Pocong-pocongan itu bergerak perlahan sementara aku tidak merasakan adanya hembusan angin.
Banyak orang bilang desaku ini menyeramkan karena berada di kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT. PP London Sumatera (Lonsum). Bahkan tidak jarang warga mengaku melihat beberapa penampakan baik di sekitar area kebun maupun di bangunan tertentu sekitar perumahan.
Namun bagiku tempat ini sangat istimewa, asri dan unik. Desaku berbentuk persegi yang diapit oleh pepohonan kelapa sawit dari berbagai sisi. Itu sebabnya sejauh mata memandang hanya pohon kelapa sawit yang bisa dilihat.
“Mi, sampah sesetan lidi itu nanti dibuang ya! Masukkan aja ke goni!” seru Mama yang sedang menggendong adikku sambil berlalu pergi.
Aku mengangguk lantas menggerutu ketika kulihat Mama sudah pergi entah kemana sore itu. Dengan malas aku beranjak ke belakang rumah, namun mulutku berkedut menahan tawa melihat kakakku yang sedang memasukkan sampah sesetan ke dalam karung goni dengan wajah merengut. Ternyata tidak hanya aku yang waktu santainya diusik.
“Oyy, bantuin! Jangan diem aja, gak tengok ini masih banyak sampahnya?” seru kakakku kesal. Aku tertawa senang.
“Ngapain lah coba Mama cari lidi begini? Buat kerjaan aja!” keluhku.
Tidak lama kemudian Mama kembali bersama adikku dengan raut wajah yang sulit dijelaskan, terlihat cemas dan bingung.
“Kok masih belum siap bersihkan sampahnya? Nanti letak di bawah pohon pokat aja goninya!” omel Mamaku.
“Iyaaaaaa,” sahut aku dan kakakku berbarengan lalu kami tertawa.
Kami segera melanjutkan pekerjaan karena hari sudah hampir maghrib. Namun tiba-tiba kakakku memberi sebuah ide menarik.
“Mi, berani gak kalo nakut-nakuti orang lewat?” tanyanya dengan kilat mata yang aku berani bersumpah terlihat berkilau-kilau antusias.
“Pake apa? Mukena lagi? Udah ketahuan! Kemaren wak Warno maki-maki kita,” ujarku mengingat kejadian kemarin malam. Kami memang sering kali berbuat jahil menakuti orang lewat yang baru saja pulang dari masjid dengan muncul tiba-tiba menggunakan mukena, berlagak seolah kami kuntilanak. Dan biasanya orang-orang yang lewat akan menghadiahi umpatan pada kami.
“Bukan. Pake ini, kita ikat ke atas pohon pokat, jadi pocong-pocongan.” Kakakku menunjuk karung goni berisi sampah sesetan lidi. Evil smirk kami mengembang.
Dan mulailah eksekusi kejahilan kami maghrib itu. Pocong buatan itu kami ikat menggunakan tali panjang dan dikaitkan di batang pohon seperti katrol yang sewaktu-waktu bisa kami naik-turunkan untuk menarik perhatian.
Mataku memandang awas sekitar rumah, menunggu mangsa dengan jantung berdegub kencang. Sesekali mataku melirik kearah bangunan samping rumah.
Bangunan tersebut merupakan bangunan multifungsi yang dimiliki oleh masing-masing dari 9 dusun di area milik Lonsum. Hampir kesemuanya memiliki bentuk yang sama di setiap dusun. Berbentuk persegi panjang dengan dua kamar berjajar di ujung. Sedangkan sisa bagian lainnya terbuka dan hanya disanggah menggunakan tiang kayu.
Bangunan ini sering digunakan sebagai titik evakuasi, sebagai tempat pertemuan warga untuk mengadakan acara punggahan tiap tahunnya bahkan dijadikan tempat berkumpul pembagian sembako untuk warga kurang mampu. Kami menyebut bangunan ini sebagai pajak, tempat yang sering dibicarakan warga sebagai markas berkumpulnya hantu.
Tidak jauh dari pajak terdapat dua sumur tua tanpa pintu dan atap. Sedangkan di sisi lain pajak, itulah rumahku dengan pintu samping rumah berhadapan langsung dengan jendela dua kamar kosong itu.
Di sekitar rumah ada banyak pohon besar. Diantaranya pohon durian, pohon cokelat, pohon kelapa yang ada di bagian belakang rumah. Di bagian samping rumah ada pohon jambu air besar yang rantingnya menjulur sampai ke atap rumah. Ada juga pohon alpukat yang sejajar dengan pintu samping rumah, juga beberapa pepohonan sawit milik Lonsum.
Lalu ada parit dengan jembatan yang biasa kami sebut buk tidak jauh dari rumah. Oh ya, ada satu batu yang tertancap di bawah pohon cokelat. Karena sebagian besar batu ada di dalam tanah, aku tidak tahu bentuknya seperti apa karena yang menonjol ke permukaan tanah hanya berbentuk seperti limas.
Beberapa warga pernah mengatakan melihat kuntilanak di jendela kamar pajak atau mencium bau wewangian bunga di sekitar buk. Meskipun banyak cerita beredar, selama ini aku tidak terlalu memikirkannya karena tidak pernah mengalami langsung kejadian mistis. Sayangnya itu hanya berlaku hingga hari ini.
Mengingat cerita penampakan itu membuat bulu kudukku meremang seketika. Aku menatap ke atas pohon alpukat saat pocong buatan itu bergerak perlahan kekanan lalu ke kiri dan tiba-tiba berputar kearah kami yang sedang bersembunyi di balik pintu rumah.
Aku tersentak, jantungku berdetak kencang, keringat dingin mengalir deras di keningku. Aku sangat yakin tidak ada angin sore itu. Suasana terasa hampa, sunyi.
Tiba-tiba kakakku mencengkram tanganku, kuat sekali. Aku menoleh melihatnya yang pucat pasi.
“Mi, ayo kita lepas pocong-pocongannya,” ujarnya lirih.
Darahku berdesir, punggungku terasa dingin. Kulihat ke kiri dan ke kanan, kosong. Tidak ada tanda-tanda orang akan lewat.
Tiba-tiba perhatianku tertuju pada batu di bawah pohon cokelat. Ada daun pisang yang dibentuk menyerupai mangkuk di dekat batu. Di dalamnya ada beberapa bunga beraneka warna dan juga telur.
Itu sesaji!
Aku gemetar tidak karuan.
“Mi!” sentak kakakku yang melihatku terus saja memerhatikan sesaji itu. “Ayo lepas pocong-pocongannya,” bisiknya. Aku mengangguk.
"Hitungan ketiga, kita lari sama-sama kesana. Abis itu kita lepas ikatannya, langsung masuk ke rumah," ujarku memberi arahan dengan gemetar. Kakakku mengangguk.
Dengan aba-aba dariku, kami berlari bersamaan menuju pohon alpukat dan meraba simpul tali di batang pohon tanpa melihat keatas. Karena panik dan keadaan yang mulai gelap, kami kesusahan membuka ikatannya.
Tep!
Bruk!
Pocong buatan itu terjatuh di dekat kaki kami, kami berteriak karena ketakutan dan lari pontang-panting menuju pintu.
Brakk!
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, membuat pintu samping rumah tertutup seketika. Kami berteriak ketakutan, mencoba membuka pintu ditengah kepanikan hebat yang melanda. Setelah pintu terbuka, kakakku berlari masuk ke dalam.
Sesaat ketika aku akan menutup pintu, aku menoleh ke arah pohon alpukat. Mataku terbelalak ngeri. Di sana berdiri pocong tinggi besar dengan wajah hitam legam melotot melihatku. Jantungku berdetak tidak karuan, lantas kubanting pintu begitu saja.
“Ngopo kalian pating melayu?”, tanya Mamaku heran yang melihat kami berlari ke ruang tamu dengan nafas terengah. Kami diam dengan jantung yang terasa seperti diremas.
“Anjani kenapa? Sakit?”
Aku bertanya pada Mama yang sedang meminumkan air putih yang di dalamnya terdapat kertas putih bertuliskan tulisan Arab gundul kepada adik perempuanku yang berusia 4 tahun.
“Iya lah. Itulah makanya udah dibilang jangan main di bawah pohon cokelat kalo maghrib,” omel mamaku.
“Memangnya kenapa?”
“Itu kuburan”
Tubuhku mendadak kaku. “Hah? Kuburan apa? Ngarang Mama nih!” seruku tidak percaya.
“Ngarang, ndasmu iku! Dulu rumah ini kan bekas tanah kuburan,” jawab Mama santai.
Tanganku basah karena keringat dingin. Yang benar saja!
“Kuburan apa? Mana boleh bangun rumah diatas kuburan”, seru kakakku. Aku mengangguk, baru saja memikirkan hal yang sama.
“Ya kan kuburan sebelumnya udah dipindah. Kuburan lama kok, jaman PKI dulu. Tapi masih ada beberapa kuburan yang masih tersisa, batu yang dibawah cokelat itu juga kuburan. Ada lagi yang di belakang rumah bang Putra,” sahut Bapak yang baru saja pulang dari mesjid. Aku mengangguk-angguk.
“Kok masih berserak itu sampahnya di bawah pohon pokat?”, tanya Bapak tiba-tiba.
Punggungku mendadak dingin, teringat sosok pocong yang menatapku tadi.
“Lho? Gak kalian masukkan ke goni?”, tanya Mama yang kami jawab dengan cengiran kaku. “Masukkan sekarang ke goni! Nanti dicekeri ayam itu”, omel Mama.
Kami menggeleng kompak. “Gak mau! Besok pagi aja, kami yang bersihkan. Janji!”
Mama menggeleng melihat tingkah kami. Sedangkan Bapak menatap kami dengan pandangan yang sulit diartikan.
Malam semakin larut dan satu per satu dari kami pun memutuskan untuk tidur. Aku dan kakakku tidur bersama di kamar depan, sedangkan orang tua dan adikku tidur di kamar belakang.
Sebelum tidur, mataku melirik kesana kesini. Mengawasi setiap sudut kamar dengan awas, memastikan tidak ada makhluk halus yang numpang tidur di kamar kami. Lelah melotot ke segala sudut, aku jatuh tertidur pulas.
Dok! Dok! Dok!
Aku terperanjat bangun mendengar suara gedoran.
Dok! Dok! Dok!
Kini suara gedoran terdengar lagi dan anehnya berasal dari dinding papan samping kamar. Kucoba memfokuskan indera pendengarku namun suara gedoran tidak terdengar lagi.
“Put, Mi, bangun subuhan dulu!” seru Bapak mengagetkanku.
Aku menghela nafas, sepertinya itu suara Bapak yang mengetuk pintu. Aku pasti salah dengar tadi, tidak mungkin ada orang di luar menggedor dinding kamar subuh-subuh begini. Kubangunkan kakakku untuk shalat subuh, namun dia bergeming.
Baru saja aku sampai di depan pintu kamar mandi dan hendak membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang diseret.
Sreeet! Sreeeet!
Aku menoleh kearah pintu belakang yang terbuka lebar lantas mengerutkan kening melihat ada seseorang yang menyeret sesuatu berwarna kecokelatan yang terlihat seperti kain gendong bermotif batik, ia berjalan pelan di depan pintu menuju belakang rumah.
“Itu siapa?”
Seolah lupa dengan kejadian semalam, tanpa pikir panjang aku berjalan menuju pintu berniat melihat siapa yang ada di belakang rumah. Mungkin saja itu Bapakku karena beliau baru saja pergi ke masjid. Di luar masih sangat gelap, hanya ada cahaya remang dari lampu jalan.
Aku menoleh ke kiri, mengarah ke kolam besar tidak terpakai di belakang rumah yang sekarang dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. Ternyata kosong, tidak ada siapapun disana. Seketika jantungku berdegub kencang.
Aku melirik ke arah sesaji di bawah pohon cokelat, lalu menoleh ke arah pohon alpukat. Mataku terbelalak. Tubuhku mematung, keringat dingin bercucuran.
Di jendela kamar pajak yang sejajar dengan pohon alpukat, terlihat sosok wanita berambut panjang yang tergerai hingga keluar jendela. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena gelap, namun aku yakin makhluk apa itu.
K-kuntilanak?
Dalam ketakutan yang luar biasa dan mata yang terbuka lebar, ekor mataku menangkap ada seseorang berdiri di ujung kananku. Kupaksakan leherku yang kaku menoleh melihat siapa yang berdiri di samping kamarku. Untuk sesaat yang terasa sangat lama aku melihat hal yang aku anggap paling menakutkan selama ini.
Di sana berdiri pocong tinggi besar dengan wajah hitam legam. Matanya melotot besar sekali berwarna putih. Kain kafannya kumal dengan banyak tanah menempel.
Kakiku terasa lemas. Aku ingin berteriak namun tidak bisa, suaraku seolah terkunci. Tiba-tiba kudengar kuntilanak itu tertawa nyaring memekakkan telinga. Aku menutup mataku ketakutan.
Setelah beberapa menit berlalu suara tawa kuntilanak itu berhenti. Sunyi.
Perlahan aku membuka mata mengira pocong itu sudah pergi. Namun setelah mataku terbuka lebar, aku terdiam. Nafasku mendadak berhenti, kakiku gemetar.
Dengan jarak yang hanya satu meter, pocong itu berdiri tepat di depan wajahku. Aku bahkan bisa melihat masih ada kapas putih kecokelatan yang menempel di hidungnya. Baunya menyengat, busuk sekali.
Dan tiba-tiba kurasakan pandanganku gelap sekali, aku pingsan di depan pintu.
Jam 10 pagi aku terbangun dengan banyak orang yang berkumpul di kamarku. Ada teman-teman dan juga tetangga yang menjengukku dan menanyakan apa yang terjadi. Setelah aku menceritakan apa yang kualami, Mama mengomel karena kami bermain-main dengan hal yang tidak seharusnya dijadikan mainan. Sedangkan Bapak hanya tersenyum melihatku yang masih pucat pasi.
Tamat.