue di sini sendiri mulu tiap pulang kerumah.”
“Gue juga sama mau lanjut studi di Amerika.”
“Yah kita pisah dong,” sedih Rara.
“Loe gak ada niatan nyusul orangtua sama keluarga loe ke Jerman Ra?”
“Entahlah liat nanti.”
“Eh Ra loe dicariin sama Ken tuh, ditunggu di belakang gedung B,” ucap seseorang yang langsung meninggalkan mereka bertiga setelah menyampaikan pesan.
“Ha?”
“Ciee… loe di cariin tuh ma gebetan loe,” goda Maya.
“Ish apaan sih kalian, dah lah gue mau nyusul Ken dulu,” ucapnya sambil meninggalkan Maya dan
Kiki yang menertawakan sahabatnya yang kurang peka di level akut.
***
Di belakang gedung B terlihat Kenzo atau yang kerap disapa Ken tengah melamun, matanya
menerawang jauh melihat hamparan tumbuhan di belakang gedung B yang terawat namun jarang di
datangi siswa di sekolah itu.
“Bisakah gue meninggalkan sekolah ini tanpa mengungkapkan perasaan ini, sanggupkah gue jauh dari loe Ra?”
“Gue terlalu takut mengungkapkan perasaan ini, terlalu takut jika loe menolak dan mengakibatkan
pertemanan kita menjauh, gue rela hanya bisa menjadi bayangan loe Ra asal loe tidak menjauh
Ra,” dilema Kenzo.
Saat ia tengah melamun ia mendengar suara langkah kaki mendekat dan ia sangat yakin itu gadis yang ia cintai walupun jaraknya masih jauh ia dapat mencium aroma khas dari gadis itu.
“Ken,”
Kenzo yang dipanggil pun menoleh dan lantas berdiri, ia melihat gadisnya ini sungguh cantik hari
ini berbalut kebaya modern.
“Hai Ra, gimana loe lulus kan?”
Yang dijawab anggukan kepala oleh Rara.
“Kenapa loe nyuruh gue kemari Ken?”
“Gue Cuma mau bilang selamat atas kelulusan loe, dan gue mau ngasik ini sebagai kenangan
perpisahan. Kita mugkin akan jarang bertemu atau bahkan tidak akan bertemu,” ucap Kenzo sambil
memperlihatkan sebuah kalung dengan liontin huruf bertulis ‘ZORA’
“Zora?” gumam Rara.
“Hm… inisial nama loe dan gue,”
“Gimana loe terharu kan?”
“Ih apaan sih,” elak Rara yang sebenarnya terharu.
“Boleh gue pasangin?” yang dibalas anggukan kepala oleh Rara.
“Cantik ya?” ucap Rara sambil memegang kalung yang sudah terpasang di lehernya.
“Iya cantik kalo loe yang pakai,” jawab Kenzo sambil melihat jam tangannya berulang kali.
“Ra sekali lagi selamat ya… semoga kita berjumpa lagi di lain kesempatan, dan gue harap loe bisa
jaga kalung dari gue,” yang dibalas anggukan kepala oleh Rara.
“Gue duluan ya, pesawat gue bentar lagi take off.”
“Selamat buat loe juga Ken,” sambil tersenyum manis.
“Terus senyum Ra gue seneng liatnya, bye Ra,” ucapnya sambil melambaikan tangannya.
Rara terus melihat Kenzo yang perlahan menghilang dari pandangannya sambil memegang kalung
pemberian Kenzo.
“Secepat itu perpisahan terjadi, gue engga nyangka di saat gue mulai menyadari perasaan gue
terhadap loe tapi kita secepat ini di pisahkan oleh takdir. Gue berharap takdir juga yang menyatukan
kita Ken, gue janji akan menjaga kalung pemberian loe dan gue janji akan menunggu di mana takdir
mempertemukan kita di saat yang tidak pernah kita duga, di saat itu juga gue akan mengungkapkan
perasaan gue terhadap loe Ken,” ujar Rara sambil melihat kalung pemberian Ken dan menciumnya.
end