Menjadi bagian dalam hidup ini adalah suatu anugerah terindah yang di miliki setiap insan, Bukan?
Begitulah yang Aku pikirkan saat itu, sebuah penyesalan yang tak bisa di ubah atau pun di putar kembali!
Kiles.....
Disuatu pagi yang cerah terlihat seorang gadis menatap cermin dengan stelan lengkap, seperti seragam putih abu-abu 'iya' gadis itu adalah aku. Ariana Hafizah biasa di panggil dengan Aria, aku lahir dari pasangan broken home, dan hidup bersama dengan seorang nenek yang sangat menyayangiku, dia bukan nenek kandung ku, tapi dia adalah penyelamat hidup yang ku miliki.
Sebuah pertengkaran yang sudah lazim, mendarah daging di setiap nafas manusia, hingga keluarga pun tak kenal bila sudah berhadapan dengan harta. Pengusiran yang terjadi padaku dan neneku membuat kami harus meninggalkan desa tempat kelahiran ku, di tempat baru aku tidak terbiasa dengan tatapan sinis orang-orang.
Aku adalah orang asing yang di bawa oleh neneku, dan hidup di antara keluarga kandungnya, meskipun begitu dia berusaha membuat ku nyaman dan aman, meskipun dia selalu di rendahkan oleh anak-anaknya karena telah membawaku masuk kedalam silsilah keluarga mereka.
Tak jarang aku selalu tutup mata dan telinga melihat kejadian tersebut, meskipun aku menghindarinya tatapan mereka masih merendahkan ku.
Suatu hari aku tak sengaja mendengar Bu Alea berbicara dengan suaminya, terdengar mereka bertengkar hebat, karena suaminya mau menyekolahkan ku kembali.
"Pak ..., aku tidak setuju kamu biarkan anak pungut itu sekolah lagi?!" bentaknya pada Pak Abi, menantu dari nenek ku.
"Astaga, kecilkan suara mu, dia itu bukan anak pungut!" celetuknya marah pada istrinya.
"Apapun itu, Ibu tidak setuju Bapak menyekolahkan anak itu!" tegasnya dengan mata melotot.
"Apa masalah mu? ini juga perintah ibunya, lagian biaya pendaftaran di sana gratis untuk tingkat SMP," ucapnya lirih.
"Terserah Bapak?!" ucapnya emosi, sembari membanting pintu, saat melewatiku dia hanya menatap ku dengan tatapan tidak suka.
Aku hanya terdiam, mengeluh, menangis pun tak bisa, karena air mataku sudah mengering saat pemakaman almarhum kakek ku.
Ini kedua kalinya aku mengulang pelajaran yang sama, meskipun aku kembali duduk dibangku 1 SMP dengan umur yang menginjak 15 tahun, tentu saja banyak orang yang menatap ku dengan mengejek.
Aku melalu banyak pelajaran hidup, tekanan demi tekanan membuat ku mengalami depresi, hingga jatuh sakit, semua tubuhku seolah-olah mati rasa, bergerak saja aku tidak bisa.
Seperti biasa Bu Alea kerap sekali menyindirku perihal ayahku yang tak peduli.
Yeah ..., ku akui ketidak pedulinya membuat dada ku sesak, dia bahkan tak pernah melihat ku, meskipun aku tau dia sudah memiliki penganti baru.
"Kamu liatkan anak ini saja, sudah tidak di pedulikan, lalu kenapa kita harus peduli pada anak yang bahkan sudah di buang!" ejeknya pada neneku.
Dia hanya dia tak bisa melawan, yang hanya dia lakukan memohon pada anak perempuannya agar mampu menerima ku, melihat hal itu kadang membuat ku geram, kesal dan malu.
Membuat diriku bertekad mengakhiri penderitaan ku dengan mengiris pergelangan tangaku sendiri.
"Kenapa aku tidak mati saja, mati ..., mati ..., mati saja!" ucapku menangis, sembari memegang silet di tanganku.
Batinku memberontak untuk mengakhiri hidup yang tuhan berikan padaku. Setelah aku melakukan hal gila pada tubuhku, beban dan hatiku selalu saja berkelit, menolak masih ada yang menangis ku.
"Nak, kenapa kamu seperti ini," ucap neneku dengan suara srek karena terlalu lama menangis, melihat kondisi mentalku yang tak baik-baik saja.
Mendengar pertanyaan itu, aku menangis sejadi-jadi, melepas emosi yang menguap dari ragaku.
"Kenapa kamu menyelamatkan ku, biarkan aku mati, setidaknya itu bisa membuatmu sedikit di hormati," ujarku membentaknya dengan air mata yang sudah tak tertahankan.
Neneku hanya diam menatapku yang menangis, dengan di susul Pak Abi, dia pun tak bisa berkata-kata mendengar aku berbicara itu.
Aku memang egois, aku juga tidak tahu diri, hanya kata-kata menyakitkan yang bisa aku keluarkan agar mereka berhenti memperhatikan ku lagi.
Dua bulan sudah berlalu sejak kejadian itu, aku mulai terintimidasi, aku yang tak pernah di perhatikan kini di perhatikan dengan tatapan kasihan, membuatku makin mengila. Perasaan tidak nyaman mulai mengusikku, setiap pulang sekolah, atau pun ke kantin mereka selalu mentertawakan kebodohan ku, yang mencoba mengakhiri hidup ku.
Sepulang sekolah aku mencari pelarian, melepas stress ku dengan mencoba hal baru, hingga pelarian membawaku ke sebuah jebakan hidup yang mengerikan, aku di tuduh melakukan buliying kepada anak SD.
Tuduhan itu membuat masa-masa remajanya hancur, aku di cap nakal, bahkan seringkali mendapatkan perlakuan kasar dari teman sebayaku.
"Aku tidak melakukan itu, aku bukan pembuly?!" ucapku dengan membela diri pada orang-orang yang menganggap ku kejam.
Pembelaan itu justru membuat ku makin terpojok, mentalku yang rusak kembali, memancarkan kepribadian yang lain.
Saat aku kembali menatap cermin, bagian diriku yang lain, menganggap dirinya sebagai bukti mempertahankan diri untukku.
Dia seringkali mengambil alih tempatku, di saat aku tak mampu menyelesaikan masalah hidup yang terjadi padaku. Dia muncul bagai penolong, aku bisa memiliki teman, dan rumor buruk pun mulai menghilang tentang diri ku.
Bu Alea yang tadinya membenciku menjadi baik, tatapan orang-orang yang menghinaku kini menjadi hangat, entah itu suatu yang baik atau kah buruk aku pun tidak mengerti, apa yang jiwa lainku lakukan hingga membuat orang-orang mulai menyayangiku.
Awalnya aku berfikir itu adalah suatu keberuntungan yang hanya aku sendiri tau, tapi ternyata tidak, justru membuat ku makin terperosok.
Semua orang mulai mempertanyakan identitas ku, padahal aku tetaplah aku. Entah apa yang alter jiwaku yang lain lakukan sehingga aku sendiri mempertanyak siapa aku.
Di tengah kerisisnya indetisasku, aku pun bertemu dengan pemuda yang sama mengalami hal serupa, kami bertemu di sebuah Rumah Sakit Bakti, yang melayani psikolog yang memilki keluhan serupa, aku dan dia mejadi sahabat sampai sekarang.
End