WARNING!!..
21+☝️☝️Ade - ade dibawah 18 tahun dilarang membaca ya? karena banyak adegan kekerasan dan +++++ kalau memaksa akibatnya tanggung sendiri😆🙏🙏
_____ _____
Ibu menawariku sebuah pekerjaan di kota besar. ia mendapatkan informasi itu dari suami baru tetangga ibuku. Ibu bilang jika aku mau, akan mendapatkan bayaran yang lumayan besar karena pekerjaannya tidaklah mudah, yaitu di janjikan sebagai pengasuh seorang bayi dua tahun akupun begitu antusias, tak butuh waktu lama aku mengiyakannya tanpa ada rasa ragu karena himpitan ekonomi. dan akhirnya akupun berangkat ke esokan harinya.
Kehidupan keluarga kami di Desa jauh dari kata baruntung. ayahku telah tiada, dan aku memiliki 4 adik yang masih kecil kecil. belum lagi ibu harus merawat kakek dan nenek yang sudah tua renta. ibuku menjadi tulang punggung keluarga tidaklah mudah dan cukup untuk menghidupi kami sekeluarga. mau tidak mau aku yang masih berusia 16 tahun, atau juga masih terbilang dibawah umur harus dipaksa ikut serta menjadi dewasa sebelum waktunya.
Ibuku di berikan pak wito selembar kertas hitam diatas putih sebagai perjanjian persetujuan bahwa aku bekerja sudah mendapatka izin dari orangtua. Aku juga di bekali surat jalan atau identitas belum memiliki KTP. naasnya ibuku tidaklah tau bahwa kertas putih itu justru akan membawaku masuk kelembah hitam. ibuku yang penglihatannya samar, tanpa ragu langsung saja menandatanganinya tanpa menaruh rasa curiga. parahnya lagi tanpa sepengetahuanku.
"Ibu tanda tangan saja supaya Nia disana aman karena telah memilik Identitas jaminan dari orangtuanya" ucap pak Wito dengan wajah meyakinkan.
"Tolong pak, kalo ke Jakarta lagi nanti sering sering tengokin Nia kalo disana betah kerjanya ya pak?" pinta ibuku.
"ya,.. tenang saja nanti bos kasih tips ibu, kalo Nia betah disana" rayu pak Wito kepada ibuku.
Namaku Nania, biasa orang memanggilku Nia. aku berusia 16 tahun bukanlah mudah untuk mengalahkan gemerlap lautan manusia di kota besar. seorang pria tetangga ibu mengantarkan aku disebuah tempat kerja yang katanya adalah tuanku untuk mengasuh seorang bayi.
Ternyata mereka tidaklah menempatkanku ditempat yang sebenarnya. justru di tempat lautan pria dan wanita muda dengan musik yang sangat bising, lampu gemerlap hingga membuat kepalaku pusing hingga perutku mual dengan aroma minuman yang bagiku begitu asing dengan aroma yang menyengat.
Aku menatap lekat langit langit di dalam sebuah gedung besar yang ternyata adalah Barr tempat dugem anak muda kota. banyak dari mereka para wanita memakai pakaian minim, bersolek begitu cantik nan seksi. aku sama sekali tidak mencurigai ataupun berprasangka buruk. karena aku pikir, tidaklah mungkin seorang pemilik bayi ditempat yang tak seharusnya.
" Waah..baru nih bang" ucap salah satu pria menatap nakal diriku yang tengah menyapa pak Wito tetanggaku.
"Pak, kita dimana ini kok rame sakali sih.. aku takut pak. kayaknya ini tempat nggak bener" ucapku.
"Sudah.. gak papa Ni, kamu bukan kerja di sini kok. kita masuk dulu yuuk.. temuin calon perantara kamu" rayu pak Wito.
Aku dan pak Wito masuk ke lorong belakang terdapat begitu banyak kamar masing masing pintu. aku sudah mulai mencurigainya bahwa aku sudah masuk di tempat yang salah.
"Pak, ayooo..pulang kampung aja, Nia gak jadi kerja deh" pinta Nia dengan memohon namun di tolak pak Wito.
" Ni, sini..ini kenalin nyonya Nirmala yang bakal jadi perantara kamu. besok kamu diantarnya ke rumah tuanmu, sekarang kamu istirahat aja dulu" pinta pak Wito dan Nia pun mengangguk menurutinya tanpa rasa curiga meskipun di benaknya begitu banyak pertanyaan yang mengganjal.
"Malam nyonya, ini gadis yang mau bekerja" ucap pak Wito sembari hendak memperkenalkan diriku dan Bu Nirmala.
"Haii..Wito, inikah gadisnya?" jawab Bu Nirmala.
"Nia" ucap Nia sembari menyodorkan tangan yang berkenalan dengan bu Nirmala.
"Nirmala" jawab Bu Mala.
"Hai.. cantik, kamu cantik sekali. giiih istirahat dulu ini kamarnys" tunjuk Bu Nirmala.
Bu Nirmala menatap Bodygardnya untuk memberikan segelas air putih yang berisikan obat yang membuat Nina tak sadarkan diri. tak butuh waktu lama pak Wito dan Bu Nirmala berbicara cukup lama. stelah pemeriksaan kepada Nia yang terbukti masih benar benar seorang gadis, pak Wito langsung beranjak dari gedung tersebut. dengan membawa uang berjumlah besar dari sosok pria Dewasa.
"cepat periksa gadis itu.." ucap Bu Nirmala kepada kedua anak buah perempuannya.
"masih tersegel dan masih bagus nyonya" ucap kedua anak buahnya .
"Kerja bagus Wito. kamu berhak mendapatkan yang setimpal". Bu Nirmala bertepuk tangan karena kerja bagus pak Wito mendapatkan seorang gadis perawan telah berhasil.
"Apa gadis ini memiliki Kartu identitas to?".
"tidak boss hanya surat jalan karena usianya dibawah umur masih 16 tahun"
"Gila..kamu! bisa bahaya kita memberikan gadis dibawah umur kepada orang besar seperti tuan Nicko Alferz.
"Tenang nyonya, sudah ada hitam diatas putih langsung dari ibunya sendiri" Wito tersenyum sembari memberikan kertas bukti tersebut.
"Bagus..Wito...bagus!.. kita aman ketika gadis itu menuntut. otakmu kali ini cemerlang" tawa Bu Nirmala seraya memuji pak Wito.
"Cepat pergilah sekarang to, tuan Alferz segera datang"
"Bagaimana kalau Nia berontak nya?" ucap Wito
"Tenang bisa di atur..pergilah" jawab Bu Nirmala.
_______****________
Tak..tak..tak.. suara langkah kaki.
sosok pria dewasa yang tampak gagah, tampan, tinggi Dengan tubuh atletis. dengan tatapan yang cuek dan misterius. wajahnya blasteran Barat dan Chinese. dia adalah Nickolas Alferz 26 tahun yang baru saja di hianati pacarnya Nadine yang berselingkuh dengan adik sepupu Alferz yakni cicko. ia berniat melampiaskan kepada gadis yang benar benar masih perawan.
"selamat malam tuan Alferz.." sambut Nirmala dengan ramah.
"Ya .. malam. dimana gadis itu?" ucap Alferz.
"Ada tuan.. tapi tolong jangan bawa gadis tersebut, dia aset saya tuan" mohon Nirmala.
"Saya tidak mau tempat ini, jadi saya bawa keluar gadis tersebut" Alferz menyodorkan gepokan uang hingga mulut Nirmala menganga dengan mata membulat besar dengan jumlah uang tersebut.
"berikan wanita itu kepada driver saya, supaya ia membawanya ke apartemen, saya tidak mau ditempat ini" pinta Alferz.
"Cukup?.." ucap tatapan tajam Alferz pada Nirmala.
"Cu..cukup sekali tuan, silahkan bawa, tapi tolong kalau tuan cukup bosan untuk beberapa hari kedepan berikan lagi saja dia padaku"
"aku mau dia benar benar seorang gadis Nirma " pinta Alferz.
"Siaap.. tuan sudah saya jamin karena sudah kami periksa terlebih dahulu. silahkan tuan ini pintu Nia"
_________________
kraaaaaakk.... suara pintu.
"Siapa kamu!!.. Ka..kamu mau apa?!" tatap tajam Nia Pada Alferz.
Nia benar benar di kagetkan dengan sosok pria dewasa yang masih memakai dasi memasuki kamarnya. tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Alferz lansung membuka pintu kamar Nia dengan tidak sopan
"Ciiiiih...dasar rupanya Nirmala memberikanku benar benar gadis, tetapi mengapa ia tampak gadis kecil, aaachh... sudahlah yang penting dia benar benar seorang gadis" batin Alferz yang masih banyak pertanyaan di hatinya.
"Hei... Nia cepat beranjaklah dari tempat ini, aku tidak ingin berlama lama disini. pinta Alferz sembari memiringkan senyuman misterinya.
"Nia!...cepat kamu pergilah dengan tuanmu" sahut Nirmala.
"Ta..tapi Bu Nirma, mana ba...bayi..nya.." mulut Nia di tutup oleh Bodygardnya hingga tak ada kesempatan menjelaskan ucapannya. sudaah ayo jalan" bodygard Nirmala membawanya menju ke mobil Alferz untuk pergi ke apartemen milik Alferz di antar oleh bodygard karena khawatir Nia akan kabur.
***
SESAMPAINYA DI APARTEMEN..
"Awas...kalau kamu berani kabur" Ancam bodygard Nirmala di mobil Alferz menggunakan benda tajam yang berukuran mini agar Nia tetap tenang dan menurutinya.
"Cepat turun!.. ikuti tuan Alferz, itulah pekerjaanmu gadis kecil. patuhlah padanya maka hidupmu akan terjamin" bodygard tersebut mengusap rambut Nia dan perlahan meninggalkan Nia bersama Alferz.
Nia begitu ketakutan luar biasa, perlahan ia tau bahwa dirinya tidaklah bekerja mengasuh bayi dan saat ini tidaklah baik baik saja. semakin terang tebakan Nia, bahwa dirinya saat ini telah di j**l oleh nyonya Nirmala. namun apa daya dia anak desa yang baru datang ke kota, tak seorangpun ia mengenalnya bahkan pak Wito pun meninggalkannya begitu saja. ketika ia kabur banyak pula ketakutan yang lebih mengerikan diluar sana. terpaksa menuruti tuan Alferz.
"bibi!!... bersihkan perempuan ini, riaslah dengan cantik dan pakaikan gaun yang ada di lemari. aku tidak mau ada wanita yang mengotori kamarku" teriak Alferz kepada pelayan wanitanya.
"Baik..tuan" jawab beberapa pelayan.
"A..aapa.. ini maksudmu Alferz, memaksaku kemari dan sekarang memaksa pelayanmu menguasaiku".
"Diam!.. aku sudah membayarmu kepada Nirmala dengan mahal, maka jangan kau pura pura bo*oh".
"Alferz!...aku datang ke kota untuk bekerja sebagai pengasuh bayi bukan untuk melayanimu pria Breng**k!.. teriak Nia.
Plaaakk... sebuah tamparan mendarat di pipi mungil Nia.
"Dasar!...jal**g kecil sungguh tidak tahu diri, jangan memaksaku untuk menyiksamu. camkan itu!" ancam Alferz.
"Sudah.. tuan tolong jangan kasar dengan gadis tersebut ..ma..maaf biar bibi saja yang mengurusnya" sahut seorang asisten rumah tangga yang mengurus Alferz sedari pagi hari hingga sore hari.
di apartemen inilah iya hidup tanpa kedua orang tuanya yang telah bercerai dan ibunya menikah kembali. dengan begitu Alferz memilih hidup sendiri dengan usahanya.
"Bibi, tolong aku keluarkan dari tempat ini aku mohon" pinta Nia menangis sesenggukan di hadapan wanita tua tersebut. namun bibi tersebut tak bisa berbuat banyak karena banyaknya Cctv dan bodygard di apartemen tersebut.
***
Alferz membawa Nia kesebuah gedung dimana mereka di sumpah janji suci pernikahan dan hal itu membuat Nia tak habis pikir maksud tujuan Alferz. Nia sangat takut di manfaatkan banyak hal oleh Alferz.
"Sekarang kalian sah menjadi suami istri, selamat tuan Alferz da Nona Nania" ucap seorang pendeta.
Tiba tiba Alferz memeluk dan mencium bibir mungil Nia. hingga membuat Nia membelalakkan kedua bola matanya. baru kali ini dirinya berciuman. ini adalah hal pertama baginya.
"Jangan banyak bicara, sebuah perjanjian awal ada di tanganku kau tak bisa menuntutnya. kau paham itu?" ancam Alferz.
buliran bening dari sudut mata membasahi bola mata Nia, ia tak menyangka sebegitu singkat ia mendapatkan pekerjaan pernikahan yang masih membingungkannya. ia sangat takut, baru saja mengenal Alferz ia sudah berani megancamnya. bagaimana dengan kehidupan selanjutnya.
SESAMPAINYA DI APARTEMEN.
Alferz melemparkan Nania di ranjang dengan kasar. ia begitu benci di kala membayangkan Nadine kekasihnya berselingkuh dengan adik sepupunya Cicko di hadapannya. Ia begitu ingin sekali menyiksa seorang gadis yang benar benar masih suci untuk pelampiasan dendam sakit hatinya kepada Nadine.
"Aaaach...sakit... teriak Nia yang memiliki tubuh yang mungil. Tuan tolong jangan lakukan ini kepada saya hig..hig..hig.." mohon Nia pada Alferz.
Alferz menatap nakal tajam dan beringas pada wajah Nia yang begitu memelas, Alferz begitu bahagia ingin sekali ia ingin segera menyiksa Nia terlebih dahulu sebelum ia mengga**hi gadis tersebut😭🤭.
" Ya!.. ini pekerjaanmu, tidak perlu omong kosong. kau pasti suka dengan hal seperti ini demi uang bukan? ciiih!!... tak ada bedanya dirimu Dengan Nadine". Alferz menyeringai mendekat, dan mencengkram rahang Nia hingga wajah Nia mendongak ke atas.
"Arghh! ..tuan... kau salah faham, Aku hanya ke kota mencari pekerjaan sesuai yang di janjikan orang yang membawaku dari kampung😭🙏. aku di pekerjakan sebagai pengasuh anak majikanku. tolong lihat dulu identitas ku tuan. tolong be..Beb..bebas kan aku.. aku mohon Tuan " Nia begitu ketakutan, bibirnya bergetar dengan wajah sembab. tubuh mungilnya meringkuk mengiba agar Alferz membebaskannya.
"Sraaak...! suara Dasi yang Alferz lepas dari pakaian yang ia kenakan.
"Diam.. kau dengar? aku tidak butuh penjelasanmu" perlahan Alferz mengikat tangan Nia dengan dasi yang tengah melawannya.
"Arghhhh!...kuarang Aj*r, Breng**k kau lelaki biad*p." teriak Nia yang tengah di ikat dan di tekan tubuhnya oleh Alferz. bagaimanapun tubuh Nia yang kecil sudah pasti kalah tanpa celah dengan tubuh Alferz yang menjulang tinggi nan gagah.
Cuuup...mmmm...mmmahh
Alferz melumat paksa bibir Nia yang mungil. Nia begitu jijik atas perlakuan Alferz tersebut. hingga ia menggigit bibir Alferz dan meludahinya.
kreeeek...
"Arghhhh sial!.. gadis tak berguna apa kau tidak bisa caranya berciuman dengan benar!!.. bahkan kau menggigitku dan meludahiku" teriak Alferz.
"baiklah.. kali ini ludahmu dan darahku bersatu itu terasa sangat manis bukan?" bisik Alverz tepat di telinga Nia. Alferz menjilat ludah yang mengenai area pipi dan bibirnya.
"Sungguh pria menjijikkan, bahkan lebih hina dari seorang pria murahan" ucap Nia dengan ketus.
Plaaaakk.. Alferz menampar Nia.
"Jaga ucapanmu!.. jika tidak ingin kau aku habisi" ancam Alferz seraya menjambak rambut panjang Nia.
Lagi lagi sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nia. kali ini Alferz benar benar marah dan beringas. kali ini tidak ada lagi ampunan untuk Nia.
"Arghhhh! Sakit...lepaskan aku hig..hig..hig..aku ingin pulang"
"Diam!.. dua hari lagi kau baru ku bebaskan, dan setelahnya kau ikuti saja kehidupan Nimala. jika masih tetap tinggal disini maka diam dan jika kau ingin banyak memiliki uang maka bekerjalah dengan benar kepada tuanmu ini" kali ini adalah tugas besarmu" ancam Alferz seraya tersenyum licik.
Tak segan Alferz begitu cepat membuka paksa gaun yang Nia kenakan. ia takjub tak percaya bahwa tampak kedua gundukan mungil yang masih terlihat runcing dan padat. Alferz terus menyusuri area leher jenjang Nia dengan kasar dan rakus. Alferz membayangkan jika Nia adalah Nadine gadis yang ia cintai. perlahan tapi pasti, tepat di area gundukan tersebut Alferz meremas paksa dan melumat rakus hingga membuat Nia mendesah antara marah dan menikmati.
Dengan tangan terikat, Nia seperti seakan dirinya sedang di perkos*. Nia menangis sesenggukkan. ia tak menyangka bahwa dirinya saat ini telah di jelajahi seorang pria yang baru saja ia temui dan tiba tiba memaksa menikahinya. bahkan lelaki tersebut bukanlah orang yang ia cintai, melainkan pria asing dan kejam hingga menjadikan dirinya sebagai budak pelampiasan birahinya saja.
Kali ini tangan nakal Alferz terus menjelajahi area cencitif Nia. disitulah Alferz berhenti sejenak untuk melepas celana panjangnya. sementara Nia terus berontak. Alferz menyibak perlahan area cencitif Nia yang tampak mungil.
"Perlahan tapi pasti, Alferz mulai menguasai tubuh Nia, ia terus memompa dan terus menikmati setiap goncangan yang ia buat di tubuh Nia. Nia yang telah lelah berteriak namun tak di hiraukan Alferz yang tertutup oleh nafsunya. kali ini hanya terdiam dan hanya menitikan air matanya bahwa saat ini ia telah tidak suci lagi oleh pria dewasa asing yang memaksanya. pria tersebut begitu sangat menikmatinya namun tidak dengan Nia. Nia begitu hancur tak berdaya dikala membayangkan wajah ibu dan adik adiknya.
setelah pertahanan Nia di bobol oleh Alferz dengan brutal. Alferz terus dengan kuat di iringi desahan dan erangan kenikmatan luar biasa keluar dari mulutnya. Alferz terus meremas gunung kembar Nia yang masih sangat padat dan mungil. sesekali ia menggigit bibir bawah Nia dengan menggoyangkan pinggulnya dengan kasar karena tak mampu menahan nafsunya yang begitu menggila dan beringas.
"Arghhhh...Nia f**k me... Aghhh...ughhh... mmmmhhh tubuhmu benar benar sangat nikmat gadis. maafkan aku telah menodaimu dengan paksa" ucap Alferz seraya mencium kening dan menyibak keringat di dahi Nia. sebagai lelaki dewasa yang telah menodai seorang gadis polos, sebersit membuat hati Alferz sedikit merasa bersalah. ia merasa seperti memp*rkos* gadis tersebut meskipun ia berusaha menghalalkannya terlebih dahulu.
Lambat laun Nia memulai memainkan peran. ia adalah gadis normal, dan untuk pertama kalinya tubuh Nia di j*r*h oleh seorang pria. tentu ketika dengan keadaan seperti itu ia juga terpancing untuk menikmati. keduanya begitu antusian memadukan kenikmatan bersama. tak butuh waktu lama, erangan panjang dari keduanya meriuhkan sudut kamar Alferz. Alferz begitu bahagia melihat sprey yang ada di kamarnya terlihat bercak darah dan sp*r*a tersebut menjadi satu.
Setelah beberapa menit berlangsung, hingga membuat tubuh Nia kesakitan, kelelahan tak berdaya karena keganasan Alferz. Nia tertidur dengan wajah yang pucat dan lusuh. Alferz terus menatap lekat gadis tersebut dengan seksama. ia tak menyangka bahwa Nia begitu nikmat tidak seperti gadis gadis yang pernah ia tiduri maupun mantan kekasihnya Nadine. Alferz tersenyum penuh kemenangan melihat banyak jejak gigitan merah di permukaan kulit mulus Nia atas perlakuannya yang beringas. Alferz merasa harga dirinya sebagai lelaki terbayarkan. ia tak mau kalah karena pengkhianatan kekasih dan saudaranya tersebut.
Huffff... hufff... Alferz menghembuskan nafasnya perlahan dengan menatap lekat wajah Nia. Iya mearasa terpuaskan setelah merenggut paksa Nia.
Alferz terbangun setelah tertidur sejenak. ia menatap gadis di sebelahnya yakni Nia, dan menyibak rambut panjang Nia yang menutupi sebagian wajahnya yang tertidur pulas.
"Heii.. gadis, berapa usiamu hingga kau mampu menjaga keperawananmu di zaman modern seperti sekarang ini. aku tak menyangka bahwa aku adalah orang yang pertama bagimu. aku merasakan sensasi yang berbeda, baru kali ini dengan banyaknya wanita cantik yang telah T***r bersamaku. kau benar benar membuatku Candu" Alferz bergumam dan terus menatap gadis di sebelahnya tersebut sembari memainkan beberapa helai rambut panjangnya
Alferz terus menciumi rambut, bahu Nia dari dekapannya hingga membuat Nia menggeliat terbangun.
"Arrghh..sa kit" keluh Nia yang hanya tertutup selimut tebal tanpa helai kain yang menempel di tubuh polosnya, begitu pula dengan Alferz.
"Kamu sudah bangun?" Ucap Alferz.
Nia hanya menatap kosong tubuhnya yang begitu terasa sakit, lebam, dan rasa perih di area intimnya.
"Untuk apa kau menanyakan itu breng sek! Kau sungguh menjijikan memaksaku seperti ini" sahutnya dengan nada emosi. Tak hentinya mata Nia terus menggenang sambil terus memaki Alferz.
"Ciih.. wanita sialan, dia yang menjual justru dirinya pula yang merasa tertindas" batin Alferz.
"Bukankan kita sudah menikmati bersama barusan? Aku juga membayar mahal dirimu" Alferz tersenyum nakal sembari menatap lekat Nia.
Alferz terbangun dari tempat tidurnya sembari memakai celana panjangnya kembali.
Iya membuka jendela Lalu menghirup udara luar dengan menghidupkan sebatang rokok di jarinya.
"Jelaskan asal usulmu gadis, Bagaimana bisa kau ada di tangan Nirmala?"
"Itu bukan urusanmu ingin tahu tentangku"
"Tentu menjadi urusanku. Aku puas dengan tubuhmu Nia" Alferz menyemburkan asap rokoknya di wajah Nia.
Uhuk uhuk..
"Hentikan asapmu itu!!" Teriak Nia yang terbatuk batuk.
"Hey gadis,ayolah mandi bersamaku tubuhmu itu sangat kotor. Lihatlah betapa Aku puas dengan banyak tandaku di tubuhmu. Setelah itu turunlah kebawah kita sarapan " ajaknya sambil tersenyum lalu mengedipkan salah satu mata genitnya.
"Sangat menjijikkan" tutup Nia.
*** BERSAMBUNG***
Kita kira bagaumana ya? nasib Nia selanjutnya.
terus apakah Alferz akan memperkerjakan Nia dirumahnya, atau jangan jangan justru di kembalikan ke nyonya Nirmala ya? Entahlah..
Ok.... Author yang receh ini sedang sibuk, jadi lanjutinnya nanti di tengah malam ya guyss? please LIKE, KOMEN untuk penambah imun agar saya semangat untuk melanjutkannya. jangan pada ngintip doang😆🙏 tingkiyuu😘